Thursday, 6 January 2011

Indonesian Space Force Command


Indonesian Space Force Command   

 Komando Untuk Keamanan Luar Angkasa 

Dari Angkatan Antariksa Indonesia

"Kami Menjelajahi Alam Raya untuk Menemukan Keagungan Sang Maha Kuasa"

 ~Gen. Arip Nurahman~

 

 

 

(Komando Pasukan Khusus Angkatan Antariksa Indonesia)

 

(Korps Pasukan Khas Angkatan Udara)

 

Jet-powered fighters

It has become common in the aviation community to classify jet fighters by "generations" for historical purposes. There are no official definitions of these generations; rather, they represent the notion that there are stages in the development of fighter design approaches, performance capabilities, and technological evolution.

The timeframes associated with each generation are inexact and are only indicative of the period during which their design philosophies and technology employment enjoyed a prevailing influence on fighter design and development. These timeframes also encompass the peak period of service entry for such aircraft.

Second generation jet fighters (mid-1950s to early 1960s)

The development of second-generation fighters was shaped by technological breakthroughs, lessons learned from the aerial battles of the Korean War, and a focus on conducting operations in a nuclear warfare environment. Technological advances in aerodynamics, propulsion and aerospace building materials (primarily aluminium alloys) permitted designers to experiment with aeronautical innovations, such as swept wings, delta wings, and area-ruled fuselages. Widespread use of afterburning turbojet engines made these the first production aircraft to break the sound barrier, and the ability to sustain supersonic speeds in level flight became a common capability amongst fighters of this generation.


Fighter designs also took advantage of new electronics technologies that made effective radars small enough to be carried aboard smaller aircraft. Onboard radars permitted detection of enemy aircraft beyond visual range, thereby improving the handoff of targets by longer-ranged ground-based warning and tracking radars. Similarly, advances in guided missile development allowed air-to-air missiles to begin supplementing the gun as the primary offensive weapon for the first time in fighter history. During this period, passive-homing infrared-guided (IR) missiles became commonplace, but early IR missile sensors had poor sensitivity and a very narrow field of view (typically no more than 30°), which limited their effective use to only close-range, tail-chase engagements.


Radar-guided (RF) missiles were introduced as well, but early examples proved unreliable. These semi-active radar homing (SARH) missiles could track and intercept an enemy aircraft "painted" by the launching aircraft's onboard radar. Medium- and long-range RF air-to-air missiles promised to open up a new dimension of "beyond-visual-range" (BVR) combat, and much effort was placed in further development of this technology.



MiG-21F interceptor

The prospect of a potential third world war featuring large mechanized armies and nuclear weapon strikes led to a degree of specialization along two design approaches: interceptors (like the English Electric Lightning and Mikoyan-Gurevich MiG-21F) and fighter-bombers (such as the Republic F-105 Thunderchief and the Sukhoi Su-7). Dogfighting, per se, was de-emphasized in both cases. The interceptor was an outgrowth of the vision that guided missiles would completely replace guns and combat would take place at beyond visual ranges. As a result, interceptors were designed with a large missile payload and a powerful radar, sacrificing agility in favor of high speed, altitude ceiling and rate of climb.

With a primary air defense role, emphasis was placed on the ability to intercept strategic bombers flying at high altitudes. Specialized point-defense interceptors often had limited range and little, if any, ground-attack capabilities. Fighter-bombers could swing between air superiority and ground-attack roles, and were often designed for a high-speed, low-altitude dash to deliver their ordnance. Television- and IR-guided air-to-surface missiles were introduced to augment traditional gravity bombs, and some were also equipped to deliver a nuclear bomb.
See also: List of second generation jet fighters

Powered By:
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Indonesian Army)
 



Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (Indonesian Navy)

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (Indonesian Air Force)

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Indonesian Police)



 
Sumber: Wikipedia

Tuesday, 4 January 2011

Daftar Atraksi Angkasa di 2011


(Pelantikan Anggota Baru Cakrawala UPI Bandung)

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
 
Tahun 2010 bumi telah dimeriahkan dengan serangkaian pertunjukan angkasa. Ada gerhana bulan yang baru saja terjadi di beberapa belahan bumi, ada pula hujan meteor Geminids dan Orionids. Nah, apa yang akan terjadi pada 2011 nanti?

Selain siklus bulan yang secara teratur terjadi setiap bulannya, berikut ini adalah daftar pertunjukan angkasa yang akan terjadi di 2011 yang beberapa jam lagi akan bersua dengan kita:  

3 - 4 Januari 2011 - Puncak hujan meteor Quadranids
Puncak hujan meteor Quadranids dan kurang lebih 40 meteor bisa dilihat setiap jamnya.


4 Januari 2011 - Gerhana matahari sebagian
Gerhana ini akan bisa dilihat di beberapa wilayah Afrika, Amerika dan Asia. Cek situs NASA untuk keterangan daerah yang lebih spesifik


3 April 2011 - Oposisi saturnus
Saat ini, Saturnus akan ada pada titik terdekatnya dengan bumi. Inilah saat terbaik untuk mengabadikan Saturnus dan bulannya dalam foto.

21 - 22 April 2011 - Hujan Meteor Lyrids
Sebanyak 20 meteor akan terlihat dalam hujan meteor ini. Meski memuncak pada tanggal 21 - 22, namun hujan meteor sudah bisa dinikmati sejak 16 April 2010.

5 - 6 Mei 2011 - Hujan meteor Eta Aquarids
Hujan meteor Eta Aquarids adalah hujan meteor tingkat rendah. Mulai terlihat sejak tanggal 4 Mei 2011, hujan meteor ini akan memuncak tanggal 5 - 6 Mei 2011.

1 Juni 2011 - Gerhana matahari sebagian
Gerhana matahari kali ini akan terlihat di sebagian besar wilayah asia Timur, Alaska, dan bagian utara Kanada dan Greenland.

15 Juni 2011 - Gerhana bulan total
Gerhana bulan akan terjadi di sebagian besar wilayah Amerika Selatan, Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Warga negara Indonesia termasuk yang bisa melihatnya.

1 Juli 2011 - Gerhana matahari sebagian.
Memang, akan terjadi lagi gerhana matahari sebagian. Sayangnya, gerhana matahari ini hanya bisa disaksikan di pantai Antartika.

28 - 29 Juli 2011 - Hujan Meteor Delta Aquarids Selatan
Sebanyak 20 meteor bisa dilihat setiap jamnya pada malam puncaknya, 28 - 29 Juli 2011.

12 - 13 Agustus 2011 - Hujan meteor Perseids
Hujan meteor ini adalah salah satu hujan meteor terbaik yang bisa disaksikan. Kurang lebih 60 meteor bisa disaksikan setiap jamnya.

22 Agustus 2011 - Oposisi Neptunus
Saat ini, Neptunus akan mencapai posisi terdekatnya dengan bumi. Inilah saat terbaik untuk mengabadikan Neptunus, walaupun planet ini biasanya hanya akan tampak sebagi bintik biru di angkasa.

25 September 2011 - Oposisi Uranus
Ini adalah saat Uranus mencapai posisi terdekatnya dengan bumi. Bisa dijadikan kesempatan untuk mengabadikannya.

21 - 22 Oktober 2011 - Hujan meteor Orionids
Hujan meteor ini akan memungkinkan warga bumi melihat 20 meteor per jamnya. Lain dari biasanya, pada tahun 2011 hujan meteor ini akan mulai terlihat dari tanggal 20 September 2011.

29 Oktober 2011 - Oposisi Jupiter
Saat ini, Jupiter berada di posisi terdekatnya dengan bumi. Kesempatan baik untuk memotret Jupiter dan planetnya.

17 - 18 November 2011 - Hujan meteor Leonids
Seperti yang terjadi tahun ini, hujan meteor Leonids pada tahun 2011 akan menampakkan 40 meteor per jamnya.

25 November 2011 - Gerhana matahari sebagian
Pun, akan terjadi lagi gerhana matahari sebagian. Sayangnya, hal ini hanya bisa dilihat di Antartika.

10 Desember 2011 - Gerhana bulan total
Gerhana akan terjadi di sebagian besar wilayah Asia, Afrika Timur, Australia dan Pasifik. Indonesia juga bisa menyaksikannya.

13 - 14 Desember 2011 - Hujan meteor Geminids
Di hujan meteor ini, 60 meteor berwarna-warni akan bisa dilihat per jamnya. Puncak hujan meteor memang akan terjadi tanggal 13 - 14, namun hujan meteor sudah bisa disaksikan sejak 6 Desember 2011.



Sumber:

http://www.seasky.org/

Saturday, 1 January 2011

Mengenal Para Peraih Nobel

Seremoni untuk penghargaan Nobel di bidang literatur, fisika, kimia dan obat-obatan pertama kali diadakan di Old Royal Academy of Music di Stockholm pada tahun 1901. Sejak tahun 1902, penghargaan ini secara formal dianugrahkan oleh Raja Swedia. Awalnya, Raja Oscar II tidak menyetujui pemberian penghargaan kepada orang asing, namun kemudian beliau mengubah sikapnya, setelah menyadari nilai publisitas penghargaan tersebut terhadap negara Swedia.

Penghargaan Nobel dianugrahkan setiap tahunnya pada tanggal 10 Desember, yaitu tanggal Alfred Nobel wafat. Biasanya, nama calon penerima diumumkan pada bulan Oktober oleh komite dan institusi yang berwenang sebagai badan seleksi penerima penghargaan.
Dengan sistem pendidikan, penelitian dan pengembangan yang baik mungkin saja Bangsa Indonesia mampu melahirkan para peraih Nobel di masa depan.


Sumber:

Nobel Prize Org.