Tuesday, 23 October 2012

Mentafakuri Karya Agung Sang Pencipta Melalui Fisika



Dari mana kita berasal?

Siapa kita ini?

Untuk apa kita ada?

Dan Hendak kemana kita akan pergi pada akhirnya?

Terkadang kita terlalu tersibukan dengan rutinitas yang kita hadapi setiap hari, hingga kita jarang bertanya kepada diri untuk apa kita ada dan kemana kita akan pergi setelah tiada?

Kesadaran sebagai puncak kecerdasan dan kemanusiaan seolah sirna dengan hiruk pikuk jasadiah yang senantiasa berinteraksi dengan alam materil mayapada.

Sehingga sering kali kita lupa, lupa akan siapa kita dan dari mana kita berasal.

Kesadaran dan kemampuan pemikiran yang kita miliki sebagai pembeda dengan makhluk lain kadang tak digunakan semestinya.

Bukankah menjadikan udara yg kita hirup, tanah yg kita pijak, air yang kita minum sebagai sarana mengenal pencipta alam ini adalah tujuan kita?

Lalu kepada siapa lagi kita meminta petunjuk dan jawaban untuk melapangkan segala keluh susah hidup?

Kepada siapa kita meminta keterbukaan hati dan keluasan samudra jiwa?

Apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern?
Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. 

Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat diterangkan secara rasional. 

Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang agak egoistik.

Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk bercengkerama dengan Tuhan. 

Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten.

Hal-hal yang bersifat spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.

Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya, perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klassik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar Sufisme.

Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. 

Hal ini merujuk kepada suatu realitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman manusia.


Semoga Ilmu dan segala kegiatan yang kami lakukan dapat mendekatkan diri ini pada Mu Ya Rabbana, Melapangkan dada kami, membukakan mata qolbu kami, menjadi penebus segala salah serta khilaf di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.



"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." [QS Ali 'Imran 3:190-191]


Wallohualam Bissawab.
   
Sumber: Muhammad Hikam, M.Sc., Ph.D.

Doctor en Sciences et Genie des Materiaux, Université de Nancy I Vandoeuvre, France.

Saturday, 20 October 2012

Southeast Asia Astronomy Network Meeting

The 4th SEAAN meeting aims to promote cooperation in the field of education, research and popularization of astronomy among Southeast Asian member countries. It divided into scientific and business sessions. 


Ilmuwan dan Guru Muda Bersama para pemakalah di SEAAN Meeting ke-4

Session I
(5 speakers)

Chair: Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja

1. Dr. Lim Jit Ning: Astronomy Research and Education at a Singapore High School

2. Dr. Judhistira Aria Utama: Reliability Test of Visibility Function Prediction on Lunar Crescent Data in Indonesia

3. Prof. Dr. Moedji Raharto: Astronomical Phenomena and National Holiday on Calendar

4. Dr. Nur Hasanah: Statistical Model for Predicting Weather Through Lunar Phase - Meteorological Phenomena Relationships in Makassar City

5. Dr. Premana W. Premadi: Envisioning the Advancement of Astronomy and Astrophysics for the Next Ten Years



Session II
(4 speakers)

Chair: Hesti T. Wulandari, M.Sc., Ph.D.

1. Dr. Hasan Abu Kassim: Nuclear Astrophysics Research in Malaysia

2. Dr. Soheila Abdollahi: Simulations on Energy Spectrum Sensitivity of an Array Consisting 20 Scintillation Detectors Which will Situated at Alborz Cosmic Ray Observatory

3. Dr. Maedeh Fazlalizadeh: Observation of Geomagnetic Field Effect over Simulated Extensive Air Showers using CORSIKA Code

4. Dr. Taufiq Hidayat: Developing Radio Astronomy at the Bosscha Observatory



Physics Students from Indonesia University of Education with Prof. Hakim L. Malasan, D. Sc.
at The 4th South East Asia Astronomy Network Meeting.

Education:
B.Sc. : Institut Teknologi Bandung, Indonesia, 1985
M.Sc. : The University of Tokyo, Japan, 1989
D.Sc. : The University of Tokyo, Japan, 1993

Research Interests:

1. Stellar Physics
2. Photometry of variable and eclipsing binary stars
3. Spectroscopy
4. Development of CCD-based astronomical instruments
5. Image and data processing in astronomy

Session III
(8 speakers):

Chair: Mahasena Putra, M.Sc., Ph.D.

1. Prof. Hakim L. Malasan, Ph.D. : Collaboration in Eclipsing Binary Program

2. Dr. Andrea Richichi : New Binaries in the Pleiades Cluster

3. Dr. Norhasliza Yusof: Very Massive Stars at Local Universe

4. Dr. Siti Jamiah Mohamad Yob: An Optical Look at the Central Star of Planetary Nebula, K 648

5. Dr. Rhorom Priyatikanto: Dissolution of Merging Binary Clusters: Without Tidal Field

6. Dr. M. Ikbal Arifyanto: Physical Parameters of Open Clusters in the Anti-Galactic Center

7. Dr. Puji Irawati: On The Evolutionary Scenario Of IK Pegasi

8. Dr. M. Irfan Hakim: Searching the Progenitor of Rapidly Rotating Be Stars



Session IV
(6 speakers):

Chair: Prof. Moedji Raharto, M.Sc., Ph.D.

1. Dr. Utane Sawangwit: The Clustering of Luminous Red Galaxy at z=1 from SDSS Stripe82

2. Dr. Nooshin Jamshidi: Spectropolarimetric Study of Penumbral Filaments

3. Dr. Suryadi Siregar: Orbital Evolution of Toutatis

4. Dr. Budi Dermawan: Searching for New Venus Coorbital Asteroids

5. Dr. Abdul Rachman: Current Threat from Orbital Debris to Astronomical Observation

6. Dr. Dhani Herdiwijaya: Debris Impact on Low Earth Orbit Space Mission



"Educationists should build the capacities of the spirit of inquiry, learning, creativity, entrepreneurial and moral leadership among students and become their role model."
~Arip Nurahman at Indonesia University of Education~

Foto oleh:  Ella Dawiyah

Monday, 15 October 2012

Membangun Peradaban Dirgantara dan Keantariksaan Nusantara


Duhai sahabatku tahukah kita?

Bahwa: masing-masing dari diri kita memilikinya, yaitu potensi untuk menjadi lebih baik, memimpin dan memberi inspirasi.

"Seringkali kita menganggap apa yang kita lakukan hanyalah sesuatu yang kecil dan tak berarti
Tapi ingatlah Setetes air akan sangat berharga ketika kita kehausan ditengah panasnya gurun pasir
Sebuah Puzzle tak akan lengkap jika satu saja kepingannya tak ada
Maka bersyukurlah atas setiap hal yang dapat kita lakukan
Mulailah membuat langkah-langkah kecil yang sederhana
Teruslah melangkah di jalan yang kita buat
Pasti nanti akan ada banyak yang meragukan kita
Atau bahkan Menghina, Merendahkan dan Menertawakan Kita"


"Terus.,.Teruslah Melangkah.,.Terus.,Berlari.,.Teruslah Terbang"

Don't Give Up!

Pantang Menyerah!

"Karena Keberhasilan itu adalah tentang Kesabaran dalam Bertahan
Disa'at yang lain menyerah pasrah
Ketakutan Kita
Keraguan Kita 
Kesedihan Kita
Hanya akan membuat kita lemah dan kecil"

Mari Kita Berlari...Terbos semua ketakutan.,. Mari Kita Terbang..Hadapai setiap rintangan.,..
Menggapai Puncak Harapan dan Impian Kita  

Jangan hanya selalu menjadi penonton, karena semua orang juga bisa

Tapi tujulah Lapangan

Jadilah Sang Pemain Kehidupan dan

Lesakan Goal Terindah kita

Ambil dan hadapi Resiko

Meski terkadang kita harus terjun bebas

Namun yakinlah Pertolongan Yang Kuasa akan datang disaat kita membutuhkan



Beranilah Bermimpi

Berani Menjadi Kreatif

Karena dengan itu Matahari yang panas akan dapat kita genggam dengan tangan kita

Bermimpilah Berani Bermimpi Besar

Rasakan dengan Sepenuh Hati

Yakini dengan tekad yang Kuat

Kelak kita akan bisa

Menggapai puncak Terindah dan Tertinggi


Apapun Mimpi dan harapan Kita
Majulah, berjuanglah untuk mewujudkannya
Jangan menunggu bukti
Tapi Jadilah Bukti itu sendiri
Mari menjadi teladan bagi diri, keluarga dan masyarakat

Janganlah berputus asa terhadap apa yang kita raih hari ini

Bangkitlah Selalu


Amin


Membangun Peradaban Dirgantara dan Keantariksaan Nusantara

Kalau sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, lebih bersemangat, dan lebih baik mengapa kita tidak membangun industri harapan? Bahan bakunya gampang didapat: Niat baik, Ikhlas,  Semangat, kreativitas, tekad, dan totalitas.

Semuanya bisa diperoleh secara gratis!

Diadaptasi dari ceramah Prof. Habibie

17 tahun lalu, tepatnya 10 Agustus 1995, dalam rangka peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia, bangsa kita telah menggoreskan pena sejarahnya dengan terbang perdana pesawat terbang canggih N‐250.

Pesawat turboprop tercanggih, hasil disain dan rancang bangun putra‐putri terbaik bangsa sendiri mengudara di atas kota Bandung dalam cuaca yang amat cerah, seolah melambangkan cerahnya masa depan bangsa karena telah mampu menunjukkan kepada dunia kemampuannya dalam penguasaan sains dan teknologi secanggih apapun oleh generasi penerus bangsa.

Bandung memang mempunyai arti dan peran yang khusus bagi bangsa Indonesia. Bukan saja sebagai kota pendidikan, kota pariwisata atau kota perjuangan, namun Bandung juga kota yang menampung dan membina pusat‐pusat keunggulan Iptek, sebagai penggerak utama proses nilai tambah industri yang memanfaatkan teknologi tinggi (high tech).

Pada tahun 1985, sepuluh tahun sebelum terbang perdananya, telah dimulai riset dan pengembangan pesawat N250. Semua hasil penelitian dari pusat‐pusat keunggulan penelitian di Eropa dan Amerika dalam bidang ilmu dirgantara, ilmu aerodinamik, ilmu aeroelastik, ilmu konstruksi ringan, ilmurekayasa, ilmu propulsi, ilmu elektronik, ilmu avionik, ilmu produksi, ilmu pengendalian mutu (qualitycontrol) dsb, telah dikembangkan dan diterapkan di industri IPTN, di Puspitek, di BPPT dan di ITB, UGM, UI, ITS, dsb.

Dengan terbangnya N250 pada kecepatan tinggi dalam daerah “subsonik” dan stabiltas terbang dikendalikan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi “fly by wire”, adalah prestasi nyata bangsa Indonesia dalam teknologi dirgantara. 

Dalam sejarah dunia penerbangan sipil, pesawat N250 adalah pesawat turboprop yang pertama dikendalikan dengan teknologi fly by wire.

Dalam sejarah dunia dirgantara sipil, pesawat Jet AIRBUS A300 adalah yang pertama kali menggunakan teknologi fly by wire, namun AIRBUS 300 ini terbang dalam daerah “transsonic” dengan kecepatan tinggi, sebagaimana kemudian juga Boeing‐777.

Fakta sejarah mencatat bahwa urutan pesawat penumpang sipil yang menerapkan teknologi canggih untuk pengendalian dan pengawasan terbang dengan “fly by wire” adalah sebagai berikut:

1. A‐300 hasil rekayasa dan produksi Airbus Industri (Eropa)

2. N‐250 hasil rekayasa dan produksi Industrie Pesawat Terbang Nusantara IPTN, sekarangbernama PT. Dirgantara Indonesia (Indonesia)

3. BOEING 777 hasil rekayasa dan produksi BOEING (USA)

Produk pesawat terbang, produk kapal laut dan produk kerata api yang pernah kita rancang bangun dalam “euforia reformasi” telah kita hentikan pembinaannya atau bahkan sedangdalam “proses penutupan”. Misalnya PT. Dirgantara Indonesia yang dahulu memiliki sekitar 16.000 karyawan, sekarang tinggal kurang‐lebih 3.000 karyawan, yang dalam 3 sampai 4 tahun mendatang dipensiun karena tidak ada kaderisasi dalam segala tingkat.

Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang mengkoordinir 10 Perusahaan yang pada tahun 1998 memiliki kinerja turn‐over sekitar 10 Milliard US$ dengan 48.000 orang karyawan, kemudian dalam “eufori reformasi” dibubarkan! 

Pembinaan Industri Dirgantara, Industri Kapal Laut, Industri Kereta Api, Industri Mesin, Industri Elektronik‐Komunikasi dan Industri Senjata, dsb.

Tak lagi mendapat perhatian dan pembinaan!

Bila saja pembangunan dan pembinaan industri strategis ini terus dilanjutkan maka tak mustahil bidang ini akan menyerap jutaan tenaga kerja dan keuntungan Trilyunan US $. Sehingga mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa ekonomi terkuat di dunia.

Membangkitkan Industri Dirgantara Nusantara

Pasar Domestik yang begitu besar di bidang transportasi, komunikasi, kesehatan dsb.“diserahkan” kepada produk impor yang mengandung jutaan “jam kerja” untuk penelitian, pengembangan dan produksi produk yang kita butuhkan.

Produk yang dibutuhkan itu harus kita biayai dengan pendapatan hasil ekspor sumber daya alam terbaharukan dan tidak terbaharukan, energi, agro industri, pariwisata, dsb. Ternyata potensi ekspor kita ini tidak dapat menyediakan jam kerja yang dibutuhkan sehingga SDM di desa harus ke kota untuk mencari lapangan kerja atau ke luar negeri sebagai TKI dan TKW.

Akibatnya, proses pembudayaan dalam rumah tangga terganggu dsb. Proses pembudayaan (“Opvoeding, Erszeihung, Upbringing”) harus disempurnakan dengan proses pendidikan dan sebaliknya, karena hanya dengan demikian sajalah produktivitas SDM dapat terus ditingkatkan melalui pendidikan dan pembudayaan sesuai kebutuhan pasar.

Pertumbuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seharusnya dipelihara setinggi mungkin untuk dapat meningkatan “pendapatan bruto masyarakat” atau peningkatan“kekayaan national” atau “national wealth”. Namun pemerataan pemberian kesempatan berkembang, pemerataan pendidikan‐pembudayaan dan pemerataan pendapatanlah yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan, kualitas kesejahteraan dan kualitas ketentraman yang menjadi sasaran tiap masyarakat.

Bukankah jam kerja yang terselubung pada tiap produk yang kita beli itu pada akhirnya menentukan tersedianya lapangan kerja atau mekanisme proses pemerataan dalam arti yang luas itu?

Kita harus pandai memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentip kepada siapa saja, yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja dan akhirnya lapangan kerja.

Potensi pasar nasional domestik kita sangat besar. Misalnya, pertumbuhan penumpang pesawat terbang sejak 10 tahun meningkat sangat tinggi, sekitar 10% ‐ 20% rata-rata tiap tahun. Produksi pesawat terbang turboprop N250 untuk 70 penumpang yang sesuai rencana pada tahun 2000 sudah mendapat sertifikasi FAA dan Pesawat Jet N2130 untuk 130 penumpang yang sesuai rencana mendapat sertfikasi FAA pada tahun 2004  adalah jawaban kita untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Kedua produk yang dirancang bangun oleh putra‐putri generasi penerus ini yang mengandung jutaan jam kerja, bahkan harus dihentikan.

MENGAPA ? ? ?

Demikian pula dengan produksi kapal Caraka Jaya, Palwobuwono dan kapal Container yang harus dihentikan. Produksi kerata api harus pula dihentikan.

Walaupun pasar domestik nasional begitu besar, namun sepeda motor, telpon genggam dsb. yang semuanya mengandung jam kerja yang sangat dibutuhkan nyatanya barang‐barang tersebut tidak diproduksi di dalam negeri.


MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA?



Kita mesti melakukan reaktualisasi peran Iptek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka meningkatkan daya saing dan produktivitas nasional, serta untuk menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang.

Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, dan hal tersebut akan mensyaratkan solusi yang tepat, terencana dan terarah. Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk.

Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk‐produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain.

"Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo‐colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru".


Saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya paratokoh dan cendekiawan di kampus‐kampus serta di lembaga‐lembaga kajian dan penelitian lain untuk secara serius merumuskan implementasi peran iptek dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan.

Terkait dengan hal tersebut, saya sangat menghargai upaya Pemerintah dalam membentuk Komite Inovasi Nasional (yang dikenal dengan KIN) dan Komite Ekonomi Nasional (yang dikenal dengan KEN) dengan tugas sebagai advisory council untuk mendorong inovasi di segala bidang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Saya mengetahui bahwa KIN maupun KEN telah merumuskan berbagai strategi dan kebijakan dan agenda aksi, khususnya yang menyangkut perbaikan ekosistem inovasi dan pengembangan wahana transformasi industri.

Apa yang ingin saya ingatkan ialah, jangan sampai berbagai konsep yang dirumuskan oleh KIN maupun KEN tersebut hanya berhenti ditingkat masukan kepada Presiden saja, ataupun di tingkat rencana pembangunan saja, namun perlu direalisasikan dalam kegiatan pembangunan nyata.

Jangan kita merasa puas dengan wacana maupun berencana, namun ketahuilah bahwa rakyat menunggu aksi nyata dari kita semua, baik para penggiat teknologi, penggiat ekonomi, pemerintah maupun lembaga legislatif. Saya juga menyarankan agar Pemerintah maupun Legislatif perlu lebih proaktip peduli dan bersungguh sungguh dalam pemanfaatan produk dalam negeri dan “perebutan jam kerja”.

Kerjasama Pemerintah Daerah dan Pusat bersama dengan wakil rakyat di lembaga Legeslatif Daerah dan Pusat perlu ditingkatkan konvergensinya ke arah lebih pro rakyat, lebih pro pertumbuhan dan lebih pro pemerataan.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan dan himbauan, hendaknya kita pandai-pandai belajar dari sejarah. Janganlah kita berpendapat bahwa tiap pergantian kepemimpinan harus dengan serta‐merta disertai pergantian kebijakan, khususnya yang terkait dengan program penguasaan dan pernerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita mengetahui bahwa dalam penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi diperlukan keberlanjutan (continuity).

Jangan sampai pengalaman pahit yang dialami industri dirgantara dan industri strategis pada umumnya sebagaimana saya sampaikan di atas terulang lagi di masa depan! 

Jangan sampai karena euforia reformasi atau karena pertimbangan politis sesaat kita tega “menghabisi” karya nyata anak bangsa yang dengan penuh ketekunan dan semangat patriotisme tinggi yang didedikasikan bagi kejayaan masa depan Indonesia.


Kita dapat bersyukur bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang multi etnik dan sangat peka terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhana wata’alla.

Oleh karena itu ini adalah falsafah hidup nyata bangsa ini yang dari masa ke masa selalu disesuaikan dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dan peradaban yang dikembangkan dan diterapkan oleh kita bersama.

Dapat kita catat, bahwa saat ini bangsa kita sudah keluar dari “euforia kebebasan” dan mulai kembali ke“kehidupan nyata” antara bangsa‐bangsa dalam era globalisasi. Persaingan menjadi lebih ketat dan berat.

Peran keunggulan Sumber Daya Manusia lebih menentukan dan informasi sangat cepat mengalir. Kita menyadari bahwa tidak semua informasi menguntungkan peningkatan produktivitas dan daya saing SDM Indonesia.

Budaya masyarakat lain dapat memasuki ruang hidup keluarga. Kita harus meningkatkan “Ketahanan Budaya” sendiri untuk mengamankan kualitas iman dan taqwa (Imtak) yang melengkapi pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang diberikan dalam sistem pendidikan dan pembudayaan kita, yang menentukan perilaku, produktivitas dan daya saing Generasi Penerus.

Kita sudah Merdeka, sudah Melek IPTEKS, sudah Bebas belajar dan menerima informasi dari seluruh penjuru dunia. Kita sadar akan keunggulan masyarakat madani yang pluralistik, sadar akan kekuatan lembaga penegak hukum (Yudikatif) dan informasi yang mengacu pada nilai‐nilai luhur umat manusia yang terus disesuaikan dengan perkembangan pembangunan nasional, regional dan global.

Saya akhiri tulisan ini dengan ucapan:


MARI KITA REBUT KEMBALI JAM BELAJAR, JAM MENELITI, JAM KERJA, JAM BERUSAHA dan JAM BERIBADAH!

WUJUDKAN KEMBALI KARYA NYATA YANG PERNAH KITA MILIKI UNTUK PEMBANGUNAN PERADABAN INDONESIA!

BANGKITLAH, SADARLAH ATAS KEMAMPUAN BANGSA INDONESIA!

MERDEKA!

Wallahualam bissawab



"Saya awali hari dengan impian yang sederhana, banyak orang menertawakan, mengejek dan menghina saya namun saya tetap pada pendirian ini, dan akhirnya saya dapat merasakan berada pada suatu puncak tertinggi di dunia"
~Arip~

Terima Kasih Ya Rabbana.

Terima Kasih Keluarga ku, Sahabat-sahabatku, guru dan kepada orang-orang yang telah memberikan semangat serta kasih mereka.

Allhamdulilah


Mampir ke rumah kami:

Masyarakat IPTEKS Indonesia

http://masyarakatipteksindonesia.blogspot.com/