Saturday, 18 August 2012

Allhamdulilah Aku Jadi "Astronot"


Semoga Generasi Indonesia Masa Depan Ada yang Menjadi Astronot

Penulis dan Peneliti Muda Berada di Ruangan
Pada Acara Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional

An astronaut or cosmonaut is a person trained by a human spaceflight program to command, pilot, or serve as a crew member of a spacecraft. While generally reserved for professional space travelers, the terms are sometimes applied to anyone who travels into space, including scientists, politicians, journalists, and tourists.



Astronaut training

Astronaut training describes the complex process of preparing Astronauts for their space missions before, during and after flight, which includes medical tests, physical training, Extravehicular Activity (EVA) training, procedure training, rehabilitation process, as well as training on experiments they will accomplish during their stay in space.
The training is geared to the special conditions and environments astronauts will be confronted with during launch, in space, and during landing. All phases of the flight must be taken into account during training to ensure safety to, and functionality of the astronauts, as well as to ensure a successful completion of the mission.


Sumber:


Prof. Abdus Salam: Sang Pendiri ICTP




"Pikiran Ilmiah adalah warisan umum umat manusia" 

-Abdus Salam- 


Abdus Salam, lahir di Jhang, sebuah kota kecil di Pakistan tahun 1926. Ayahnya seorang karyawan Departemen Pendidikan di sebuah distrik yang kumuh. 

Saat kembali dari Lahore pada usia 14 tahun, setelah meraih nilai tertinggi pada ujian matrikulasi di Universitas Punjab dan meraih gelas Master pada Tahun 1946. 

Di tahun yang sama, ia dianugrahi beasiswa ke Akademi St. John, Universitas Cambridge, tempat ia meraih gelar 
B.A. Kehormatan di bidang Matematika dan Fisika tahun 1949. 

Tahun 1950 ia menerima Hadiah Smith dari Universitas Cambridge bagi kontribusinya yang luar biasa di bidang fisika untuk tingkat pra-doktoral. 

Ia pun meraih gelar Doktor dari Universitas Cambridge di bidang fisika Teoritis. 

Kemudian disertasinya diterbitkan pada tahun 1951 mengenai penelitian dasar Elektrodinamika Kuantum yang memberinya sebuah reputasi Internasional. 

Salam kembali ke Pakistan tahun 1951 untuk mengajar matematika di Akademi Pemerintahan, Lahore dan pada tahun 1952 menjadi kepala Departemen Matematika Universitas Punjab. 

Ia kembali ke Pakistan dengan niat mendirikan Sekolah Penelitian di Bidang Teori Fisika, namun segera disadarinya hal itu mustahil. 

Untuk meniti karir di bidang penelitian teori fisika, ia tidak memiliki alternatif lain kecuali pergi ke luar negeri. 

Bertahun-tahun kemudian ia berhasil menemukan cara untuk memecahkan dilema yang dihadapi ahli fisika teori muda yang berbakat dari negara-negara berkembang. 

Ia Mendirikan ICTP (International Center for Theoretical Physics), Pusat Fisika Teori Internasional di Trieste. Italia. 

Di pusat pendidikan riset ini para ahli fisika muda diberika program pendidikan dan pelatihan selama 9 bulan akademik, sehingga ketika mereka kembali ke negaranya masing-masing telah mendapat pemikiran dan tenaga baru. 

Pada tahun 1954 Salam meninggalkan Pakistan untuk mengajar di Universitas Cambridge. Dan Pada Tahun 1957 ia menjadi gurubesar di bidang teori fisika di Akademi Imperial, London. 

Selama lebih dari 40 tahun ia menjadi peneliti di bidang teori fisika dasar partikel. 

Ia mengabdi kepada beberapa komite PBB yang menangani kemajuan IPTEK di negara-negara berkembang. 

Untuk mengatur jadwalnya yang sangat padat, Prof. Salam memangkas waktunya bagi hal-hal yg kurang penting seperti Liburan, Pesta atau pergi ketempat-tempat Hiburan. 

Para staf di kantornya mengaku sulit untuk memprotes bahwa mereka telah bekerja lewat waktu. 

Uang yang didapatnya dari hadiah Medali Atom untuk Perdamaian dan Penghargaan Nobel bidang Fisika ia gunakan untuk membiyayai para ahli fisika muda untuk belajar di ICTP dan tidak mengmbil se-sen pun bagi dirinya dan keluarganya. 

Abdus Salam dikenal sebagai Muslim yang Taat, yang mana agama tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan dan kehidupan keluarganya. 

Suatu kali ia pernah menulis buku: 

"Kitab suci Al-quran menuntun kita untuk merefleksikan keagungan alam Ciptaan Allah" 

Bagaimanapun generasi muda saat ini mendapat keistimewaan untuk menjadi bagian dari Ciptaan-Nya dan keagungan yang perlu disyukuri dengan segala kerendahan hati.



Sumber: 

100 Tahun Pemenang Hadiah Nobel Fisika. 

Wallohualam. 

Friday, 17 August 2012

Prof. Daniel Chee Tsui: Anak Kampung Peraih Nobel


"Bahwa satu-satunya kehidupan yang bermakna adalah belajar, Cara yang lebih baik dari sana adalah belajar daripada melalui mengajar"
-Daniel C. Tsui, Peraih Nobel Fisika; 1998-

Hadiah Nobel Fisika Tahun 1998 diserahkan bersama kepada;


1. Prof. Daniel C. Tsui
(University of Chicago & Bell Laboratories)


2. Prof. Horst L. Stormer
(Columbia University & Bell Laboratories)


3. Prof. Robert B. Laughlin
(Stanford University & Bell Laboratories)


Atas penemuan dan penelitian secara mendalam terhadap Fluida Kuantum dengan keluaran bermuatan secara fraksional.

  
Saya cendrung membagi kehidupan saya menjadi 3 bagian; Masa kanak-kanak di sebuah desa di Provinsi Henan di Cina pusat, tahun-tahun sekolah di Hong Kong, dan tahun-tahun sejak saya berkuliah di Amerika Serikat.

Satu-satunya hal yang menghubungkannya adalah Kebaikan, Kedermawanan dan Persahabatan dari orang-orang di sekitar yang saya alami seumur hidup saya.

Kenangan masa kecil saya diisi dengan tahun-tahun musim kemarau, banjir dan perang yang terus menerus menjadi kesadaran para penduduk desa saya yang jumlahnya berlebihan.

Namun biarpun keadaannya demikian dengan pengorbanan diri orang tua menjadikan momentum-momentum tersebut membahagiakan bagi saya.

Seperti kebanyakan penduduk desa lainnya, orang tua saya tak pernah mempunyai kesempatan belajar, bahkan membaca dan menulis.

Mereka buta huruf dan TAK INGIN ANAK-ANAK MEREKA MENGIKUTI JEJAK MEREKA.

APA PUN YANG HARUS DIUSAHAKAN.

Pada tahun 1951 orang tua saya untuk pertama kalinya dan mungkin satu-satunya cara dan kesempatan untuk meninggalkan desa yang kami cintai.

Mereka mengijinkan saya mengejar pendidikan di tempat yang jauh.

Yang mereka dan Saya sendiri tidak tahu ssecara persis.

Di Hong Kong, saya memulai pendidikan formal di kelas 6 dengan gemetaran, rasa takut bercampur bangga dan gembira.

Saya ingat, kesulitan karena tidak menguasai dialek Kanton pada awalnya tapi secara cepat dibantu dengan KEBAIKAN teman-teman sekolah yang dengan cara mereka sendiri-sendiri membantu dengan menawarkan PERSAHABATAN dan mengajak saya pada lingkungan mereka serta aktivitas di luar kelas.

Ketika memasuki Sekolah Menengah saya terinspirasi Guru-guru saya waktu itu.

Banyak dari para guru saya sangat berkualitas.

Mereka adalah lulusan-lulusan yang sangat cemerlang dari Universitas-universitas terbaik di China.

Dibawah situasi perang yang sangat genting pun Guru-guru saya waktu itu mampu menunjukan kalibernya yang mampu memperlihatkan Kecendikiawanan dan Ilmunya yang sangat baik.

Mereka mampu mengajar kami di musim dingin sambil menceritakan kenangan Romantis dan cerita-cerita ringan di zaman kejayaan Peking University.

Mereka mungkin secara pedagogis bukan guru-guru terbaik, tetapi Intelektualitas dan visi mereka menginspirasi Kami.

Mereka, menurut saya adalah orang-orang yang secara tidak langsung menantang kami para muridnya untuk dapat bertahan hidup dalam situasi tersulit sekalipun dan berani mengejar cita-cita kami.

Setelah berjuang cukup keras dan tabah saya menerima kabar baik dari Augustana College di Rock Island, Illinois. USA.

Selama 3 Tahun saya menyelesaikan studi di sana dan mendapat Beasiswa Ph.D. Ke Universitas Chicago, Kampus impian saya dulu sewaktu masa sekolah.

Idola saya waktu itu adalah Duo Genius Fisikawan Peraih Nobel pada tahun 1957, Prof. Chen N. Yang dan Prof. Tsung Dao Lee, keduanya menempuh pendidikan di University of Chicago.

Di Universitas ini saya bertemu dan jatuh Cinta dengan Linda Varland, mahasiswi Undergraduate, dan kami menikah setelah ia diwisuda.

Disana pun saya menemukan sosok guru dan pembimbing riset saya yaitu Prof. Royal Stark yang memberikan saya pekerjaan dan penelitian, serta memberikan penghasilan yang cukup bagi keluarga kami.

Setelah itu saya menjadi peneliti di Bell Laboratories di Murray Hill, New Jersey, untuk penelitian fisika zat padat dan semi konduktor.

Saya dan teman-teman terus memperdalam penelitian dalam bidang fisika elektron dua dimensi dan akhirnya menemukan efek fraksional kuantum Hall yang sangat penting dalam industri elektonika masa depan sserta mengantarkan kami meraih penghargaan Nobel.

Saya senang mengajar oleh karena itu disela-sela penelitian menyempatkan untuk memberi perkuliahan di PRINCETON UNIVERSITY.

Kolega dan teman-teman heran mengapa saya kelihatannya begitu menyukai mengajar.

Ketika saya sendirian saya sering mendengar hati sanubari saya berkata:

"Bahwa satu-satunya kehidupan yang bermakna adalah belajar, Cara yang lebih baik dari sana adalah belajar melalui mengajar".

Sumber:

100 Tahun Pemenang Nobel Fisika.