Tuesday, 4 September 2012

Memahami Skenario Akhir Alam Semesta


Para ahli astronomi dan astrofisika kini mengembangkan teori baru, menyangkut tahapan akhir alam semesta. Teori Big Bang atau dentuman besar bagi penciptaan alam semesta kini sudah secara luas diterima. Akan tetapi skenario akhir dari dentuman besar, masih menjadi bahan perdebatan yang cukup hangat.

Lima tahun lalu, para ahli astronomi dan astrofisika ibaratnya hanya membahas dua tema. Yakni, kecepatan pemuaian alam semesta serta kerapatan rata-rata materi penyusun alam semesta. Terdapat aksioma, jika kerapatan materi melampaui nilai kritis, maka alam semesta berhenti berkembang dan mengkerut kembali.

Jadi selaras dengan teori dentuman besar, skenario tahapan akhir alam semesta adalah keruntuhan besar. Akan tetapi berdasarkan pengukuran pancaran latar belakang sinar kosmis, penyebaran awan galaksi, penghitungan konstanta Hubble serta indikator lain, diperhitungkan volume materi nampak maupun materi gelap, tidak mencukupi untuk membuat alam semesta kolaps. 

Masih ada komponen utama lainnya yang menentukan nasib alam semesta, yakni energi gelap yang sejauh ini masih misterius. Tantangan terbesar ilmu kosmologi saat ini, adalah mengerti sifat dan mekanisme energi gelap ini.

Para ahli kosmologi menyadari, alam semesta yang kini berumur sekitar 13,7 milyar tahun, sudah memasuki paruh siklus hidupnya. Itulah sebabnya para peneliti merasa lebih tertarik pada skenario nasib alam semesta.

Apa yang terjadi dengan alam semesta 20 milyar tahun mendatang? 

Bumi sendiri yang lahir sekitar 5 milar tahun lalu, jadi jauh lebih muda dari alam semesta, diperkirakan lima sampai tujuh milyar tahun mendatang sudah merupakan planet tanpa kehidupan. Matahari sudah memasuki fase bintang raksasa merah, dan ukurannya membesar sampai 100 kali lipat dari ukuran sekarang. Bumi sudah menjadi planet yang berupa bola api menyala.

Ada tiga gambaran skenario yang dikembangkan para peneliti kosmologi. Yakni jika konstanta alam semesta tetap negatif, alam semesta akan mengalami keruntuhan besar di akhir siklus kehidupannya. Jika konstantanya positif atau tidak mencapai titik kritis, alam semesta akan terus memuai.

Disamping itu, ada juga gambaran yang ekstrim. Misalnya saja teori yang dilontarkan Robert Caldwell dari departemen fisika dan astronomi di Darmouth College, AS, serta Marc Kamionkowski dan Nevin Weinberg dari institut teknologi California di Pasadena AS. Beberapa bulan lalu, ketiga pakar astrofisika itu melontarkan skenario yang disebut Big Rip, atau koyakan besar.

Dalam hal ini, energi gelap tetap memainkan peranan utama. Jika energi gelap tidak lagi mengikuti hukum konstanta alam semesta, dan bertindak sebagai materi liar yang dijuluki “Phantom Energy”, maka pemuaian alam semesta tidak berhenti atau konstan, akan tetapi justru dipercepat. 

Dengan percepatan yang terus meningkat, alam semesta ibaratnya dikoyak sampai menjadi bagian materinya yang terkecil. Kerapatan energi “phantom energy” pada akhir zaman alam semesta, menjadi tidak terbatas. Artinya, tidak ada yang dapat mengelak, semua benda langit, mulai dari galaksi besar sampai atom terkecil akan meledak.

Kapan akhir zaman atau kiamat alam semesta itu akan terjadi? 

Apakah dapat diramalkan? 

Berdasarkan perhitungan konstanta alam semesta Einstein dan konstanta Hubble, yang saat ini besarnya 70 kilometer per detik dan Megaparsec, masih tersisa waktu 53 milyar tahun sampai tibanya Big Rip. Skenario yang lebih ekstrim dilontarkan astronom Pedro Gonzalez-Diaz dari pusat penelitian alam semesta di Madrid.

Ia memperkirakan Big Rip akan terjadi sekitar 22 milyar tahun mendatang. Satu milyar tahun sebelum terjadinya koyakan besar, awan galaksi akan tercerai berai.

Tiga bulan sebelum koyakan besar, juga lubang hitam akan tercerai berai.

Tigapuluh menit sebelum koyakan besar, semua benda langit makroskopis akan meledak. Namun pusat persemaian pemusnahan alam semesta belum sepenuhnya mengembang. Baru pada saat limit menjelang koyakan besar, semua inti atom terpecah menjadi partikel elementernya, Proton dan Neutron. Setelah itu semua hukum fisika yang dikenal, mungkin memainkan peranannya.

Diperkirakan akan tercipta partikel secara spontan, terbentuknya dimensi ekstra seperti string yang eksotis atau efek gravitasi kuantum. Jika masih ada yang dapat mengamati, alam semesta akan terus mengecil sampai menjadi sebuah titik, kata Caldwell dengan singkat.

Jelas Caldwell hanya bercanda. Sebab sampai sekitar 20 milyar tahun mendatang, diyakini umat manusia di Bumi sudah musnah. Namun juga tidak ada yang mengetahui, apakah aksioma baru itu juga akan terbukti.

Yang jelas perhitungan astronomi menunjukan, skenario itu dapat saja terjadi. Kalau materi gelap melakukan percepatan yang terus meningkat, hingga menjadi “phantom energy” maka skenario koyakan besar dapat terjadi.

Namun belum diketahui, alam semesta nantinya akan memasuki tahapan akhir mana?

Apakah terkoyak, runtuh atau terus mengembang tanpa akhir?

Semua skenario mungkin saja terjadi. Apakah nanti semua fase itu akan kembali mengarah ke dentuman besar yang baru, juga masih diteliti dan dihitung oleh para ahli.

Yang jelas, manusia tidak berdaya mencegah datangnya kiamat alam semesta semacam itu. 

Manusia hanya dapat menghitung, memperkirakan, menarik aksioma dan meramalkan.

Besaran waktu alam semesta, memang terlalu panjang dan absurd untuk ukuran kehidupan manusia yang amat singkat.

Rasulullah S.A.W. bersabda:

"Sekiranya di tangan kamu ada benih kurma dan kamu tahu bahawa esok akan berlaku kiamat, maka hendaklah kamu menanam dan jangan biarkan hari kiamat berlaku tanpa menanam benih kurma tersebut"

[Hadis Riwayat Imam Ahmad]

Terlepas dari tanda-tanda kiamat tersebut, sebenarnya yang lebih patut kita selalu ingat adalah kiamat kecil yang selalu menghampiri manusia yaitu kematian.

Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan mati. Mungkin banyak diantara kita menyaksikan keluarga, teman atau tetangga yang tiba-tiba meninggal dunia, padahal beberapa jam sebelumnya masih sempat bersenda gurau dengan kita.

Dan yang pasti kita semua akan mati. Orang yang beriman yakin bahwa setelah kematian akan ada kehidupan setelahnya. Sehingga sebelum kematian itulah kita harus telah mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Walohualambissawab.


Dari Berbagai Sumber.

Saturday, 1 September 2012

Memahami IPTEK Transportasi Antariksa


”I didn’t feel like a giant. I felt very, very small.”

Neil Armstrong on looking back at the Earth from the Moon in July 1969.



  • SPACE SHUTTLE CHRONOLOGY


  • Kuncinya Semangat Ilmiah dan Strategi Penerapan Kebijakan Sains Teknologi Melalui Pemudayaan Pendidikan Serta Kewirausahaan. Membangun masyarakat berbasis pengetahuan, saat ini telah menjadi keinginan hampir semua bangsa di dunia, baik yang tergolong maju maupun yang tengah berkembang dan terbelakang.

    Banyak negara kemudian berhasil, namun tidak sedikit yang masih kandas.


    Dalam meraih kemajuan berbasis Iptek, tiap negara telah menerapkan strategi dan taktik yang berbeda-beda, serta yang terpenting lagi adalah Politik Sains dan Teknologi yang memihak rakyat. Hal ini disebabkan karena strategi penerapan sains-teknologi sangat erat terkait dengan budaya dan sistem politik secara umum (termasuk politik ekonomi) suatu negara.

    Politik Sains dan Teknologi akan berdampak positif bagi perekonomian suatu bangsa manakala unsur-unsurnya saling menunjang satu sama lain (compatible), dan pelaksanaanya sangat didukung secara substansial (bukan hanya secara legal) oleh political power bangsa tersebut. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah politik sains-teknologi yang tepat dan selaras itu dilaksanakan secara konsisten dari satu periode pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.

    Sebagai contohnya, ketika Presiden AS John F. Kennedy pada tahun 1960-an mengambil keputusan untuk membuat program “Pergi ke Bulan”, pada dasarnya ia telah menentukan Strategi Iptek bagi bangsanya dengan jangkauan visi jauh ke depan.

    Politik Iptek yang tampaknya tidak memberikan nilai ekonomis (karena mengandung sunk-cost) ini, dalam perkembangannya di kemudian hari berhasil menciptakan sistem ekonomi baru, yaitu sistem ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (Knowledge Based Economy) dengan terobosan Iptek di bidang mikroelektronika, komputer, robotik, material baru, dan bioteknologi.

    Para Entrepreneur muda yang berbasis Iptek (Ilmuwan cum wirausahawan) AS memanfaatkan peluang ini dan berhasil membentuk para kapitalis/konglomerat kecil (golongan menengah) yang kuat, yang lahir dari proyek-proyek inkubator seperti di Silicon valley.

    • CONTRACTORS

    • ACRONYMS AND ABBREVIATIONS

    • METRIC CONVERSION TABLE

    • NEWSROOM REFERENCES


    • Program ke Bulan juga dilaksanakan oleh Uni Soviet pada waktu itu, tetapi dampaknya tidak mampu menggerakan perekonomian nasionalnya seperti AS. Hal ini terutama disebabkan karena politik Iptek "Pergi ke Bulan” Uni Soviet tidak di dukung oleh sisitem politik dan ekonominya sehingga para pelaku ekonomi di negara tersebut tidak bisa memanfaatkan peluang yang ada.

      Dampak yang dirasakan terbatas pada pengembangan Iptek Perang.

      Masyarakat tidak bisa memetik buah dari politik Iptek itu karena kendala sistem politik dan sistem perkonomian yg tertutup sehingga tidak mungkin lahir entrepreneur yang mampau menangkap kesempatan pasar.

      Lain halnya dengan jepang, dengan kemampuan yg luar biasa dalam bidang riset terapan (applied research) mereka memilih cerminan politik Iptek “meniru” karena mampu menerapkan strategi copiying to catch up tanpa mengembangkan (basic research) secara totalitas.

      Dengan cara ini Jepang mampu menjadi kekuatan ekonomi kompetitif, stretegi iptek meniru Jepang ini banyak diikuti oleh negara-negara maju baru, seperti Korea Selatan, China, Malaysia dan India.

      Bagaimana dengan Indonesia?

      "Antariksa selalu menarik manusia untuk dikunjungi dan dieksplorasi dengan ilmu pengetahuan serta teknologi"
      *Arip Nurahman*

      Kunjungi Juga:

      Bisakah Nusantara Menjelajahi Antariksa?

      Sources:

      NASA

      LAPAN

      http://science.ksc.nasa.gov/

      Kennedy Space Center: Science, Technology and Engineering

      Saturday, 18 August 2012

      Allhamdulilah Aku Jadi "Astronot"


      Semoga Generasi Indonesia Masa Depan Ada yang Menjadi Astronot

      Penulis dan Peneliti Muda Berada di Ruangan
      Pada Acara Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional

      An astronaut or cosmonaut is a person trained by a human spaceflight program to command, pilot, or serve as a crew member of a spacecraft. While generally reserved for professional space travelers, the terms are sometimes applied to anyone who travels into space, including scientists, politicians, journalists, and tourists.



      Astronaut training

      Astronaut training describes the complex process of preparing Astronauts for their space missions before, during and after flight, which includes medical tests, physical training, Extravehicular Activity (EVA) training, procedure training, rehabilitation process, as well as training on experiments they will accomplish during their stay in space.
      The training is geared to the special conditions and environments astronauts will be confronted with during launch, in space, and during landing. All phases of the flight must be taken into account during training to ensure safety to, and functionality of the astronauts, as well as to ensure a successful completion of the mission.


      Sumber: