Wednesday, 1 June 2011

Number of Superstring Theories

Theoretical physicists were troubled by the existence of five separate string theories. This has been solved by the second superstring revolution in the 1990s during which the five string theories were discovered to be different limits of a single underlying theory: M-theory.


String Theories
Type Spacetime dimensions Details
Bosonic 26 Only bosons, no fermions means only forces, no matter, with both open and closed strings; major flaw: a particle with imaginary mass, called the tachyon
I 10 Supersymmetry between forces and matter, with both open and closed strings, no tachyon, group symmetry is SO(32)
IIA 10 Supersymmetry between forces and matter, with closed strings only, no tachyon, massless fermions spin both ways (nonchiral)
IIB 10 Supersymmetry between forces and matter, with closed strings only, no tachyon, massless fermions only spin one way (chiral)
HO 10 Supersymmetry between forces and matter, with closed strings only, no tachyon, heterotic, meaning right moving and left moving strings differ, group symmetry is SO(32)
HE 10 Supersymmetry between forces and matter, with closed strings only, no tachyon, heterotic, meaning right moving and left moving strings differ, group symmetry is E8×E8
The five consistent superstring theories are:

  • The type I string has one supersymmetry in the ten-dimensional sense (16 supercharges). This theory is special in the sense that it is based on unoriented open and closed strings, while the rest are based on oriented closed strings.
  • The type II string theories have two supersymmetries in the ten-dimensional sense (32 supercharges). There are actually two kinds of type II strings called type IIA and type IIB. They differ mainly in the fact that the IIA theory is non-chiral (parity conserving) while the IIB theory is chiral (parity violating).
  • The heterotic string theories are based on a peculiar hybrid of a type I superstring and a bosonic string. There are two kinds of heterotic strings differing in their ten-dimensional gauge groups: the heterotic E8×E8 string and the heterotic SO(32) string. (The name heterotic SO(32) is slightly inaccurate since among the SO(32) Lie groups, string theory singles out a quotient Spin(32)/Z2 that is not equivalent to SO(32).)
Chiral gauge theories can be inconsistent due to anomalies. This happens when certain one-loop Feynman diagrams cause a quantum mechanical breakdown of the gauge symmetry. The anomalies were canceled out via the Green-Schwarz mechanism.

Sources:

Wikipedia

Friday, 27 May 2011

Bagimana Kita Belajar Kepada Para Peraih Nobel?

In many ways, the Nobel Foundation is similar to an investment company, in that it invests Nobel's money to create a solid funding base for the prizes and the administrative activities. 

The Nobel Foundation is exempt from all taxes in Sweden (since 1946) and from investment taxes in the United States (since 1953).

Since the 1980s, the Foundation's investments have become more profitable and as of 31 December 2007, the assets controlled by the Nobel Foundation amounted to 3.628 billion Swedish kronor (c. US$560 million).
Untuk Mempelajari kehebatan para peraih nobel kita harus mengenal perjalanan kehidupan mereka, membentuk mental ilmiah yang kuat, serta membangun komunitas ilmiah di lingkungan kita. 

Sumber: 

Nobel Prize

Wikipedia.

Wednesday, 18 May 2011

Presidential Lecture



Presidential Lecture

Kebutuhan Energi Kelistrikan Indonesia di masa depan 

(Oleh: Prof. B.J. Habibie)
 
 
Dalam keadaan mendesaknya masalah-masalah kehidupan kongkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terbelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam 'teknologi sederhana,' 'teknologi menengah,' dan 'teknologi tinggi'. Jauh lebih berguna mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah yang kongkrit, tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat itu adalah teknologi primitif, menengah atau canggih, dan tanpa mempersoalkan di mana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.
~Prof. Habibie~ 


Unduh File PPTnya disini
 
 



Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk dan tumbuhnya perekonomian, kebutuhan energi listrik terus meningkat. Pada 2030 mendatang, kebutuhan listrik akan mencapai sekitar 33,3 triliun kWh. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari dua kali lipat energi listrik yang diproduksi pada 2005.

Bagaimana dengan Indonesia? Data yang dilansir www. detik.com menyebutkan bahwa pada 2025, kebutuhan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) diperkirakan mencapai 150 juta ton per tahun. Sementara itu, tingkat konsumsi listrik akan mencapai 49 gigawat pada tahun yang sama. 


Produksi tenaga listrik, selanjutnya disitribusikan dan digunakan tidak lepas dari lingkungan hidup. Penggunaan bahan bakar untuk pembangkit listrik yang menghasilkan gas rumah kaca seperti karbondioksida tidak lagi dianjurkan. Karena, emisi gas rumah kaca telah menjadi kontributor peningkatan suhu bumi dan pemanasan global. 

Menghasilkan tenaga listrik dengan membakar batu bara, dan gas alam dapat meningkatkan konsentrasi karbondioksida sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Tenaga nuklir juga akan berpengaruh negatif pada lingkungan hidup. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sangat membutuhkan arus air dari bendungan untuk menggerakan turbinnya.

Banyak pihak yang mempromosikan penggunaan sumber daya lain untuk membangkitkan listrik seperti angin dan panas bumi. Sumber daya yang ‘hijau’ akan memberikan dua keunggulan utama, termasuk tidak menimbulkan polusi udara dan jejak karbon. 

Tenaga surya dan angin pun memiliki keterbatasan karena sumber daya ini tidak selalu tersedia. Dengan kata lain – matahari tidak selalu bersinar dan angin tidak berhembus setiap saat. Kelemahan lain adalah biasanya kedua sumber daya ini sulit didapat di daerah – daerah yang justru membutuhkan tenaga listrik. 

Integrasi pembangkit listrik dan tenaga ‘hijau’ ke dalam power supply, serta meningkatkan penghematan energi dan mengurangi puncak kebutuhan listrik, adalah alasan mengapa pemerintah, perusahaan teknologi, aktivis lingkungan hidup dan pendukung penghematan energi semakin memusatkan perhatian mereka pada upaya memodernisasikan grid-grid yang mendistribusikan listrik dari pembangkit listrik ke pelanggan. 

Agar kita menggunakan lebih banyak sumber energi yang ramah lingkungan dan mendorong transmisi, pendistribusian dan penggunaan listrik secara lebih canggih, grid-grid listrik harus berubah menjadi ‘lebih pintar’. Oleh karena itu, tantangan yang sebenarnya adalah membawa grid listrik dari abad ke-20 ke abad ke-21.