Showing posts with label Space Science Digital Laboratory. Show all posts
Showing posts with label Space Science Digital Laboratory. Show all posts

Friday, 5 July 2013

Peran Ilmuwan Kita dalam Perkembangan IPTEK Antariksa

Mungkinkah pertambangan pada masa mendatang bisa dilakukan di luar bumi kita ini?



Itu adalah pertanyaan yang diajukan para ilmuwan yang bertemu di Sydney, Australia yang ingin mengeksplorasi antariksa untuk memperoleh sumber-sumber kekayaan baru. 

Asteroid bisa menghasilkan platinum dan berlian, sedangkan bulan mengandung mineral langka yang dapat digunakan untuk membuat komputer, rudal dan turbin angin, karena ketersediannya semakin menipis di Bumi. 

Visi-visi yang berani ini memang tidak ekonomis untuk sekarang ini, namun para peneliti yakin penambangan di bulan yang dikendalikan dari bumi dapat terlaksana dalam satu dasawarsa lagi. Pada masa depan, para akademisi lainnya mengatakan bahwa Mars juga dapat dimanfaatkan untuk mencari bahan-bahan mineral berharga.

Lists of scientists

From Wikipedia

This page contains links to lists of scientists.
Scientists by type:
Bagaimana Kita Dapat Menambang Mineral di Bulan?




Prof. Gordon Roesler, pakar robotika antariksa di Universitas New South Wales, mengatakan upaya untuk menggali harta karun ini telah dimulai. "Ada dua perusahaan yang baru saja memulainya, satu di Amerika dan satu di Inggris, dan keduanya mengatakan 'Kami akan menambang di asteroid'. 

Kita telah membicarakan hal ini selama beberapa dasawarsa, tetapi kenapa perusahaan-perusahaan ini memulainya sekarang dengan dukungan para milyarder? Mengapa mereka melakukannya? Saya pikir itu karena kemajuan dalam robotika, paparnya.” 

Prof. Roesler mengatakan potensi robot ditunjukkan oleh kemampuan mereka di pabrik-pabrik, dalam eksplorasi bawah laut serta di Mars, di mana kendaraan Curiosity milik NASA baru-baru ini mengebor Planet Merah itu untuk pertama kalinya. 

"Dua puluh tahun lalu, kita belum bisa membayangkan bahwa itu bisa dilakukan. Sekarang itu sudah terwujud, jadi perusahaan-perusahaan ini mengatakan 'baik, kita akan menyusun rencana jangka panjang'," paparnya lagi.

Scientists by Country:
ACSER: Australian Center for Space Engineering Research
Distinguished Guest Lecture

Presented by:
Dr. René Fradet
Deputy Director of Engineering & Science Directorate,
Jet Propulsion Laboratory, NASA
Photos from the event can be viewed here
The presentation slides used during the lecture can be viewed here

Dr. RenĂ© Fradet, Wakil Direktur Direktorat Teknik dan Sains di Jet Propulsion Laboratory Amerika, adalah salah seorang pembicara dalam konferensi di Universitas New South Wales itu. Dia mengatakan keberhasilan pesawat Curiousity di Mars akan mendorong eksplorasi ruang angkasa. 

Sama halnya dengan mengeksplorasi mineral langka, pertambangan di antariksa juga bisa menjadi langkah pertama untuk mendirikan koloni di ruang angkasa, di mana air yang diperoleh dari asteroid, bulan atau Mars dapat menjadi bahan bakar pesawat antariksa dan menghidupi koloni manusia. 

Sumber:
VoA
ACSER
University of New South Wales
NASA

Tuesday, 15 June 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory

Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

Mineral (Minerals)


Mineral (Minerals) adalah bahan padat homogen bersifat anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki ciri-ciri khas dan komposisi kimiawi tertentu serta tersusun oleh atom-atom yang biasanya memperlihatkan bentuk kristal yang khusus.

SISTEMATIKA MINERAL

Mineral Unsur                 Emas Au, Besi Fe, Tembaga Cu, Belerang S, Intan C
Mineral Sulfida              Pirit FeS2, Kalkopirit CuFeS2, Galena PbS, Sfalerit ZnS
Mineral Halida               Halit NaCl, Fluorit CaF2, Silvit KCl, Kriolit Na3AlF6
Mineral Oksida               Hematit Fe2O3, Magnetit Fe3O4, Pirolusit MnO2
Mineral Karbonat            Kalsit CaCO3, Dolomit CaMg(CO3)2, Malakit Cu2CO3(OH)2
Mineral Sulfat                Barit BaSO4, Anhidrit CaSO4, Gipsum CaSO4.2H2O
Mineral Fosfat                Apatit Ca5(PO4)3(F,Cl,OH), Monazit (Ce,La,Y,Th)PO4
Mineral Silikat                Kuarsa SiO2, Olivin (Mg,Fe)2SiO4, Topaz Al2SiO4(F,OH)2


 SISTEM KRISTAL

                                

 SIFAT FISIK MINERAL
  • Warna (colour)
  • Kilap (luster)
  • Cerat/gores (streak)
  • Belahan & Pecahan (cleavage & fracture)
  • Kekerasan (hardness)
  • Berat jenis (specific gravity)
  • Radioaktivitas (radioactivity)

 SKALA KEKERASAN MOHS

Kekerasan

Mineral

Rumus Kimia
Tes Sederhana
1
Talkum
Mg3SiO4O10(OH)2
mudah digores kuku jari
2
Gipsum
CaSO42H2O
dapat digores kuku jari
3
Kalsit
CaCO3
dapat digores koin tembaga
4
Fluorit
CaF2
mudah digores pisau lipat
5
Apatit
Ca5(F,Cl)(PO4)3
dapat digores pisau/kaca/paku
6
Ortoklas/Felspar
KalSi3O5
dapat digores kikir baja
7
Kuarsa
SiO2
mudah menggores kaca jendela
8
Topas
(Al,F)2SiO4
mudah menggores Kuarsa
9
Korundum
Al2O3
mudah menggores Topas
10
Intan
C
tidak dapat digores benda lain


                            


Mineral Logam (Metallic Minerals)

Mineral Non-Logam (Non-Metallic Minerals)

*Batu Mulia (Gemstones)
Batu Mulia adalah jenis batuan/mineral yang dianggap memiliki nilai lebih karena daya tarik dan alasan-alasan tertentu seperti keunikan, kelangkaan, kekerasan dan keindahan sehingga sangat cocok digunakan sebagai batu permata/perhiasan bahkan diyakini memiliki khasiat untuk terapi pengobatan, termasuk sebagai azimat.

BATU PERMATA (PRECIOUS STONE)
Batu permata adalah batumulia dengan kekerasan tertentu (>7 skala Mohs) yang apabila dipotong, dipoles dan diupam memiliki nilai hakiki, indah dan tahan terhadap berbagai pengaruh sehingga banyak dimanfaatkan sebagai perhiasan/asesoris, pajangan/ornamen atau dekorasi.

                            
 


Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World


2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus

Thanks To:




3.Earth - NASA Science


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Thursday, 20 May 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory

Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

Batuan (Rocks)
Batuan (Rocks) adalah bahan padat bentukan alam yang umumnya tersusun oleh kumpulan atau kombinasi dari satu macam mineral atau lebih.

JENIS BATUAN (ROCKS)

Batuan yang dibentuk oleh berbagai jenis dan susunan mineral dibagi menjadi tiga jenis, yaitu batuan beku (igneous rocks), batuan endapan (sedimentary rocks), dan batuan malihan (metamorphic rocks).

Batuan Beku (Igneous Rocks)
 
Batuan yang terbentuk dari proses pembekuan/pengkristalan magma dalam perjalanannya menuju permukaan bumi, termasuk hasil aktivitas gunungapi.
  • Batuan beku dalam = batuan plutonik, batuan yg membeku jauh di bawah permukaan bumi, contoh: granit
  • Batuan beku korok/gang = batuan intrusif / hipabisal, batuan yg membeku sebelum sampai ke permukaan bumi, contoh: granit porfir
  • Batuan beku luar/leleran = batuan ekstrusif / efusif, batuan yg membeku di permukaan bumi, contoh: batuan vulkanis
                         

                         

Batuan Endapan (Sedimentary Rocks)

Batuan yang terbentuk dari proses pengendapan bahan lepas (fragmen) hasil perombakan/pelapukan batuan lain yang terangkut dari tempat asalnya oleh air, es atau angin, yang kemudian mengalami proses diagenesa/pembatuan (pemadatan dan perekatan).
  • Batuan sedimen klastik / mekanis = batuan yg terendapkan dari hasil rombakan batuan asal, contoh: konglomerat, breksi, batupasir, serpih, napal, batulempung
  • Batuan sedimen organik = batuan yg berasal dari endapan bahan organis (binatang & tumbuhan), contoh: batugamping, batubara, batu gambut, diatomit
  • Batuan sedimen kimiawi = batuan endapan akibat proses kimiawi, contoh: evaporit, travertin, anhidrit, halit, batu gips
  • Batuan sedimen piroklastik = batuan endapan hasil erupsi gunungapi berupa abu/debu, contoh: tufa


                            


Batuan Malihan (Metamorphic Rocks)

Batuan yang terbentuk dari proses perubahan batuan asal (batuan beku maupun sedimen), baik perubahan bentuk/struktur maupun susunan mineralnya akibat pengaruh tekanan dan/atau temperatur yang sangat tinggi, sehingga menjadi batuan yang baru. 
  • Batuan metamorf kontak/sentuh/termal = batuan malihan akibat bersinggungan dengan magma, contoh: marmer, kuarsit, batutanduk
  • Batuan metamorf tekan/dinamo/kataklastik = batuan malihan akibat tekanan yang sangat tinggi, contoh: batusabak, sekis, filit
  • Batuan metamorf regional/dinamo-termal = batuan malihan akibat pengaruh tekanan dan temperatur yang sangat tinggi, contoh: genes, amfibolit, grafit



                            
 

Badan Geologi merupakan salah satu unit eselon I di lingkungan Kementerian ESDM yang bertugas memberikan pelayanan informasi geologi.

Badan Geologi terdiri dari 5 unit kerja yaitu:
  1. Sekretariat Badan Geologi
  2. Pusat Sumber Daya Geologi
  3. Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana
  4. Pusat Lingkungan Geologi
  5. Pusat Survei Geologi


TAHUN 2010
TAHUN 2009
Volume IV, No.4
Volume IV, No.3 
Volume IV, No.2
Volume IV, No.1

TAHUN 2008
Volume III, No.4  
Volume III, No.3 
Volume III, No.2 
Volume III, No.1

TAHUN 2007
Volume II, No.4
Volume II, No.3 
Volume II, No.2
Volume II, No.1

TAHUN 2006
Volume I, No. 4
Volume I, No. 3
Volume I, No. 2
Volume I, No. 1

Cara Membuat Sebuah Jurnal Geologi

ISI DAN KRITERIA UMUM

Naskah makalah ilmiah (selanjutnya disebut “Naskah”) untuk publikasi di Jurnal Geologi Indonesia (JGI) dapat berupa artikel hasil penelitian, artikel ulas balik (review/mini review), komunikasi singkat, dan ulasan (feature) tentang geologi, baik sains maupun terapan. Naskah belum pernah dipublikasikan atau tidak sedang diajukan pada majalah/jurnal lain.


Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World


2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus

Thanks To:



3.Earth - NASA Science


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Saturday, 10 April 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory


Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa






Fokus

By: Ade Akhyar Nurdin
 
Di sini saya menulis artikel dan berita yang berhubungan dengan geologi, baik yang ditulis sendiri maupun dari berbagai sumber serta opini pribadi tentang isue-isue terkini dibidang geologi. silakan comment klo ada yang kurang pas dengan hasil tulisan saya.

Adapun beberapa artikel yang telah saya terbitkan, antara lain:
Research groups within or in relation to the Department of Earth and Space Sciences at UCLA.

Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World



2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus


Thanks To:



3.Earth - NASA Science 


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Wednesday, 10 March 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory



Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

Sumber: Wikipedia oleh Ade Akhyar.

Mineralogi merupakan ilmu bumi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika (termasuk optik) dari mineral. Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral.

Pada awalnya, mineralogi lebih menitikberatkan pada sistem klasifikasi mineral pembentuk batuan. International Mineralogical Association merupakan suatu organisasi yang beranggotakan organisasi-organisasi yang mewakili para ahli mineralogi dari masing-masing negara. Aktifitasnya mencakup mengelolaan penamaan mineral (melalui Komisi Mineral Baru dan Nama Mineral), lokasi mineral yang telah diketahui, dsb. Sampai dengan 2004 telah terdapat lebih dari 4000 spesies mineral yang diakui oleh IMA. Dari kesemua itu, 150 dapat digolongkan “umum”, 50 lainnya “terkadang”, dan sisanya “jarang” sampai “sangat jarang” Belakangan ini, dangan disebabkan oleh perkembangan teknik eksperimental (seperti defraksi neutron) dan kemampuan komputasi yang ada, telah memungkinkan simulasi prilaku kristal berskala atom dengan sangat akurat, ilmu ini telah berkembang luas hingga mencakup permasalahan yang lebih umum dalam bidang kimia anorganik dan fisika padat. 

Meskipun demikan, bidang ini tetap berfokus pada struktur kristal yang umumnya dijumpai pada mineral pembentuk batuan (seperti pada perovskites, mineral lempung dan kerangka silikat). Secara khusus, bidang ini telah mencapai kemajuan mengenai hubungan struktur mineral dan kegunaannya; di alam, contoh yang menonjol berupa akurasi perhitungan dan perkiraan sifat elastic mineral, yang telah membuka pengetahuan yang mendalam mengenai prilaku seismik batuan dan ketidakselarasan yang berhubungan dengan kedalaman pada seismiogram dari mantel bumi. Sehingga, dalam kaitannya dengan hubungan antara fenomena berskala atom dan sifat-sifat makro, ilmu mineral (seperti yang umumnya diketahui saat ini) kemungkinan lebih berhubungan dengan ilmu material daripada ilmu lainnya.

dari uraian di atas akan dijabarkan beberapa uraian yang edittor anggap sangat penting dalam mempelajari mineralogi, diantaranya:

Earth Science Technology


Advanced technologies play a major role in Earth science research and applications. The robust, ongoing development of new sensors, instruments, space systems, and information technologies is critical to improved observations of Earth and to a better understanding of the Earth system.

ESTO Page Image NEW
From remote sensing instruments to data access, ESTO technologies enable the full range of Earth science measurements.

ESTO employs a unique and highly-successful approach to technology development:
  • Technology investments are fundamentally science-driven: careful planning and engagement with the science community help ensure an ever-evolving set of useful, mature technologies and tools for Earth science.
  • Technology investments are competitively selected: ESTO awards are selected by peer-reviewed, competitive solicitations.
  • Technology investments are actively managed and infused: progress is measured against established goals and benchmarks and ESTO seeks every opportunity for the demonstration, validation, and infusion of maturing technologies.

Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World

2. Arip Nurahman

3. Ridwan Firdaus


Thanks To:



3.Earth - NASA Science  

Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Wednesday, 10 February 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory


Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

1. Sumber: Wikipedia oleh Ade Akhyar
 
Geomorfologi adalah ilmu yang mendeskripsikan, mendefinisikan, serta menjabarkan bentuk lahan dan proses-proses yang mengakibatkan terbentuknya lahan tersebut, serta mencari hubungan antara proses-proses dalam susunan keruangan (Van Zuidam, 1977).

Berdasarkan sedikit penjelasan di atas, perlu ketahui uraian yang lebih detail lagi beberapa hal yang sangat perlu kita ketahui dalam mempelajari geomorfologi, diantaranya:





2. The complexity of the Earth system, in which spatial and temporal variability exists on a range of scales, requires that an organized scientific approach be developed for addressing the complex, interdisciplinary problems that exist, taking good care that in doing so there is a recognition of the objective to integrate science across the programmatic elements towards a comprehensive understanding of the Earth system. In the Earth system, these elements may be built around aspects of the Earth that emphasize the particular attributes that make it stand out among known planetary bodies.

These include the presence of carbon-based life; water in multiple, interacting phases; a fluid atmosphere and ocean that redistribute heat over the planetary surface; an oxidizing and protective atmosphere, albeit one subject to a wide range of fluctuations in its physical properties (especially temperature, moisture, and winds); a solid but dynamically active surface that makes up a significant fraction of the planet’s surface; and an external environment driven by a large and varying star whose magnetic field also serves to shield the Earth from the broader astronomical environment. 

  • Atmospheric Composition is focused on the composition of Earth's atmosphere in relation to climate prediction, solar effects, ground emissions and time.
b.Weather
  • Our weather system includes the dynamics of the atmosphere and its interaction with the oceans and land. The improvement of our understanding of weather processes and phenomena is crucial in gaining an understanding of the Earth system.
c.Climate Variability & Change
  • NASA's role in climate variability study is centered around providing the global scale observational data sets on oceans and ice, their forcings, and the interactions with the entire Earth system.


d.Water & Energy Cycles
  • Through water and energy cycle research we can improve hurricane prediction, quantify tropical rainfall and eventually begin to balance the water budget at global and regional scales.


 e.Carbon Cycle & Ecosystems
  • This Focus Area deals with the cycling of carbon in reservoirs and ecosystems as it changes naturally, is changed by humans, and is affected by climate change.
     
 f.Earth Surface & Interior
  • The goal of the Earth Surface and Interior focus area is to assess, mitigate and forecast the natural hazards that affect society, including earthquakes, landslides, coastal and interior erosion, floods and volcanic eruptions.


Geophysics at Harvard

Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World


2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus


Thanks To:



3. Earth - NASA Science


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Sunday, 10 January 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory


Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Foukus

1.Izinkan saya untuk berbagi pengetahuan sedikit tentang geology

Adapun daftar isinya :

2. Teaching Geo-science with Visualizations: Using Images, Animations, and Models Effectively

Visualizing the Earth, its processes, and its evolution through time is a fundamental aspect of geoscience. The use of visualizations - diagrams, images, animations, maps, and more - is an essential tool in helping students to visualize the Earth and its processes (e.g., references in the recommended reading list and many others).

3.Big Questions

a.How is the global earth system changing?
  • Earth is currently in a period of warming. Over the last century, Earth's average temperature rose about 1.1°F (0.6°C). In the last two decades, the rate of our world's warming accelerated and scientists predict that the globe will continue to warm over the course of the 21st century. Is this warming trend a reason for concern? After all, our world has witnessed extreme warm periods before, such as during the time of the dinosaurs. Earth has also seen numerous ice ages on roughly 11,000-year cycles for at least the last million years. So, change is perhaps the only constant in Earth's 4.5-billion-year history.

b.What are the primary forcings of the Earth system?
  • The Sun is the primary forcing of Earth's climate system. Sunlight warms our world. Sunlight drives atmospheric and oceanic circulation patterns. Sunlight powers the process of photosynthesis that plants need to grow. Sunlight causes convection which carries warmth and water vapor up into the sky where clouds form and bring rain. In short, the Sun drives almost every aspect of our world's climate system and makes possible life as we know it.
c.How does the earth system respond to natural and human-induced changes?
  • Climate scientists have been monitoring Earth's energy budget since the 1978 launch of NASA's Nimbus-7 satellite. That mission carried a new instrument into space called the Earth Radiation Budget Experiment (or ERBE), designed to measure all of the energy leaving through the top of Earth's atmosphere. All of the incoming sunlight minus all of the reflected sunlight and emitted heat is our world's energy budget. The second law of thermodynamics compels Earth's climate system to seek equilibrium so that, over the course of a year the amount of energy received equals the amount of energy lost to space. So typically the global energy budget is in balance.

c.What are the consequences of change in the earth system for human civilization?
  • Earth's climate system has been remarkably stable over the last 20,000 years or so. Human civilization developed in that time span, and our world's average temperature warmed by about 5°C to the temperature it is today. This fact points to one of climate scientists' main concerns about global warming: the temperature is rising faster than at any other time in the history of human civilization and such rapid climate change is likely to seriously stress some populations who cannot adapt quickly enough to the changes.

 d.How will the Earth system change in the future?
  • As the world consumes ever more fossil fuel energy, greenhouse gas concentrations will continue to rise and Earth's average temperature will rise with them. The Intergovernmental Panel on Climate Change (or IPCC) estimates that Earth's average surface temperature could rise between 2°C and 6°C by the end of the 21st century.


Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World


2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus

Thanks To:



3.Earth - NASA Science


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Friday, 20 April 2007

Data Analysis and Archive for CGRO



The Compton Gamma Ray Observatory (CGRO) was a space observatory detecting light from 20 KeV to 30 GeV in Earth orbit from 1991 to 2000. It featured four main telescopes in one spacecraft covering x-rays and gamma-rays, including various specialized sub-instruments and detectors. Following 14 years of effort, the observatory was launched on the Space ShuttleAtlantis, mission STS-37, on 5 April 1991 and operated until its deorbit on 4 June 2000. It was deployed in low earth orbit at 450 km (280 mi) to avoid the Van Allen radiation belt. It was the heaviest astrophysical payload ever flown at that time at 17,000 kilograms (37,000 lb).

The CGRO was part of NASA's Great Observatories series, with the Hubble Space Telescope, the Chandra X-ray Observatory, and the Spitzer Space Telescope. It was the second of theNASA "Great Observatories" to be launched to space, following the Hubble Space Telescope. CGRO was named after Dr. Arthur Holly Compton (Washington University in St. Louis), Nobel prize winner, for work involved with gamma ray physics. CGRO was built by TRW (now Northrop Grumman Aerospace Systems) in Redondo Beach, CA. CRGO was an international collaboration and additional contributions came from the European Space Agency and various Universities, as well as the U.S. Naval Research Laboratory,

Data Analysis for CGRO

BATSE
COMPTEL
EGRET