Monday, 6 August 2007

Angkatan Udara Indonesia




An air force, also known in some countries as an air army, is in the broadest sense, the national military organization that primarily conducts aerial warfare. More specifically, it is the branch of a nation's armed services that is responsible for aerial warfare as distinct from an army, navy or other branch. Typically, air forces are responsible for gaining control of the air, carrying out strategic and tactical bombing missions and providing support to surface forces.

The term "air force" may also refer to a tactical air force or numbered air force, which is an operational formation either within a national air force or comprising several air components from allied nations. Air forces typically consist of a combination of fighters, bombers, helicopters, transport planes and other aircraft.
Many air forces are also responsible for operations of military space, intercontinental ballistic missiles (ICBM), and communications equipment. Some air forces may command and control other air defence assets such as antiaircraft artillery, surface-to-air missiles, or anti-ballistic missile warning networks and defensive systems. Some nations, principally Russia, the former Soviet Union and countries who modelled their militaries along Soviet lines, have an Air Defence Force which is organizationally separate from their air force.

In addition to pilots, air forces have ground support staff who support the aircrew. In a similar manner to civilian airlines, there are supporting ground crew as pilots cannot fly without the assistance of other personnel such as engineers, loadmasters, fuel technicians and mechanics. However, some supporting personnel such as airfield defence troops, weapons engineers and air intelligence staff do not have equivalent roles in civilian organizations.


Agresi Militer Belanda I 

Kegagalan Perundingan Linggajati antara Sekutu (Inggris), Belanda (NICA) dan Republik Indonesia, merupakan pemicu terjadinya Agresi Militer Belanda yang pertama. Belanda yang merasa dirinya lebih kuat, pada 21 Juli 1947 melaksanakan agresinya dibeberapa wilayah republik Indonesia, baik di Jawa maupun Sumatera. Tujuan agresi militer tersebut adalah untuk menduduki seluruh Jawa Barat, kota-kota besar di Jawa seperti Semarang dan Surabaya, serta daerah perkebunan dan minyak di Sumatera seperti Deli, Palembang dan sekitarnya. 


Dalam melaksanakan agresinya, Belanda berusaha mengintimidasi dan memaksa kedudukan Indonesia makin mundur ke pedalaman, serta menghancurkan potensi-potensi kekuatan udara Republik Indonesia diberbagai daerah. Seluruh pangkalan udara Republik Indonesia diserang secara serempak, mereka bergerak dengan mengandalkan pesawat-pesawat tempur P-5 Mustang dan P-40 Kitty Hawk serta pesawat pembom B-25/B-26. Penyerangan terhadap pangkalan-pangkalan udara Republik Indonesia, yang saat itu masih dalam proses perintisan, tentunya dimaksudkan untuk menghilangkan atau mengurangi kemampuan Angkatan Udara Republik Indonesia, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan serangan udara terhadap Belanda. 


Demikian pula halnya dengan Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, tidak luput dari sasaran serangan Belanda. Serangan Belanda di Pangkalan Udara Maguwo, dilaksanakan secara bergelombang. Serangan awal dilancarkan pada pagi hari tanggal 21 Juli 1947, tetapi serangan awal ini mengalami kegagalan, karena secara kebetulan cuaca di atas kota Yogyakarta berkabut tebal sehingga Belanda tidak mampu melaksanakan serangan. Kegagalan tersebut tidak mengurangi usaha Belanda untuk menghancurkan Maguwo, karena pada siang harinya Belanda menyerang kembali. Selama 40 menit, empat buah pesawat pemburu Belanda menyerang dengan menjatuhkan beberapa bom di atas lapangan terbang Maguwo dan Wonocatur, yang menyebabkan timbulnya kebakaran di beberapa tempat, namun pesawat yang telah disembunyikan sebelumnya luput dari serangan Belanda. 


Pukul 14.10 WIB tanggal 23 Juli 1947, Belanda kembali menyerang lapangan terbang Maguwo. Pesawat-pesawat pemburu Belanda melepaskan tembakan mitraliur dan menjatuhkan granat tangan. Serangan Belanda ini mendapat perlawanan dari anggota AURI, satu pesawat Belanda kena tembak dan melarikan diri. Dua hari berikutnya, yakni pada 25 Juli 1947 pukul 14.30 WIB, kembali Maguwo diserang oleh dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda. Meskipun demikian perlawanan kita dari bawah tidak kendor sedikitpun. Dalam pertempuran ini satu pesawat Belanda terkena tembakan pasukan penangkis serangan udara dan melarikan diri kearah Solo. Menjelang Magrib tanggal 25 Juli 1947, Belanda kembali melancarkan serangan berikutnya.

Kali ini AURI mengalami kerugian yang sangat besar, karena pesawat-pesawat tempur Belanda menemukan pesawat-pesawat AURI yang sedang di run up. Pada serangan yang kelima kalinya ini, beberapa pesawat Cukiu dan Cureng AURI hancur, bahkan satu-satunya pesawat pembom AURI yang tersisa, yaitu Pangeran Diponegoro I ikut hancur. Serangan-serangan Belanda yang tidak beraturan tersebut, menunjukan bahwa Belanda berusaha keras untuk melumpuhkan dan menghancurkan kekuatan udara Republik Indonesia. 


Penghancuran sasaran yang diperkirakan menjadi tulang punggung kekuatan udara Republik Indonesia, dianggap Belanda sebaga salah satu cara terbaik dalam mencegah Pangkalan Udara Republik Indonesia untuk melakukan serangan, yang akan mengancam kedudukan maupun menyerang daerah yang baru saja diduduki Belanda. Serangan udara Belanda atas kekuatan udara Republik Indonesia dapat dikatakan berhasil, sebagian besar hasil pembinaan kekuatan udara Republik Indonesia yang telah dibangun selama kurang lebih dua tahun setelah kemerdekaan hampir dapat dilumpuhkan.


Beberapa pangkalan udara di Pulau Jawa dapat diduduki, Pangkalan Udara Bugis (Malang) dan Kalijati dapat dikuasai Belanda, selain itu pesawat terbang yang ada di Pangkalan Udara Maospati, Panasan, dan Cibeureum banyak yang dihancurkan Belanda, sedangkan di Pangkalan Udara Maguwo hanya tersisa dua Cureng, satu Guntei dan satu Hayabusa. 

Sumber:

TNI AU

Wednesday, 1 August 2007

Angkatan Udara

VISI ANGKATAN UDARA



Terwujudnya postur TNI AU yang professional, efektif, efisien, modern, dinamis dan handal dalam rangka menegakkan serta mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

MISI ANGKATAN UDARA

* Mewujudkan kemampuan dan kekuatan sistem, persone1, materiil alut sista dan fasilitas untuk memenuhi postur TNI AU yang berkualitas agar siap untuk melaksanakan tugas dan fungsi.

* Meningkatkan kemanpuan penyelenggaraan fungsi-fungsi intelijen dan pengamanan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi TNI AU.

* Melaksanakan pembinaan kekuatan dan kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas TNI AU baik dalam Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

* Melaksanakan kegiatan bantuan kemanusiaan dan bakti sosial dalam rangka membantu otoritas sipil untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi terwujudnya keamanan dalam negeri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

* Meningkatkan kerjasama militer dengan negara-negara sahabat dalam rangka menciptakan kondisi kemanan nasional, regional dan internasional serta untuk meningkatkan hubungan antar negara.

* Melaksanakan penelitian dan pengembangan terhadap strategi dan sistem pertahanan, sumber daya manusia, serta kemampuan dan pendayagunaan industri strategis nasional untuk kepentingan pertahanan matra udara.

* Meningkatkan pemberdayaan fungsi perencanaan, pengendalian dan pengawasan dilingkungan TNI AU melalui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pernerintah.

Pernyataan Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 merupakan simbol terlepasnya segala belenggu penjajahan yang telah lama dirasakan Bangsa Indonesia, dan mempunyai arti sejak saat itu Bangsa Indonesia telah mengambil sikap untuk menentukan nasib sendiri dalam segala aspek kehidupan, serta menandakan lahirnya Negara Indonesia yang memiliki kedaulatan dan kedudukan sama dengan negara-negara berdaulat lainya. 

Akan tetapi, setelah proklamasi bukan berarti Indonesi Perjuangan Bangsa Indonesia pasca proklamasi dirasakan sangatlah berat, saat itu seluruh kekuatan angkatan bersenjata Republik Indonesia masih sangat minim, baik dari segi jumlah maupun tehnologinya. Kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia hanya mengandalkan sisa-sisa peninggalan Jepang yang kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk dioperasionalkan. Sedangkan Pemerintah Belanda yang belum rela dengan kemerdekaan Indonesia dan ingin berkuasa kembali di Indonesia, sudah memiliki kekuatan udara yang besar dan tergolong moderen, serta telah berpengalaman dalam kancah perang dunia.

Saturday, 28 July 2007

Limits on the Dark Energy Parameters from Cosmic Microwave Background experiments

Dmitri Pogosyan1, J. Richard Bond2, Carlo Contaldi2

1Physics Department, University of Alberta, Edmonton, AB, T6G 2J1, Canada 2CITA, University of Toronto, Toronto, ON, M5S 3H8, Canada

Abstract.


Full suite of the present day Cosmic Microwave background (CMB) data, when combined with weak prior information on the Hubble constant and the age of the Universe, or the Large-Scale structure, provides strong indication for a non-zero density of the vacuum-like dark energy in our universe. This result independently supports the conclusions from Supernovae Ia (SN1a) data. When the model parameter space is extended to allow for the range of the equation of state parameter wQ for the dynamical field Q which gives rise to dark energy, the CMB data is found to give a weak upper bound wQ < −0.4 at 95% CL, however combined with SN1a data it strongly favours wQ < −0.8, consistent with -term like behaviour.

http://arxiv.org/pdf/astro-ph/0301310.pdf