Friday, 14 December 2012

Strategi Menghapus Senjata Pemusnah Massal III

Strategi Penghapusan Senjata Pemusnah Massal


Arms control is a term for restrictions upon the development, production, stockpiling, proliferation, and usage of weapons, especially weapons of mass destruction. Arms control is typically exercised through the use of diplomacy which seeks to impose such limitations upon consenting participants through international treaties and agreements, although it may also comprise efforts by a nation or group of nations to enforce limitations upon a non-consenting country.

On a national or community level, arms control can amount to programs to control the access of private citizens to weapons. This is often referred to as gun politics, as firearms are the primary focus of such efforts in most places.


Sejumlah Pemimpin Dunia Hadir dalam Acara Nuclear Security Summit
di Seoul Korea Selatan

Banyak sudah definisi yang diberikan kepada kata “pengawasan senjata” atau “arms control”.  Evans dan Newnham (1998: 33), misalnya, mendefinisikan “pengawasan senjata” sebagai upaya yang dilakukan dengan maksud membatasi kegiatan untuk memperoleh, mengembangkan serta menggunakan kemampuan militer.  Dougherty dan Pfaltzgraff, Jr (1990: 413), sebagai contoh lainnya, menyatakan bahwa “pengawasan senjata” merupakan  semacam kebijakan yang bertujuan membatasi atau mengatur kualitas disain, kuantitas produksi, metode pengembangan, perlindungan, pengawasan, penyerahan, perencanaan, ancaman maupun penggunaan kekuatan dan senjata militer.

Sebuah definisi lain menyatakan bahwa  “pengawasan senjata” merupakan sebuah istilah yang mengacu pada upaya pembatasan terhadap pengembangan, pembuatan, penimbunan, penyebarluasan serta penggunaan senjata, utamanya adalah  senjata pemusnah massal.

Dari tiga contoh definisi di depan, dapat dikatakan bahwa pada dasarnya “pengawasan senjata” merupakan kebijakan yang bertujuan membatasi persenjataan: semenjak pembuatan sampai penggunaannya, baik yang menyangkut aspek kualitas maupun kuantitas.

Dengan adanya pembatasan persenjataan ini, maka diharapkan akan tercipta kondisi stabilitas militer.

Andaikata kondisi seperti ini terjadi, diperkirakan kekerasan dalam hubungan antar negara akan menurun dan kesempatan tercapainya perdamaian akan meningkat.

Ada kata/istilah  lain yang mempunyai hubungan dekat dengan pengawasan senjata, akan tetapi mempunyai pengertian berbeda, yakni “perlucutan senjata”. Menurut Dougherty dan Pfaltzgraff, Jr (1990: 413), “perlucutan senjata” adalah penghancuran senjata serta pelarangan pembuatan senjata pada masa yang akan datang. Sedangkan Evans dan Newnham (1998: 131) menyatakan bahwa “perlucutan senjata” itu merupakan proses sekaligus tujuan.

Sebagai suatu proses, perlucutan senjata mencakup di dalamnya pengurangan ataupun  penghapusan/ penghancuran system persenjataan tertentu. Sebagai tujuan, perlucutan senjata melingkupi di dalamnya pembentukan suatu dunia tanpa senjata serta pencegahan upaya mempersenjatai kembali dunia pada masa-masa selanjutnya.

Disamping mempunyai persamaan, antara pengawasan senjata dan perlucutan senjata juga mempunyai perbedaan.  Persamaannya, keduanya mempunyai tujuan memperkecil kemungkinan terjadinya perang. Para pendukung perlucutan senjata berasumsi jika senjata mengakibatkan terjadinya perang, maka dengan mengurangi jumlah senjata, kemungkinan terjadinya perang juga berkurang.

Sedangkan tujuan  pengawasan senjata, menurut para pendukungnya, adalah untuk menyetabilkan persaingan militer antar negara. Dalam suasana seperti ini, perasaan takut satu Negara terhadap Negara lain tidak begitu tinggi. Konsekwensinya, peluang terjadinya perang antar Negara tidak begitu tinggi pula.

Persamaan lain adalah keduanya bertujuan menurunkan anggaran pertahanan dan keamanan. Dengan melakukan pembatasan maupun pengurangan senjata, bahkan, memusnahkan senjata, maka biaya yang digunakan untuk keperluan militer mengalami penurunan. Sedangkan anggaran yang diperlukan untuk kebutuhan non militer bisa dinaikkan.

Sedangkan perbedaannya, perlucutan senjata jauh lebih ambisius dibandingakan dengan pengawasan senjata (Lamb 1988: 19 – 20).

Beberapa Pendekatan dalam Pengawasan dan Pelucutan Senjata.

Bahwa kegiatan pengawasan senjata telah berlangsung berabad-abad. Dengan demikian, tentu saja sudah banyak perjanjian yang dibuat  Negara yang berkepentingan dengan persoalan pengawasan senjata. Berikut disampaikan beberapa pendekatan utama yang berkaitan dengan pengawasan senjata.

Pertama, pendekatan kualitatif.  Dalam hal ini, dua Negara atau lebih yang terlibat di dalam perjanjian membuat kesepakatan menyangkut jenis persenjataan yang akan dibatasi. Sebagai contoh, pada waktu diselenggarakan World Disarmament Conference tahun 1932, Inggris mengajukan usulan penggolongan kualitas persenjataan menjadi dua, yakni senjata offensive dan senjata defensive (Hughes 1994: 135). Ada upaya pada waktu itu untuk memasukkan senjata kimia dan biologi ke dalam senjata offensive.

Kesepakatan pengawasan senjata internasional yang telah dicapai dan berkaitan dengan pendekatan kualitatif, contohnya, adalah Chemical Weapons Treaty tahun 1992. Traktat  yang bersifat multilateral ini berisi kesepakatan berbagai Negara untuk menghentikan produksi serta meniadakan penimbunan senjata-senjata kimia. Terlebih dari itu, traktat ini juga menyepakati adanya ijin inspeksi di lapangan terhadap senjata-senjata yang dicurigai sebagai senjata kimia.

Contoh lainnya adalah Environmental Modification Traety yang disepakati tahun 1977. Traktat tersebut berisi ketentuan bahwa Negara-negara penandatangan tidak akan membuat senjata yang akan dapat mengubah atau merusak lingkungan.

Kedua, pendekatan kuantitatif. Dalam hal ini, Negara-negara peserta perjanjian sepakat untuk membatasi jumlah persenjataan yang dibuat ataupun yang dimiliki. Tahun 1922, sebagai contoh, the Washington Naval Conference menyetujui adanya pembatasan produksi kapal perang serta pesawat pengangkut untuk sepuluh tahun kemudian.  Contoh lainnya, pada tahun 1990 NATO dan Pacta Warsawa menandatangani Agreement on Conventional Armed Forces in Europe (CFE). Disitu mereka sepakat untuk membatasi serta mengurangi secara substansial senjata  mereka masing-masing  sampai pada level tertentu.

Ketiga, pendekatan anggaran atau budgetair. Menurut perjanjian ini, Negara-negara yang terlibat dalam perundingan sepakat untuk membatasi anggaran atau budget pertahanan masing-masing. Akan tetapi, pada umumnya dalam perjanjian ini, Negara-negara peserta menentukan sendiri-sendiri batas anggaran yang mereka anggap layak.

Pada waktu diadakan Konferensi Den Haag tahun 1899, misalnya, Rusia mengusulkan pembekuan (tidak ada penambahan) anggaran pertahanan tiap-tiap Negara selama lima tahun ke depan. Sedang antara tahun 1963 – 1965, AS dan Uni Soviet pernah membicarakan pengurangan anggaran secara timbal balik. Bahkan, wakil Uni Soviet, dalam sebuah sidang Perserikatan Bangsa Bangsa pernah mengusulkan pengurangan anggaran pertahanan sebesar 10%.

Keempat, pendekatan kewilayahan. Mengacu pada perjanjian ini, Negara-negara sepakat mengadakan pengurangan ataupun pembatasan persenjataan di wilayah-wilayah tertentu. Pada tahun 1967, misalnya, 84 negara menandatangani the Outer Space Treaty. Traktat tersebut berisi larangan  penggunaan senajata nuklir di ruang angkasa. Delapan Negara, sebagai contoh lainnya, menandatangani sebuah perjanjian yang diberi nama South Pacific Nuclear Free Zone. Perjanjian yang ditandatangani tahun 1985 itu berisi ketentuan bahwa wilayah Pasifik Selatan merupakan wilayah yang bebas dari segala macam bentuk senjata nuklir.

Kelima, pendekatan komunikasi dan administrasi. Yang dimaksudkan disini adalah bahwa  untuk meredakan ketegangan  internasional,  maka perlu disediakan fasilitas komunikasi dan prosedur kerjasama antar Negara (Lamb 1988: 41). Sebagai konsekwensi munculnya Krisis Kuba 1962, maka AS dan Uni Soviet sepakat membentuk “hotline”. Kesepakatan yang dibuat tahun 1963 tadi memungkinkan pemimpin puncak kedua Negara untuk melakukan kontak secara langsung manakala mereka harus segera menyelesaikan persoalan penting dan mendesak. Dengan cara seperti ini, maka ketegangan internasional dan berbagai konsekwensinya bisa dikurangi.

Keenam, pendekatan pembangunan kepercayaan. Yang dilakukan Negara-negara yang melaksanakan pendekatan ini adalah menciptakan  keterbukaaan, transparansi serta prediktabilitas. Dengan dipaparkannya kemampuan militer sebuah Negara secara obyektif kepada Negara lain maupun diijinkannya sebuah Negara melakukan inspeksi terhadap fasilitas militer Negara lain, berarti tercipta keterbukaan/transparansi  diantara mereka. Selain itu, adanya kemampuan suatu Negara meramalkan secara pasti/tepat keputusan politik Negara lain berdasar prosedur baku yang berlaku, menunjukkan adanya unsur prediktabilitas.

Keterbukaan atau transparansi serta prediktabilitas seperti ini akan memungkinkan meningkatnya rasa saling percaya antar Negara. Konsekwensinya, ketegangan antar Negara bisa diredakan. Pada tahun 1975, umpamanya, antara NATO dan Pakta Warsawa menyelenggarakan Conference on Security and Cooperation in Europe (CSCE). Dalam konperensi itu, mereka sepakat memberitahu satu sama lain 21 hari sebelumnya bila lebih dari 25 ribu pasukan mereka melakukan latihan. Disamping itu, dalam konperensi tersebut mereka sepakat dengan adanya pengawas yang berfungsi memonitor manuver pasukan yang tengah melakukan latihan militer.

Ketujuh, pendekatan horizontal dan vertikal. Bila dua Negara atau lebih sepakat melakukan pembatasan secara kualitatif dan kuantitatif pembuatan dan pengembangan senjata, maka hal ini disebut sebagai pendekatan vertikal dalam pengawasan senjata. Sedangkan bila dua Negara atau lebih sepakat untuk membatasi penjualan/pemberian senjata kepada Negara lain, maka hal ini dianggap sebagai pendekatan horizontal dalam pengawasan senjata. Contoh yang paling jelas dari pendekatan horizontal adalah the Nonproliferation Treaty (NPT), yang bermaksud mencegah Negara–negara yang tidak memiliki senjata nuklir untuk memperolehnya.

Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) perlu ditiru organisasi-organisasi lain misalnya membuat perjanjian pengubahan sejumlah hulu ledak nuklir menjadi energi dan sejumlah bahan yang dapat digunakan bagi kesejahteraan umat manusia.

Membangun Kode Etik Ilmuwan

Merupakan suatu tatanan etika yang telah disepakati oleh suatu kelompok Ilmuwan. Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sanksi yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum.

Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau masyarakat luas.

Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional. Maka Ilmuwan di seluruh dunia harus bersepakat bahwa mereka tidak akan mengembangkan penelitian atau riset mendalam yang menyebabkan kehancuran total bagi umat manusia.


Penulis, Guru, Ilmuwan Muda dan Teman-teman bersama Prof. Toshio Wakabayashi, M.Sc., Ph.D.
 beliau merupakan Seorang Ahli dalam Penanganan Bencana Nuklir juga 
Profesor Emeritus Fisika Nuklir di Tohoku University, Jepang.

Penutup

Berbagai perjanjian internasional telah dilakukan untuk membatasi jumlah maupun jenis senjata yang diproduksi maupun digunakan. Banyak pendekatan yang dibuat untuk mengawasi persenjataan yang diproduksi. Semuanya ini dimaksudkan untuk menciptakan stabilitas militer sekaligus meredam kekerasan internasional. Namun demikian, berbagai peristiwa sejarah menunjukkan bahwa banyak perjanjian internasional yang berkaitan dengan pengawasan senjata tidak dengan sendirinya  menciptakan stabilitas dan meredakan ketegangan antar bangsa. Perang dan kekerasan masih banyak dijumpai di berbagai penjuru dunia dan nampaknya terlalu sulit dihindarkan.

Namun kita mesti optimis bahwa senjata-senjata berbahaya di dunia ini lambat laun dapat dikurangi dan dihilangkan sama sekali dari muka bumi.

Bila nafsu keinginan sudah tidak bisa terkendalikan, ia tidak lagi peduli dengan kebaikan dirinya, atau bahkan kehancuran seluruh bumi. Perang yang sesungguhnya adalah perang melawan diri sendiri, bagaimana menaklukan hawa nafsu pribadi dan mengendalikannya, pada akhirnya segala macam keuunggulan manusia tidaklah berarti apa-apa bila tidak dibarengi dengan pengendalian diri yang baik.

Jika kita saling memahami dan berkasih sayang antar sesama, menaruh kebencian dan permusuhan kedalam kotak Pandora, bukan hal yang mustahil kita dapat berdampingan bersama, penuh dengan perdamaian keadilan dan kesejahteraan.

Semoga perdamaian milik kita semua.

Dengan demikian, ajakan penggunaan senjata pemusnah massal ini adalah ajakan yang tidak benar. Menyebarkan pemikiran seperti ini dan mengajak orang untuk mengikutinya adalah termasuk tindakan membuat kekacauan, kejahatan dan kerusakan di bumi yang dilarang dan diancam dengan azab yang pedih oleh Allah.

"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-nya telinga mereka dan dibutakan-nya penglihatan mereka.” 
~Q.S. Muhammad (47) : 22 - 23)~

Wallahu a'lam.

Ucapan Terima Kasih:

1. Bapak Drs. Tri Cahyo Utomo, M.A. at Diponegoro University, atas Tulisannya: PENGAWASAN SENJATA INTERNASIONAL dan PENGURANGAN KEKERASAN
2. Kak Rezy Pradipta, M.Sc., Ph.D. (Alumni Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Nuclear Engineering at MIT)

3. Dr. Yukiya Amano (天野 之弥 ) is the current Director General of the International Atomic Energy Agency (IAEA) & Dr. Mohamed Mustafa ElBaradei, J.S.D. (Former Director General of IAEA)

4. Prof. Mujid S. Kazimi, Ph.D. (Director, Center for Advanced Nuclear Energy Systems MIT)

5. Kak Iqbal Robiyana, S.Pd., Teh Nina Widiawati, S.Pd. dan Teh Fitria Miftasani, S.Pd. Alumni Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Mahasiswa Pascasarjana Fisika Konsentrasi Fisika Nuklir ITB dan Founder Center for Nuclear Education at Indonesia University of Education

6. Dr. Petros Aslanyan, M.Sc. (Joint Institute for Nuclear Research, Rusia & Yerevan State University)
7. Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto, M.Sc., Ph.D. President Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)

Wednesday, 12 December 2012

Mengungkap Rahasia dan Misteri Angka-Angka dari Sudut Pandang Sains I

Ada apa dengan Pukul: 12 lewat 12 menit lebih 12 detik, Pada Tanggal 12 Bulan Ke 12 Tahun 2012?

Apakah segala sesuatu yang ada di alam semesta itu terjadi karena kebetulan belaka?

Ataukah kejadian-kejadian di alam raya ini hanya sebuah proses acak dan chaos semata?

Atau jangan-jangan ada Sang Maha Cerdas dibalik semua Penciptaan Alam Jagat Raya ini?



"The numbers are the key to everything."
~Prof. Jonathan Koestler, a professor of astrophysics at MIT~

Secara sederhana angka memang tidak menyimpan rahasia apapun, kecuali sebagai media perhitungan. Mewakili jumlah “sesuatu”. Namun, tidak jarang pula orang suka mengotak-atik angka untuk dicari maknanya. Bahkan, ada beberapa angka sangat digandrungi sebab diyakini membawa keberuntungan. Begitu pula, ada angka yang dijauhi, tidak diminati sebab bisa membawa sial. Begitulah, kenyataannya angka tidak berhenti hanya sebagai perhitungan tetapi mempengaruhi peruntungan dan kebuntungan. 

13 merupakan angka yang sangat tidak disukai. Konon, angka tersebut angka naas, angka sial atau sejenisnya. Padahal kalau dipikir-pikir, bukankah 13 juga angka selayaknya angka 12, 11, 14 atau yang lainnya. 

Tetapi, mengapa banyak yang menghindari? 

Sedangkan angka 9 diyakini angka yang baik, meski kebaikan seperti apa juga tidak diketahuinya? 

Apakah masalah beruntung-celakanya dari angka sebetulnya hanya sugesti mental, tahayul-tahayul yang berurat akar pada masyarakat? 

Ataukah memang angka-angka, kombinasinya menyimpan kekuatan di dalamnya? 

Sehingga dia (angka) bukan lagi sebagai alat pembilang suatu hal semata? 

Numerology

Bidang numerology dan daya magis angka telah menarik perhatian umat manusia selama ribuan tahun. Matahari dan bulan, sebagai tanda-tanda dalam buku agung alam semesta menjadikan manusia merasa bahwa angka-angka memiliki berbagai keistimewaan khusus yang bukan hanya mengelilingi serta menunjukkan ruang dan waktu dalam rumusan-rumusan abstrak, melainkan juga menjadi bagian dari sebuah sistem hubungan yang misterius dengan bintang-bintang dan berbagai fenomena alam lainnya. 

Pengetahuan tentang makna dan rahasia angka-angka tercermin dalam adat-istiadat, cerita rakyat, kesusastraan, arsitektur, dan musik yang dipandang sebagai memanifestasikan harmoni kehidupan. Simbolisme angka memang sangat beragam, dan berbagai kesamaan yang menakjubkan dalam menafsirkan angka-angka bisa ditemukan dalam berbagai kebudayaan yang berbeda.

Setiap peradaban memiliki tanda-tanda angkanya sendiri. Kita bisa membayangkan quipus (tali-tali yang diikat dengan berwarna-warni untuk mencatat kejadian atau mengirim berita di zaman dahulu) di mana utang-utang digoreskan dengan garis-garis yang berbeda. Ungkapan dalam bahasa Jerman, Etwas auf dem kerbholz haben, “memiliki seuatu tentang catatan seseorang”, dalam pengertian bahwa ia telah melakukan sejumlah dosa atau pelanggaran, mencerminkan cara berhitung terkemudian.

Angka Arab, seperti yang telah kita kenal dan dipakai sekarang, mengikuti huruf-huruf semitik kuno, yang disebut abjad, dan karena setiap huruf memiliki makna ganda, kita dapat dengan mudah membentuk hubungan antara nama-nama, kata-kata yang bermakna, dan angka-angka.dalam tradisi Islam seni mengasilkan kronogram-kronogram yang elegan dan sangat maju, dan pada waktu-waktu kemudian judul sebuah buku bisa digunakan untuk mencatat tanggal selesai penerbitannya.

Kepercayaan kuno pada tatanan angka telah menggiring, seperti dalam kasus Kepler, pada penemuan-penemuan ilmiah, tetapi jauh lebih sering mendorong pada manipulasi-manipulasi magis. 

Kepercayaan pada kekuatan mistisisme angka seperti ini masih bertahan hingga sekarang.

Semisal angka 9, dapat diinterpretasikan secara bermacam-macam. Ternyata angka Sembilan tidak hanya sebagai angka keberuntungan, tetapi juga angka kenegatifan, misalnya Petrus Bungus yang menyamakan angka Sembilan dengan sakit dan kesedihan dan mengatakan bahwa mazmur kesembilan berisi ramalan antikristus.

Interpretasi lain yang telah dikenal sejak zaman kuno menekanan watak angka 9 yang nyaris sempurna. Troy dikepung selama 9 tahun, dan Odysseus menempuh perjalanan dalam rentang waktu yang sama. Sembilan malaikat dalam Dante adalah refleksi dari kesempurnaan angka 3, yang kemudian dilengkapi dengan Tuhan yang Esa yang meliputi segala sesuatu sehingga membentuk keutuhan 10. 

Interpretasi “surgawi” lain atas angka 9 bisa ditelisik dari perannya sebagai hasil 8 +1, keindahan agung dan tinggi.

Kedudukan 9 yang serupa bisa dijumpai di dalam filsafat Ikhwan ash Shafa dengan tingkat eksistensinya: satu pencipta, 2 jenis intelek, 3 jiwa. 4 jenis materi, 5 jenis alam, alam badaniah yang ditentukan dengan 6 arah, 7 langit berplanet, 2 x 4 unsur, dan terakhir 3 x 3 tingkat kerajaan bintang, tumbuhan dan mineral.

Menurut kosmologi Islam, alam semesta dibangun dengan 9 langit. Di luar bumi terdapat langit bulan. Di atasnya terdapat langit Merkurius dan Venus. Langit matahari merupakan titik tengah di antara 7 langit berplanet, dan, karenanya, sering disebut “Pusat Alam Semesta.” Tiga langit berplanet dan selebihnya adalah langit Mars, Yupiter, dan Saturnus. 

Di luar itu ada langit kedelapan, yakni langit yang berisi bintang-bintang dengan kedudukan tetap. Sampai di sini struktur alam semesta sama seperti yang dikemukakan oleh Ptolemy, tetapi astronom Tsabit ibn Qurrah dan Harran (w.901) menambahkan langit kesembilan untuk menjelaskan apa yang dianggapnya semacam “kacaunya panjang siang dan malam,” dan kebanyakan astronom Muslim mengikuti pendapat-pendapatnya.

Langit kesembilan biasanya disebut falak al-falak, “langitnya langit”, dan langit kesembilan ini diyakini tidak mempunyai bintang.

Dalam sebuah artikel “Triskaidekaphobia” (ketakutan pada angka 13), Paul Holfman menulis di Smithsonian Magazine Februari 1987 bahwa fobia yang namanya sulit dieja ini:

“Menelan biaya satu miliar dolar Amerika per tahun karena fobia itu menyebabkan orang mangkir dan pembatalan keberangkatan kereta dan pesawat terbang, serta mengurangi aktivitas perdagangan pada tanggal tiga belas setiap bulannya”.

Kenapa ketakutan ini terjadi? 

Apa yang menjadi tonggak permasalahan dengan angka 13 sehingga begitu fobianya? 

Dan apakah semua peradaban, angka 13 dianggap angka buntung?

Tradisi Kristen memandang ketakutan angka 13 ini sebagai sebuah kenangan akan Jamuan Terakhir. Waktu itu, salah seorang murid ketiga belas mengkhianati Yesus. Namun, munculya peran negatif angka 13 dalam peradaban-peradaban Timur Dekat dan budaya-budaya yang berasal darinya jauh lebih awal. Seperti 11, 13 adalah angka yang melampui sebuah sistem utuh yang dilambangkan dengan 12, angka zodiac. Masih dalam tradisi Kristen, dengan berpatokan pola 12 + 1 pada Jamuan Terakhir, sering disebut sebagai angka hierarki-hierarki infernal. Sama halnya, tukang-tukang sihir sering tampil dalam kelompok-kelompok 13.

Angka ini secara umum dikaitkan dengan sihir dan black magic, dan di sini kotak magis yang bertalian dengan Mars memainkan peran penting, karena angka sentralnya adalah 13, dan jumlahnya selalu sama dengn 5 x 13.

Dalam dongeng Eropa, misalnya, 1 anak perempuan dan 12 anak laki-lakinya (yang kerap disihir menjadi binatang sehingga ia harus menyelamatkannya). Cerita-cerita Yunani. Kapten 13 dibuang ke dalam jurang yang sangat dalam sebagai awak terakhir, meski demikian ia selamat. Di Prancis, konon, setan selalu minta korban setiap orang ketiga belas yang melewati sebuah jembatan tertentu sebelum akhirnya diselamatkan oleh anggota ketiga belas dari sekelompok orang lain.

Tetapi tidak selalu angka 13 dianggap sebagai angka buntung, malah sebaliknya sebagai angka untung. Suku Maya, dalam agama Maya Kuno angka 13 mempunyai nilai yang penting. Dalam salah satu varian dari angka 19 angka ditambah dengan nol yang disebut dengan varian “berkepala,” 13 angka dibedakan dengan tanda kepala dewa yang berlainan. Selain itu, 20 tanda untuk hari-hari selama satu bulan dikombinasikan dengan angka-angka 1-13, dan penyusunan sebuah kalender dilakukan dengan ramalan (prognostication).

Sebagaimana dalam kebudayaan Maya Kuno, 13 juga dianggap sebagai angka sakral dan menguntungkan dalam tradisi Ibrani. Cabala memandangnya sebagai angka keberuntungan karena nilai numeriknya dalam bahasa Ibrani membentuk kata Ahad “Esa,” sifat terpenting Tuhan.

Seorang peramal Kerajaan Talmud mengatakan bahwa “pada suatu hari nanti tanah Israel akan terbagi menjadi 13 bagian, dan ketiga belas akan jatuh ke tangan raja Isa.”

Kabala dibagi menjadi 13 sumber surgawi, 13 pintu berkah, dan 13 sungai minyak balsam yang kelak akan dijumpai orang-orang salih di surga.

Ada apa dengan Angka 12?



Sistem kalender purba hingga modern hampir sebagian besar menetapkan jumlah bulan dalam setahun ada 12. Banyak makna dan peristiwa penting yang bisa dikaitkan dengan angka 12 ini, bukan hanya sistem penanggalan kalender.

Nama-nama bulan yang dikenal dunia modern sekarang berasal dari kalender Gregorian. Ke-12 nama bulan tersebut dalam bahasa Indonesia adalah Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember dan Desember.

Dalam kalender Suku Maya disebutkan kalau kiamat akan terjadi pada bulan ke-12 tahun 2012.

Dalam kalender Hijriyah (Islam) juga dikenal dengan 12 nama bulan yaitu Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah dan Dzulhijjah.

Dalam tradisi Israel dikenal dengan 12 suku Israel yaitu Ruben, Simeon, Lawi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, Benyamin. Ke-12 suku ini kemudian berdiaspora ke luar tanah Kanaan. Selain itu dalam literatur agama juga dikenal dengan 12 Murid Yesus (Nabi Isa AS) yaitu Petrus, Andreas, Yakobus Besar, Yakobus Kecil, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Thomas, Tadeus, Simon dan Yudas Iskariot. Dalam Islam istilah 12 sahabat Isa dikenal dengan nama Hawariyun. Dan ternyata Nabi Musa juga punya 12 sahabat sejati yang dikenal dengan sebutan Asbat.

Dalam tradisi Islam aliran Syiah angka 12 sangat penting, karena 12 merujuk pada 12 imam besar dalam Syiah yang dimulai dari Ali Bin Abi Thalib dan imam ke-12 adalah Imam Mahdi. Konon penyebutan 12 Imam besar Syiah ini banyak dipengaruhi oleh tradisi bangsa Israel. Wallahualam.

Bagi umat Islam angka 12 juga punya nilai historis yang penting karena Nabi Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal. Dalam Quran kitab suci yang dibawa Nabi Muhammad surah ke-12 adalah Surah Yusuf. Yusuf atau Yosef (bhs. Ibrani) Merupakan salah satu nabi Bani Israel yang diceritakan memiliki wajah yang tampan.

Angka 12 bagi orang China yaitu 12 shio yang tiap shionya punya makna dan filosofi yang berbeda, ke-12 shio itu adalah Tikus, Sapi, Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Domba, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi Hutan.

Sedangkan dalam astrologi Yunani angka-12 berarti 12 Zodiak yaitu Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus, Aquarius, dan Pisces. Zodiak sendiri dipercaya berasal dari peradaban lembah sungai Eufrat di Mesopotamia dan berkembang di kebudayaan Yunani.

Jangan lupakan di tubuh Manusia dalam sistem pencernaannya ada yang dinamai dengan usus dua belas jari, fungsi usus ini menyalurkan makanan ke usus halus. Dinding usus 12 jari tersusun atas lapisan-lapisan sel yang yang sangat tipis yang membentuk mukosa otot.

Kalau yang ini pasti disukai oleh lelaki dewasa mungkin wanita juga suka, dalam salah satu artikel rubrik kesehatan ada yang menulis tentang 12 cara bikin orgasme lebih dahsyat yang berisi tentang trik membantu wanita mencapai orgasme yang dahsyat. Kalau artikel seperti ini biasanya banyak di buru pembaca.

Di beberapa negara yang percaya angka 13 sebagai angka sial, nomor lift di negara tersebut biasanya lompat dari angka 12 ke angka 14 atau nomor 13 diganti dengan nomor 12a.

Rupanya angka 12 telah membawa kita melanglang buana ke penjuru dunia dari zaman purba hingga zaman millenium, saatnya kembali ke negeri kita sendiri. Angka 12 juga terdapat dalam sastra Melayu yaitu Gurindam 12. Gurindam 12 merupakan karya sastra Raja Ali Haji, seorang sastrawan Melayu keturunan Luwu di Sulsel. Ada yang menyebut Gurindam 12 merupakan cikal bakal bahasa Indonesia.

Dengan demikian, mengenai kesakralan suatu angka, untung-rugi yang diyakini di dalamnya belum tentu sama antara budaya satu dengan yang lain, antara keyakinan satu dengan yang lain. 

Sepertinya makna yang terkandung di dalam angka sangat bergantung dari interpretasi masyarakat yang dikontruks oleh cara pandang, keseharian, bahkan dikaitkan dengan suatu peristiwa yang terjadi dan menimpa salah satu tokoh yang dikagumi masyarakat. 

Dan, mungkin lebih bijak bagi kita dalam menyikapi misteri, rahasia dalam angka tersebut dengan bertanya:

“Bagaimana bila?”

Itu jalan terbaik untuk keluar dari kungkungan angka yang bisa saja sampai hari ini menghambat pola pikir dan kemajuan manusia.


Bersambung Ke Bagian : II

Monday, 10 December 2012

Strategi Menghapus Senjata Pemusnah Massal II

Nikola Tesla dengan Tesla Death Ray-nya
 

Adalah Nikola Tesla, (lahir di Smiljan, Kroasia, 10 Juli 1856 – meninggal di New York City, 7 Januari 1943 pada umur 86 tahun) seorang penemu, fisikawan, teknisi mekanika dan listrik juga seorang Futurist atau seorang ahli memprediksi kemajuan Ipteks masa depan .

Tesla dianggap sebagai salah satu penemu terpenting dalam sejarah dan merupakan salah seorang teknisi terbesar dalam akhir abad ke-19 dan abad ke-20. Tesla merupakan seorang perintis elektromekanik, sambungan tanpa kabel, dan daya listrik. Ia berketurunan Serbia dan menjadi warga negara Amerika Serikat pada 1891 selagi bekerja di negara tersebut.

Konon kejeniusan Nikola Tesla setingkat atau bahkan lebih hebat dari Thomas Alfa Edison Sang Penemu Legendaris. Pertama kali hijrah ke New York tahun 1884, ia hanya bermodal uang 4 sen, dan kopor berisi beberapa artikel teknik yang ditulisnya di Beograd dan Paris, sebuah buku kumpulan puisi karyanya, dan beberapa kalkulasi teknis mesin terbang.

Namun, di kepala lelaki bermata dalam dan biji mata agak terang (padahal, biasanya keturunan Slavia bermata gelap) telah tersimpan semua detail tentang generator arus AC polyphase, yang kemudian jadi dasar instalasi pembangkit listrik tenaga air di air terjun Niagara tahun 1895, serta sebagai standar mesin industri, bahkan ribuan ide-ide gila yang tak pernah terpikirkan siapa pun pada waktu itu bersemayam dalam pikirannya.

Hebatnya, kurang dari setahun ia telah mematenkan sekitar 30 karya. Malah 20 tahun berikutnya ia menelurkan penemuan di bidang teknik listrik dan radio dalam jumlah yang mencengangkan. Sayang, serangkaian kecelakaan memusnahkan banyak tulisannya. Mana mungkin ia mengingat setiap tanggal penemuannya?

Namanya sebagai penemu pun sering terabaikan.

Untung, ada usaha untuk meluruskan. Misalnya, Tesla, bukannya Marconi, penemu sirkuit pencari gelombang yang jadi dasar radio. Pahitnya, fakta ini ditentukan Pengadilan Tinggi AS tepat di tahun kematiannya. Sebenarnya masih berjajar kemungkinan gelar lain, seperti peneliti pertama sinar katoda dan sinar X, radiasi ultraviolet dari arus berfrekuensi tinggi dan efek terapinya terhadap tubuh. Ia pula yang merancang nenek moyang tabung lampu fluorescent, serta mengembangkan alat serupa LASER.

Salah satu penemuan yang mengabadikan namanya adalah kumparan Tesla. Namun, karya ini saja tak mampu mencerminkan prestasi ilmiahnya yang merevolusi dunia modern. Ilmuwan masyhur Inggris Lord Kelvin berkomentar:

“Kontribusi Tesla di bidang kelistrikan melampaui yang dilakukan orang lain.”

Karena kreativitasnya, tahun 1912 Tesla dinominasikan untuk hadiah Nobel di bidang ilmu fisika. Tapi ia menolak. Ia lebih merasa berhak memperolehnya pada tahun 1909 atas Nobel yang dianugerahkan pada Marconi. Alasannya, pada 1898 di Madison Square Garden, New York, ia mendemonstrasikan perahu radio kontrol.

Sinar Kematian Tesla 
Semuanya bermula dari sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh ilmuwan eksentrik itu pada tahun 1938. Kepada reporter, Tesla mengumumkan kalau ia dapat membuat sebuah senjata Maha Dahsyat sehingga siapa-pun yang memilikinya akan memiliki kemenangan luar biasa di dalam setiap peperangan. Senjata yang dimaksud Tesla itu kemudian dikenal dengan nama Tesla Death Ray, atau Sinar Kematian Tesla. 
Menurut Tesla:
"Senjata ini akan mengirim pancaran partikel-partikel yang ter-konsentrasi lewat udara yang akan terbang dengan kecepatan hampir menyamai kecepatan cahaya. Energi-nya begitu besar sehingga ia dapat merontokkan hingga 10.000 pesawat musuh dari jarak 250 mil dan dapat menyebabkan jutaan tentara musuh mati di tempat."
Senjata partikel ini melibatkan empat penemuan yang dikombinasikan menjadi satu.

*Penemuan pertama adalah sebuah peralatan yang bisa meniadakan pengaruh atmosfer terhadap partikel-partikel tersebut.

*Penemuan kedua adalah metode untuk menghasilkan potensi kekuatan listrik yang sangat besar.

*Penemuan ketiga adalah metode untuk meningkatkan kekuatan listrik yang dihasilkan hingga mencapai 50.000.000 volts.

*Penemuan keempat adalah pembuatan sebuah alat untuk melontarkan kekuatan listrik yang telah dihasilkan.

Particle Beam 

Kedengarannya, Tesla seperti sedang berfantasi. Namun sebenarnya tidak demikian. Pancaran partikel (particle beam) sebenarnya bukan hal yang aneh dalam dunia sains. Kita biasa menggunakan metode ini dalam kehidupan modern ini. Pancaran partikel sebenarnya hanya sebuah pancaran cahaya yang terdiri dari berbagai gelombang elektromagnetik.

Salah satu contoh penggunaannya adalah alat operasi sinar laser yang digunakan untuk mengoperasi otak. Namun pancaran partikel yang dibicarakan oleh Tesla tentu saja memiliki level yang berbeda dibanding dengan sebuah alat operasi. Jika senjata pemusnah massal ini benar-benar bisa direalisasikan, mengapa Tesla sampai berniat menciptakannya? Tesla ternyata memiliki cara pandang yang berbeda mengenai senjata ini.


Tesla Death Ray  Sebagai Senjata Pemusnah Massal 

Dalam pandangannya, senjata pemusnah massal ini justru bisa mencegah perang. Pada tahun ia membuat pengumuman itu, perang dunia I belum lama berakhir dan dunia sedang bersiap memasuki perang dunia II. Karena itu, Tesla memiliki ambisi besar untuk mengakhiri konflik dunia itu dan menciptakan perdamaian dunia. Dalam salah satu suratnya, Tesla menulis:

"Selama bertahun-tahun, aku mencoba untuk mencari solusi dari masalah terberat umat manusia, yaitu bagaimana menjaga perdamaian dunia." 

Mengenai Tesla Death Ray, ia mengatakan:

"Penemuan ini akan membuat perang menjadi tidak mungkin. Sinar kematian itu akan mengelilingi perbatasan setiap negara seperti tembok Cina yang tidak terlihat, hanya saja, "tembok" ini jutaan kali lebih sulit ditembus. Ini akan membuat setiap negara tidak dapat ditembus oleh pesawat musuh atau tentara darat yang menyerbu masuk." 

Dengan kata lain, menurut Tesla, untuk mencegah perang kita harus mempersenjatai diri dengan sangat hebat sehingga negara lain akan mengurungkan niatnya untuk menyerang.

Daftar Negara-negara pemilik senjata pemusnah massal 

This resource provides a list of states possessing, pursuing or capable of acquiring nuclear, chemical or biological weapons, and missile delivery systems as of 2000.


STATE NUCLEAR CHEMICAL BIOLOGICAL MISSILE
Algeria


Belarus


Bulgaria


Chile

China
Cuba


Ethiopia

Egypt
France
India
Indonesia

Iran
Iraq
Israel
Kazakhstan


Laos

Libya
Myanmar

North Korea
Pakistan
Romania


Russia
Serbia

South Africa
South Korea
Sudan


Syria
Taiwan
Thailand

Ukraine


Vietnam

United Kingdom
United States

Sources and Methods

  • A Chemical Weapons Atlas By E.J. Hogendoorn Bulletin of the Atomic Scientists September/October 1997 Vol. 53, No. 5
  • Chemical and Biological Weapons: Possession and Programs Past and Present
  • "The Specter of Biological Weapons" by Leonard A. Cole Scientific American December 1996
  • Defense Nuclear Agency, Biological Weapons Proliferation (Ft. Detrick, Md.: US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases, April 1994), page 46.
  • Sources on Tables Listing Countries of Chemical and Biological Weapon Concern Proliferation of Weapons of Mass Destruction: Assessing the Risks Office of Technology Assessment OTA-ISC-559, 1994 [Angola, Argentina, Brazil, Chad, Cuba, El Salvador, Mozambique, Nicaragua, Peru, and Phillipines are mentioned by a few cited sources as posessing chemical weapons, but most sources do not include them as chemical weapon states, which would bring the total to 29 chemical weapons states].

Bersambung ke bagian : III