Saturday, 8 December 2012

Strategi Menghapus Senjata Pemusnah Massal I

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” 
~QS. Al-A'raf (7): 85)~

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang atau bangsa lain. Namun, kemenangan atas diri sendiri. Berpacu di jalur keberhasilan diri adalah pertandingan untuk mengalahkan rasa ketakutan, keengganan, keangkuhan, dan semua beban yang menambat diri di tempat start.

Jerih payah untuk mengalahkan orang lain atau bangsa lain sama sekali tak berguna. Motivasi tak semestinya lahir dari rasa iri, dengki atau dendam. Keberhasilan sejati memberikan kebahagiaan yang sejati, yang tak mungkin diraih lewat niat yang ternoda. 

Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari yang lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju lawan-lawannya. Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah pelari lain akan menyusulnya atau tidak. Tak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan seluruh perhatian demi perbaikan catatannya sendiri. 

Ia bertading dengan dirinya sendiri, bukan melawan orang lain. Karenanya, ia tak perlu bermain curang atau berniat menghancurkan orang lain. Keinginan untuk mengalahkan orang atau bangsa lain adalah awal dari kekalahan diri sendiri atau sebuah bangsa.

"The T-virus is protean, changing from liquid to airborne to blood transmission, depending on its environment. It is almost impossible to kill." 
~Red Queen, at Resident Evil~


Perlombaan Senjata Penyebab Hancurnya Umat Manusia dan Dunia

A weapon of mass destruction (WMD) is a weapon that can kill and bring significant harm to a large number of humans (and other life forms) and/or cause great damage to man-made structures (e.g. buildings), natural structures (e.g. mountains), or the biosphere in general. The scope and application of the term has evolved and been disputed, often signifying more politically than technically. Coined in reference to aerial bombing with chemical explosives, it has come to distinguish large-scale weaponry of other technologies, such as chemical, biological, radiological, or nuclear. This differentiates the term from more technical ones such as chemical, biological, radiological, and nuclear weapons (CBRN).

Mengenal Jenis-jenis Senjata Pemusnah Massal 

Monday, 3 December 2012

Memahami Energi Gelap

Menyalakan Cahaya dalam Kegelapan Hati Kita
Kesepian Kita bukan karena tiadanya orang di sekitar Kita, namun karena tiadanya seseorang di hati Kita. Kita dapat kehilangan saat-saat yang berharga. Yaitu ketika Kita suatu saat merasa enggan untuk memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. 
Saat mengulurkan pertolongan, tanpa sadar Kita menjalin hati Kita dan hati orang lain dengan dawai emas dan cahaya pelita yang tak tampak. Dawai dan Pelita itu bernama persaudaraan serta persahabatan. 
Semakin banyak Kita menjalin dawai dan menyalakan cahaya pelita hati kita, maka semakin jauh hati Kita dari kesepian dan kegelapan. Karena dawai dan pelita itu akan mendenting-kan nada-nada juga menyalakan cahaya-cahaya yang memenuhi dan menghibur jiwa. 
Bangkitlah dan tebarkan uluran tangan Kita. Segaris senyum dan tatapan mata yang bersahabat cukup untuk membangunkan bahwa Kita sama sekali tidak sendiri.

“Sometimes, the truth isn’t good enough. Sometimes people deserve more. Sometimes people deserve to have their faith rewarded.”
~The Dark Knight~


Abstract

Dark Energy and the Fate of the Universe

By:  Prof. Renata Kallosh and Prof. Andrei Linde
Department of Physics, Stanford University, Stanford, CA 94305-4060, USA.

It is often assumed that in the course of the evolution of the universe, the dark energy either vanishes or becomes a positive constant. However, recently it was shown that in many models based on supergravity, the dark energy eventually becomes negative and the universe collapses within the time comparable to the present age of the universe. We will show that this conclusion is not limited to the models based on supergravity: In many models describing the present stage of acceleration of the universe, the dark energy eventually becomes negative, which triggers the collapse of the universe within the time t = 10^10 − 10^11 years. The theories of this type have certain distinguishing features that can be tested by cosmological observations.


Intro: 

In physical cosmology and astronomy, dark energy is a hypothetical form of energy that permeates all of space and tends to accelerate the expansion of the universe. Dark energy is the most accepted hypothesis to explain observations since the 1990s that indicate that the universe is expanding at an accelerating rate. In the standard model of cosmology, dark energy currently accounts for 73% of the total mass-energy of the universe. Two proposed forms for dark energy are the cosmological constant, a constant energy density filling space homogeneously, and scalar fields such as quintessence or moduli, dynamic quantities whose energy density can vary in time and space. 
Contributions from scalar fields that are constant in space are usually also included in the cosmological constant. The cosmological constant is physically equivalent to vacuum energy. Scalar fields which do change in space can be difficult to distinguish from a cosmological constant because the change may be extremely slow. 
High-precision measurements of the expansion of the universe are required to understand how the expansion rate changes over time. In general relativity, the evolution of the expansion rate is parameterized by the cosmological equation of state (the relationship between temperature, pressure, and combined matter, energy, and vacuum energy density for any region of space). Measuring the equation of state for dark energy is one of the biggest efforts in observational cosmology today. 

Adding the cosmological constant to cosmology's standard FLRW metric leads to the Lambda-CDM model, which has been referred to as the "standard model" of cosmology because of its precise agreement with observations. Dark energy has been used as a crucial ingredient in a recent attempt to formulate a cyclic model for the universe.



Bukti dari Adanya Energi Gelap 

Dalam kosmologi, energi gelap adalah suatu bentuk hipotesis dari energi yang mengisi seluruh ruang dan memiliki tekanan negatif yang kuat. Menurut teori relativitas umum, efek dari adanya tekanan negatif secara kualitatif serupa dengan memiliki gaya pada skala besar yang bekerja secara berlawanan terhadap gravitasi. Menggunakan efek seperti itu sekarang merupakan cara yang sering dilakukan untuk menjelaskan pengamatan mengenai pengembangan alam semesta yang dipercepat dan juga adanya bagian besar dari massa yang hilang di alam semesta. 
Pada tahun 1998, pengamatan Supernova tipe Ia oleh dua grup yang berbeda yaitu, High-Z SN Search Team pimpinan Prof. Dr. Brian Schmidt dan Supernova Cosmology Project (SCP) Team pimpinan Prof. Dr. Saul Perlmutter, menunjukkan bahwa pengembangan alam semesta mengalami percepatan. Keduanya pada tahun 2011 diganjar Hadiah Nobel Fisika bersama dengan Prof. Dr. Adam Riess
Dalam beberapa tahun terakhir, pengamatan ini telah dikuatkan oleh beberapa sumber: radiasi kosmik gelombang mikro latar belakang, pelensaan gravitasi, usia alam semesta, nukleosintesis dentuman dahsyat, struktur kosmos berskala besar dan pengukuran dari parameter Hubble, dan juga pengukuran supernova yang lebih baik. 
Semua elemen ini konsisten dengan model Lamda-CDM. Supernova tipe Ia memberikan bukti paling langsung dari adanya energi gelap. Dengan mengukur kecepatan dari objek yang menjauh menggunakan pengukuran pergeseran merah, yang merupakan efek Doppler radiasi dari objek yang menjauh. Menentukan jarak dari suatu objek adalah masalah yang sulit dalam astronomi dan astrofisika. 
Kita perlu menemukan lilin standard: obyek yang diketahui kecerlangan intrinsiknya, sehingga mungkin digunakan untuk menghubungkan kecerlangan yang tampak dengan jarak. Tanpa lilin standard, tidaklah mungkin mengukur hubungan pergeseran merah dengan jarak dalam hukum Hubble. Supernova tipe Ia adalah lilin standard terbaik untuk pengamatan kosmologi, karena mereka sangat terang dan hanya terjadi ketika massa dari bintang katai putih tua mencapai batas Chandrasekhar. Jarak ke supernova dapat digambar terhadap kecepatan, dan inilah yang digunakan untuk mengukur sejarah pengembangan alam semesta. 
Pengamatan ini menunjukkan bahwa alam semesta tidak mengalami perlambatan, yang seharusnya akan terjadi pada alam semesta yang didominasi oleh materi, tetapi justru secara misterius mengalami percepatan. Pengamatan ini dapat dijelaskan dengan membuat postulat tentang adanya sejenis energi yang memiliki persamaan keadaan yang negatif, yaitu energi gelap. Keberadaan energi gelap, dalam bentuk apapun, juga memecahkan masalah yang disebut "massa yang hilang". 
Teori nukleosintesis dentuman dahsyat mengatur pembentukan unsur-unsur ringan pada awal alam semesta, seperti helium, deuterium, dan litium. Teori struktur kosmos berskala besar mengatur pembentukan struktur alam semesta, bintang, kuasar, galaksi dan gugus galaksi. 
Kedua teori ini menunjukkan bahwa kepadatan baryon dan materi gelap yang dingin di alam semesta adalah sekitar 30% dari kepadatan kritikal untuk alam semesta yang tertutup. 
Ini adalah kepadatan yang diperlukan untuk membuat bentuk alam semesta rata. Pengukuran radiasi kosmik gelombang mikro latar belakang, baru-baru ini menggunakan satelit WMAP, menunjukkan bahwa alam semesta hampir datar. 
Oleh karena itu, kita tahu bahwa suatu bentuk energi pasti mengisi 70% yang lainnya. 
Begitu banyak misteri di alam raya ini semoga menjadi bekal bagi kita untuk senantiasa bertafakur akan kebesaran Yang Maha Kuasa, Pencipta seluruh alam jagat raya.

Wallohualambissawab.

Ucapan Terima Kasih:

Kepada Bapak Judistira Aria Utama, M.Si., Iqbal Robiyana, S.Pd., Anton Timur J., S.Si.

Dan Kepada Ibu Premana Wardayanti Premadi, M.Sc., Ph.D.
The University of Texas, Austin (USA)

Bidang Penelitian:

1.Lensa Gravitasi dan Alam Semesta Inhomogen
2.Kosmologi : Struktur Skala Besar, Lensa Gravitasi, Ekstragalaksi; Teori, Fisis, dan Komputasional
3.Galaksi : Dinamika, Evolusi
4.Astrofisika Relativistik : Objek Kompak: Fenomenologi

Juga kepada keluarga, guru-dosen, sahabat-sahabatku yang kami cintai dan banggakan.

Bangkitlah Sains Indonesia, Semangat Selalu.



Ilmuwan dan Guru Muda "Narsis" di Depan Papan Tulis

Sumber:
1.http://en.wikipedia.org/wiki/Dark_energy
2.http://id.wikipedia.org/wiki/Energi_gelap
3.http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/2011/press.html
4.http://arxiv.org/pdf/astro-ph/0301087.pdf

Wednesday, 28 November 2012

Inovasi IPTEKS Dirgantara dan Antariksa dalam Membangun Kemandirian Bangsa

"Bila kita berbicara tentang IPTEKS, bukan  IPTEKS canggih yang kita kejar. Salah kalau dikira bahwa saya sebagai seorang insinyur kebetulan ahli konstruksi pesawat terbang hanya cinta teknologi canggih. 
Karena itu, apakah lantas hanya teknologi canggih yang ingin dikembangkan, dan hanya itu yang disasari untuk pembangunan bangsa? 
Itu tidak benar, yang saya sasari adalah proses nilai tambah, proses nilai tambah dari materi yang harganya rendah, dengan segala ketrampilan dengan usaha dari manusia, bisa dijadikan produk yang nilainya lebih tinggi, itu proses nilai tambah. 

Atau dengan perkataan lain memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat dan berguna tanpa memilih apakah itu canggih atau tidak canggih yang lebih penting bahwa teknologi yang tepat dan berguna itu dapat dimanfaatkan untuk proses nilai tambah, dapat mengubah materi itu dengan cepat untuk mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dengan mengontrol kualitas, biaya, dan jadual secara terus menerus agar produksi lancar jalannya" 
~Prof. B. J. Habibie~

Dirgantara ialah suatu istilah yang berkaitan dengan atmosfer Bumi. Biasanya kata ini digunakan untuk merujuk pada industri yang meneliti, merancang, membuat, dan meluncurkan, dan memelihara kendaraan yang terbang ke angkasa. Dirgantara adalah istilah yang luas, yang digunakan di bidang komersial, industri, dan militer. 

 

Pak. Teddy Lesmana, SE. M.M. sedang berada di depan maket roket penjelajah Antariksa
di Smithsonian National Air and Space Museum The Steven F. Udvar-Hazy Center
Washington D.C. USA.
 
Di kebanyakan negara industri, industri dirgantara adalah kerja sama antara industri swasta dan negeri. Sebagai contoh, beberapa negara memiliki program luar angkasa di bawah komando pemerintah seperti NASA di Amerika Serikat, ESA di Eropa, Canadian Space Agency di Kanada, Indian Space Research Organisation di India, Roskosmos di Rusia, Administrasi Antariksa Nasional Cina di Republik Rakyat Cina, Badan Antariksawan Iran di Iran dan SUPARCO di Pakistan.
Bersama dengan program luar angkasa publik itu, banyak perusahaan yang membuat peralatan dan komponen teknis seperti satelit dan wahana antariksa. Beberapa perusahaan terkenal yang bekerja di program luar angkasa adalah Lockheed Martin, Northrop Grumman, EADS, dan Boeing. Perusahaan tersebut juga ikut serta dalam wilayah kedirgantaraan lain seperti pembuatan pesawat terbang. Banyak negara yang memiliki perusahaan transportasi, seperti Air France, Air India, dll.
 
Pilar Utama Teknologi Dirgantara dan Keantariksaan
 
roket 2.jpg
 V I S I 
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

TERWUJUDNYA KEMANDIRIAN DALAM IPTEK PENERBANGAN DAN ANTARIKSA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN BANGSA.

MISI

1. Memperkuat dan melaksanakan pembinaan, penguasaan dan pemanfaatan teknologi roket, satelit dan penerbangan.

2. Memperkuat dan melaksanakan pembinaan, penguasaan dan pemanfaatan teknologi dan data penginderaan jauh.

3. Memperkuat dan melaksanakan pembinaan, penguasaan dan pemanfaatan sains antariksa dan atmosfer.

4. Mengembangkan kajian kebijakan Penerbangan dan antariksa nasional.

5. Mengembangkan sistem manajemen kelembagaan.

"Research is creating new knowledge."
~Neil A. Armstrong~

Pak. Teddy Lesmana, SE. M.M. sedang berada di depan Pesawat Ulang-Alik Discovery

Antariksa atau Luar angkasa atau angkasa luar (juga disebut sebagai angkasa), merujuk ke bagian yang relatif kosong dari Jagad Raya, di luar atmosfer dari benda "celestial". Istilah luar angkasa digunakan untuk membedakannya dengan ruang udara dan lokasi "terrestrial".
Karena atmosfer Bumi tidak memiliki batas yang jelas, namun terdiri dari lapisan yang secara bertahap semakin menipis dengan naiknya ketinggian, tidak ada batasan yang jelas antara atmosfer dan angkasa. Ketinggian 100 kilometer atau 62 mil ditetapkan oleh Federation Aeronautique Internationale merupakan definisi yang paling banyak diterima sebagai batasan antara atmosfer dan angkasa.
Di Amerika Serikat, seseorang yang berada di atas ketinggian 80 km ditetapkan sebagai astronot. 120 km (75 mil atau 400.000 kaki) menandai batasan di mana efek atmosfer menjadi jelas sewaktu proses memasuki kembali atmosfer (re-entry). (Lihat juga garis Karman).

Aerospace engineering is the primary branch of engineering concerned with the design, construction, and science of aircraft and spacecraft. It is divided into two major and overlapping branches: aeronautical engineering and astronautical engineering. The former deals with craft that stay within Earth's atmosphere, and the latter with craft that operate outside it.

Aerospace Engineering deals with the design, construction, and study of the science behind the forces and physical properties of aircraft, rockets, flying craft, and spacecraft. The field also covers their aerodynamic characteristics and behaviors, airfoil, control surfaces, lift, drag, and other properties. Aerospace engineering is not to be confused with the various other fields of engineering that go into designing elements of these complex craft. For example, the design of aircraft avionics, while certainly part of the system as a whole, would rather be considered electrical engineering, or perhaps computer engineering. Or an aircraft's landing gear system may be considered primarily the field of mechanical engineering. There is typically a combination of many disciplines that make up aerospace engineering.

Where as aeronautical engineering was the original term, the broader "aerospace" has superseded it in usage, as flight technology advanced to include craft operating in outer space. Aerospace engineering, particularly the astronautics branch, is often referred to colloquially as "rocket science", although this is a popular misnomer.

Some of the elements of aerospace engineering are:

  • Fluid mechanics – the study of fluid flow around objects. Specifically aerodynamics concerning the flow of air over bodies such as wings or through objects such as wind tunnels (see also lift and aeronautics).
  • Astrodynamics – the study of orbital mechanics including prediction of orbital elements when given a select few variables. While few schools in the United States teach this at the undergraduate level, several have graduate programs covering this topic (usually in conjunction with the Physics department of said college or university).
  • Statics and Dynamics (engineering mechanics) – the study of movement, forces, moments in mechanical systems.
  • Mathematics – in particular, calculus, differential equations, and linear algebra.
  • Electrotechnology – the study of electronics within engineering.
  • Propulsion – the energy to move a vehicle through the air (or in outer space) is provided by internal combustion engines, jet engines and turbomachinery, or rockets (see also propeller and spacecraft propulsion). A more recent addition to this module is electric propulsion and ion propulsion.
  • Control engineering – the study of mathematical modeling of the dynamic behavior of systems and designing them, usually using feedback signals, so that their dynamic behavior is desirable (stable, without large excursions, with minimum error). This applies to the dynamic behavior of aircraft, spacecraft, propulsion systems, and subsystems that exist on aerospace vehicles.
  • Aircraft structures – design of the physical configuration of the craft to withstand the forces encountered during flight. Aerospace engineering aims to keep structures lightweight.
  • Materials science – related to structures, aerospace engineering also studies the materials of which the aerospace structures are to be built. New materials with very specific properties are invented, or existing ones are modified to improve their performance.
  • Solid mechanics – Closely related to material science is solid mechanics which deals with stress and strain analysis of the components of the vehicle. Nowadays there are several Finite Element programs such as MSC Patran/Nastran which aid engineers in the analytical process.
  • Aeroelasticity – the interaction of aerodynamic forces and structural flexibility, potentially causing flutter, divergence, etc.
  • Avionics – the design and programming of computer systems on board an aircraft or spacecraft and the simulation of systems.
  • Software – the specification, design, development, test, and implementation of computer software for aerospace applications, including flight software, ground control software, test & evaluation software, etc.
  • Risk and reliability – the study of risk and reliability assessment techniques and the mathematics involved in the quantitative methods.
  • Noise control – the study of the mechanics of sound transfer.
  • Flight test – designing and executing flight test programs in order to gather and analyze performance and handling qualities data in order to determine if an aircraft meets its design and performance goals and certification requirements.


Pak. Teddy Lesmana, SE. M.M. sedang berada di depan Pesawat Jet Tempur Tercanggih Saat ini. 
Buatan Kerjasama Perusahaan Boeing, Lockheed Martin dan Northrop Grumman

Batasan Menuju Angkasa

 

  • 4,6 km (15.000 kaki) — FAA menetapkan dibutuhkannya bantuan oksigen untuk pilot pesawat dan penumpangnya.
  • 5,3 km (17.400 kaki) — Setengah atmosfer Bumi berada di bawah ketinggian ini
  • 16 km (52.500 kaki) — Kabin bertekanan atau pakaian bertekanan dibutuhkan
  • 18 km (59.000 kaki) — Batasan atas dari Troposfer
  • 20 km (65.600 kaki) — Air pada suhu ruangan akan mendidih tanpa wadah bertekanan (kepercayaan tradisional yang menyatakan bahwa cairan tubuh akan mulai mendidih pada titik ini adalah salah karena tubuh akan menciptakan tekanan yang cukup untuk mencegah pendidihan nyata)
  • 24 km (78.700 kaki) — Sistem tekanan pesawat biasa tidak lagi berfungsi
  • 32 km (105.000 kaki) — Turbojet tidak lagi berfungsi
  • 45 km (148.000 kaki) — Ramjet tidak lagi berfungsi
  • 50 km (164.000 kaki) — Stratosfer berakhir
  • 80 km (262.000 kaki) — Mesosfer berakhir
  • 100 km (328.000 kaki) — Permukaan aerodinamika tidak lagi berfungsi
Proses masuk-kembali dari orbit dimulai pada 122 km (400.000 ft).

Pendidikan Kedirgantaraan dan Keluar Angkasaan.

Allhamdulilah Kami dapat mengikuti Pendidikan Online di MIT Open Course Ware Engineering:  

Aeronautics and Astronautics Engineering

http://ocw.mit.edu/courses/aeronautics-and-astronautics/

Saya dan teman-teman telah belajar dalam komunitas ini sejak tahun 2008, semoga upaya kami ini dapat bermanfaat.


"The fact that the great scientist believed in flying machines was the one thing that encouraged us to begin our studies."
~Wright Bersaudara, Penemu Pesawat Terbang~

  
Penulis dan Ilmuwan Muda bersama Prof. Masanobu Shimada, D.Eng.
(Japan Aerospace Exploration Agency)
http://www.jaxa.jp

Prof. Shimada is an ALOS Science Manager at the Earth Observation Research Center (EORC), which is part of the Office of Space Applications at Jaxa -
Japan Aerospace Exploration Agency, and a Doctor of Engineering.

 He graduated from the Department of Aerospace Engineering at Kyoto University in 1977, and received an M.Eng. from the university in 1979.

Beliau merupakan salah seorang ahli dalam bidang satelit dari Jepang.
Indonesia Nanosatellite Platform Initiative for Research and Education (Inspire)

Konsorsium para pakar dari enam perguruan tinggi dan Lapan yang disebut Indonesia Nanosatellite Platform Initiative for Research and Education (Inspire) juga mempersiapkan peluncuran satelit nano yang diberi nama Indonesian Inter University Satellite (IInusat). Pembuatan satelit ini didanai Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Perguruan tinggi yang terlibat adalah UGM, ITB, UI, ITS, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, dan Institut Teknologi Telekomunikasi Bandung.

“Masing- masing pakar dari institusi akan mempersiapkan bagian-bagian dalam sistem satelit sesuai kepakarannya,” kata Dr. Tri Kuntoro Priyambodo, M.Sc., koordinator proyek Inspire.

Peluncuran satelit berbobot 9,82 kg ini pada orbit polar direncanakan sekitar akhir tahun 2012 dan semester I-2013.

Ide Program Antariksa Indonesia dari Penulis


Space Education
Kita akan membangun pendidikan IPTEK keantariksaan dari jenjang pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi, anak-anak muda Indonesia akan diperkenalkan dengan Space Science & Technology sejak awal, mereka akan berbondong-bondong untuk mempelajarinya, mengembangkannya dan memajukannya berlandaskan rasa pengabdian Terhadap Pencipta Alam Raya ini.

a. Space Science & Technology for Early Education
b. Space Science & Technology for K-12 Education
c. Space Science & Technology for Higher Education 
Indonesian University Space Research Association


Semoga para Ilmuwan tanah air dapat terus berupaya sekuat tenaga untuk mengembangkan IPTEKS ini demi kemaslahatan umat manusia.

Amin.

Ucapan Terima Kasih Kepada:

Bapak Teddy Lesmana, S.E., M.M. Seorang mentor yang senantiasa memberikan semangat dan inspirasi kepada penulis.

Beliau merupakan Peneliti dan Ilmuwan dari LIPI, Lulusan Universitas Brawijaya , Universitas Indonesia , Australian National University , University of Maryland College Park dan Kandidat Ph.D. di Universitas George Town , USA.

Juga kepada  Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN ).

Dan kepada keluarga, guru-dosen, sahabat-sahabatku yang kami cintai dan banggakan.

Bangkit Indonesia, Semangat Selalu.