Sunday, 17 March 2013

Ketika Tuhan Memeluk Mimpi-Mimpi Kita

Allhamdulilah hari jum'at yang lalu penulis mengantar seorang sahabat karib Kang Deden Anugrah untuk mengikuti tes bahasa dan akademik guna melanjutkan studi lanjutnya ke jenjang S2 dalam bidang Fisika Elektronik. 

Namun tak diduga sebelumnya ketika menunggu di luar ruangan dekat mushola saya berpapasan dengan Kang Muhammad Miftahul Munir, M.Sc., D.Eng. seorang kakak kelas jauh sewaktu SMA yang sekarang sudah menjadi seorang Dosen di sebuah Institut hebat di tanah air.

Saya mengenal beliau sekitar 8 tahun yang lalu tatkala diperkenalkan oleh guru fisika SMA saya. Waktu itu saya sangat senang mengunjungi Universitas dan Perguruan Tinggi di tanah air, dan ketika menginjakan kaki di Kota Kembang Paris Van Java Bandung, guru saya menyuruh menghubungi Kang Munir yang waktu itu masih berstatus mahasiswa. 

Jadilah saya menginap di laboratorium bersama beliau. Sebuah pengalaman luar biasa waktu itu diajak menginap dan berkenalan dengan para mahasiswa hebat. 

Tidak dipungkiri Kang Muhammad Miftahul Munir adalah salah satu role model saya waktu itu, setelah pengalaman singkat tersebut selama dua hari, beliau banyak memberikan file-file pengetahuan dan saya membawanya ke sekolah serta membagikannya kepada teman-teman. 

Setelah itu saya sering berhubungan dengan beliau melalui e-mail, namun beberapa bulan sejak pertemuan itu saya kehilangan jejak beliau, dan setelah saya tanyakan ternyata beliau sedang melanjutkan Studinya ke-Jepang. Di Universitas Hiroshima.

Setelah delapan tahun lamanya saya kembali bertemu dengan beliau sungguh sangat membahagiakan.

Sedikit Curriculum Vitae Beliau 

Dr. Muhammad Miftahul Munir moved to Hiroshima University, Japan, in 2006, to pursue a doctoral degree in the area of nanomaterial synthesis and characterization. During doctoral studies, he used the controlling technique in electrospinning method for nanofiber production. Electrospinning is versatile method for producing nanofiber from various materials that include polymer, ceramic and composites. Through his works, for the first time, a constant-current electrospinning system for production of high quality and uniformity nanofibers was developed.


Dr. Muhammad Miftahul Munir was then selected as a prestigious Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) postdoctoral fellow, under host researcher of Prof. Kikuo Okuyama. Since 2008, he became a faculty member in Theoretical High Energy Physics and Instrumentation Division, Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Institut Teknologi Bandung. 

He is extensively involved in research on nanomaterials and aerosol science and technology as well as electronics, instrumentation, control, telemetry and sensor. 

Research Interest  

* Physics Instrumentation & Analytical Instrumentation: battery analyzer, potentiostat & galvanostat for electrochemical measuremet, current-voltage measurement, etc; Instrumentation for early warning system: Tsunami, earthquake, volcano, landslide, flood; Telemetry & Control; Sensing materials and Sensors; Microcontroller, Microprocessor & Interfacing; Data Logging; Instrumentation for Education 


* Nanomaterial synthesis and applications, Electrospinning nanofibers, Electrospray, Optical material and Filter; Nanotechnology for drug, medical and environment application.

*  Energy and Energy Storage: Solar Cells, Fuel cells, Battery and Supercapacitors 

* Aerosol Science and Technology, Atmospheric Aerosol Measurement, Aerosol Instrumentation, Atmospheric Nucleation, and Ion-Induced Nucleation 



Semoga seluruh sahabat-sahabat ku mencapai semua harapan dan impiannya.

Ucapan Terima Kasih:

Kang Defrianto Pratama, S.Pd. dan Kang I Gde Eka Dirgayusa, S.Pd. yang sedang meneruskan studi lanjutnya dalam bidang Biofisika, terima kasih atas kebaikannya kepada penulis karena telah mengizinkan untuk mengunjungi laboratorium biofisikanya.

Guru-guru dan Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia yang senantiasa memberikan dorongan dan semangat-nya.

Saturday, 16 March 2013

Mewaspadai Perang Masa Depan


Pembaca mungkin pernah menonton film Eagle Eye dan Film Stealth.

Dalam film Eagle Eye digambarkan dua orang saudara kembar satu orang ber-IQ sangat tinggi lulusan terbaik Akademi Angkatan Udara AS dan Stanford University dalam bidang Elektronika dan Algoritma Quantum mengembangkan sebuah super komputer teramat hebat bernama ARIIA:
Autonomous Reconnaissance Intelligence Integration Analyst

Sedangkan dalam film Stealth Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengembangkan sebuah pesawat tempur super canggih tak ber-pilot yang menggunakan kekuatan artificial intelligence: komputasi kuantum.

Kedua peralatan tempur tersebut sugguh sangat dahsyat dan hebat.

Menurut hemat penulis dalam 40 atau 50 Tahun kedepan Iptek tersebut niscaya akan bisa diwujudkan.

Beberapa scene dalam film ini menggambarkan kecanggihan teknologi yang tidak dapat saya duga sebelumnya.

Ternyata kapan saja dan dimanapun kita berada, kita bisa saja diintai oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan melalui sinyal telepon, kamera CCTV, dan koneksi internet, misalnya.


Daftar Super Komputer Tercepat di Dunia


TOP 500 Super Computer

Since 1993, the fastest supercomputers have been ranked on the TOP500 list according to their LINPACK benchmark results. The list does not claim to be unbiased or definitive, but it is a widely cited current definition of the "fastest" supercomputer available at any given time.

This is a recent list of the computers which appeared at the top of the TOP500 list and the "Peak speed" is given as the "Rmax" rating. For more historical data see History of supercomputing.


Year Supercomputer Peak speed
(Rmax)
Location
2008 IBM Roadrunner 1.026 PFLOPS New Mexico, USA
1.105 PFLOPS
2009 Cray Jaguar 1.759 PFLOPS Oak Ridge, USA
2010 Tianhe-IA 2.566 PFLOPS Tianjin, China
2011 Fujitsu K computer 10.51 PFLOPS Kobe, Japan
2012 IBM Sequoia 16.32 PFLOPS Livermore, USA
2012 Cray Titan 17.59 PFLOPS Oak Ridge, USA
Sequoia was the world's fastest supercomputer at 16.32 petaflops, consuming 7890.0 kW, until October 29, 2012 when Titan went online.


Future Fighter Aircraft 


A fighter aircraft is a military aircraft designed primarily for air-to-air combat against other aircraft as opposed to bombers and attack aircraft, whose main mission is to attack ground targets. The hallmarks of a fighter are its speed, maneuverability, and small size relative to other combat aircraft.

Many fighters have secondary ground-attack capabilities, and some are designed as dual-purpose fighter-bombers. Often, aircraft that do not fulfill the standard definition are called fighters. This may be for political or national security reasons, or for advertising purposes or other reasons.

Next Generation Air Dominance is a development and acquisition program for a future sixth generation air superiority fighter to replace the US Navy's F/A-18E/F Super Hornet and the US Air Force's F-22 Raptor beginning in 2025. It is planned to incorporate sixth generation stealth capability. The aircraft is to be operated with or without a pilot, depending on the role. The new fighter is to perform ground attack, air superiority, and reconnaissance roles.

Only Boeing is known to have interest in the program, although Northrop Grumman is known to be developing a carrier-based aircraft known as the X-47B. A 1/16 scale model shown at the Navy League Sea Air Space Exposition 2010 shows a 'Flying wing' design with no vertical tails and twin engines.

Prof. Josaphat at SAR Image Processing Workshop for young researchers from Indonesia, Korea, Malaysia, Iran and Turkey


Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D. Seorang Ahli Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Indonesia Kelahiran Bandung.
Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University.

Renungan

Kesimpulannya, meskipun kita memang sudah sulit untuk dilepaskan dari barang-barang berteknologi, hendaknya barang-barang tersebut kita pergunakan secerdas mungkin. Karena memang sebagai manusia, kita diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang berakal budi.


Secanggih-canggihnya teknologi yang ada, mereka tidak akan dapat menandingi akal dan budi manusia. 

Wallohualambissawab.

Friday, 15 March 2013

Sinergi Fisika dan Matematika

Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh
~Almarhum Prof. Albert Einstein~


Mathematical physics refers to development of mathematical methods for application to problems in physics. The Journal of Mathematical Physics defines the field as: "the application of mathematics to problems in physics and the development of mathematical methods suitable for such applications and for the formulation of physical theories".



Fisika adalah Upaya Merekonstruksi Matematika Alam


By: Dr. rer. nat. Muhammad Farchani Rosyid, M.Sc.


Abstract:

Physics, at least in my opinion, is an attempt to find out the mathematics of the nature, i.e. the totality of patterns obeyed by all natural phenomena. The mathematics under question should not be thoroughly the mathematics known today by human being. The today mathematics is merely a kind of approximation to the mathematics of the nature.

Sejarah mencatat adanya hubungan yang teramat khusus antara fisika dan matematika. Tidak ada hubungan yang terjalin antara dua disiplin ilmu sedemikian erat melebihi eratnya hubungan antara fisika dan matematika. Di Mesir kuno geometri digagas karena terkait urusan agraria, yakni untuk urusan pengukuran tanah. Motivasi serupa namun dalam sekala yang lebih luas juga dimiliki oleh Gauss, ketika ia menggagas geometri diferensial intrinsik untuk permukaan-permukaan dalam ruang.

Isaac Newton menghabiskan waktu sebelas tahun untuk mengembangkan kalkulus dalam rangka untuk memahami mekanika dan gravitasi benda-benda langit. Poincaré pun tak jauh berbeda dari para matematikawan yang disebut sebelumnya. Bagi Poincaré peninjauan sistem-sistem dinamis membutuhkan peranti matematis yang lebih mendalam dan memiliki cakupan yang luas, yakni harus melibatkan L’Analysis Sitûs (topologi). Matematika dan ilmu fisika berkembang beriringan selama berabad-abad. Adakalanya perkembangan fisika dan matematika berada di satu figur (semisal pada diri Archimedes dan Newton).

Tetapi, kebanyakan perkembangan yang terjadi melibatkan sekian banyak figur. Sayang, ada masanya kebersamaan itu mencapai kejenuhan dan tibalah saat keduanya harus berjalan sendiri-sendiri. Matematika terus berkembang dengan kekuatan abstraksi dan generalisasi tanpa tekanan oleh realitas. Sementara para fisikawan ditekan oleh realitas sehingga tidak punya waktu untuk melakukan itu semua. Akan tetapi kedua ilmu itu membuktikan adanya saling melengkapi dan bahkan terdapat paralelisme meskipun berjalan sendiri-sendiri.

Relativitas umum yang digagas oleh Albert Einstein berdasar inspirasi dari Ernst Mach tidak lain adalah kasus khusus implementasi geometri differensial. Gagasan Einstein itu, pada akhirnya diparipurnakan oleh David Hilbert (seorang matematikawan). Mekanika kuantum yang dibangun oleh Heisenberg, Schroedinger, dan beberapa figur yang lain ternyata, sebagaimana ditunjukkan oleh von Neumann, merupakan mekanisme dalam teori ruang Hilbert (analisa fungsional) yang dikombinasikan dengan teori peluang.

Selanjutnya panggung sejarah ilmu fisika menyajikan episode-episode menarik. Berangkat dari gagasan Dirac untuk membangun profil medan elektromagnetik yang sejalan dengan mekanika kuantum, diteruskan dengan elektrodinamika kuantum Feynman, Dyson, Schwinger dan Tomonaga, lalu giliran model Yang-Mill untuk spin isotopis, kemudian teori elektrolemah Weinberg dan Abdusalam dan sebagainya.

Pemain bintang dalam epos yang ditampilkan dalam panggung sejarah fisika itu adalah yang disebut oleh fisikawan sebagai teori medan tera yang dikembangkan oleh para fisikawan sebagai kerangka teoretis bagi interaksi-interaksi fundamental. Tidak kalah gegap gempita adalah epos yang ditampilkan dalam panggung sejarah matematika. Epos kolosal di sana dimulai dari kajian lebih mendalam terhadap topologi dan geometri manifold differensibel, dilanjutkan dengan munculnya konsep untingan serat (fibre bundel) dan sifat-sifatnya. Giliran berikutnya adalah penampilan koneksi pada untingan serat, dan kelengkungan terkait dengan koneksi itu. Pendalaman lebih lanjut menghasilkan kelas-kelas karakteristik untingan serat dengan koneksi.

Tanpa ada janjian sebelumnya, kedua epos yang ditampilkan dalam dua panggung yang berbeda itu ternyata menceritakan kisah kepahlawanan yang sama. Teori medan tera bagi fisikawan adalah teori tentang untingan serat dengan koneksi bagi matematikawan. Perkembangan-perkembangan selanjutnya yang terjadi pada kedua ilmu itu pun masih dihiasi oleh paralelisme-paralelisme semacam itu. Misalnya, ketika para fisikawan tertarik berbicara grup kuantum, para matematikawan sibuk dengan aljabar Hopf. Kenyataannya, keduanya identik.

Terdapat simbiosis mutualisme antara fisika dan matematika. Di satu pihak, fisikawan membutuhkan peranti analisis dan objek-objek matematis guna menyelesaikan permasalahan dan memodelkan keteraturan alam.

Di pihak lain ternyata tuntutan kebutuhan matematika tingkat lanjut memicu dan mengilhami para matematikawan untuk memunculkan gagasan-gagasan matematis yang belum terpikirkan sebelumnya.

Dalam hal ini, fisika menuntun perkembangan ilmu matematika.




Prominent Mathematical Physicists

 

 

Prominent contributors to the 20th century's mathematical physics include Satyendra Nath Bose [1894–1974], Julian Schwinger [1918–1994], Sin-Itiro Tomonaga [1906–1979], Richard Feynman [1918–1988], Freeman Dyson [1923– ], Hideki Yukawa [1907–1981], Roger Penrose [1931– ], Munir Ahmad Rashid [1934- ], Stephen Hawking [1942– ], Edward Witten [1951– ], and Rudolf Haag [1922– ]. Yet mathematical physics is often traced to Archimedes in ancient Greece.

In the first decade of the 16th century, amateur astronomer Nicholas Copernicus proposed heliocentrism, and published a treatise on it in 1543. Not quite radical, Copernicus merely sought to simplify astronomy and achieve orbits of more perfect circles, stated by Aristotelian physics to be the intrinsic motion of Aristotle's fifth element—the quintessence or universal essence known in Greek as aither for the English pure air—that was the pure substance beyond the sublunary sphere, and thus was celestial entities' pure composition. The German Johannes Kepler [1571–1630], Tycho Brahe's assistant, modified Copernican orbits to ellipses, however, formalized in the equations of Kepler's laws of planetary motion.

An enthusiastic atomist, Galileo Galilei in his 1623 book The Assayer asserted that the "book of nature" is written in mathematics. His 1632 book, upon his telescopic observations, supported heliocentrism. Having introducing experimentation, Galileo then refuted geocentric cosmology by refuting Aristotelian physics itself. Galilei's 1638 book Discourse on Two New Sciences established law of equal free fall as well as the principles of inertial motion, founding the central concepts of what would become today's classical mechanics. By the Galilean law of inertia as well as the principle Galilean invariance, also called Galilean relativity, for any object experiencing inertia, there is empirical justification of knowing only its being at relative rest or relative motion—rest or motion with respect to another object.

René Descartes adopted Galilean principles and developed a complete system of heliocentric cosmology, anchored on the princple of vortex motion, Cartesian physics, whose widespread acceptance brought demise of Aristotelian physics. Descartes sought to formalize mathematical reasoning in science, and developed Cartesian coordinates for geometrically plotting locations in 3D space and marking their progressions along the flow of time.


"Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung betapa pahitnya kebodohan."
~Pythagoras, Born 570 BC, Died 495 BC~



 

 

Textbooks for graduate studies

 

Ucapan Terima Kasih: 

Kepada Guru-guru dan para Dosen ku selama ini.

Terima Kasih.