Monday, 24 December 2012

Sisi Lain Sang Genius Profesor Dirgantara

Hari kemarin penulis menghadiri undangan pernikahan salah satu Putri Dosen penulis, Bpk. Yaya Kardiawarman, M.Sc., Ph.D. beliau merupakan salah satu ahli Fisika Zat Padat dan Superkonduktor di Indonesia, alumni Pendidikan Fisika, FPMIPA UPI dan State University of New York, NY. USA.

Ia merupakan salah satu dosen yang saya sangat kagumi, dan ketika berdiskusi di rumahnya beliau sering menuturkan untuk mencontoh Prof. Habibie.

Ketika kemarin bersalaman pada acara pernikahan putrinya ia sempat berpesan kepada saya sambil tersenyum:

"Ulah di sawah wae atuh Rip, Diajar Terus!".

Haduh bisa saja ini si bapak. he.,he.,he.,

Setelah itu saya bersama Kang Bambang Achdiyat, S.Pd, Teh Siti Latifah, S.Pd., Kang Marjan Puadi Permadi, S.Pd. dan lain-lain menonton sebuah film yaitu:


Habibie & Ainun

Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari film ini, semoga kami dapat meneladani dan mengambil hikmah dari sebuah karya tersebut amin.

Ada salah satu scene yang sangat mengharukan.

Prof. Habibie: "Demi ini (pesawat) aku telah kehilangan banyak waktu bersamamu. 
Bersama anak-anak. Bersama keluarga. Tapi mereka tidak percaya, bahwa bangsa ini bisa mandiri." 

*Pernyataan Prof. Habibie setelah lengser dari Pucuk Pemerintahan Presiden RI dan memegang hasil karyanya yang penuh debu, Pesawat Kebanggaan Bangsa Indonesia.

Lalu beliau meringis menahan tangis. 
Ibu Ainun menenangkan dan memeluknya, tangis Pak Habibie pun pecah.

Air mata saya pun jatuh.

Betapa ironinya seorang cerdik pandai yang dihargai dan disanjung di negeri orang tetapi tidak diberi kesempatan pada bangsanya Ibu Pertiwi, tanah air tempat kelahirannya.

Sebuah Lirik Lagu: Cinta Sejati

Oleh: Bunga Citra Lestari, pemeran Ibu Ainun bersama Reza Rahadian pemeran Bapak Habibie.

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati  


 Kami bersama anak-anak mengunjungi P.T. Dirgantara Indonesia

Kisah Hidup Mr. Crack

Beliau Belajar di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diploma ingineur pada 1960 dan gelar doktor ingineur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Sebuah Predikat pada level Doktoral Kostruksi Pesawat Terbang satu-satunya di dunia yg pernah dicapai seseorang.

Sebutan "Manusia multi-dimensional" muncul setelah Bacharuddin Jusuf Habibie meraih medali penghargaan "Theodore van Karman", dari International Council of The Aeronautical Sciences (ICAS) saat kongres ke-18, di Beijing, Cina, 24 September 1992. Anugerah bergengsi tingkat internasional tempat berkumpulnya pakar-pakar terkemuka konstruksi pesawat terbang.

Di khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara mengenal apa yang disebut: Teori Habibie, Faktor Habibie, Fungsi Habibie. Fungsi, hukum, atau faktor ini berhubungan dengan perambatan retak pada logam. Sebuah metode yang belum pernah ada sebelumnya yang memprediksi secara detil perambatan retak, dengan menghitung tegangan-tegangan sisanya.

Habibie juga dikenal sebagai "Mr. Crack" karena keahliannya menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. 

Dalam Buku Elementary Engineering Fracture Mechanics, David Broek menulis: Habibie mengusulkan suatu prosedur yang mampu memprediksi dengan baik hasil simulasi terbang sebuah pesawat oleh Schijve. Basis dari bidang yang spesifik ini kemudian dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah struktur (salah satunya) pesawat terbang.

Beberapa metode integrasi tersedia, di mana efek retardation diperhitungkan dengan cara yang semi empiris. Metode Habibie ini mirip dengan metode yang diusulkan Wheeler. Meskipun sepertinya, metode Wheeler lebih baik dalam memformulasikan zona plastis di ujung retak.

Ketika teori kelelahan dikembangkan tahun 1950-an, Habibie mengeluarkan juga metodenya tahun 1971.

Salah satu metodenya diajarkan di Massachusetts Institute of Technology untuk memprediksi perambatan retak. Sebelum titik crack bisa dideteksi secara dini, diantisipasi terlebih dahulu kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (Safety Factor).

Retak yang terjadi di pesawat terbang bisa saja diakibatkan oleh jalan di landasan, take off, menanjak, cruise, menurun, landing, dan parkir. Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya.

Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang.

Pengurangan berat ini tak membuat maksimum take off weight-nya (total bobot pesawat ditambah penumpang dan bahan bakar) ikut merosot. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Dengan demikian, secara ekonomi kinerja pesawat bisa ditingkatkan.

Faktor Habibie ternyata juga berperan dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per-bagian kerangka pesawat, sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara saat tubuh pesawat lepas landas. Begitu juga pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Faktor mesin jet yang menjadi penambah potensi fatigue menjadi turun.

Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional. Di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l'Air et de l'Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat).

Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan von Karman Award yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Kejeniusan mantan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini semakin tampak brilian ketika berhasil meraih gelar doctor ingenieur dengan predikat suma cum laude pada 1965. Rata-rata nilai mata kuliah Habibie 10.

Prestasi ini mengantarkan Habibie menjadi Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisis Struktur di Hamburger Flugzeugbau (HFB). 

Tak hanya itu, dalam disiplin ekonomi makro pernah dikenal istilah Habibienomics. Semacam pemahaman yang menegaskan bagaimana gagasan Habibie tentang pemberian nilai tambah ekonomi tinggi di setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Disamping dikenal sebagai seorang ilmuwan, BJ. Habibie adalah Presiden Republik Indonesia Ke-3 dengan masa jabatan mulai dari 21 Mei 1998 sampai dengan 20 Oktober 1999.



Di Belakang Setiap Pria Hebat Selalu Ada Wanita Hebat 

Sungguh, pernikahan adalah upaya penyatuan dua kekuatan yang jika kita berhasil melakukannya maka keberhasilan pun akan kita raih, meski harus terlebih dulu dan juga memakan waktu yang tidak sebentar melewati berbagai halangan menghadang.

Setiap debu berkali-kali menerpa bening mata kita sehingga membuat suram jalan terbentang dihadapan, ombak yang tak jarang dengan tiba-tiba menerjang mahligai rumah tangga, badai dan angin yang meliuk-liuk mengintai dan siap menghantam kokohnya bangunan cinta yang tersusun indah dalam bingkai perkawinan.

Sungguh, jika bukan karena keberhasilan memadukan dua kekuatan yang dimiliki kedua insan pasangan suami istri, mungkin pernikahan hanyalah tinggal cerita.

Dan satu tonggak kokoh yang membuat kaki-kaki ini tetap berdiri melangkah bersama menyusuri perjalanan berumah tangga selama sekian puluh, bahkan sekian ratus tahun hingga Allah menetapkan kehendaknya, adalah rasa syukur dan penerimaan yang tulus terhadap sebuah hati dan jiwa yang Allah berikan untuk dipasangkan dengan kita.

Sebuah qalbu indah yang begitu ikhlas menjalin kebersamaan melakukan semuanya berdua dengan kita sehingga bersamaan dengan itu, Allah pun menurunkan ketenangan, kebahagiaan dan kasih sayang (sakinah, mawaddah dan rahmah) menyertai dua hati yang menyatu itu.

Cinta, saling percaya, pengorbanan, dan berbagai tonggak lainnya seolah menjadikan biduk rumah tangga sepasang suami istri akan tetap oleng diterjang badai jika tak memiliki tonggak yang satu ini.

Oleh karena itu percayalah, apapun yang kita dapatkan, kita miliki, segala keberhasilan, kesuksesan dan segala yang menjadi kebanggaan kita saat ini, bukanlah semata upaya diri sendiri.

Bukankah seharusnya kita bersyukur karena Allah telah menganugerahkan sebuah jiwa yang juga begitu kuat mendorong kita dari dalam rumah, dari pembaringan dalam kamar tidur, dari meja makan, untuk bisa menjulang ke atas.

Pepatah kuno mengatakan, "didiklah seorang lelaki maka kamu mendidik seorang manusia. Namun jika kamu mendidik seorang perempuan, maka kau telah mendidik satu keluarga, bahkan telah mendidik satu negara."

Sejarah menuturkan, para ibu kita membuktikan bahwa mereka adalah pejuang. Mereka tak hanya menggenapi takdir penciptaannya sebagai wanita, namun mampu menjadi manusia yang berdaya dan memberdayakan.

Salam hormat kami untukmu, Sang Ibu, semua Ibu di seluruh Indonesia dan Dunia

Kami, Bangsa, Negara dan Dunia ini berutang kepadamu.


Ucapan Terima Kasih Kepada:

Mamah, Bapa, Ade ku yang senantiasa memberikan semangat

Kang Bambang Achdiyat, S.Pd, Penulis dan Founder Belajar Menuju Ihsan
Teh Siti Latifah, S.Pd., dan Kang Marjan Puadi Permadi, S.Pd. Founder Physics for Fun

Semua Keluarga dan Sahabat-Sahabatku 

Semangat, Berjuang, Kita Bisa.


Sunday, 23 December 2012

Pengembangan IPTEK dan Rencana Kebutuhan Sistem RADAR Pertahanan Udara I

 "Our founding fathers decided that the unitary state of Indonesia should uphold and respect the rich diversity and mutual tolerance of all of the nation’s living religious, cultural, ethnic as well as racial heritages. A healthy sense of modern nationalism triumphed over narrow primordial loyalties."
~Prof. Juwono Sudarsono, M.A., Ph.D., Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Pertahanan dan Pendidikan~

RADAR singkatan dari Radio Detection and Ranging, yang berarti deteksi dan penjarakan radio adalah suatu sistem gelombang elektromagnetik yang berguna untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat terbang, berbagai kendaraan bermotor dan informasi cuaca (hujan). 

Panjang gelombang yang dipancarkan radar adalah beberapa milimeter hingga satu meter. Gelombang radio/sinyal yang dipancarkan dan dipantulkan dari suatu benda tertentu akan ditangkap oleh radar. Dengan menganalisa sinyal yang dipantulkan tersebut, pemantul sinyal dapat ditentukan lokasinya dan kadang-kadang dapat juga ditentukan jenisnya. Meskipun sinyal yang diterima relatif lemah/kecil, namun radio sinyal tersebut dapat dengan mudah dideteksi dan diperkuat oleh radar. 

Sejarah 

Seorang ahli fisika Inggris bernama James Clerk Maxwell mengembangkan dasar-dasar teori tentang elektromagnetik pada tahun 1865. Setahun kemudian, seorang ahli fisika asal Jerman bernama Heinrich Rudolf Hertz berhasil membuktikan teori Maxwell mengenai gelombang elektromagnetik dengan menemukan gelombang elektromagnetik itu sendiri. Pendeteksian keberadaan suatu benda dengan menggunakan gelombang elektromagnetik pertama kali diterapkan oleh Christian Hülsmeyer pada tahun 1904. Bentuk nyata dari pendeteksian itu dilakukan dengan memperlihatkan kebolehan gelombang elektromagnetik dalam mendeteksi kehadiran suatu kapal pada cuaca yang berkabut tebal. Namun di kala itu, pendeteksian belum sampai pada kemampuan mengetahui jarak kapal tersebut. 

Pada tahun 1921, Albert Wallace Hull menemukan magnetron sebagai tabung pemancar sinyal/transmitter yang efisien. Kemudian transmitter berhasil ditempatkan pada kapal kayu dan pesawat terbang untuk pertama kalinya secara berturut-turut oleh A. H. Taylor dan L. C. Young pada tahun 1922 dan L. A. Hyland dari Laboratorium Riset kelautan Amerika Serikat pada tahun 1930. Istilah radar sendiri pertama kali digunakan pada tahun 1941, menggantikan istilah dari singkatan Inggris RDF (Radio Directon Finding), namun perkembangan radar itu sendiri sudah mulai banyak dikembangkan sebelum Perang Dunia II oleh ilmuwan dari Amerika, Jerman, Prancis dan Inggris. 

Dari sekian banyak ilmuwan, yang paling berperan penting dalam pengembangan radar adalah Robert Watson-Watt asal Skotlandia, yang mulai melakukan penelitiannya mengenai cikal bakal radar pada tahun 1915. Pada tahun 1920-an, ia bergabung dengan bagian radio National Physical Laboratory. Di tempat ini, ia mempelajari dan mengembangkan peralatan navigasi dan juga menara radio. Watson-Watt menjadi salah satu orang yang ditunjuk dan diberikan kebebasan penuh oleh Kementrian Udara dan Kementrian Produksi Pesawat Terbang untuk mengembangkan radar. Watson-Watt kemudian menciptakan radar yang dapat mendeteksi pesawat terbang yang sedang mendekat dari jarak 40 mil (sekitar 64 km). 

Dua tahun berikutnya, Inggris memiliki jaringan stasiun radar yang berfungsi untuk melindungi pantainya. Pada awalnya, radar memiliki kekurangan, yakni gelombang elektromagnetik yang dipancarkannya terpancar di dalam gelombang yang tidak terputus-putus. Hal ini menyebabkan radar mampu mendeteksi kehadiran suatu benda, namun tidak pada lokasi yang tepat. Terobosan pun akhirnya terjadi pada tahun 1936 dengan pengembangan radar berdenyut (pulsed). 

Dengan radar ini, sinyal diputus secara berirama sehingga memungkinkan untuk mengukur antara gema untuk mengetahui kecepatan dan arah yang tepat mengenai target. Sementara itu, terobosan yang paling signifikan terjadi pada tahun 1939 dengan ditemukannya pemancar gelombang mikro berkekuatan tinggi yang disempurnakan. Keunggulan dari pemancar ini adalah ketepatannya dalam mendeteksi keberadaan sasaran, tidak peduli dalam keadaan cuaca apapun. 

Keunggulan lainnya adalah bahwa gelombang ini dapat ditangkap menggunakan antena yang lebih kecil, sehingga radar dapat dipasang di pesawat terbang dan benda-benda lainnya. Hal ini yang pada akhirnya membuat Inggris menjadi lebih unggul dibandingkan negara-negara lainnya di dunia. Pada tahun-tahun berikutnya, sistem radar berkembang lebih pesat lagi, baik dalam hal tingkat resolusi dan portabilitas yang lebih tinggi, maupun dalam hal peningkatan kemampuan sistem radar itu sendiri sebagai pertahanan militer.


Konsep

Konsep radar adalah mengukur jarak dari sensor ke target. Ukuran jarak tersebut didapat dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan gelombang elektromagnetik selama penjalarannya mulai dari sensor ke target dan kembali lagi ke sensor. 

Klasifikasi
Berdasarkan bentuk gelombang

    * Continuous Wave/CW (Gelombang Berkesinambungan), merupakan radar yang menggunakan transmitter dan antena penerima (receive antenna) secara terpisah, di mana radar ini terus menerus memancarkan gelombang elektromagnetik. Radar CW yang tidak termodulasi dapat mengukur kecepatan radial target serta posisi sudut target secara akurat. Radar CW yang tidak termodulasi biasanya digunakan untuk mengetahui kecepatan target dan menjadi pemandu rudal (missile guidance).

    * Pulsed Radars/PR (Radar Berdenyut), merupakan radar yang gelombang elektromagnetiknya diputus secara berirama. Frekuensi denyut radar (Pulse Repetition Frequency/PRF) dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu PRF high, PRF medium dan PRF low.

Jenis:

Doppler Radar

Doppler radar merupakan jenis radar yang mengukur kecepatan radial dari sebuah objek yang masuk ke dalam daerah tangkapan radar dengan menggunakan Efek Doppler.


Hal ini dilakukan dengan memancarkan sinyal microwave (gelombang mikro) ke objek lalu menangkap refleksinya, dan kemudian dianalisis perubahannya. Doppler radar merupakan jenis radar yang sangat akurat dalam mengukur kecepatan radial. Contoh Doppler radar adalah Weather Radar yang digunakan untuk mendeteksi cuaca.


Bistatic Radar

Bistatic radar merupakan suatu jenis sistem radar yang komponennya terdiri dari pemancar sinyal (transmitter) dan penerima sinyal (receiver), di mana kedua komponen tersebut terpisah. Kedua komponen itu dipisahkan oleh suatu jarak yang dapat dibandingkan dengan jarak target/objek.

Objek dapat dideteksi berdasarkan sinyal yang dipantulkan oleh objek tersebut ke pusat antena. Contoh Bistatic radar adalah Passive radar. Passive radar adalah sistem radar yang mendeteksi dan melacak objek dengan proses refleksi dari sumber non-kooperatif pencahayaan di lingkungan, seperti penyiaran komersial dan sinyal komunikasi.

 
Pengembangan IPTEK dan Rencana Kebutuhan Sistem RADAR Pertahanan Udara

Posisi tawar (bargaining position) sebuah negara bangsa juga ditentukan kuat/lemahnya kemampuan pertahanan negara tersebut dalam hubungan global dan regional. Secara umum kondisi Alutsista TNI saat ini hanya mampu mendukung 60% dari kemampuan optimum untuk mendukung optimalisasi tugas pokoknya sebagai komponen utama pertahanan negara. 

Kondisi Alutsista tersebut juga menggambarkan kondisi nyata radar pertahanan udara (radar hanud) kita saat ini, dimana umumnya radar hanud kita sudah berusia sangat tua dan jumlahnya terbatas, teknologinya juga ketinggalan zaman, juga diperparah dengan kualitas profesionalisme dan kesejahteraan prajurit yang tergolong masih rendah serta ketergantungan pada produk negara lain. Kondisi tersebut menyebabkan bahwa kekuatan pertahanan negara di bawah kekuatan pertahanan minimal. Pada era globalisasi peranan radar dalam kehidupan manusia sangatlah tinggi. Indikasinya dapat dilihat dari betapa urgen kehidupan sipil dan kepentingan militer yang ditopang oleh radar. 

Penopangan kebutuhan tersebut terjadi pada sistem transportasi udara dan sistem senjata udara bergerak berkecepatan sangat tinggi. Melalui aplikasi demikian diketahuilah bahwa tanpa bantuan radar, kedua jenis sistem di atas tidak mungkin dapat menjalankan fungsinya dengan aman. Khusus kegiatan militer terutama pada perang udara, maka radar menjadi pemegang peran sebagai mata sekaligus telinga baik dalam sistem pertahanan maupun sistem penyerangan udara. Radar menentukan tempat kedudukan sasaran serta memberi peringatan dini akan adanya sasaran yang membahayakan. Radar juga dapat digunakan sebagai sarana navigasi taktis (tactical navigation = Tacan) serta untuk ramalan cuaca. 

Mengingat kegunaan radar dalam kehidupan militer demikian banyak, seyogianyalah itu setiap prajurit TNI AU, khususnya Perwira wajib mengetahui sistem radar mulai prinsip kerja hingga perkembangan dan kegunaannya. Penelitian ini mencoba membahas pengembangan teknologi dan rencana kebutuhan sistem radar pertahanan udara (hanud) dalam upaya mendukung percepatan kemandirian alutsista bagi optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi-kondisi aktual sistem radar hanud seperti tersebut di atas dan semakin beratnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini serta kompleksitas bentuk ancaman.

Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas, beberapa permasalahan yang menonjol terkait kondisi alutsista saat ini antara lain:

a. Masih kurangnya jumlah RADAR Pertahanan Udara yang dimiliki khususnya untuk meng-cover wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bagian Timur.

b. Teknologi sistem RADAR sudah banyak yang ketinggalan zaman.

c. Belum adanya komitmen (political will) yang kuat dari pemerintah untuk membangun sistem RADAR Pertahanan Udara yang handal yang mampu meng-cover seluruh wilayah NKRI.

d. Kebijakan negara (pemerintah) belum menjadikan pertahanan negara sebagai prioritas

e. Keuangan negara terbatas sehingga anggaran pertahanan yang minim.

f. Banyak kebijakan pemerintah terkait optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara khususnya pengembangan alutsista, khususnya radar hanud belum terintegrasi.

g. Lemahnya koordinasi antar Kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Badan Usaha Milik Negera Industri Pertahanan (BUMNIP) dan industri nasional lainnya dalam mendukung perkembangan industri pertahanan

h. Kementrian Pertahanan dan TNI terlihat lebih senang mengimpor Alutsista, termasuk RADAR Pertahanan Udara dari luar negeri.




Bersambung.


Sumber:

1. Arip Nurahman Notes

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Radar
4. Introduction-to-radar-systems
[Instructor: Prof. Dr. Robert M. O'Donnel, Massachusetts Institute of Technology]
5.Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertahanan Republik Indonesia
http://www.balitbang.kemhan.go.id/


Saturday, 22 December 2012

Building Missile Defense System


"Dalam sepuluh, dua puluh tahun lagi, Bandung akan jadi lautan inovasi dan kemajuan, 
tempat pusat industri strategis termasuk di bidang pertahanan, 
industri inilah yang akan mengubah bangsa Indonesia."
~Jendral TNI Purnawirawan Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A., Presiden Indonesia~

In a modern military, a missile is a self-propelled guided weapon system. Missiles have four system components: targeting and/or guidance, flight system, engine, and warhead. Missiles come in types adapted for different purposes: surface-to-surface and air-to-surface (ballistic, cruise, anti-ship, anti-tank), surface-to-air (anti-aircraft and anti-ballistic), air-to-air, and anti-satellite missiles.

  A F-22 Raptor fires an AIM-120 AMRAAM

Beda Sistem Pertahanan Udara Israel, Iran, dan Indonesia

Kepala Program Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) Dr. Joko Purwono, menjelaskan mengapa Israel lebih tangguh dan unggul dalam teknologi pertahanan udara dibanding negara lain. Menurut Joko, kondisi itu tercipta lantaran Israel merasa pertahanannya terancam dan terintimidasi dengan negara sekitarnya di Timur Tengah.

Untuk bisa bertahan, paparnya, negeri Zionis tersebut berupaya meningkatkan kekuatan pertahanan udaranya untuk mengontrol ancaman dari luar. Caranya dengan terus mengembangkan teknologi berbagai pesawat tempur hingga pesawat intai tanpa awak alias unmanned aerial vehicle (UAV). "Mereka merasa tidak tenang, dan untuk survive Israel terus berinovasi mengembangkan teknologi pesawatnya hingga bisa canggih," ujar Joko.

Joko melanjutkan, pola yang sama juga terjadi di Iran. Merasa negaranya menjadi incaran Israel dan Amerika Serikat (AS), serta tidak bakal dibantu negara Teluk lainnya, maka pihak militer berkomitmen mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak.


"One can not impede scientific progress."
~Dr. Mahmoud Ahmadinejad, President of Iran~


Iran terus berpacu mengejar ketertinggalan teknologi dengan banyak mempelajari teknologi luar. Alhasil, beberapa waktu lalu Iran sukses merontokkan pesawat intai AS dan Israel yang mencoba menyusup masuk ke wilayah udara negara Para Mullah tersebut. "Iran berjuang mengembangkan teknologi pesawatnya hingga sudah tahap canggih, tapi teknologi dan industri pertahanan Israel sudah jauh lebih maju karena sudah mengembangkannya lebih dulu," kata Joko.

Untuk Indonesia, Joko mengaku sangat prihatin sebab dapat dikatakan tertinggal akibat tidak adanya komitmen pemerintah. Ini karena pemerintah masih sibuk pada program peningkatan kesejahteraan masyarakat dan alokasi APBN sangat minim untuk pengembangan industri alutsista dalam negeri.

Padahal sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bangsa ini tidak kalah dibandingkan dengan negara lainnya. Sayangnya, hanya kurang mendapat kesempatan dan pelatihan.

Namun, lanjut Joko, belakangan ini pemerintah mulai sadar untuk menggiatkan program peningkatan alutsista, termasuk pembelian pesawat intai untuk menjaga wilayah perbatasan Indonesia. "Bagus sekarang sektor pertahanan dihidupkan pemerintah. Tapi, lebih baik beli pesawat dalam negeri, bukan luar negeri," kritik Dr. Joko.


Drone: 
Unmanned aerial vehicle (UAV), commonly known as a drone, is an aircraft without a human pilot on board. Its flight is either controlled autonomously by computers in the vehicle, or under the remote control of a pilot on the ground or in another vehicle.

 

Flight

 

 

 

A ballistic missile trajectory consists of three parts: the powered flight portion, the free-flight portion which constitutes most of the flight time, and the re-entry phase where the missile re-enters the Earth's atmosphere.
Ballistic missiles can be launched from fixed sites or mobile launchers, including vehicles (transporter erector launchers, TELs), aircraft, ships and submarines. The powered flight portion can last from a few tens of seconds to several minutes and can consist of multiple rocket stages.

When in space and no more thrust is provided, the missile enters free-flight. In order to cover large distances, ballistic missiles are usually launched into a high sub-orbital spaceflight; for intercontinental missiles the highest altitude (apogee) reached during free-flight is about 1200 km.

The re-entry stage begins at an altitude where atmospheric drag plays a significant part in missile trajectory, and lasts until missile impact.

 Indonesia membeli pesawat tempur sukhoi secara bertahap 
hingga sebentar lagi menjadi satu Skuadron

 

Missile types


Ballistic missiles can vary widely in range and use, and are often divided into categories based on range. Various schemes are used by different countries to categorize the ranges of ballistic missiles:
Short- and medium-range missiles are often collectively referred to as theater or tactical ballistic missiles (TBMs). Long and medium-range ballistic missiles are generally designed to deliver nuclear weapons because their payload is too limited for conventional explosives to be cost-effective (though the U.S. is evaluating the idea of a conventionally-armed ICBM for near-instant global air strike capability despite the high costs).

The flight phases are like those for ICBMs, except with no exoatmospheric phase for missiles with ranges less than about 350 km.


 MIM-104 Patriot missile being launched

Technology

 

Guided missiles have a number of different system components:

Guidance systems

 


Missiles may be targeted in a number of ways. The most common method is to use some form of radiation, such as infrared, lasers or radio waves, to guide the missile onto its target. This radiation may emanate from the target (such as the heat of an engine or the radio waves from an enemy radar), it may be provided by the missile itself (such as a radar) or it may be provided by a friendly third party (such as the radar of the launch vehicle/platform, or a laser designator operated by friendly infantry). The first two are often known as fire-and-forget as they need no further support or control from the launch vehicle/platform in order to function. Another method is to use a TV camera—using either visible light or infra-red—in order to see the target. The picture may be used either by a human operator who steers the missile onto its target, or by a computer doing much the same job. One of the more bizarre guidance methods instead used a pigeon to steer the missile to its target.

Many missiles use a combination of two or more of the above methods, to improve accuracy and the chances of a successful engagement.

Targeting systems

 

 

Another method is to target the missile by knowing the location of the target, and using a guidance system such as INS, TERCOM or GPS. This guidance system guides the missile by knowing the missile's current position and the position of the target, and then calculating a course between them. This job can also be performed somewhat crudely by a human operator who can see the target and the missile, and guides it using either cable or radio based remote-control, or by an automatic system that can simultaneously track the target and the missile.

Flight system

 

 

Whether a guided missile uses a targeting system, a guidance system or both, it needs a flight system. The flight system uses the data from the targeting or guidance system to maneuver the missile in flight, allowing it to counter inaccuracies in the missile or to follow a moving target. There are two main systems: vectored thrust (for missiles that are powered throughout the guidance phase of their flight) and aerodynamic maneuvering (wings, fins, canards, etc.).

Engine

 

 

Missiles are powered by an engine, generally either a type of rocket or jet engine. Rockets are generally of the solid fuel type for ease of maintenance and fast deployment, although some larger ballistic missiles use liquid fuel rockets. Jet engines are generally used in cruise missiles, most commonly of the turbojet type, due to its relative simplicity and low frontal area. Turbofans and ramjets are the only other common forms of jet engine propulsion, although any type of engine could theoretically be used. Missiles often have multiple engine stages, particularly in those launched from the ground. These stages may all be of similar types or may include a mix of engine types - for example, ground-launched cruise missiles often have a rocket booster for launching and a jet engine for sustained flight.

Some missiles may have additional propulsion from another source at launch; for example the V1 was launched by a catapult and the MGM-51 was fired out of a tank gun (using a smaller charge than would be used for a shell).

Warhead

 

 

Missiles generally have one or more explosive warheads, although other weapon types may also be used. The warhead or warheads of a missile provides its primary destructive power (many missiles have extensive secondary destructive power due to the high kinetic energy of the weapon and unburnt fuel that may be on board). Warheads are most commonly of the high explosive type, often employing shaped charges to exploit the accuracy of a guided weapon to destroy hardened targets. Other warhead types include submunitions, incendiaries, nuclear weapons, chemical, biological or radiological weapons or kinetic energy penetrators. Warheadless missiles are often used for testing and training purposes.


Missile Defense Systems
 
Missile defense is a system, weapon, or technology involved in the detection, tracking, interception and destruction of attacking missiles. Originally conceived as a defence against nuclear-armed Intercontinental ballistic missiles (ICBMs), its application has broadened to include shorter-ranged non-nuclear tactical and theater missiles.

http://www.mda.mil
The Missile Defense Agency

Command, Control, Battle Management, and Communications (C2BMC)

 

The Command, Control, Battle Management, and Communications (C2BMC) program is the hub of the Ballistic Missile Defense System (BMDS). It is a vital operational system that enables the U.S. president, secretary of defense and combatant commanders at strategic, regional and operational levels to systematically plan ballistic missile defense operations, to collectively see the battle develop, and to dynamically manage designated networked sensors and weapons systems to achieve global and regional mission objectives. 

C2BMC creates a layered missile defense capability that enables an optimized response to threats of all ranges in all phases of flight. C2BMC is the force multiplier that globally and regionally networks, integrates and synchronizes stand-alone missile defense systems and operations to optimize performance. C2BMC globally links, integrates and synchronizes individual missile defense elements, systems and operations, and therefore, it is an integral part of all system ground and flight tests which verify and exercise all current and future BMDS capabilities.

Through its operational software and networks, the C2BMC program provides redundant connectivity and enables on-site operations and sustainment for global combatant commanders. It provides key BMDS operational services through five product lines:

1. Ballistic Missile Defense Planner

  • Provides warfighters the capability to explore the effectiveness of various defensive plans.
  • Supports three types of planning crossing all phases of military operations: Adaptive/Deliberate, Crisis Action, and Dynamic Planning. .

2. Command and Control

  • Provides situational awareness by turning detailed data into decision quality information combatant commanders can employ in the event of a missile threat.
  • Emphasizes a common, single, integrated ballistic missile picture and provides the status of the overall BMDS, from the president down to the operational levels of command.

3. Global Engagement Manager

  • Provides the first true BMDS battle management capability through C2BMC.
  • Acts as a force multiplier to achieve integrated, layered ballistic missile defense through improved sensor resource management and engagement coordination.

4. Ballistic Missile Defense Network

  • Aligns and integrates the individual sensors and weapon elements of the BMDS.
  • Provides robust, high-availability connectivity to quickly and unambiguously share information across the global BMDS.

5. Concurrent Test, Training, and Operations

  • Meets the warfighter’s requirements for a capability to sustain BMDS operations while supporting concurrent Research, Development, Test & Evaluation and maintenance.
  • Enables the warfighter to conduct distributed, high–fidelity, end-to-end training for missile defense operations. 
Unduh Petunjuk: The Ballistic Missile Defense System 

http://www.mda.mil/global/documents/pdf/bmds.pdf

Pusdikarhanud: Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara
''VYATA ANIKA BHUANA'' :
Yang berarti tempat mendidik dan menggembleng Prajurit yang akan menjaga angkasa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Bagian-Bagian Sistem Pertahanan Misil

Defense systems and initiatives

 




Penulis dan Ilmuwan Muda Bersama Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran beserta rombongan Presidency Center for Innovation and Technology Cooperation (CITC) Iran,
yang dipimpin oleh Dr. Hamid Reza Amirinia, M.Sc.


Semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia Tetap Jaya di Darat, Laut, Udara dan Antariksa

Insha Allah

Amin


Semangat Indonesia Bisa