Tuesday, 18 December 2012

Mengungkap Rahasia dan Misteri Angka-Angka dari Sudut Pandang Sains II

Astrofisika dan Desain Presisi Agung Penciptaan Alam Semesta




Fisika adalah ilmu yang mempelajari materi, energi dan interaksinya. Fisika terbagi menjadi dua jenis berdasarkan sifatnya, fisika teoritis dan fisika eksperimental. Kedua bidang ini saling berkaitan erat. Sebagai contoh, fisika teoritis menganalisa peristiwa pada saat big bang, fisika eksperimen akan merancang sebuah percobaan untuk meniru big bang seperti yang dilakukan di CERN dengan Large Hadron Collider. LHC berusaha mendekati saat-saat big bang dengan menabrakkan dua proton dari arah berlawanan sehingga kita dapat melihat apa yang muncul dari peristiwa yang secara alami, hanya terjadi sesaat setelah big bang terjadi.

Berdasarkan apa yang dipelajari, fisika terbagi atas begitu banyak cabang:

Kosmologi adalah fisika yang mempelajari asal usul alam semesta.
Astrofisika adalah fisika yang mempelajari bintang.
Meteorologi adalah fisika yang mempelajari cuaca dan iklim.
Termodinamika adalah fisika yang mempelajari energi panas.
Optik adalah fisika yang mempelajari cahaya dan warna
Fisika nuklir mempelajari materi atomik dan yang lebih kecil
Akustik mempelajari suara
Geofisika mempelajari material bumi
Statika mempelajari kesetimbangan massa
Dinamika mempelajari gaya-gaya yang berhubungan dengan gerak
Kinematika mempelajari gerak tanpa memandang gaya
Mekanika kuantum mempelajari fisika pada skala submikroskopis

Mekanika kuantum misalnya terdengar seperti sains fiksi. Perilaku alam semesta pada skala mikroskopis sungguh aneh dan sepenuhnya tidak sesuai dengan intuisi. Namun mekanika kuantum adalah teori paling teliti yang pernah dikembangkan dalam sains, karena mampu membuat prediksi dengan derajat ketepatan yang tidak pernah dibayangkan dalam sejarah manusia sebelumnya. 

Kadang kebenaran lebih aneh dari fiksi.

Fisikawan di dunia tidak puas hanya dengan asumsi sederhana agama mengenai mengapa alam semesta ada.?

Tapi, mereka mengabdikan miliaran dollar untuk mencari sebuah penjelasan rasional dan ilmiah. Mereka mungkin akan atau tidak akan pernah menemukannya. Namun kita telah menemukan penjelasan ilmiah mengenai moralitas dan kerumitan alam. 

Kita tidak mendapat apa-apa dari pernyataan kalau sesuatu itu ada diluar jangkauan fisika. Kita sungguh tidak tahu apakah jangkauan itu terbatas atau tidak.

Reduksionisme, Prinsip Antropik, dan Sains yang Relijius
 
Di hadapan saya terhampar dua artikel ilmiah populer tulisan dua peraih Nobel fisika terkenal, Steven Weinberg dan Frank Wilczek. 

Dengan menggunakan perumpamaan: 

“Apa yang  akan terjadi seandainya  muatan elektron sedikit lebih kecil dari nilai semestinya.?”

Dalam hati Saya jawab: 

"Sangat dramatis, tidak akan ada atom, molekul, kehidupan, bahkan planet dan galaksi seperti yang kita kenal saat ini."

Kedua fisikawan besar ini membahas kemandegan pengembangan teori superstring, teori yang dipercaya banyak ilmuwan sebagai kandidat Teori Segalanya (Theory of Everything atau TOE). Weinberg adalah salah seorang peraih Nobel untuk perumusan Model Standar (bersama Abdus Salam  dan  Sheldon  Glashow),  suatu  model  yang  menghimpun  sekumpulan  persamaan matematis yang menjelaskan semua gaya yang dikenal manusia, kecuali gaya gravitasi.

Frank Wilczek memperoleh Nobel fisika tahun 2004 untuk jasanya memecahkan masalah pelik dalam teori Kromodinamika Kuantum, teori yang menjelaskan mengapa zarah terkecil yang diesbut quark tidak pernah lepas dari proton atau netron.

Dari  pengalamannya,  Weinberg  merasa  perkembangan  fisika  saat  ini  sedang  mengalami semacam titik balik (turning point) karena kemandegan yang terjadi telah memberi angin segar pada  Prinsip  Antropik  sebagai  alternatif  penjelasan  hakiki  fenomena  alam  dari  skala femtoskopik (ukuran zarah 10^-15 m) hingga makroskopik (ukuran jagat raya). 

Berbeda dengan tradisi yang  selama  ini  berlaku  di  ranah  fisika  teori,  Prinsip  Antropik  sangat  mengedepankan pengamat,  dalam  hal  ini  agen  intelektual,  sebagai  agen  penting  yang  menentukan  proses sekaligus hasil akhir dari fenomena fisika.

Sementara itu, Frank Wilczek menggaris bawahi beberapa faktor yang menumbuhkan keraguan pada fisikawan tentang keberadaan garis finish dari upaya ratusan tahun pencarian persamaan matematika terakhir yang dapat menjelaskan segalanya.

Pada dasarnya faktor-faktor tersebut muncul  secara  alami  sebagai  konsekuensi  pengembangan  teori  fisika  yang  selalu  bersifat parsial.  Titik-titik  keberhasilan  menyebar  di  beberapa  tempat,  namun  upaya  untuk menghubungkan titik-titik tersebut menjadi kesuksesan akbar tampaknya mustahil dilakukan saat ini.

Wilczek  menganggap  bahwa Prinsip Antropik yang  berbau relijius tersebut relatif alami.

Baik Wilczek maupun Weinberg sepakat untuk tetap “membuka hati” terhadap prinsip ini sebagai salah satu alternatif jalan keluar kemandegan, meski mereka memiliki cara pandang berbeda.

Reduksionisme dan Teori Superstring

Reduksionisme merupakan aliran yang memandang bahwa sistem kompleks di alam ini dapat direduksi menjadi  sistem-sistem yang  lebih  sederhana atau  malahan  menjadi  sistem paling fundamental. Ide ini pertamakali diperkenalkan oleh Descartes di awal abad ke 17 dan telah menjadi bagian integral dari prinsip pengembangan sains selama hampir empat abad. Meski saat itu  Descartes  menempatkan  manusia  pada  posisi  holistik,  ide  reduksionisme  kini  telah berkembang jauh dan bahkan telah menampik campur tangan supranatural dalam penjelasan fenomena-fenomena alamiah.

Reduksionisme  dianggap  sebagian  ilmuwan  dapat  menyatukan  semua  sisi  sains.  Secara sederhana dapat dikatakan bahwa fenomena kimia dapat dijelaskan oleh hukum-hukum fisika, fenomena di bidang biologi dijelaskan oleh reaksi-reaksi kimia, psikologi dapat dijabarkan oleh biologi, sosiologi didasarkan pada psikologi, dan seterusnya.

Di dalam fisika, pertanyaan paling hakiki yang ingin dijawab adalah: seperti apa bahan dasar (building block) penyusun jagat raya ini, serta bagaimana cara mereka berinteraksi. Selama ratusan tahun pertanyaan ini telah dicoba untuk dijawab.

Semula diduga bahwa elektron, proton, dan netron merupakan zarah-zarah terkecil yang dicari ilmuwan. Namun, dengan ditemukannya akselerator-akselerator modern, diperoleh ratusan zarah yang jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah bahan dasar yang dicari. Pada tahun 60an diperkenalkan zarah hipotetik (semata-mata hipotesis) yang disebut  quark.

Melalui konsep ini jumlah zarah dapat direduksi secara dramatis menjadi enam quark serta beberapa lepton dan zarah-zarah tera.  Tentu saja pencapaian ini belum memuaskan hati para ilmuwan.

Di sektor  interaksi  antar  zarah,  gaya  listrik  dan  magnet  telah  lebih  dahulu  direduksi  oleh Maxwell menjadi gaya elektromagnetik. Salam dan Weinberg selanjutnya menggabungkan gaya ini dengan gaya nuklir lemah menjadi apa yang disebut sebagai gaya elektrolemah. Selanjutnya, dalam Model Standar gaya nuklir kuat dapat juga diperhitungkan.

Tinggalah gaya gravitasi yang masih sulit untuk dijelaskan, meski gaya ini sangat dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Pada era 70an teori supergravity diduga dapat menyelesaikan masalah ini. Namun ide ini segera tergantikan oleh ide superstring yang dipopulerkan oleh fisikawan John Schwarz dan Michael Green.

Formulasi  matematikanya  yang  sangat rumit  diselesaikan  oleh  fisikawan  matematis Edward Witten dari Universitas Princeton.

Sekitar tahun 1984 konfirmasi besar-besaran terhadap kesuksesan teori ini berdatangan. Ide ini dengan cepat merambat ke seluruh dunia karena isu yang menyertainya tidak lain adalah Teori Segalanya. Bahkan para pendukung teori ini memperkenalkan kalender baru; tahun 1984 adalah tahun ke nol, tahun penemuan terpenting setelah mekanika kuantum.

Teori superstring merupakan sebuah proposal yang mendasarkan fisika pada kawat (string) dua dimensi yang bergetar pada ruang-waktu berdimensi sepuluh. Keenam dimensinya melengkung dan kemungkinan berukuran sangat kecil sehingga kita hanya dapat merasakan empat dimensi ruang-waktu. Mode-mode getaran kawat ini menghasilkan semua zarah yang teramati dalam eksperimen.  Selain itu, teori ini berhasil menyatukan keempat gaya di dalam alam, karena medan gravitasi secara alami muncul di dalam teori tersebut.  

Kritik Terhadap Teori Superstring 

Dibalik semua kesuksesannya, teori  superstring mengalami masalah serius. Teori ini belum dapat dianggap sebagai teori ilmiah jika kita menggunakan standar Karl Popper!  Pertama,  teori  ini  melibatkan  persamaan-persamaan  matematika  yang  sangat  kompleks, sehingga  solusi  realistik  sangat  sulit  diperoleh.  Kedua,  energi  yang  diperlukan  untuk membuktikan kebenaran teori ini terlalu tinggi, jauh di luar kemampuan ummat manusia saat ini dan kemungkinan besar juga di masa mendatang. Ketiga, baru-baru ini ditemukan bahwa teori superstring dapat memiliki solusi luar biasa banyak.  Diperkirakan  jumlahnya  berorde 10^100 (sepuluh  pangkat  seratus)  hingga  10^500  (sepuluh  pangkat  lima  ratus).  

Leonard  Susskind menyebut solusi ini sebagai bentangan string (string landscape). Solusi yang berbeda dapat menghasilkan jagat raya berbeda, sehingga muncul kemungkinan multi jagat raya (multiverse). Keempat, karena teori ini (jika benar ada) secara virtual dapat menjelaskan “segalanya”, teori superstring tidak dapat difalsifikasi, salah satu kriteria dasar teori ilmiah yang pernah diajukan Popper dan masih dianut hingga kini.

Dalam buku terbarunya yang berjudul The Trouble with Physics: the Rise of String Theory, the Fall of a Science, and What Comes Next, fisikawan Lee Smolin dengan keras mengkritik teori superstring sebagai teori yang telah gagal menghasilkan ramalan-ramalan yang dapat diperiksa oleh  eksperimen.  Bahkan,  beberapa  pendukung  teori  ini  telah  berusaha  untuk  mengubah paradigma yang berlaku di dalam sains dengan menganggap bahwa teori ini tidak perlu melalui pengujian ilmiah.  

Smolin mencatat, problem utama teori  superstring adalah kenyataan bahwa teori ini belum tergolong  teori  yang  baik,  bahkan  semata-mata  merupakan  program  penelitian  bercakupan lebar. Akibatnya, apa yang dihasilkan tidak lain adalah aproksimasi serta dugaan (konjektur). Bagi Smolin, selama belum terbukti, penyatuan gravitasi dengan ketiga gaya lainnya merupakan dugaan semata. 

Yang  paling  parah  adalah  propaganda  para  teoretikus  superstring yang  menganggap  studi alternatif terhadap teori ini tidak berguna dan secara arogan menggunakan istilah “Popperazzi” pada siapa saja yang kritis terhadap superstring. Dengan asumsi bahwa teori ini selalu benar, superstring telah mendominasi penerimaan staf akademis di banyak institusi selama lebih dari 30  tahun,  meski  selama  itu  ia  tidak  mampu  menghadirkan  sekeping  prediksi  yang  dapat diperiksa oleh eksperimen. 

Prinsip Antropik

Di dalam kosmologi prinsip antropik pertama kali dipakai oleh Brandon Carter pada simposium bertema  “Konfrontasi  Teori-teori  Kosmologi  dengan  Data  Pengamatan”  pada  tahun  1973. Meski ada beberapa varian, secara umum prinsip ini menyatakan bahwa nilai-nilai parameter fisika  dan  kosmologi  yang  teramati  dibatasi  oleh  kebutuhan  bagi  eksistensi  si  pengamat.

Dengan  kata  lain,  jagat  raya  harus  memiliki  kondisi  yang  memungkinkan  berkembangnya kesadaran intelektual yang dapat mengamatinya.  Prinsip antropik  telah  dicoba  diterapkan  pada beberapa bidang  yang  masih  menjadi  bahan perdebatan seperti mekanika kuantum, teori inflasi Big Bang, dan teori  superstring.

Karena sifat  inherennya,  prinsip  antropik  membutuhkan  “variasi”  disekitar  apa  yang  “teramati”. Akibatnya, prinsip ini melahirkan konsep-konsep spektakuler yang lebih dekat dengan fiksi ketimbang ilmiah, misalnya konsep multi jagat raya.

Namun karena konsep ini juga muncul pada teori  superstring dan mekanika kuantum, prinsip antropik menjadi bahan perdebatan di komunitas  ilmiah,  meski  jurnal-jurnal  ilmiah  ternama  seperti  Astrophysics  Journal semula menolak menerbitkan riset di bidang ini.

Kegagalan Reduksionisme dan Kemenangan Prinsip Antropik

Selain  kelemahan  teori  superstring,  Wilczek  juga  mencatat  beberapa  hal  yang  menambah keraguan fisikawan terhadap eksistensi Teori Segalanya. Hukum-hukum fisika dikenal bersifat universal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Jadi, jika teori tersebut benar-benar ada, maka ia akan berlaku kapan dan di mana saja.

Namun beberapa fakta berikut sangat mengganggu: Pertama,  medium  kosmik  kebanyakan  diisi  oleh  ruang  hampa  (vacuum). 

Namun  vacuum sendiri bukanlah tempat yang sunyi dari hingar-bingarnya proses fisika. Sejak ditemukannya antizarah, vacuum dikenal sebagai medium yang dinamis, penuh dengan kesibukan penciptaan dan  pemusnahan  pasangan  zarah-antizarah,  medan-medan  symmetry-breaking,  serta  zarah virtual lainnya. Medium material yang kita kenal sehari-hari dalam fisika zat padat memiliki fase berbeda-beda serta mengandung cacat dan inhomogenitas. Mengapa hal ini tidak mungkin terjadi pada medium kosmik?

Kedua, dalam mekanika kuantum fungsi gelombang suatu objek umumnya menggambarkan beberapa sifat berbeda dengan peluang berhingga. Mengapa hal ini tidak mungkin untuk fungsi gelombang jagat raya? Ketiga, dalam teori Big Bang jagat raya diawali oleh ledakan tunggal singular (singular di sini berarti bahwa, kecuali ukuran spasial, semua kuantitas menuju tak berhingga pada saat ledakan) yang sifat-sifat alaminya tidak begitu diketahui.

Mengapa ledakan ini tidak mungkin terjadi berkali-kali dan dalam bentuk berbeda-beda?



Jika  diamati  secara  seksama,  terungkap  bahwa  parameter-parameter  fisika  fundamental memiliki nilai yang rumit. Contohnya, muatan elektron yang bernilai –1,602176462 x 10^-19 Coulomb  atau  massa  elektron  yang  nilainya  9,10938188  x  10^-31  kilogram.  Rasanya  sangat mustahil  jika  semua  nilai-nilai  semacam  ini  dapat  dihasilkan  dari  satu  teori  tunggal  yang sederhana.

Namun yang paling mengganggu adalah fakta bahwa nilai-nilai parameter tersebut seolah-olah ditala secara halus (fine-tuned) pada nilai-nilai tertentu yang memungkinkan berkembangnya kehidupan  diiringi  kesadaran  intelektual  yang  pada  akhirnya  dapat  menyadari  eksistensi parameter tersebut.

Seandainya saja  elektron sedikit lebih ringan, maka elektron dan proton dalam atom akan bergabung menjadi netron (plus neutrino).

Alam semesta yang melulu berisi netron tentu saja tidak dapat menyangga reaksi kimia yang mendukung kehidupan. Sebaliknya jika massa netron sedikit lebih ringan, deuterium tidak akan terbentuk, reaksi fusi pada bintang tidak akan menghasilkan energi pendukung kehidupan yang kita kenal saat ini.

Penalaan-halus (fine-tuning) nilai-nilai parameter fisika merupakan salah satu argumen teologi dari kekuatan supranatural pencipta jagat raya. Menurut argumen ini pencipta jagat raya menala secara hati-hati nilai-nilai parameter yang dibutuhkan oleh hukum alam, atau, hukum alam didisain  secara hati-hati untuk  memiliki  solusi unik dengan  nilai-nilai parameter  yang  kini teramati oleh ummat manusia.

Dalam biologi, argumen analog adalah seleksi alamiah dalam teori evolusi Darwin. Semua kehidupan di atas bumi berusaha untuk beradaptasi dengan nilai-nilai parameter yang sudah ditentukan. Hanya mereka yang mampu beradaptasi akan tetap survive.  Dalam bidang kimia, pertanyaan paling fundamental, yaitu mengapa keberadaan atom-atom tertentu seperti Hidrogen begitu berlimpah di jagat raya ini dibandingkan dengan atom-atom lain, jelas dapat dengan mudah dijawab oleh prinsip penalaan-halus ini.

Problem bentangan string (String Landscape) juga dapat diselesaikan. Melalui seleksi alamiah hanya satu dari 10^500  solusi yang mampu untuk memunculkan pengamat yang dapat menyadari problem ini. Dengan kata lain, dari  10^500  jagat raya yang mungkin, hanya satu yang akhirnya muncul dengan kesadaran intelektual yang diperlukan.

Penalaan-halus yang dijelaskan di atas tentu saja merupakan konsep prinsip antropik. Meski demikian, perdebatan yang dipicu oleh konsep ini tidak seindah dan semudah itu.

Peraih Nobel fisika David Gross, misalnya,  menyatakan membenci prinsip ini. Baginya,  prinsip antropik merupakan  kemunduran  dalam sains, sementara  pendukungnya  ia anggap  sebagai ilmuwan yang terlalu cepat menyerah dalam mengejar cita-cita awal sains.

Cukup banyak ilmuwan yang menganggap prinsip antropik jauh dari sains karena tidak dapat difalsifikasi. Steven Weinberg menampik relasi antara prinsip antropik dengan keyakinan relijius. Baginya sudah jelas bahwa adaptasi mahluk hidup dengan lingkungannya merupakan satu proses yang sangat alamiah. Analog untuk seleksi terhadap bentangan string.

Dibalik ini semua, debat tentang eksistensi multi jagat raya (yang merupakan konsekuensi alami problem bentangan string) mungkin yang paling menarik. Jika terbukti eksis, maka menurut Weinberg ada empat penjelasan mengapa jagat-jagat raya lainnya  belum atau bahkan tidak dapat diamati, yaitu mungkin jagat-jagat raya tersebut terletak di lokasi yang berbeda, di erayang berbeda, di ruang-waktu (empat dimensi) yang berbeda, atau di ruang Hilbert (kuantum) yang berbeda. Keyakinan fisikawan juga bervariasi, bahkan ada beberapa yang sangat fanatik.

Ambil contoh Martin Rees dan Andrei Linde yang terkenal kontribusinya dalam teori inflasi jagat  raya.  Bagi  Rees,  ia  sangat  yakin  adanya  multi  jagat  raya.  Untuk  itu,  ia  berani mempertaruhkan  anjing  kesayangannya.  Andrei Linde lebih  ekstrim lagi.  Ia bahkan  berani mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk keyakinan ini.

Sementara, bagi Weinberg, keyakinan terhadap multi jagat raya membuatnya hanya berani mempertaruhkan kehidupan Linde dan anjing kesayangan Rees saja!

Walohualambissawab.


Dari Berbagai Sumber.



Penulis, Ilmuwan muda dan Kang Iqbal Robiyana, S.Pd. mengikuti kuliah umum CERN and its Particle Physics Programme dengan Narasumber Kak Suharyo, Ph.D. Satu-satunya Ilmuwan Indonesia yang bekerja di CERN  dan Professor Emmanuel Tsesmelis currently heads the CERN Directorate Office, which plays a key advisory and support role for the Director-General and Senior Management and Professor of Physics at The University of Oxford.


Ucapan Terima Kasih Kepada:

Kak Handhika Satrio Ramadhan, M.Sc., Ph.D. Ahli Kosmologi termuda di Indonesia lulusan Tufts University, USA., Kang Anton Timur J., S.Si., Mahasiswa Pascasarjana S2 di Jurusan Astronomi ITB Konsetrasi Kosmologi, Kang Iqbal Robiyana, S.Pd. Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Guru Fisika di Darul Qur'an International School.
 

Juga kepada:

Prof. Dr. rer. nat. Terry Mart,

is a member of the teaching and research staff at Departemen Fisika, FMIPA, Universitas Indonesia, since 1990. He was born in Palembang on March 3, 1965. He received his sarjana degree from Universitas Indonesia in 1988 with cum-laude.

In 1996 he received Doctor rerum naturalium (Doctor of sciences) from Universitaet Mainz, Germany, also with cum-laude. Between 1997 and 2000 he spent his post doctoral research time mostly at the Departement of Physics, the George Washington University, Washington DC, USA, Department of Physics and Science Simulation Center, the Okayama University of Sciences, Okayama, Japan, and the Institut fur Kernphysik, University of Mainz, Germany.

His current research interests are electromagnetic production of strangeness on nucleons and nuclei, properties of nucleon resonances, production of hypertriton and heavier hypernuclei, and properties of the neutron star matter.


Semoga Bermanfaat dan Tetap Semangat

Monday, 17 December 2012

Keindahan Prinsip Simetri dalam Fisika

Malam ini salah satu dosen dan guru yang penulis kagumi Dr. rer. nat. Muhammad Farchani Rosyid, M.Sc. seorang pakar fisika matematika di Indonesia menautkan sebuah video lagu yang berjudul Titip Rindu Buat Ayah karya Ebiet G. Ade, juga seorang palantun lagu yang disukai oleh ayah saya. 

Bahasa Langit:
Salah satu bait sya'ir-nya:

"Ayah, dalam hening sepi kurindu 
untuk menuai padi milik kita 
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan 
Anakmu sekarang banyak menanggung beban"

"Namun semangat tak pernah pudar 
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia"

Ingat keluarga, ingat kampung halaman, dan ingat salah satu materi dalam sebuah seminar yaitu:
Prinsip Simetri, semoga menjadi obat kerinduan untuk mu ayah dan ibuku.
 
Memahami keindahan pola penciptaan Alam Raya 



Apakah arti "simetri"? 

In physics, symmetry includes all features of a physical system that exhibit the property of symmetry—that is, under certain transformations, aspects of these systems are "unchanged", according to a particular observation. A symmetry of a physical system is a physical or mathematical feature of the system (observed or intrinsic) that is "preserved" under some change.

A family of particular transformations may be continuous (such as rotation of a circle) or discrete (e.g., reflection of a bilaterally symmetric figure, or rotation of a regular polygon). Continuous and discrete transformations give rise to corresponding types of symmetries. Continuous symmetries can be described by Lie groups while discrete symmetries are described by finite groups (see Symmetry group). Symmetries are frequently amenable to mathematical formulations such as group representations and can be exploited to simplify many problems.

An important example of such symmetry is the invariance of the form of physical laws under arbitrary differentiable coordinate transformations.

Simetri dalam Fisika

Secara formal, walaupun mungkin agak kabur, kita dapat mengatakan bahwa sejenis simetri tertentu ada jika terdapat operasi matematis tertentu yang tidak mengubahnya. Seorang wanita yang anggun memiliki simetri terhadap sumbu vertikal, karena bila wanita yang anggun itu diputar terhadap suatu sumbu, hal itu tak akan mengubah rupa dan keistimewaanya. 

Ada beberapa simetri utama yang membiarkan hukum fisika tak berubah terhadap setiap situasi, seolah memperlihatkan keajegannya dan kekokohan prinsip ini. Operasi simetri yang paling sederhana ialah translasi dalam ruang, ini berarti hukum fisika tidak bergantung terhadap tempat pemilihan titik asal sistem koordinat yang dipakai. 

Dengan metode yang lebih lanjut dari pada apa yang kita pelajari saat ini, kita bisa membuktikan bahwa invariansi pemerian alam semesta raya terhadap translasi dalam ruang yang mengakibatkan kelestarian suatu momentum linear. 

Operasi simetri sederhana lainnya ialah translasi dalam waktu; ini berarti hukum fisika tak bergantung dari orientasi sistem koordinat tempat hukum itu dinyatakan. 

Kelestarian muatan listrik misalnya berhubungan dengan transformasi gauge yang menggeser titik-nol potensial elektromagnetik skalar dan vektor V dan A. 

(Seperti dibahas lebih mendalam pada teori elektromagnetik, dimana medan elektromagnetik dapat diperiksa dalam potensial V dan A, alih-alih dalam E dan B, yang mana kedua pemerian itu berhubungan melalui rumus kalkulus vektor E = - div V dan B = div x A). 

Transformasi gauge memberikan E dan B tidak terpengaruh karena kuantitas itu diperoleh dengan mendiferensiasi potensial, dan invariansi ini mengakibatkan kelestarian muatan listrik. 

Supersymmetry

In particle physics, supersymmetry (often abbreviated SUSY) is a symmetry that relates elementary particles of one spin to other particles that differ by half a unit of spin and are known as superpartner. In a theory with unbroken supersymmetry, for every type of boson there exists a corresponding type of fermion with the same mass and internal quantum numbers (other than spin), and vice-versa.

There is no direct evidence for the existence of supersymmetry. It is motivated by possible solutions to several theoretical problems. Since the superpartners of the Standard Model particles have not been observed, supersymmetry must be a broken symmetry if it is a true symmetry of nature. This would allow the superparticles to be heavier than the corresponding Standard Model particles.

If supersymmetry exists close to the TeV energy scale, it allows for a solution of the hierarchy problem of the Standard Model, i.e., the fact that the Higgs boson mass is subject to quantum corrections which — barring extremely fine-tuned cancellations among independent contributions — would make it so large as to undermine the internal consistency of the theory. 

In supersymmetric theories, on the other hand, the contributions to the quantum corrections coming from Standard Model are naturally canceled by the contributions of the corresponding superpartners. Other attractive features of TeV-scale supersymmetry are the fact that it allows for the high-energy unification of the weak interactions, the strong interactions and electromagnetism, and the fact that it provides a candidate for dark matter and a natural mechanism for electroweak symmetry breaking. Therefore, scenarios where supersymmetric partners appear with masses not much greater than 1 TeV are considered the most well-motivated by theorists.

These scenarios would imply that experimental traces of the superpartners should begin to emerge in high-energy collisions at the LHC relatively soon. As of September 2011, no meaningful signs of the superpartners have been observed,which is beginning to significantly constrain the most popular incarnations of supersymmetry. However, the total parameter space of consistent supersymmetric extensions of the Standard Model is extremely diverse and can not be definitively ruled out at the LHC.

Another theoretically appealing property of supersymmetry is that it offers the only "loophole" to the Coleman–Mandula theorem, which prohibits spacetime and internal symmetries from being combined in any nontrivial way, for quantum field theories like the Standard Model under very general assumptions. The Haag-Lopuszanski-Sohnius theorem demonstrates that supersymmetry is the only way spacetime and internal symmetries can be consistently combined.

In general, supersymmetric quantum field theory is often much easier to work with, as many more problems become exactly solvable. Supersymmetry is also a feature of most versions of string theory, though it may exist in nature even if string theories are not experimentally detected.

The Minimal Supersymmetric Standard Model is one of the best studied candidates for physics beyond the Standard Model. Theories of gravity that are also invariant under supersymmetry are known as supergravity theories.

Alam Semesta dan Simetri

Apakah alam semesta raya ini pun mempunyai keindahan simetri karena penciptaanya, ataukah terlahir hanya karena dampak dari fluktuasi-fluktuasi quantum yang acak tanpa adanya grand design? 

Atau Apakah alam raya ini pada hakikatnya simetri sehingga mempunyai tujuan dibalik kelahirannya? 

Wallohualam Bissawab. 

  Presentasi dari Prof. Satoshi Iso, Ph.D., mengenai Implikasi dari penemuan partikel Higgs
dalam Conference on Theoretical Physics and Nonlinear Phenomena

Sources: 

1. Modern Physics 
By: Prof. Arthur Beiser & Prof. Houw Liong Thee 

2. http://en.wikipedia.org/wiki/Symmetry_in_physics 

References:

General readers

Technical

  • Brading, K., and Castellani, E., eds. (2003) Symmetries in Physics: Philosophical Reflections. Cambridge Univ. Press.
  • -------- (2007) "Symmetries and Invariances in Classical Physics" in Butterfield, J., and John Earman, eds., Philosophy of Physic Part B. North Holland: 1331-68.
  • Debs, T. and Redhead, M. (2007) Objectivity, Invariance, and Convention: Symmetry in Physical Science. Harvard Univ. Press.
  • John Earman (2002) "Laws, Symmetry, and Symmetry Breaking: Invariance, Conservations Principles, and Objectivity." Address to the 2002 meeting of the Philosophy of Science Association.
  • Mainzer, K. (1996) Symmetries of nature. Berlin: De Gruyter.
  • Thompson, William J. (1994) Angular Momentum: An Illustrated Guide to Rotational Symmetries for Physical Systems. Wiley. ISBN 0-471-55264.
  • Bas Van Fraassen (1989) Laws and symmetry. Oxford Univ. Press.
  • Eugene Wigner (1967) Symmetries and Reflections. Indiana Univ. Press.


Thanks to: 

1. Mr. Iqbal Robiyana, S.Pd. 
Department of Physics Education, Indonesia University of Education and
Darul Qur'an International School 

2. Mr. Mirza Satriawan, M.Sc., Ph.D.
Doctor in Theoretical Physics, University of Illinois at Chicago. USA.

and to all my lovely friends
 
Oleh-oleh dari  Conference on Theoretical Physics and Nonlinear Phenomena

Sunday, 16 December 2012

SALT: Strategic Arms Limitation Talks


"The release of atomic energy has not created a new problem. It has merely made more urgent the necessity of solving an existing one."
~Albert Einstein~


Ballistic Missile

Abstract

Diplomasi adalah seni dan praktik bernegosiasi oleh seseorang (disebut diplomat) yang biasanya mewakili sebuah negara atau organisasi. Kata diplomasi sendiri biasanya langsung terkait dengan diplomasi internasional yang biasanya mengurus berbagai hal seperti budaya, ekonomi, militer, perdagangan dan lain-lain. Biasanya, orang menganggap diplomasi sebagai cara mendapatkan keuntungan dengan kata-kata yang halus. Perjanjian-perjanjian internasional umumnya dirundingkan oleh para diplomat terlebih dahulu sebelum disetujui oleh pembesar-pembesar negara. Istilah diplomacy diperkenalkan ke dalam bahasa Inggris oleh Edward Burke pada tahun 1796 berdasarkan sebuah kata dari bahasa Perancis yaitu diplomatie.


PERLOMBAAN SENJATA: Saat Negara-negara di Asia Saling “Unjuk Gigi”


Saat ini Asia di tengah perlombaan senjata yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang tidak hanya mempertajam ketegangan di wilayah itu tapi juga bersaing dengan upaya negara-negara Asia untuk mengatasi kemiskinan dan pertumbuhan kesenjangan ekonomi. Kesenjangan antara kaya dan miskin, jika dihitung dengan pengukur ketimpangan koefisien Gini  menunjukkan telah meningkat ketimpangan dari 39% menjadi 46% di China, India, dan Indonesia.

Meskipun keluarga-keluarga makmur terus mengumpulkan porsi kue ekonomi yang lebih besar dan lebih besar lagi. “Anak-anak yang lahir di keluarga miskin bisa 10 kali lebih mungkin meninggal dalam masa pertumbuhan dari pada mereka yang berasal keluarga kaya," kata Changyong Rhee, kepala ekonom dari Bank Pembangunan Asia.

Kawasan Asia dalam beberapa waktu belakangan ini memang seolah tak pernah sepi dari berbagai bentuk kehebohan, terutama seputar uji coba roket atau peluru kendali balistik berdaya jangkau beragam, bahkan sampai yang mampu menjangkau antarbenua. Layaknya sebuah perlombaan, uji coba diawali Korea Utara, yang meluncurkan roket jarak jauhnya, Unha-3 (Galaksi-3), walau dengan diiringi berbagai macam kecaman banyak negara di dunia.

Roket jarak jauh Korut tadi disebut-sebut punya radius jangkauan lebih dari 6.000 kilometer, atau lebih jauh dari rudal pendahulunya jenis Taepodong-2, yang bahkan diyakini mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.

Negeri Hindustan, India, menyusul dengan uji coba rudal jarak jauhnya, Agni V. India membanggakan rudalnya itu sanggup mengangkut hulu ledak nuklir dan mampu menjangkau sasaran sampai ke Beijing dan Shanghai, China. Seolah menunggu giliran, negeri tetangganya, Pakistan, yang juga dikenal sebagai salah satu negara dengan kemampuan nuklir, tak mau kalah menggelar uji coba serupa.

Berselang beberapa hari setelah India, Pakistan mengujicobakan rudal Hatf IV Shaheen-1A. Peluru kendali itu merupakan versi terbaru sekaligus upgrade dari teknologi rudal sebelumnya, Shaheen-1. Walau radius daya jangkaunya baru mencapai 750 kilometer, kedua varian rudal Pakistan itu diklaim bisa juga dipasangi hulu ledak nuklir.

Memang tidak bisa dimungkiri kemampuan daya tangkal dan efek penggentar itulah yang sekarang coba dicapai dan sekaligus ditunjukkan oleh masing-masing negara tadi, terutama terkait upaya mereka menghadapi potensi ancaman dari setiap negara seteru.

Menurut analis pertahanan India, Rahul Bedi, dengan menyebut rudal Agni V mampu menyasar target di China, hal itu juga menjadi isyarat agar China berhati-hati dan mulai memperhitungkan kekuatan India di kawasan. Terkait kemampuan Agni V, India memang sama sekali tidak menyinggung kalau rudal itu juga bisa menjangkau sasaran di wilayah negara lain seperti Rusia. Dari sana Bedi meyakini India memang ingin coba mulai menantang dominasi kawasan China di Asia.

Sementara itu, terkait peluncuran yang sama oleh Pakistan, yang berlangsung dalam selisih waktu singkat, dipastikan juga menjadi cara Pakistan menunjukkan kemampuannya agar tidak dipandang sebelah mata oleh India.

Intro:

The Strategic Arms Limitation Talks (SALT) refers to two rounds of bilateral talks and corresponding international treaties involving the United States and the Soviet Union the Cold War superpowers on the issue of armament control. There were two rounds of talks and agreements: SALT I and SALT II.

Negotiations commenced in Helsinki, Finland, in November of 1969. SALT I led to the Anti-Ballistic Missile Treaty and an interim agreement between the two powers. Although SALT II resulted in an agreement in 1979, the United States chose not to ratify the treaty in response to the Soviet invasion of Afghanistan, which took place later that year. The US eventually withdrew from SALT II in 1986.

The treaties then led to START (Strategic Arms Reduction Treaty), which consisted of START I (a 1991 agreement between the United States, the Soviet Union) and START II (a 1993 agreement between the United States and Russia). These placed specific caps on each side's number of nuclear weapons.


"I Must Study in Princeton University and then Work at CIA"
~Evelyn SALT, on SALT~

SALT I




SALT I is the common name for the Strategic Arms Limitation Talks Agreement, also known as Strategic Arms Limitation Treaty. SALT I froze the number of strategic ballistic missile launchers at existing levels, and provided for the addition of new submarine-launched ballistic missile (SLBM) launchers only after the same number of older intercontinental ballistic missile (ICBM) and SLBM launchers had been dismantled.

The strategic nuclear forces of the Soviet Union and the United States was changing in character in 1968. The U.S.'s total number of missiles had been static since 1967 at 1,054 ICBMs and 656 SLBMs, but there was an increasing number of missiles with multiple independently targetable reentry vehicle (MIRV) warheads being deployed. MIRV's carried multiple nuclear warheads, often with dummies, to confuse ABM systems, making MIRV defense by ABM systems increasingly difficult and expensive.

One cause of the treaty required both countries to limit the number of sites protected by an anti-ballistic missile (ABM) system to two each. The Soviet Union had deployed such a system around Moscow in 1966 and the United States announced an ABM program to protect twelve ICBM sites in 1967. A modified two-tier Moscow ABM system is still used. The U.S. built only one ABM site to protect Minuteman base in North Dakota where the "Safeguard Program" was deployed. Due to the system's expense and limited effectiveness, the Pentagon disbanded "Safeguard" in 1975.

Negotiations lasted from November 17, 1969, until May 1972 in a series of meetings beginning in Helsinki, with the U.S. delegation headed by Gerard C. Smith, director of the Arms Control and Disarmament Agency. Subsequent sessions alternated between Vienna and Helsinki. After a long deadlock, the first results of SALT I came in May 1971, when an agreement was reached over ABM systems. Further discussion brought the negotiations to an end on May 26, 1972, in Moscow when Richard Nixon and Leonid Brezhnev signed both the Anti-Ballistic Missile Treaty and the Interim Agreement Between The United States of America and The Union of Soviet Socialist Republics on Certain Measures With Respect to the Limitation of Strategic Offensive Arms. A number of agreed statements were also made. This helped improve relations between the U.S. and the USSR.



SALT II



SALT II was a controversial experiment of negotiations between Jimmy Carter and Leonid Brezhnev from 1972 to 1979 between the U.S. and the Soviet Union, which sought to curtail the manufacture of strategic nuclear weapons. It was a continuation of the progress made during the SALT I talks, led by representatives from both countries. SALT II was the first nuclear arms treaty which assumed real reductions in strategic forces to 2,250 of all categories of delivery vehicles on both sides.

SALT II helped the U.S. to discourage the Soviets from arming their third generation ICBMs of SS-17, SS-19 and SS-18 types with many more Multiple independently targetable reentry vehicles (MIRVs). In the late 1970s the USSR's missile design bureaus had developed experimental versions of these missiles equipped with anywhere from 10 to 38 thermonuclear warheads each. Additionally, the Soviets secretly agreed to reduce Tu-22M production to thirty aircraft per year and not to give them an intercontinental range. It was particularly important for the US to limit Soviet efforts in the Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) rearmament area.

The SALT II Treaty banned new missile programs (a new missile defined as one with any key parameter 5% better than in currently deployed missiles), so both sides were forced to limit their new strategic missile types development. However, the US preserved their most essential programs like Trident and cruise missiles, which President Carter wished to use as his main defensive weapon as they were too slow to have first strike capability. In return, the USSR could exclusively retain 308 of its so-called "heavy ICBM" launchers of the SS-18 type.

An agreement to limit strategic launchers was reached in Vienna on June 18, 1979, and was signed by Leonid Brezhnev and President of the United States Jimmy Carter. In response to the refusal of the United States Senate to ratify the treaty, a young member of the Senate Foreign Relations Committee, Senator Joseph Biden of Delaware, met with the Soviet Foreign Minister Andrey Gromyko, "educated him about American concerns and interests" and secured several changes that neither the U.S. Secretary of State nor President Jimmy Carter could obtain.

Six months after the signing, the Soviet Union invaded Afghanistan, and in September of the same year, the Soviet combat brigade deployed to Cuba was discovered. (Although President Carter claimed this Soviet brigade had only recently been deployed to Cuba, the unit had been stationed on the island since the Cuban missile crisis of 1962.) In light of these developments, the treaty was never formally ratified by the United States Senate. Its terms were, nonetheless, honored by both sides until 1986 when the Reagan Administration withdrew from SALT II after accusing the Soviets of violating the pact.

Subsequent discussions took place under the Strategic Arms Reduction Treaty (START) and the Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty.


Jimmy Carter and Leonid Brezhnev signing SALT II treaty, June 18, 1979, in Vienna.


Nuclear Non Proliferation Treaty

Munculnya Perang Dunia II, mendorong pemimpin berbagai negara untuk mendirikan sebuah organisasi internasional, yakni Perserikatan Bangsa Bangsa. Fungsi organisasi itu, antara lain, adalah mencegah terjadinya tindak kekerasan antar negara serta menyelesaikan konflik di antara mereka secara damai. 

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan andaikata pada tahun 1957, organisasi internasional tersebut mendorong berdirinya the International Atomic Energy Agency (IAEA) dengan tujuan mengawasi penyebarluasan tehnology nuklir, termasuk di dalamnya, berbagai senjata nuklir. 

Dalam dekade berikutnya, tepatnya pada tahun 1968, ditandanganilah Nuclear Non Proliferation Treaty. Tujuan utama traktat tersebut yakni mencegah agar senjata nuklir beserta teknologinya tidak menyebar ke Negara –negara lain selain lima Negara, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, Prancis, Cina, yang telah memiliki jenis senjata itu.
(“What are the recent Developments concerning Arms Control?”, dalam: http://www.newsbatch.com/armscontrol.htm). 

Setelah ditandatangani Nuclear Non Proliferation Treaty, maka dalam tahun –tahun berikutnya Amerika Serikat dan Uni Soviet, sebagai Negara-negara pemilik senjata paling mutakhir, menyelenggarakan pembicaraan yang bertujuan membatasi senjata-senjata strategis mereka. Pembicaraan yang dikenal dengan Strategic Arms Limitation Talks (SALT) menghasilkan perjanjian pengawasan senjata. Bahkan SALT I menghasilkan the Anti-Ballistic Missile Treaty serta Interim Strategic Arms Limitation Agreement dalam tahun 1972. 

Sedangkan SALT II diselenggarakan dalam tahun 1972. Setelah berunding selama sekitar tujuh tahun, para perunding kedua Negara berhasil membuat kesepakatan menyangkut pembatasan senjata strategis yang baru pada tahun 1979. Akan tetapi, kesepakatan ini gagal memperoleh ratifikasi dari pihak Kongres AS, mengingat pasukan Uni Soviet melakukan invasi ke Afghanistan tahun 1979. 

Setelah mengalami kebuntuan, beberapa tahun kemudian AS dan Uni Soviet kembali melakukan perundingan. Hal ini dilakukan mengingat arti penting pengawasan dan pembatasan senjata bagi kedua negara. Hasilnya, mereka menyepakati traktat yang berhubungan dengan senjata nuklir berjarak menengah, atau yang biasa disebut dengan The Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty. 

Traktat yang disepakati tahun 1987 tertsebut akhirnya diratifikasi tahun 1989. Dalam traktat tadi, kedua Negara sepakat untuk menghancurkan semua missil yang memiliki jarak jangkauan antara 500 Km - 5500 Km. Sedangkan dalam tahun 1993, kedua Negara menyepakati Chemical Weapons Convention. Dalam konvensi ini mereka setuju terhadap pelarangan pembuatan dan penggunaan senjata-senjata kimia. 

Mengenai pengurangan senjata, pemerintah AS dan Uni Soviet menyelenggarakan pembicaraan dengan hasil dicapainya traktat pengurangan senjata strategis yang disebut dengan the Strategic Arms Reduction Traties atau START I dan START II. Lebih lanjut kedua Negara menyepakati pengurangan senjata offensive trategis atau yang dikenal dengan the Treaty on Strategic Offensive Reductions. 

Sedangkan di dekade terakhir abad XX, yaitu tahun 1996, Perserikatan Bangsa Bangsa mendorong diselenggarakannya perundingan yang berisi pelarangan uji coba secara komprehensif yang biasa disebut dengan the Comprehensive Test Ban Treaty. 

Dalam traktat ini disepakati pelarangan semua uji coba nuklir di semua sektor, baik untuk tujuan-tujuan militer maupun sipil. Traktat ini tidak bisa dilaksanakan secara efektif apabila kelima negara nuklir, yaitu AS, Uni Soviet, Cina, Inggris dan Perancis beserta India, Pakistan dan Israel tidak meratifikasinya. 

Sampai sekarang, nampaknya AS belum meratifikasinya.
(“What are the recent Developments concerning Arms Control?) 
dalam: http://www.newsbatch.com/armscontrol.htm).

Tahun 2002, kedua Negara menyetujui sebuah traktat yang berisi pengurangan senjata offensive strategis.

Mereka sepaham traktat ini mulai berlaku tahun 2003.


  
Indonesia, Million Friends Zero Enemy


Sikap dan Posisi Indonesia

Penulis meyakini bahwa Pemerintah sebaiknya menyadari bahwa banyak alutsita TNI yang perlu diganti dan di modernisasi. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kemampuan negara yang semakin meningkat, anggaran di bidang pertahanan ditingkatkan, dengan prioritas mengganti alutsista dengan yang baru, dan sekaligus yang lebih modern.

Indonesia mestinya memiliki sistem pertahanan udara yang canggih dan dapat melindungi seluruh wilayahnya dari ancaman serangan rudal atau missil yang berpotensi menerjang negeri ini.

Membangun alutsista itu sangat penting. Negara yang kuat dan berdaulat itu harus mempunyai alutsista yang kuat dan SDM-nya yang unggul. Sun Tzu itu mengatakan Negara yang berdaulat itu apabila memiliki alutsista yang kuat. Indonesia harus mempunyai penangkalan serangan militer yang kuat.

Namun, modernisasi dan penambahan alutsista pertahanan ini tetap di lakukan sebagai bagian dari pembangunan postur TNI, menuju tercapainya minimun essential force. Indonesia, sama sekali tidak ada niat kita untuk menggelorakan perlombaan persenjataan (arm race) atau mengembangkan senjata pemusnah massal di kawasan.

Tidak pula ada niat untuk menjadi sebuah bangsa yang agresif secara militer.

Indonesia melakukan modernisasi alutsista semata-mata untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara serta integritas wilayah. Pemerintah harus segera menyiapkan anggaran melalui sistem tahun jamak (multi years), sesuai permintaan dan kebutuhan masing-masing angkatan, dengan perencanaan, pentahapan dan jadwal waktu yang jelas.

Kementerian Pertahanan dan TNI sebaiknya melakukan koordinasi dan kerja sama yang erat dengan DPR RI, untuk menjamin bahwa rencana strategis ini dapat terealisasi dengan baik dan tepat pada waktunya. Juga kepada pihak ilmuwan di Universitas dan perusahaan dalam negeri, kerjasama ini harus ditingkatkan secara lebih erat.

Baiknya setiap alutsista yang dibeli, bermanfaat bagi pengembangan postur pertahanan negara kita saat ini dan 25 tahun ke depan. Pada saat yang sama, pemerintah harus juga terus melakukan pengadaan alutsista dari dalam negeri. Pengembangan industri pertahanan dalam negeri juga terus dilakukan, untuk memperkuat kemandirian alutsista.

Di samping itu, untuk kepentingan tertentu, Indonesia juga membangun kerjasama dengan industri pertahanan negara-negara sahabat, dengan skema yang saling menguntungkan. 

Namun demikian diplomasi harus lebih diutamakan daripada mempertontonkan sejata dalam menciptakan perdamaian.

“Diplomacy will determine the country’s development”
~Dr. Mohammad Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc., Menteri Luar Negeri Indonesia~


Sources:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Strategic_Arms_Limitation_Talks
2. http://www.armscontrol.org/documents/salt
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Ballistic_missile
4. http://www.mda.mil/ (Missile Defense Agency)



Missile Defense System 

Ucapan Terima Kasih:

Wabil Khusus kepada: Prof. Juwono Sudarsono, M.A., Ph.D.

Juwono Sudarsono - Integrity in the Strict Sense


Mantan Menteri Pertahanan dan Mantan Menteri Pendidikan Nasional

(Born at Banjar CiamisWest Java; 5 March 1942) is The author of well-respected works on political science and international relations. He was educated at the University of Indonesia, Jakarta (B.A.M.S.); The Institute of Social Studies, The Hague, Netherlands; The University of California, Berkeley, USA (M.A.), and The London School of Economics, U.K. (Ph.D.).

dan 

Marsekal TNI (Purn.) Djoko Suyanto (lahir di MadiunJawa Timur2 Desember 1950; umur 62 tahun) adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia sejak 22 Oktober 2009.  Ia merupakan Panglima TNI pertama yang berasal dari kesatuan TNI-AU sepanjang sejarah Indonesia.
Djoko Suyanto adalah lulusan Akabri (di Akademi Angkatan Udara) tahun 1973, sama dengan Laksamana Slamet Soebijanto (Kepala Staf Angkatan Laut), Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto, Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Endang Suwarya, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia adalah penerbang pesawat tempur F-5 Tiger II yang berpangkalan di Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi, Madiun.


Juga kepada:

1. Bapak Drs. Tri Cahyo Utomo, M.A. at Diponegoro University, atas Tulisannya: PENGAWASAN SENJATA INTERNASIONAL dan PENGURANGAN KEKERASAN

2. Kak Rezy Pradipta, M.Sc., Ph.D. (Alumni Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Nuclear Engineering at MIT)

3. Dr. Yukiya Amano (天野 之弥 ) is the current Director General of the International Atomic Energy Agency (IAEA) & Dr. Mohamed Mustafa ElBaradei, J.S.D. (Former Director General of IAEA)

4. Prof. Mujid S. Kazimi, Ph.D. (Director, Center for Advanced Nuclear Energy Systems MIT)

5. Kak Iqbal Robiyana, S.Pd., Teh Nina Widiawati, S.Pd. dan Teh Fitria Miftasani, S.Pd. Alumni Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Mahasiswa Pascasarjana Fisika Konsentrasi Fisika Nuklir ITB dan Founder Center for Nuclear Education at Indonesia University of Education

6. Dr. Petros Aslanyan, M.Sc. (Joint Institute for Nuclear Research, Rusia & Yerevan State University)

7. Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto, M.Sc., Ph.D. President Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)