Monday, 15 October 2012

Membangun Peradaban Dirgantara dan Keantariksaan Nusantara


Duhai sahabatku tahukah kita?

Bahwa: masing-masing dari diri kita memilikinya, yaitu potensi untuk menjadi lebih baik, memimpin dan memberi inspirasi.

"Seringkali kita menganggap apa yang kita lakukan hanyalah sesuatu yang kecil dan tak berarti
Tapi ingatlah Setetes air akan sangat berharga ketika kita kehausan ditengah panasnya gurun pasir
Sebuah Puzzle tak akan lengkap jika satu saja kepingannya tak ada
Maka bersyukurlah atas setiap hal yang dapat kita lakukan
Mulailah membuat langkah-langkah kecil yang sederhana
Teruslah melangkah di jalan yang kita buat
Pasti nanti akan ada banyak yang meragukan kita
Atau bahkan Menghina, Merendahkan dan Menertawakan Kita"


"Terus.,.Teruslah Melangkah.,.Terus.,Berlari.,.Teruslah Terbang"

Don't Give Up!

Pantang Menyerah!

"Karena Keberhasilan itu adalah tentang Kesabaran dalam Bertahan
Disa'at yang lain menyerah pasrah
Ketakutan Kita
Keraguan Kita 
Kesedihan Kita
Hanya akan membuat kita lemah dan kecil"

Mari Kita Berlari...Terbos semua ketakutan.,. Mari Kita Terbang..Hadapai setiap rintangan.,..
Menggapai Puncak Harapan dan Impian Kita  

Jangan hanya selalu menjadi penonton, karena semua orang juga bisa

Tapi tujulah Lapangan

Jadilah Sang Pemain Kehidupan dan

Lesakan Goal Terindah kita

Ambil dan hadapi Resiko

Meski terkadang kita harus terjun bebas

Namun yakinlah Pertolongan Yang Kuasa akan datang disaat kita membutuhkan



Beranilah Bermimpi

Berani Menjadi Kreatif

Karena dengan itu Matahari yang panas akan dapat kita genggam dengan tangan kita

Bermimpilah Berani Bermimpi Besar

Rasakan dengan Sepenuh Hati

Yakini dengan tekad yang Kuat

Kelak kita akan bisa

Menggapai puncak Terindah dan Tertinggi


Apapun Mimpi dan harapan Kita
Majulah, berjuanglah untuk mewujudkannya
Jangan menunggu bukti
Tapi Jadilah Bukti itu sendiri
Mari menjadi teladan bagi diri, keluarga dan masyarakat

Janganlah berputus asa terhadap apa yang kita raih hari ini

Bangkitlah Selalu


Amin


Membangun Peradaban Dirgantara dan Keantariksaan Nusantara

Kalau sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, lebih bersemangat, dan lebih baik mengapa kita tidak membangun industri harapan? Bahan bakunya gampang didapat: Niat baik, Ikhlas,  Semangat, kreativitas, tekad, dan totalitas.

Semuanya bisa diperoleh secara gratis!

Diadaptasi dari ceramah Prof. Habibie

17 tahun lalu, tepatnya 10 Agustus 1995, dalam rangka peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia, bangsa kita telah menggoreskan pena sejarahnya dengan terbang perdana pesawat terbang canggih N‐250.

Pesawat turboprop tercanggih, hasil disain dan rancang bangun putra‐putri terbaik bangsa sendiri mengudara di atas kota Bandung dalam cuaca yang amat cerah, seolah melambangkan cerahnya masa depan bangsa karena telah mampu menunjukkan kepada dunia kemampuannya dalam penguasaan sains dan teknologi secanggih apapun oleh generasi penerus bangsa.

Bandung memang mempunyai arti dan peran yang khusus bagi bangsa Indonesia. Bukan saja sebagai kota pendidikan, kota pariwisata atau kota perjuangan, namun Bandung juga kota yang menampung dan membina pusat‐pusat keunggulan Iptek, sebagai penggerak utama proses nilai tambah industri yang memanfaatkan teknologi tinggi (high tech).

Pada tahun 1985, sepuluh tahun sebelum terbang perdananya, telah dimulai riset dan pengembangan pesawat N250. Semua hasil penelitian dari pusat‐pusat keunggulan penelitian di Eropa dan Amerika dalam bidang ilmu dirgantara, ilmu aerodinamik, ilmu aeroelastik, ilmu konstruksi ringan, ilmurekayasa, ilmu propulsi, ilmu elektronik, ilmu avionik, ilmu produksi, ilmu pengendalian mutu (qualitycontrol) dsb, telah dikembangkan dan diterapkan di industri IPTN, di Puspitek, di BPPT dan di ITB, UGM, UI, ITS, dsb.

Dengan terbangnya N250 pada kecepatan tinggi dalam daerah “subsonik” dan stabiltas terbang dikendalikan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi “fly by wire”, adalah prestasi nyata bangsa Indonesia dalam teknologi dirgantara. 

Dalam sejarah dunia penerbangan sipil, pesawat N250 adalah pesawat turboprop yang pertama dikendalikan dengan teknologi fly by wire.

Dalam sejarah dunia dirgantara sipil, pesawat Jet AIRBUS A300 adalah yang pertama kali menggunakan teknologi fly by wire, namun AIRBUS 300 ini terbang dalam daerah “transsonic” dengan kecepatan tinggi, sebagaimana kemudian juga Boeing‐777.

Fakta sejarah mencatat bahwa urutan pesawat penumpang sipil yang menerapkan teknologi canggih untuk pengendalian dan pengawasan terbang dengan “fly by wire” adalah sebagai berikut:

1. A‐300 hasil rekayasa dan produksi Airbus Industri (Eropa)

2. N‐250 hasil rekayasa dan produksi Industrie Pesawat Terbang Nusantara IPTN, sekarangbernama PT. Dirgantara Indonesia (Indonesia)

3. BOEING 777 hasil rekayasa dan produksi BOEING (USA)

Produk pesawat terbang, produk kapal laut dan produk kerata api yang pernah kita rancang bangun dalam “euforia reformasi” telah kita hentikan pembinaannya atau bahkan sedangdalam “proses penutupan”. Misalnya PT. Dirgantara Indonesia yang dahulu memiliki sekitar 16.000 karyawan, sekarang tinggal kurang‐lebih 3.000 karyawan, yang dalam 3 sampai 4 tahun mendatang dipensiun karena tidak ada kaderisasi dalam segala tingkat.

Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang mengkoordinir 10 Perusahaan yang pada tahun 1998 memiliki kinerja turn‐over sekitar 10 Milliard US$ dengan 48.000 orang karyawan, kemudian dalam “eufori reformasi” dibubarkan! 

Pembinaan Industri Dirgantara, Industri Kapal Laut, Industri Kereta Api, Industri Mesin, Industri Elektronik‐Komunikasi dan Industri Senjata, dsb.

Tak lagi mendapat perhatian dan pembinaan!

Bila saja pembangunan dan pembinaan industri strategis ini terus dilanjutkan maka tak mustahil bidang ini akan menyerap jutaan tenaga kerja dan keuntungan Trilyunan US $. Sehingga mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa ekonomi terkuat di dunia.

Membangkitkan Industri Dirgantara Nusantara

Pasar Domestik yang begitu besar di bidang transportasi, komunikasi, kesehatan dsb.“diserahkan” kepada produk impor yang mengandung jutaan “jam kerja” untuk penelitian, pengembangan dan produksi produk yang kita butuhkan.

Produk yang dibutuhkan itu harus kita biayai dengan pendapatan hasil ekspor sumber daya alam terbaharukan dan tidak terbaharukan, energi, agro industri, pariwisata, dsb. Ternyata potensi ekspor kita ini tidak dapat menyediakan jam kerja yang dibutuhkan sehingga SDM di desa harus ke kota untuk mencari lapangan kerja atau ke luar negeri sebagai TKI dan TKW.

Akibatnya, proses pembudayaan dalam rumah tangga terganggu dsb. Proses pembudayaan (“Opvoeding, Erszeihung, Upbringing”) harus disempurnakan dengan proses pendidikan dan sebaliknya, karena hanya dengan demikian sajalah produktivitas SDM dapat terus ditingkatkan melalui pendidikan dan pembudayaan sesuai kebutuhan pasar.

Pertumbuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seharusnya dipelihara setinggi mungkin untuk dapat meningkatan “pendapatan bruto masyarakat” atau peningkatan“kekayaan national” atau “national wealth”. Namun pemerataan pemberian kesempatan berkembang, pemerataan pendidikan‐pembudayaan dan pemerataan pendapatanlah yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan, kualitas kesejahteraan dan kualitas ketentraman yang menjadi sasaran tiap masyarakat.

Bukankah jam kerja yang terselubung pada tiap produk yang kita beli itu pada akhirnya menentukan tersedianya lapangan kerja atau mekanisme proses pemerataan dalam arti yang luas itu?

Kita harus pandai memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentip kepada siapa saja, yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja dan akhirnya lapangan kerja.

Potensi pasar nasional domestik kita sangat besar. Misalnya, pertumbuhan penumpang pesawat terbang sejak 10 tahun meningkat sangat tinggi, sekitar 10% ‐ 20% rata-rata tiap tahun. Produksi pesawat terbang turboprop N250 untuk 70 penumpang yang sesuai rencana pada tahun 2000 sudah mendapat sertifikasi FAA dan Pesawat Jet N2130 untuk 130 penumpang yang sesuai rencana mendapat sertfikasi FAA pada tahun 2004  adalah jawaban kita untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Kedua produk yang dirancang bangun oleh putra‐putri generasi penerus ini yang mengandung jutaan jam kerja, bahkan harus dihentikan.

MENGAPA ? ? ?

Demikian pula dengan produksi kapal Caraka Jaya, Palwobuwono dan kapal Container yang harus dihentikan. Produksi kerata api harus pula dihentikan.

Walaupun pasar domestik nasional begitu besar, namun sepeda motor, telpon genggam dsb. yang semuanya mengandung jam kerja yang sangat dibutuhkan nyatanya barang‐barang tersebut tidak diproduksi di dalam negeri.


MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA?



Kita mesti melakukan reaktualisasi peran Iptek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka meningkatkan daya saing dan produktivitas nasional, serta untuk menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang.

Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, dan hal tersebut akan mensyaratkan solusi yang tepat, terencana dan terarah. Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk.

Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk‐produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain.

"Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo‐colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru".


Saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya paratokoh dan cendekiawan di kampus‐kampus serta di lembaga‐lembaga kajian dan penelitian lain untuk secara serius merumuskan implementasi peran iptek dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan.

Terkait dengan hal tersebut, saya sangat menghargai upaya Pemerintah dalam membentuk Komite Inovasi Nasional (yang dikenal dengan KIN) dan Komite Ekonomi Nasional (yang dikenal dengan KEN) dengan tugas sebagai advisory council untuk mendorong inovasi di segala bidang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Saya mengetahui bahwa KIN maupun KEN telah merumuskan berbagai strategi dan kebijakan dan agenda aksi, khususnya yang menyangkut perbaikan ekosistem inovasi dan pengembangan wahana transformasi industri.

Apa yang ingin saya ingatkan ialah, jangan sampai berbagai konsep yang dirumuskan oleh KIN maupun KEN tersebut hanya berhenti ditingkat masukan kepada Presiden saja, ataupun di tingkat rencana pembangunan saja, namun perlu direalisasikan dalam kegiatan pembangunan nyata.

Jangan kita merasa puas dengan wacana maupun berencana, namun ketahuilah bahwa rakyat menunggu aksi nyata dari kita semua, baik para penggiat teknologi, penggiat ekonomi, pemerintah maupun lembaga legislatif. Saya juga menyarankan agar Pemerintah maupun Legislatif perlu lebih proaktip peduli dan bersungguh sungguh dalam pemanfaatan produk dalam negeri dan “perebutan jam kerja”.

Kerjasama Pemerintah Daerah dan Pusat bersama dengan wakil rakyat di lembaga Legeslatif Daerah dan Pusat perlu ditingkatkan konvergensinya ke arah lebih pro rakyat, lebih pro pertumbuhan dan lebih pro pemerataan.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan dan himbauan, hendaknya kita pandai-pandai belajar dari sejarah. Janganlah kita berpendapat bahwa tiap pergantian kepemimpinan harus dengan serta‐merta disertai pergantian kebijakan, khususnya yang terkait dengan program penguasaan dan pernerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita mengetahui bahwa dalam penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi diperlukan keberlanjutan (continuity).

Jangan sampai pengalaman pahit yang dialami industri dirgantara dan industri strategis pada umumnya sebagaimana saya sampaikan di atas terulang lagi di masa depan! 

Jangan sampai karena euforia reformasi atau karena pertimbangan politis sesaat kita tega “menghabisi” karya nyata anak bangsa yang dengan penuh ketekunan dan semangat patriotisme tinggi yang didedikasikan bagi kejayaan masa depan Indonesia.


Kita dapat bersyukur bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang multi etnik dan sangat peka terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhana wata’alla.

Oleh karena itu ini adalah falsafah hidup nyata bangsa ini yang dari masa ke masa selalu disesuaikan dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dan peradaban yang dikembangkan dan diterapkan oleh kita bersama.

Dapat kita catat, bahwa saat ini bangsa kita sudah keluar dari “euforia kebebasan” dan mulai kembali ke“kehidupan nyata” antara bangsa‐bangsa dalam era globalisasi. Persaingan menjadi lebih ketat dan berat.

Peran keunggulan Sumber Daya Manusia lebih menentukan dan informasi sangat cepat mengalir. Kita menyadari bahwa tidak semua informasi menguntungkan peningkatan produktivitas dan daya saing SDM Indonesia.

Budaya masyarakat lain dapat memasuki ruang hidup keluarga. Kita harus meningkatkan “Ketahanan Budaya” sendiri untuk mengamankan kualitas iman dan taqwa (Imtak) yang melengkapi pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang diberikan dalam sistem pendidikan dan pembudayaan kita, yang menentukan perilaku, produktivitas dan daya saing Generasi Penerus.

Kita sudah Merdeka, sudah Melek IPTEKS, sudah Bebas belajar dan menerima informasi dari seluruh penjuru dunia. Kita sadar akan keunggulan masyarakat madani yang pluralistik, sadar akan kekuatan lembaga penegak hukum (Yudikatif) dan informasi yang mengacu pada nilai‐nilai luhur umat manusia yang terus disesuaikan dengan perkembangan pembangunan nasional, regional dan global.

Saya akhiri tulisan ini dengan ucapan:


MARI KITA REBUT KEMBALI JAM BELAJAR, JAM MENELITI, JAM KERJA, JAM BERUSAHA dan JAM BERIBADAH!

WUJUDKAN KEMBALI KARYA NYATA YANG PERNAH KITA MILIKI UNTUK PEMBANGUNAN PERADABAN INDONESIA!

BANGKITLAH, SADARLAH ATAS KEMAMPUAN BANGSA INDONESIA!

MERDEKA!

Wallahualam bissawab



"Saya awali hari dengan impian yang sederhana, banyak orang menertawakan, mengejek dan menghina saya namun saya tetap pada pendirian ini, dan akhirnya saya dapat merasakan berada pada suatu puncak tertinggi di dunia"
~Arip~

Terima Kasih Ya Rabbana.

Terima Kasih Keluarga ku, Sahabat-sahabatku, guru dan kepada orang-orang yang telah memberikan semangat serta kasih mereka.

Allhamdulilah


Mampir ke rumah kami:

Masyarakat IPTEKS Indonesia

http://masyarakatipteksindonesia.blogspot.com/



Tuesday, 9 October 2012

Ground-Breaking Experimental Methods that Enable Measuring and Manipulation of Individual Quantum Systems

The Nobel Prize in Physics 2012 was awarded jointly to Serge Haroche and David J. Wineland

"for ground-breaking experimental methods that enable measuring and manipulation of individual quantum systems"





Allhamdulilah, pada beberapa hari ini ilmuwan muda mendapat berbagai anugrah yang tak terkira dari Yang Maha Kuasa, diantaranya adalah diberikan kenikmatan dapat menyaksikan pengumuman pemenang Olimpiade Sains Pertamina bidang Fisika yang pada kesempatan ini seluruh juara 1, 2, dan 3 disapu bersih oleh adik-adik kelas dari Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Selanjutnya Ilmuwan muda juga diberikan kesempatan untuk menonton penganugrahan Hadiah Nobel Fisika 2012 secara Online yang diberikan kepada Prof. Serge Haroche, Ph.D. dari Collège de France, Paris, France, École Normale Supérieure, Paris, France. dan Prof. David J. Wineland, Ph.D. dari  National Institute of Standards and Technology, Boulder, Colorado, USA, University of Colorado, Boulder, Colorado, USA. Masing-masing Profesor tersebut mendapatkan lebih dari $ 5.000.000.,- dari panitia Penghargaan.

Pada hari ini pun ketika mengikuti perkuliahan TERMODINAMIKA penulis mendapatkan beberapa pencerahan dan inspirasi dari Bapak Drs. H. Saeful Karim, M.Si. selain dosen beliau juga adalah pendiri pondok pesantren dan penasehat spiritual beberapa mentri serta kepala daerah di Indonesia. Beliau berpesan diantaranya adalah:

"Kita hendaknya tidak membatasi Kekuasaan Tuhan dengan pikiran sempit kita", maksudnya adalah kita sering dalam kehidupan sehari-hari mengesampingkan peran Sang Pencipta dalam kehidupan kita dan menganggap diri kita itu tiada yang menolong, padahal sebenarnya jika kita bersabar dan bersyukur maka tanpa kita sadari ada kekuatan Maha Besar yang akan menolong kita dan menjadikan apa pun yang kita inginkan di masa depan.

Ada sebuah The Law of Spiritual Attraction bila kita menyadarinya. Maka kita harus sadar seberapa berat ujian dan cobaan, seberapa besar impian dan harapan kita akan kehidupan hari ini dan masa depan yang lebih baik, kita mesti yakin dan percaya bahwa ada Yang Maha Segalanya yang mampu mengabulkan setiap getaran mimpi dan harapan kita.

Maka; Ya Rabbana, jadikanlah kami anak-anak yang Sholeh, Cerdas, Sehat, Kuat, Berbakti kepada orang tua, melimpahnya rezeki, diberikan pendamping yang baik menurut Mu, anak dan cucu yang lebih hebat dari kami suatu saat nanti, menuju syurga Mu, berguna bagi orang-orang disekitar kami, bangsa dan agama serta umat manusia.

Bila Engkau berkenan maka jadikanlah kami, keluarga, sahabat, anak, cucu serta bangsa kami suatu hari nanti menemukan berbagai penemuan yang bermanfaat bagi umat manusia dan meraih penghargaan Nobel ini.

Amin Ya Allah Ya Rabbal Alamin.



Ilmuwan Muda bersama para Dosen dan Sahabat dari Department Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia
di Pusat Riset dan Pengembangan IPTEK Nuklir, BATAN. Bandung, Jawa Barat, Indonesia.


Melahirkan Ilmuwan Berkualitas  Dunia

Mungkinkah Bangsa ini mampu melahirkan manusia-manusia jenius dan hebat berkualitas dunia dalam bidang IPTEKS?

Belajar dari Tradisi Nobel

”Jika aku punya 300 ide dalam setahun dan hanya satu yang terwujud, aku tetap merasa puas.” 
~Alfred Bernhard Nobel (1833-1896)~


Terobosan pengetahuan

Penerima Nobel Fisika pertama adalah Wilhelm Rontgen, penemu sinar X yang sampai sekarang sangat membantu untuk memeriksa kesehatan tulang dan paru-paru kita. Tahun 2010, penerimanya adalah penemu grafen (graphene), material kristal dua dimensi, yang digadang-gadang sebagai materi masa depan.

Demikian pula halnya Nobel Kedokteran. Kalau tahun 1901 Emil von Behring menerima penghargaan ini atas ketekunannya meneliti terapi serum—yang berperan penting dalam pengobatan difteri—tahun 1962 penghargaan Nobel Kedokteran diberikan kepada Francis Harry Compton Crick, James Dewey Watson, dan Maurice Hugh Frederick Wilkins. Merekalah yang berjasa menemukan struktur molekul asam nukleus yang menyusun materi genetik. Disebut DNA (deoxyribonucleic acid), inilah dasar ilmu genetika sekarang.

Demikian pula penghargaan Nobel Kimia, seperti yang diserahkan kepada para penemu protein ”kiss of death” atau ”ciuman kematian” tahun 2004. Mereka meneliti bagaimana tubuh manusia mengisolasi suatu protein yang tidak diinginkan dan kemudian menghancurkannya, sebagai bagian dari proses pertahanan tubuh. ”Terima kasih atas kerja keras mereka yang memungkinkan kita memahami cara sel mengontrol sejumlah proses dengan memecah beberapa protein yang tidak dikehendaki,” ujar juri waktu itu.

Lepas dari berbagai kontroversi, terutama di bidang Nobel Perdamaian, Nobel Foundation telah menengarai temuan-temuan yang bakal menentukan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan memberikan banyak harapan agar manusia lebih sejahtera sekaligus menyelamatkan kehidupan di Bumi.


Tradisi meneliti

Amerika Serikat adalah salah satu negara yang menerima paling banyak penghargaan Nobel. Prestasinya begitu mengagumkan karena hampir setiap tahun ada saja penghargaan Nobel yang diterima ilmuwan AS. Tahun 1983, AS bahkan menyapu bersih penghargaan Nobel Fisika, Kimia, Kedokteran, dan Ekonomi. Tahun 2004, tujuh dari 10 pemenang Nobel Sains berkewarganegaraan AS dan tahun 2005 ada lima warga AS dari 10 penerima.

Kunci tradisi meneliti di AS adalah pendanaan dan ambisi ilmiah. Banyak riset di AS diselamatkan oleh sistem hibah, yang memungkinkan peneliti fokus pada penelitiannya selama bertahun-tahun. Gedung Putih bahkan punya program Educate to Innovate yang didukung nama-nama besar seperti perempuan astronot pertama AS, Sally Ride; mantan Chairman Intel, Craig Barrett; dan eksekutif Xerox, Ursula Burns. Tujuannya satu: mendorong siswa sekolah menengah untuk meminati matematika, sains, teknologi, dan ilmu rekayasa.

Tak dapat dimungkiri, kepemimpinan, jumlah sumber daya manusia yang memadai (critical mass), serta ketersediaan dana menjadi kunci kemajuan sains dan teknologi. Indonesia, dengan anggaran riset yang hanya 0,18 dari produk domestik bruto dan ketiadaan pemimpin yang sadar ilmu pengetahuan dan teknologi, tampaknya masih jauh dari tradisi meneliti ini.

Super Knowledge = Curiosity  + Creativity  +  Righteousness +  Courage + Indomitable spirit.
~Arip~

Kuncinya adalah bagaimana kita membangun sistem pendidikan IPTEKS dari mulai tingkat usia dini hingga tingkat perguruan tinggi yang memungkinkan para pelajar mampu membentuk jati dirinya sebagai calon-calon Ilmuwan tangguh masa depan.

Pada tulisan kali ini temanya memang luar biasa saintifik, tulisan di bawah ini merupakan karya agung dari dua begawan fisika dunia yaitu  Prof. Serge Haroche and Prof. David J. Wineland yang pada tahun 2012 ini mendapatkan Penghargaan Nobel Fisika, sebuah lambang supremasi pencapaian tertinggi dalam dunia ilmiah fisika.

Press Release

Prof. Serge Haroche and Prof. David J. Wineland have independently invented and developed methods for measuring and manipulating individual particles while preserving their quantum-mechanical nature, in ways that were previously thought unattainable.

The Nobel Laureates have opened the door to a new era of experimentation with quantum physics by demonstrating the direct observation of individual quantum particles without destroying them. For single particles of light or matter the laws of classical physics cease to apply and quantum physics takes over.

But single particles are not easily isolated from their surrounding environment and they lose their mysterious quantum properties as soon as they interact with the outside world. Thus many seemingly bizarre phenomena predicted by quantum physics could not be directly observed, and researchers could only carry out thought experiments that might in principle manifest these bizarre phenomena.

Through their ingenious laboratory methods Haroche and Wineland together with their research groups have managed to measure and control very fragile quantum states, which were previously thought inaccessible for direct observation.

The new methods allow them to examine, control and count the particles.

Their methods have many things in common. David Wineland traps electrically charged atoms, or ions, controlling and measuring them with light, or photons. Serge Haroche takes the opposite approach: he controls and measures trapped photons, or particles of light, by sending atoms through a trap.

 Both Laureates work in the field of quantum optics studying the fundamental interaction between light and matter, a field which has seen considerable progress since the mid-1980s.

Their ground-breaking methods have enabled this field of research to take the very first steps towards building a new type of super fast computer based on quantum physics.

Perhaps the quantum computer will change our everyday lives in this century in the same radical way as the classical computer did in the last century.

The research has also led to the construction of extremely precise clocks that could become the future basis for a new standard of time, with more than hundred-fold greater precision than present-day caesium clocks.


Measuring and Manipulating Individual Quantum Systems 
Introduction 
The behaviour of the individual constituents that make up our world – atoms (matter) and photons (light) – is described by quantum mechanics. These particles are rarely isolated and usually interact strongly with their environment. The behaviour of an ensemble of particles generally differs from isolated ones and can often be described by classical physics. From the beginning of the field of quantum mechanics, physicists used thought experiments to simplify the situation and to predict single quantum particle behaviour. 

During the 1980s and 1990s, methods were invented to cool individual ions captured in a trap and to control their state with the help of laser light. Individual ions can now be manipulated and observed in situ by using photons with only minimal interaction with the environment. In another type of experiment, photons can be trapped in a cavity and manipulated. They can be observed without being destroyed through interactions with atoms in cleverly designed experiments. 

These techniques have led to pioneering studies that test the basis of quantum mechanics and the transition between the microscopic and macroscopic worlds, not only in thought experiments but in reality. They have advanced the field of quantum computing, as well as led to a new generation of high-precision optical clocks.




This year’s Nobel Prize in Physics honours the experimental inventions and discoveries that have allowed the measurement and control of individual quantum systems. They belong to two separate but related technologies: ions in a harmonic trap and photons in a cavity (see Fig. 1). 

There are several interesting similarities between the two. In both cases, the quantum states are observed through quantum non-demolition measurements where two-level systems are coupled to a quantized harmonic oscillator – a problem described by the so-called Jaynes Cummings Hamiltonian. The two-level system consists of an ion (with two levels coupled by laser light) or a highly excited atom (with two Rydberg levels coupled by a microwave field). 

The quantized harmonic oscillator describes the ion’s motion in the trap or the microwave field in the cavity. Here, we describe the implemented methods in the two cases, after a short background, and we present some important applications within science and technology.

Trapped ions

This research field started from techniques developed in the 1970s for trapping charged particles. Paul and Dehmelt were awarded the 1989 Nobel Prize in Physics “for the development of the ion trap technique”. An important step towards the control of isolated ions was Doppler cooling, which was proposed by Hänsch and Schawlow (1975) for neutral atoms and by Wineland and Dehmelt (1975) for ions. 

The first experiments with ions were performed independently by Wineland and colleagues (Mg+) and by Neuhauser et al. (Ba+) in 1978. Wineland, Ekstrom and Dehmelt (1973) discussed the possibility of catching a single ion as early as 1973. This was achieved by Toschek’s group in 1980 (Neuhauser et al., 1980), who observed a single Ba+ ion in a Paul trap, and by Wineland and Itano (1981), who caught a Mg+ ion in a Penning trap. The group of Gabrielse has developed closely related techniques to cool single electrons captured in a Penning trap (Peil and Gabrielse, 1999).

Ion traps are created in ultrahigh vacuum using a combination of static and oscillating electric fields. There are traps where only one ion is captured, but also linear traps where a few ions are distributed on a line. A trapped ion has an oscillating movement, which is quantized at low temperature. An ion therefore has two sets of quantized levels: vibrational modes that characterize the motion in the trap (also called external states) and electronic levels that describe the internal quantum state of the ion. 

These levels can be coupled through light absorption or emission, and through a two-photon process, called Raman transition. The ions can be observed through optical transitions that lead to strong light scattering when excited by a laser. 



They can be directly observed by eye   or with a CCD camera (Fig. 2). Moreover, the internal state of the ion can be determined by observingquantum jumps. This was demonstrated by Nagourney et al. (1986) and by Wineland and colleagues (Bergquist et al., 1986).

An important step in controlling the quantum state of an ion was cooling to the lowest energy of the trap using a technique called sideband cooling (Diedrich et al., 1989; Monroe et al., 1995a). 

Figure 3 shows several vibrational states of an ion in a trap for two different electronic levels (|↓> and |↑>).  The technique  consists of exciting the ion, increasing the internal energy and decreasing the vibrational energy. 


This is done with a narrow-bandwidth laser with frequency ω0 – ων, where ων represents the frequency interval between two vibrational modes of the trap and ω0 is the atomic frequency, i.e. the frequency difference between two electronic levels of the ion. The excited ion decays preferentially towards a state with the same vibrational quantum number ν.



This reduces the ion energy and it gradually cools down to the ν = 0 state. This technique, which was developed by Wineland and coworkers, allows the control of both internal and external degrees of freedom of the ion. By precisely monitoring the trap properties, Fock states of motion (with a well-defined ν) can be created, as well as various well-controlled superpositions of Fock states, e.g., coherent or thermal states (Meekhof et al., 1996).


Another breakthrough was the development of techniques to transfer a quantum  superposition of electronic states to a quantum superposition of vibrational modes of the trap (Monroe et al., 1995b), inspired by a theoretical proposal by Cirac and Zoller (1995). Such a quantum superposition can then be transferred to another ion that shares the vibrational states with the first ion, as demonstrated in 2003 by Blatt and collaborators at the University of Innsbruck, Austria (Schmidt-Kaler et al., 2003).

This technique has been extensively used by Wineland and coworkers for decoherence measurements and optical clocks, and is the basis of quantum gates based on trapped ions. We illustrate it with an example in Box 1.





Photons in a cavity

The research field called cavity quantum electrodynamics (CQED) started in the 1980s to  study how the properties of an atom (especially spontaneous emission) were affected when the atom is placed in an optical or microwave cavity (for a review of early work, see Haroche and Kleppner, 1989). The suppression of spontaneous emission when the cavity size approaches the emitted light wavelength was observed successfully by Kleppner and his group (Hulet et al., 1985), DeMartini et al. (1987) and Haroche’s group at Yale University (Jhe et al., 1987).

The next step in this research was to study the light amplification in a resonant cavity, with early input from Haroche and collaborators in the microwave region (Goy et al., 1983). A group at the Max Planck Institute for Quantum Optics in Garching, Germany, led by Walther, demonstrated a one-atom micromaser (Meschede et al., 1985), while Haroche and his group showed evidence for a micromaser with two photons (Brune et al., 1987).

Kimble developed CQED in the optical domain (for a review, see Miller et al., 2005), achieving the so-called strong coupling of atom-field interaction in the cavity (Thompson et al., 1992; Hood et al., 1998), in parallel with Haroche’s work in the microwave  domain (Brune et al., 1996a).

CQED in the optical domain combines cavity field dynamics with laser cooling and trapping techniques, and has interesting applications in quantum optics and quantum information (McKeever et al., 2004). Cavity-QED has also inspired research using superconducting circuits which has been named Circuit-QED (Schoelkopf and Girvin, 2008).

The main experimental component   used by Haroche, Raimond, Brune and their collaborators is a microwave cavity (Fig. 4) that consists of two spherical mirrors separated by a distance of 2.7 cm, made of a superconducting material (Nb) and cooled to very low temperature~0.8 K.

Technological progress in the mirrors’ quality led at the beginning of the past decade to a cavity with an extremely high Q value (4 x 10^10), i.e. implying a very long lifetime of a photon in the cavity, of ~130 ms. In such a cavity, a photon travels about 40,000 km before it disappears.



The field in the cavity is probed by Rb atoms that are prepared in a circular Rydberg state (e.g., n = 50, l = |m|=49). Such atoms have a large area, with a radius of 125 nm, and are very strongly coupled to the field in the cavity.

The transition n = 50 (|↓>) to n = 51 (|↑>) has almost the same frequency as the microwave field in the cavity (51 GHz). Two cavities R1 and R2 (see Fig. 4) are used to create and analyze a controlled quantum superposition between |↓> and |↑>. A selective field ionization detector (D) detects the state of the atom. Photons produced by a coherent source are coupled to the cavity via a waveguide.

The atoms are sent one at a time into the cavity at a controlled velocity and thereby have a controlled time of interaction. In most experiments performed by Haroche’s group, the atom and field have slightly different frequencies. An atom travelling in the cavity does not absorb photons, but its energy levels shift due to the dynamical Stark effect, inducing a phase variation of the microwave field. This phase shift is of the opposite sign, depending on whether the atom is in the |↓> or |↑> state, leading to an entanglement of the atomic and field states (Brune et al., 1996b).

In 1990, Haroche and coworkers suggested a method to measure the number of photons in the cavity in a quantum non-demolition measurement (Brune et al., 1990). Recently, they were able to demonstrate it experimentally (Gleyzes et al., 2007; for a related experiment, see Nogues et al., 1999). Individual photons are captured in a cavity and observed via the interaction with atoms.

The principle of the measurement is explained in more detail in Box 2. This has led to experiments where the "progressive collapse" of a wave function has been observed by means of non-destructive quantum measurements. In these experiments, the number of photons can be followed as it evolves during the measurement (Guerlin et al., 2007).



Experimental investigation of Schrödinger’s cat paradox

A central question in quantum physics is the transition between the quantum and the  classical world. This question is illustrated in a popular way by the so-called Schrödinger’s cat   paradox. This name refers to a thought experiment proposed by Schrödinger in 1935,   emphasizing the difficulty in applying the concepts of quantum mechanics to everyday life (see Fig. 5).

It poses the question: When, as time proceeds, does a quantum system stop existing as a superposition of states and become one or the other? The quantum-classical boundary has been studied by many physicists since the beginning of quantum mechanics in the 1930s (see, e.g., Zurek, 1991, and the review by Leggett et al., 1987).



The control achieved by the groups led by Haroche and Wineland on single quantum systems allowed them to perform Schrödinger’s cat-like experiments in the laboratory, using photons and ions (see a review by Haroche, 1998). In an experiment proposed (Davidovich et al., 1996) and performed by Haroche’s group (Brune et al., 1996b), a superposition of cat-like microwave field states was created by entangling a Rydberg atom with the cavity field. Such a superposition is very fragile and can be destroyed easily via coupling to the environment (in this case, by photons escaping the cavity).

The decoherence of this superposition, i.e. its evolution towards a statistical mixture, could be measured as a function of time and the properties of the superposition of states. Wineland and coworkers performed similar experiments using ion trap technology. They created “cat states” consisting of single trapped ions entangled with coherent states of motion (Monroe et al., 1996) and observed their decoherence (Myatt et al., 2000).

Recently, Haroche and coworkers created cat states, measured them and made a movie of how they evolve from a superposition of states to a classical mixture (Deléglise et al., 2008). This extraordinary control has also led them to implement quantum feedback schemes in which the effects of decoherence are measured and corrected for, thus “stabilizing” a quantum state, e.g., a given Fock state (Sayrin et al., 2011).


Quantum computers



In a seminal theoretical article published in 1995, Cirac and Zoller suggested a way to build a quantum computer with trapped ions. Quantum bits (qubits) are encoded into hyperfine levels of trapped ions, which interact very weakly with the environment and therefore have long lifetimes. Two or more ions can be coupled through the center-of-mass motion (as presented in Box 1). Wineland and his group were the first to carry out experimentally a twoqubit operation (the Controlled NOT gate, CNOT) between motion and spin for Be+ ions  (Monroe et al., 1995b).

Since then, the field of quantum information based on trapped ions has progressed considerably. In 2003, Blatt and collaborators in Innsbruck, Austria, achieved a CNOT operation between two Ca+ ions (Schmidt-Kaler et al., 2003).

Today, the most advanced quantum computer technology is based on trapped ions, and has been demonstrated with up to 14 qubits and a series of gates and protocols (see Blatt and Wineland, 2008, for a review). Developing large devices capable of carrying out calculations beyond what is possible with classical computers will require solving substantial challenges in the future.

Optical Clocks 



An important application of Wineland’s research with trapped ions is optical clocks. Clocks based on a transition in the optical domain are interesting because the frequency of the transition, which is in the visible or ultraviolet range, is several orders of magnitude higher than that of the Cs clocks operating in the microwave range.

Optical clocks developed by Wineland and coworkers (Diddams et al., 2001; Rosenband et al., 2008; Chou et al., 2010a) currently reach a precision just below 10^-17, two orders of magnitude more accurate than the present frequency standard based on Cs clocks.

An optical ion clock uses a narrow (forbidden) transition in a single ion, insensitive to perturbations. The ion also needs to have strong allowed transitions for efficient cooling and detection. Wineland and colleagues developed a new technique, called quantum logic spectroscopy, based on entanglement of two ion species, as explained in Box 1.

In this technique, one ion provides the spectroscopy transition [e.g., 1 S0→3 P1 in 27 Al+ (267 nm)],  while the other one (e.g., 9 Be+ ) has the strong cooling transition (Schmidt et al., 2005).

The  precision of two different optical clocks can be compared with the help of the frequency comb  technique invented by Hänsch and Hall (2005 Nobel Prize in Physics).

The accuracy recently achieved by the optical clocks has allowed Wineland and coworkers to  measure relativistic effects, such as time dilation at speeds of a few kilometers per hour or the  difference in gravitational potential between two points with a height difference of only about  30 cm (Chou et al., 2010b).

Summary

David Wineland and Serge Haroche have invented and implemented new technologies and methods allowing the measurement and control of individual quantum systems with high accuracy. Their work has enabled the investigation of decoherence through measurements of the evolution of Schrödinger’s cat-like states, the first steps towards the quantum computer, and the development of extremely accurate optical clocks.


References

J.C. Bergquist, R.G. Hulet, W.M. Itano and D.J. Wineland, Phys. Rev. Lett. 57, 1699 (1986)

R. Blatt and D. Wineland, Nature 453, 1008 (2008)

M. Brune, J.M. Raimond, P. Goy, L. Davidovich and S. Haroche, Phys. Rev. Lett. 59, 1899 (1987)

M. Brune, S. Haroche, V. Lefevre, J.M. Raimond and N. Zagury, Phys. Rev. Lett. 65, 976 (1990)

M. Brune, F. Schmidt-Kaler, A. Maali, J. Dreyer, E. Hagley, J.M. Raimond and S. Haroche, Phys. Rev. Lett. 76, 1800 (1996a)

M. Brune, E. Hagley, J. Dreyer, X. Maître, A. Maali, C. Wunderlich, J. M. Raimond and S.  Haroche, Phys. Rev. Lett. 77, 4887 (1996b)

C.W. Chou, D.B. Hume, J.C.J. Koelemeij, D.J. Wineland and T. Rosenband, Phys. Rev. Lett. 104, 070802 (2010a)

C.W. Chou, D.B. Hume, T. Rosenband and D.J. Wineland, Science 329, 1630 (2010b)

J.I. Cirac and P. Zoller, Phys. Rev. Lett. 74, 4091 (1995)

L. Davidovich, M. Brune, J. M. Raimond and S. Haroche, Phys. Rev. A 53, 1295 (1996)

S. Deléglise, I. Dotsenko, C. Sayrin, J. Bernu, M. Brune, J.M. Raimond and S. Haroche, Nature 455, 510 (2008)

F. De Martini, G. Innocenti, G.R. Jacobovitz and P. Mataloni, Phys. Rev. Lett. 59, 2955 (1987)

S.A. Diddams, Th. Udem, J.C. Bergquist, E.A. Curtis, R.E. Drullinger, L. Hollberg, W.M.  Itano, W.D. Lee, C.W. Oates, K.R. Vogel and D.J. Wineland, Science 293, 825 (2001)

F. Diedrich, J.C. Bergqvist, W.M. Itano and D.J. Wineland, Phys. Rev. Lett. 62, 403 (1989)

S. Gleyzes, S. Kuhr, C. Guerlin, J. Bernu, S. Deléglise, U. Busk Hoff, M. Brune, J. M. Raimond  and S. Haroche, Nature 446, 297 (2007)

P. Goy, J.M. Raimond, M. Gross and S. Haroche, Phys. Rev. Lett. 50, 1903 (1983)

C. Guerlin, J. Bernu, S. Deléglise, C. Sayrin, S. Gleyzes, S. Kuhr, M. Brune, J.M. Raimond and  S. Haroche, Nature 448, 889 (2007)

S. Haroche and D. Kleppner, Phys. Today 42, 24 (1989)

S. Haroche, Phys. Today 51 (7), 36 (1998)

C.J. Hood, M.S. Chapman, T. W. Lynn and H.J. Kimble, Phys. Rev. Lett. 80, 4157 (1998)

R.G. Hulet, E.S. Hilfer and D. Kleppner, Phys. Rev. Lett. 55, 2137 (1985)

T.W. Hänsch and A.L. Schawlow, Opt. Comm. 13, 68 (1975)

W. Jhe, A. Anderson, E.A. Hinds, D. Meschede, L. Moi and S. Haroche, Phys. Rev. Lett. 58,  666 (1987)

A.J. Leggett, S. Chakravarty, A.T. Dorsey, M.P.A. Fisher, A. Garg and W. Zwerger, Rev. Mod.  Phys. 59, 1 (1987)

J. McKeever, A. Boca, A.D. Boozer, R. Miller, J.R. Buck, A. Kuzmich and H.J. Kimble, Science  303, 1992 (2004)

D.M. Meekhof, C. Monroe, B.E. King, W.M. Itano and D.J. Wineland, Phys. Rev. Lett. 76,  1796 (1996)

D. Meschede, H. Walther and G. Müller, Phys. Rev. Lett. 54, 551 (1985)

R. Miller, T.E. Northup, K.M. Birnbaum, A. Boca, A.D. Boozer and H.J. Kimble, J. Phys. B 38,  S551 (2005)

C. Monroe, D.M. Meekhof, B.E. King, S.R. Jefferts, W.M. Itano, D.J. Wineland and P. Gould,  Phys. Rev. Lett. 75, 4011 (1995a)

C. Monroe, D.M. Meekhof, B.E. King, W.M. Itano and D.J. Wineland, Phys. Rev. Lett. 75,  4714 (1995b)

C. Monroe, D.M. Meekhof, B.E. King and D.J. Wineland, Science 272, 1131 (1996)

C.J. Myatt, B.E. King, Q.A. Turchette, C.A. Sackett, D. Kielpinski, W.H. Itano, C. Monroe and  D.J. Wineland, Nature 403, 269 (2000)

W. Nagourney, J. Sandberg and H. Dehmelt, Phys. Rev. Lett. 56, 2797 (1986)

W. Neuhauser, M. Hohenstatt, P.E. Toschek and H. Dehmelt, Phys. Rev. Lett. 41, 233 (1978)

W. Neuhauser, M. Hohenstatt, P.E. Toschek and H. Dehmelt, Phys. Rev. A 22, 1137 (1980)

G. Nogues, A. Rauschenbeutel, S. Osnaghi, M. Brune, J.M. Raimond and S. Haroche, Nature  400, 239 (1999)

S. Peil and G. Gabrielse, Phys. Rev. Lett. 83, 1287 (1999)

T. Rosenband, D.B. Hume, P.O. Schmidt, C.W. Chou, A. Brusch, L. Loirin, W.H. Oskay, R.E.  Drullinger, T.M. Fortier, J.E. Stalnaker, S.A. Diddams, W.C. Swann, N.R. Newbury, W.M. Itano, D.J. Wineland and J.C. Bergquist, Science 319, 1808 (2008)

C. Sayrin, I. Dotsenko, X. Zhou, P. Peaudecerf, T. Rybarczyk, S. Gleyzes, P. Rouchon, M.  Mirrahimi, H. Amini, M. Brune, J.M. Raimond and S. Haroche, Nature 477, 73 (2011)

P.O. Schmidt, T. Rosenband, C. Langer, W.M. Itano, J. C. Bergquist and D.J. Wineland,  Science 309, 749 (2005)

F. Schmidt-Kaler, H. Häffner, M. Riebe, S. Gulde, G.P.T. Lancaster, T. Deuschle, C. Becher, C.F. Roos, J. Eschner and R. Blatt, Nature 422, 408 (2003)

R.J. Schoelkopf and S.M. Girvin, Nature 451, 664 (2008)

E. Schrödinger, “Die gegenwärtige Situation in der Quantenmechanik (The present situation in Quantum Mechanics)”, Naturwissenschaften 23, 807, 823, 844 (1935)

R.J. Thompson, G. Rempe and H.J. Kimble, Phys. Rev. Lett. 68, 1132 (1992)

D.J. Wineland and H. Dehmelt, Bull. Am. Phys. Soc. 20, 637 (1975)11 (11)

D.J. Wineland, R.E. Drullinger and F.L. Walls, Phys. Rev. Lett. 40, 1639 (1978)

D. J. Wineland, P. Ekstrom and H. Dehmelt, Phys. Rev. Lett. 31, 1279 (1973)

D.J. Wineland and W.M. Itano, Phys. Rev. A 20, 1521 (1979)

D.J. Wineland and W.M. Itano, Phys. Lett. A 82, 75 (1981)

W.H. Zurek, Phys. Today 44, 36 (1991)


"Learning gives creativity 
Creativity leads to thinking 
Thinking provides knowledge 
Knowledge makes you great 
Knowledge gives powers 
Knowledge rules the world 
knowledge provides wisdom" 
~Arip~

Sumber:

1. http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/2012/

2. http://www.nist.gov/pml/div688/grp10/index.cfm

3. http://www.college-de-france.fr/site/en-serge-haroche/

4. Belajar dari Tradisi Nobel oleh: Agnes Aristiarini

Monday, 8 October 2012

Perlombaan Perusahaan Swasta Menuju Ruang Angkasa



Pihak NASA mengatakan bahwa Space X menjadi perusahaan swasta pertama yang meluncurkan pesawatnya ke International Space Station (ISS), untuk misi pengangkutan kargo.



Falcon 9 and Dragon liftoff at 8:35 PM ET.
Now on their way to the International Space Station.




Allhamdulilah Ilmuwan Muda akhirnya dapat menonton saat bersejarah dimana pesawat luar angkasa buatan perusahaan swasta pertama meluncur ke luar angkasa membawa kargo.



 Data Perusahaan

SpaceX
Type Private
Industry Aerospace
Founded 2002
Headquarters Hawthorne, California, USA
Key people Elon Musk (CEO and CTO)
Gwynne Shotwell (President)
Tom Mueller Co-Founder and VP of Propulsion
Services Orbital rocket launch
Employees 1,800 (2012)
Website SpaceX.com


Space Exploration Technologies Corporation is a space transport company headquartered in Hawthorne, California. It was founded in 2002 by former PayPal entrepreneur Elon Musk. It has developed the Falcon 1 and Falcon 9 launch vehicles, both of which were designed from conception to eventually become reusable. SpaceX also developed the Dragon spacecraft to be flown into orbit by the Falcon 9 launch vehicle, initially transporting cargo and later planned to carry humans. On 25 May 2012, SpaceX made history as the world's first privately held company to send a cargo payload, carried on the Dragon spacecraft, to the International Space Station.

SpaceX was founded in June 2002 by PayPal and Tesla Motors co-founder Elon Musk who had invested US$100 million of his own money by March 2006. In January 2005, SpaceX bought a 10% stake in Surrey Satellite Technology Ltd. On 4 August 2008, SpaceX accepted a further $20 million investment from the Founders Fund.

The company has grown rapidly since it was founded in 2002, growing from 160 employees in November 2005 to more than 500 by July 2008, to over 1,100 in 2010. Two-thirds of the company is owned by its founder and his 70 million shares are worth $875 million on private markets, which roughly values SpaceX at $1.3 billion as of February 2012. An initial public offering may happen by the end of 2013. After the COTS 2+ flight the company valuation nearly doubled at $2.4 billion.

Musk believes the high prices of other space-launch services are driven in part by unnecessary bureaucracy. He has stated that one of his goals is to improve the cost and reliability of access to space, ultimately by a factor of ten. SpaceX became the first private company to successfully launch and return a spacecraft from orbit on 8 December 2010, after its Dragon capsule returned from a two-orbit flight. Space Foundation recognized SpaceX for its successful Dragon launch and recovery with the Space Achievement Award in 2011.

At various conferences, SpaceX has revealed concept slides for future engine, stage, and launch vehicle designs. Development of these designs would be predicated on demand for increased performance. Company plans in 2004 called for "development of a heavy lift product and even a super-heavy, if there is customer demand" with each size increase resulting in a significant decrease in cost per pound to orbit.

CEO Elon Musk said:   "I believe $500 per pound ($1,100/kg) or less is very achievable."

Elon Musk has stated the personal goal of eventually enabling human exploration and settlement of Mars. 

He stated in a 2011 interview that he hopes to send humans to Mars' surface within 10–20 years.



CEO and President Space Exploration Technologies Corporation: 
Mr. Elon Musk & Mrs. Gwynne Shotwell


Merintis peluncuran wahana ke luar angkasa oleh pihak swasta 

Perjalanan menuju keluar angkasa, peluncuran ini menandai sejarah baru ketika sebuah perusahaan swasta meluncurkan wahana ke antariksa. Selama ini, penerbangan ke stasiun luar angkasa hanya dilakukan oleh lembaga pemerintahan.

Ilmuwan muda bersama Roket RX 520 buatan Putra-Putri Terbaik Bangsa 
dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional


“Setiap peluncuran ke luar angkasa adalah peristiwa mendebarkan bagi saya, karena saya membayangkan suatu saat Bangsa Indonesia pun dapat melakukan hal yang sama, meluncurkan wahana antariksa buatan putra-putri terbaik bangsa ini"
~Arip~


Keunggulam Roket RX520 ini memiliki spesifikasi yang lebih hebat ketimbang Roket RX420. Sehingga Roket RX520 adalah roket terbesar yang di buat oleh LAPAN, 100% adalah hasil karya anak bangsa, para ilmuwan dan insinyur Indonesia.

Keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan Satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik.

Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. satelit buatan Indonesia tersebut konon rencananya siap di luncurkan paling cepat 2013 dengan dana kurang lebih 20 Milyar Rupiah.

Melihat keberhasilan anak-anak bangsa ini, tentunya kita sangat bangga dan menjadi contoh yang baik untuk generasi muda Indonesia, bahwa ternyata masih ada anak-anak bangsa yang mampu berbuat yang terbaik bagi bangsanya daripada tingkah laku para koruptor-koruptor yang kerjanya justru menghabiskan uang rakyat tanpa ada prestasi yang di raihnya.

Jika kemampuan roket Indonesia ini terus dikembangkan dengan cepat dan dengan strategi yang tepat maka bukan mustahil bangsa ini dalam rentang waktu 15-25 tahun lagi dapat menerbangkan wahana antariksa yang mampu membawa putra-putri terbaik bangsa untuk mengarungi luasnya antariksa.

Setidaknya Bangsa ini memerlukan minimal 100.000 ahli dalam bidang kedirgantaraan dan keluarangkasaan, serta 1000 pengusaha swasta dalam bidang ini.

Bagaimana strateginya?

1. Membangun 40 Pusat Pendidikan IPTEK Dirgantara dan Antariksa di Universitas dan Perguruan Tinggi di Indonesia, serta pemasukan kurikulum iptek ini ke sekolah menengah. Langkah sederhananya adalah membuat kelompok keahlian khusus peneliti IPTEK Dirgantara dan Antariksa di setiap fakultas MIPA di seluruh Indonesia, setelah terjadi perkembangan yang signifikan maka Universitas dan Institusi Perguruan tinggi yang berhasil mengembangkan kelompok keahlian khusus ini diberikan kewenangan dan dana untuk membentuk jurusan atau fakultas yang berfokus pada Iptek Antariksa ini.

Mengirimkan minimal 300 orang pelajar terbaik ke Lembaga Antariksa negara lain seperti ke NASA, JAXA, ESA, CNSA, ISRO dll. untuk menimba IPTEK Antariksa di sana. Ketiga ratus orang ini nantinya memberikan pembinaan pelatihan, pendidikan berkelanjutan dan terus menerus kepada 30.000 orang pelajar di tanah air melalui media Internet.

2. Membangun minimal 20 Pusat Riset, Inovasi, dan Pengembangan IPTEK Kedirgantaraan dan Antariksa di Indonesia. Mengoptimalkan peran-peran laboratorium LAPAN di daerah-daerah dengan berbagai bentuk kerjasama, merancang kerjasama dengan komunitas-komunitas amatir Antariksa di daerah-daerah untuk ikut mensosialisasikan visi Antariksa Indonesia.

3. Memberikan kemudahan modal dan pembinaan kepada para pengusaha muda dalam bidang Dirgantara dan Antariksa sehingga minimal tercipta 25 perusahaan dalam bidang ini.


Kunjungi juga:
1. http://sekolahiptekkeluarangkasaan.blogspot.com/
Indonesian Space Sciences &  Technology School

2. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_private_spaceflight_companies
List of private spaceflight companies

3. http://detekgan.lapan.go.id/
Kedeputian Bidang Iptek Dirgantara LAPAN

4. http://asosiasiuniversitasrisetantariksa.blogspot.com/
Indonesian University Space Research Association