Sunday, 23 December 2012

Pengembangan IPTEK dan Rencana Kebutuhan Sistem RADAR Pertahanan Udara I

 "Our founding fathers decided that the unitary state of Indonesia should uphold and respect the rich diversity and mutual tolerance of all of the nation’s living religious, cultural, ethnic as well as racial heritages. A healthy sense of modern nationalism triumphed over narrow primordial loyalties."
~Prof. Juwono Sudarsono, M.A., Ph.D., Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Pertahanan dan Pendidikan~

RADAR singkatan dari Radio Detection and Ranging, yang berarti deteksi dan penjarakan radio adalah suatu sistem gelombang elektromagnetik yang berguna untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat terbang, berbagai kendaraan bermotor dan informasi cuaca (hujan). 

Panjang gelombang yang dipancarkan radar adalah beberapa milimeter hingga satu meter. Gelombang radio/sinyal yang dipancarkan dan dipantulkan dari suatu benda tertentu akan ditangkap oleh radar. Dengan menganalisa sinyal yang dipantulkan tersebut, pemantul sinyal dapat ditentukan lokasinya dan kadang-kadang dapat juga ditentukan jenisnya. Meskipun sinyal yang diterima relatif lemah/kecil, namun radio sinyal tersebut dapat dengan mudah dideteksi dan diperkuat oleh radar. 

Sejarah 

Seorang ahli fisika Inggris bernama James Clerk Maxwell mengembangkan dasar-dasar teori tentang elektromagnetik pada tahun 1865. Setahun kemudian, seorang ahli fisika asal Jerman bernama Heinrich Rudolf Hertz berhasil membuktikan teori Maxwell mengenai gelombang elektromagnetik dengan menemukan gelombang elektromagnetik itu sendiri. Pendeteksian keberadaan suatu benda dengan menggunakan gelombang elektromagnetik pertama kali diterapkan oleh Christian Hülsmeyer pada tahun 1904. Bentuk nyata dari pendeteksian itu dilakukan dengan memperlihatkan kebolehan gelombang elektromagnetik dalam mendeteksi kehadiran suatu kapal pada cuaca yang berkabut tebal. Namun di kala itu, pendeteksian belum sampai pada kemampuan mengetahui jarak kapal tersebut. 

Pada tahun 1921, Albert Wallace Hull menemukan magnetron sebagai tabung pemancar sinyal/transmitter yang efisien. Kemudian transmitter berhasil ditempatkan pada kapal kayu dan pesawat terbang untuk pertama kalinya secara berturut-turut oleh A. H. Taylor dan L. C. Young pada tahun 1922 dan L. A. Hyland dari Laboratorium Riset kelautan Amerika Serikat pada tahun 1930. Istilah radar sendiri pertama kali digunakan pada tahun 1941, menggantikan istilah dari singkatan Inggris RDF (Radio Directon Finding), namun perkembangan radar itu sendiri sudah mulai banyak dikembangkan sebelum Perang Dunia II oleh ilmuwan dari Amerika, Jerman, Prancis dan Inggris. 

Dari sekian banyak ilmuwan, yang paling berperan penting dalam pengembangan radar adalah Robert Watson-Watt asal Skotlandia, yang mulai melakukan penelitiannya mengenai cikal bakal radar pada tahun 1915. Pada tahun 1920-an, ia bergabung dengan bagian radio National Physical Laboratory. Di tempat ini, ia mempelajari dan mengembangkan peralatan navigasi dan juga menara radio. Watson-Watt menjadi salah satu orang yang ditunjuk dan diberikan kebebasan penuh oleh Kementrian Udara dan Kementrian Produksi Pesawat Terbang untuk mengembangkan radar. Watson-Watt kemudian menciptakan radar yang dapat mendeteksi pesawat terbang yang sedang mendekat dari jarak 40 mil (sekitar 64 km). 

Dua tahun berikutnya, Inggris memiliki jaringan stasiun radar yang berfungsi untuk melindungi pantainya. Pada awalnya, radar memiliki kekurangan, yakni gelombang elektromagnetik yang dipancarkannya terpancar di dalam gelombang yang tidak terputus-putus. Hal ini menyebabkan radar mampu mendeteksi kehadiran suatu benda, namun tidak pada lokasi yang tepat. Terobosan pun akhirnya terjadi pada tahun 1936 dengan pengembangan radar berdenyut (pulsed). 

Dengan radar ini, sinyal diputus secara berirama sehingga memungkinkan untuk mengukur antara gema untuk mengetahui kecepatan dan arah yang tepat mengenai target. Sementara itu, terobosan yang paling signifikan terjadi pada tahun 1939 dengan ditemukannya pemancar gelombang mikro berkekuatan tinggi yang disempurnakan. Keunggulan dari pemancar ini adalah ketepatannya dalam mendeteksi keberadaan sasaran, tidak peduli dalam keadaan cuaca apapun. 

Keunggulan lainnya adalah bahwa gelombang ini dapat ditangkap menggunakan antena yang lebih kecil, sehingga radar dapat dipasang di pesawat terbang dan benda-benda lainnya. Hal ini yang pada akhirnya membuat Inggris menjadi lebih unggul dibandingkan negara-negara lainnya di dunia. Pada tahun-tahun berikutnya, sistem radar berkembang lebih pesat lagi, baik dalam hal tingkat resolusi dan portabilitas yang lebih tinggi, maupun dalam hal peningkatan kemampuan sistem radar itu sendiri sebagai pertahanan militer.


Konsep

Konsep radar adalah mengukur jarak dari sensor ke target. Ukuran jarak tersebut didapat dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan gelombang elektromagnetik selama penjalarannya mulai dari sensor ke target dan kembali lagi ke sensor. 

Klasifikasi
Berdasarkan bentuk gelombang

    * Continuous Wave/CW (Gelombang Berkesinambungan), merupakan radar yang menggunakan transmitter dan antena penerima (receive antenna) secara terpisah, di mana radar ini terus menerus memancarkan gelombang elektromagnetik. Radar CW yang tidak termodulasi dapat mengukur kecepatan radial target serta posisi sudut target secara akurat. Radar CW yang tidak termodulasi biasanya digunakan untuk mengetahui kecepatan target dan menjadi pemandu rudal (missile guidance).

    * Pulsed Radars/PR (Radar Berdenyut), merupakan radar yang gelombang elektromagnetiknya diputus secara berirama. Frekuensi denyut radar (Pulse Repetition Frequency/PRF) dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu PRF high, PRF medium dan PRF low.

Jenis:

Doppler Radar

Doppler radar merupakan jenis radar yang mengukur kecepatan radial dari sebuah objek yang masuk ke dalam daerah tangkapan radar dengan menggunakan Efek Doppler.


Hal ini dilakukan dengan memancarkan sinyal microwave (gelombang mikro) ke objek lalu menangkap refleksinya, dan kemudian dianalisis perubahannya. Doppler radar merupakan jenis radar yang sangat akurat dalam mengukur kecepatan radial. Contoh Doppler radar adalah Weather Radar yang digunakan untuk mendeteksi cuaca.


Bistatic Radar

Bistatic radar merupakan suatu jenis sistem radar yang komponennya terdiri dari pemancar sinyal (transmitter) dan penerima sinyal (receiver), di mana kedua komponen tersebut terpisah. Kedua komponen itu dipisahkan oleh suatu jarak yang dapat dibandingkan dengan jarak target/objek.

Objek dapat dideteksi berdasarkan sinyal yang dipantulkan oleh objek tersebut ke pusat antena. Contoh Bistatic radar adalah Passive radar. Passive radar adalah sistem radar yang mendeteksi dan melacak objek dengan proses refleksi dari sumber non-kooperatif pencahayaan di lingkungan, seperti penyiaran komersial dan sinyal komunikasi.

 
Pengembangan IPTEK dan Rencana Kebutuhan Sistem RADAR Pertahanan Udara

Posisi tawar (bargaining position) sebuah negara bangsa juga ditentukan kuat/lemahnya kemampuan pertahanan negara tersebut dalam hubungan global dan regional. Secara umum kondisi Alutsista TNI saat ini hanya mampu mendukung 60% dari kemampuan optimum untuk mendukung optimalisasi tugas pokoknya sebagai komponen utama pertahanan negara. 

Kondisi Alutsista tersebut juga menggambarkan kondisi nyata radar pertahanan udara (radar hanud) kita saat ini, dimana umumnya radar hanud kita sudah berusia sangat tua dan jumlahnya terbatas, teknologinya juga ketinggalan zaman, juga diperparah dengan kualitas profesionalisme dan kesejahteraan prajurit yang tergolong masih rendah serta ketergantungan pada produk negara lain. Kondisi tersebut menyebabkan bahwa kekuatan pertahanan negara di bawah kekuatan pertahanan minimal. Pada era globalisasi peranan radar dalam kehidupan manusia sangatlah tinggi. Indikasinya dapat dilihat dari betapa urgen kehidupan sipil dan kepentingan militer yang ditopang oleh radar. 

Penopangan kebutuhan tersebut terjadi pada sistem transportasi udara dan sistem senjata udara bergerak berkecepatan sangat tinggi. Melalui aplikasi demikian diketahuilah bahwa tanpa bantuan radar, kedua jenis sistem di atas tidak mungkin dapat menjalankan fungsinya dengan aman. Khusus kegiatan militer terutama pada perang udara, maka radar menjadi pemegang peran sebagai mata sekaligus telinga baik dalam sistem pertahanan maupun sistem penyerangan udara. Radar menentukan tempat kedudukan sasaran serta memberi peringatan dini akan adanya sasaran yang membahayakan. Radar juga dapat digunakan sebagai sarana navigasi taktis (tactical navigation = Tacan) serta untuk ramalan cuaca. 

Mengingat kegunaan radar dalam kehidupan militer demikian banyak, seyogianyalah itu setiap prajurit TNI AU, khususnya Perwira wajib mengetahui sistem radar mulai prinsip kerja hingga perkembangan dan kegunaannya. Penelitian ini mencoba membahas pengembangan teknologi dan rencana kebutuhan sistem radar pertahanan udara (hanud) dalam upaya mendukung percepatan kemandirian alutsista bagi optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi-kondisi aktual sistem radar hanud seperti tersebut di atas dan semakin beratnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini serta kompleksitas bentuk ancaman.

Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas, beberapa permasalahan yang menonjol terkait kondisi alutsista saat ini antara lain:

a. Masih kurangnya jumlah RADAR Pertahanan Udara yang dimiliki khususnya untuk meng-cover wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bagian Timur.

b. Teknologi sistem RADAR sudah banyak yang ketinggalan zaman.

c. Belum adanya komitmen (political will) yang kuat dari pemerintah untuk membangun sistem RADAR Pertahanan Udara yang handal yang mampu meng-cover seluruh wilayah NKRI.

d. Kebijakan negara (pemerintah) belum menjadikan pertahanan negara sebagai prioritas

e. Keuangan negara terbatas sehingga anggaran pertahanan yang minim.

f. Banyak kebijakan pemerintah terkait optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara khususnya pengembangan alutsista, khususnya radar hanud belum terintegrasi.

g. Lemahnya koordinasi antar Kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Badan Usaha Milik Negera Industri Pertahanan (BUMNIP) dan industri nasional lainnya dalam mendukung perkembangan industri pertahanan

h. Kementrian Pertahanan dan TNI terlihat lebih senang mengimpor Alutsista, termasuk RADAR Pertahanan Udara dari luar negeri.




Bersambung.


Sumber:

1. Arip Nurahman Notes

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Radar
4. Introduction-to-radar-systems
[Instructor: Prof. Dr. Robert M. O'Donnel, Massachusetts Institute of Technology]
5.Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertahanan Republik Indonesia
http://www.balitbang.kemhan.go.id/


Saturday, 22 December 2012

Building Missile Defense System


"Dalam sepuluh, dua puluh tahun lagi, Bandung akan jadi lautan inovasi dan kemajuan, 
tempat pusat industri strategis termasuk di bidang pertahanan, 
industri inilah yang akan mengubah bangsa Indonesia."
~Jendral TNI Purnawirawan Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A., Presiden Indonesia~

In a modern military, a missile is a self-propelled guided weapon system. Missiles have four system components: targeting and/or guidance, flight system, engine, and warhead. Missiles come in types adapted for different purposes: surface-to-surface and air-to-surface (ballistic, cruise, anti-ship, anti-tank), surface-to-air (anti-aircraft and anti-ballistic), air-to-air, and anti-satellite missiles.

  A F-22 Raptor fires an AIM-120 AMRAAM

Beda Sistem Pertahanan Udara Israel, Iran, dan Indonesia

Kepala Program Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) Dr. Joko Purwono, menjelaskan mengapa Israel lebih tangguh dan unggul dalam teknologi pertahanan udara dibanding negara lain. Menurut Joko, kondisi itu tercipta lantaran Israel merasa pertahanannya terancam dan terintimidasi dengan negara sekitarnya di Timur Tengah.

Untuk bisa bertahan, paparnya, negeri Zionis tersebut berupaya meningkatkan kekuatan pertahanan udaranya untuk mengontrol ancaman dari luar. Caranya dengan terus mengembangkan teknologi berbagai pesawat tempur hingga pesawat intai tanpa awak alias unmanned aerial vehicle (UAV). "Mereka merasa tidak tenang, dan untuk survive Israel terus berinovasi mengembangkan teknologi pesawatnya hingga bisa canggih," ujar Joko.

Joko melanjutkan, pola yang sama juga terjadi di Iran. Merasa negaranya menjadi incaran Israel dan Amerika Serikat (AS), serta tidak bakal dibantu negara Teluk lainnya, maka pihak militer berkomitmen mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak.


"One can not impede scientific progress."
~Dr. Mahmoud Ahmadinejad, President of Iran~


Iran terus berpacu mengejar ketertinggalan teknologi dengan banyak mempelajari teknologi luar. Alhasil, beberapa waktu lalu Iran sukses merontokkan pesawat intai AS dan Israel yang mencoba menyusup masuk ke wilayah udara negara Para Mullah tersebut. "Iran berjuang mengembangkan teknologi pesawatnya hingga sudah tahap canggih, tapi teknologi dan industri pertahanan Israel sudah jauh lebih maju karena sudah mengembangkannya lebih dulu," kata Joko.

Untuk Indonesia, Joko mengaku sangat prihatin sebab dapat dikatakan tertinggal akibat tidak adanya komitmen pemerintah. Ini karena pemerintah masih sibuk pada program peningkatan kesejahteraan masyarakat dan alokasi APBN sangat minim untuk pengembangan industri alutsista dalam negeri.

Padahal sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bangsa ini tidak kalah dibandingkan dengan negara lainnya. Sayangnya, hanya kurang mendapat kesempatan dan pelatihan.

Namun, lanjut Joko, belakangan ini pemerintah mulai sadar untuk menggiatkan program peningkatan alutsista, termasuk pembelian pesawat intai untuk menjaga wilayah perbatasan Indonesia. "Bagus sekarang sektor pertahanan dihidupkan pemerintah. Tapi, lebih baik beli pesawat dalam negeri, bukan luar negeri," kritik Dr. Joko.


Drone: 
Unmanned aerial vehicle (UAV), commonly known as a drone, is an aircraft without a human pilot on board. Its flight is either controlled autonomously by computers in the vehicle, or under the remote control of a pilot on the ground or in another vehicle.

 

Flight

 

 

 

A ballistic missile trajectory consists of three parts: the powered flight portion, the free-flight portion which constitutes most of the flight time, and the re-entry phase where the missile re-enters the Earth's atmosphere.
Ballistic missiles can be launched from fixed sites or mobile launchers, including vehicles (transporter erector launchers, TELs), aircraft, ships and submarines. The powered flight portion can last from a few tens of seconds to several minutes and can consist of multiple rocket stages.

When in space and no more thrust is provided, the missile enters free-flight. In order to cover large distances, ballistic missiles are usually launched into a high sub-orbital spaceflight; for intercontinental missiles the highest altitude (apogee) reached during free-flight is about 1200 km.

The re-entry stage begins at an altitude where atmospheric drag plays a significant part in missile trajectory, and lasts until missile impact.

 Indonesia membeli pesawat tempur sukhoi secara bertahap 
hingga sebentar lagi menjadi satu Skuadron

 

Missile types


Ballistic missiles can vary widely in range and use, and are often divided into categories based on range. Various schemes are used by different countries to categorize the ranges of ballistic missiles:
Short- and medium-range missiles are often collectively referred to as theater or tactical ballistic missiles (TBMs). Long and medium-range ballistic missiles are generally designed to deliver nuclear weapons because their payload is too limited for conventional explosives to be cost-effective (though the U.S. is evaluating the idea of a conventionally-armed ICBM for near-instant global air strike capability despite the high costs).

The flight phases are like those for ICBMs, except with no exoatmospheric phase for missiles with ranges less than about 350 km.


 MIM-104 Patriot missile being launched

Technology

 

Guided missiles have a number of different system components:

Guidance systems

 


Missiles may be targeted in a number of ways. The most common method is to use some form of radiation, such as infrared, lasers or radio waves, to guide the missile onto its target. This radiation may emanate from the target (such as the heat of an engine or the radio waves from an enemy radar), it may be provided by the missile itself (such as a radar) or it may be provided by a friendly third party (such as the radar of the launch vehicle/platform, or a laser designator operated by friendly infantry). The first two are often known as fire-and-forget as they need no further support or control from the launch vehicle/platform in order to function. Another method is to use a TV camera—using either visible light or infra-red—in order to see the target. The picture may be used either by a human operator who steers the missile onto its target, or by a computer doing much the same job. One of the more bizarre guidance methods instead used a pigeon to steer the missile to its target.

Many missiles use a combination of two or more of the above methods, to improve accuracy and the chances of a successful engagement.

Targeting systems

 

 

Another method is to target the missile by knowing the location of the target, and using a guidance system such as INS, TERCOM or GPS. This guidance system guides the missile by knowing the missile's current position and the position of the target, and then calculating a course between them. This job can also be performed somewhat crudely by a human operator who can see the target and the missile, and guides it using either cable or radio based remote-control, or by an automatic system that can simultaneously track the target and the missile.

Flight system

 

 

Whether a guided missile uses a targeting system, a guidance system or both, it needs a flight system. The flight system uses the data from the targeting or guidance system to maneuver the missile in flight, allowing it to counter inaccuracies in the missile or to follow a moving target. There are two main systems: vectored thrust (for missiles that are powered throughout the guidance phase of their flight) and aerodynamic maneuvering (wings, fins, canards, etc.).

Engine

 

 

Missiles are powered by an engine, generally either a type of rocket or jet engine. Rockets are generally of the solid fuel type for ease of maintenance and fast deployment, although some larger ballistic missiles use liquid fuel rockets. Jet engines are generally used in cruise missiles, most commonly of the turbojet type, due to its relative simplicity and low frontal area. Turbofans and ramjets are the only other common forms of jet engine propulsion, although any type of engine could theoretically be used. Missiles often have multiple engine stages, particularly in those launched from the ground. These stages may all be of similar types or may include a mix of engine types - for example, ground-launched cruise missiles often have a rocket booster for launching and a jet engine for sustained flight.

Some missiles may have additional propulsion from another source at launch; for example the V1 was launched by a catapult and the MGM-51 was fired out of a tank gun (using a smaller charge than would be used for a shell).

Warhead

 

 

Missiles generally have one or more explosive warheads, although other weapon types may also be used. The warhead or warheads of a missile provides its primary destructive power (many missiles have extensive secondary destructive power due to the high kinetic energy of the weapon and unburnt fuel that may be on board). Warheads are most commonly of the high explosive type, often employing shaped charges to exploit the accuracy of a guided weapon to destroy hardened targets. Other warhead types include submunitions, incendiaries, nuclear weapons, chemical, biological or radiological weapons or kinetic energy penetrators. Warheadless missiles are often used for testing and training purposes.


Missile Defense Systems
 
Missile defense is a system, weapon, or technology involved in the detection, tracking, interception and destruction of attacking missiles. Originally conceived as a defence against nuclear-armed Intercontinental ballistic missiles (ICBMs), its application has broadened to include shorter-ranged non-nuclear tactical and theater missiles.

http://www.mda.mil
The Missile Defense Agency

Command, Control, Battle Management, and Communications (C2BMC)

 

The Command, Control, Battle Management, and Communications (C2BMC) program is the hub of the Ballistic Missile Defense System (BMDS). It is a vital operational system that enables the U.S. president, secretary of defense and combatant commanders at strategic, regional and operational levels to systematically plan ballistic missile defense operations, to collectively see the battle develop, and to dynamically manage designated networked sensors and weapons systems to achieve global and regional mission objectives. 

C2BMC creates a layered missile defense capability that enables an optimized response to threats of all ranges in all phases of flight. C2BMC is the force multiplier that globally and regionally networks, integrates and synchronizes stand-alone missile defense systems and operations to optimize performance. C2BMC globally links, integrates and synchronizes individual missile defense elements, systems and operations, and therefore, it is an integral part of all system ground and flight tests which verify and exercise all current and future BMDS capabilities.

Through its operational software and networks, the C2BMC program provides redundant connectivity and enables on-site operations and sustainment for global combatant commanders. It provides key BMDS operational services through five product lines:

1. Ballistic Missile Defense Planner

  • Provides warfighters the capability to explore the effectiveness of various defensive plans.
  • Supports three types of planning crossing all phases of military operations: Adaptive/Deliberate, Crisis Action, and Dynamic Planning. .

2. Command and Control

  • Provides situational awareness by turning detailed data into decision quality information combatant commanders can employ in the event of a missile threat.
  • Emphasizes a common, single, integrated ballistic missile picture and provides the status of the overall BMDS, from the president down to the operational levels of command.

3. Global Engagement Manager

  • Provides the first true BMDS battle management capability through C2BMC.
  • Acts as a force multiplier to achieve integrated, layered ballistic missile defense through improved sensor resource management and engagement coordination.

4. Ballistic Missile Defense Network

  • Aligns and integrates the individual sensors and weapon elements of the BMDS.
  • Provides robust, high-availability connectivity to quickly and unambiguously share information across the global BMDS.

5. Concurrent Test, Training, and Operations

  • Meets the warfighter’s requirements for a capability to sustain BMDS operations while supporting concurrent Research, Development, Test & Evaluation and maintenance.
  • Enables the warfighter to conduct distributed, high–fidelity, end-to-end training for missile defense operations. 
Unduh Petunjuk: The Ballistic Missile Defense System 

http://www.mda.mil/global/documents/pdf/bmds.pdf

Pusdikarhanud: Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara
''VYATA ANIKA BHUANA'' :
Yang berarti tempat mendidik dan menggembleng Prajurit yang akan menjaga angkasa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Bagian-Bagian Sistem Pertahanan Misil

Defense systems and initiatives

 




Penulis dan Ilmuwan Muda Bersama Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran beserta rombongan Presidency Center for Innovation and Technology Cooperation (CITC) Iran,
yang dipimpin oleh Dr. Hamid Reza Amirinia, M.Sc.


Semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia Tetap Jaya di Darat, Laut, Udara dan Antariksa

Insha Allah

Amin


Semangat Indonesia Bisa

Friday, 21 December 2012

Mengembangkan Multimedia Pembelajaran Fisika



Pengertian Multimedia Pembelajaran 
Rosch menyatakan bahwa multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video. Sementara Mc. Cormick mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu suara, gambar, dan teks. Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat yang dapat menciptkakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, auido, dan gambar video (Suyanto, 2003: 5). 

Ade Cahyana dan Devi Munandar (2008) memberikan definisi teknologi multimedia sebagai perpaduan dari teknologi komputer baik perangkat keras maupun perangkat lunak dengan teknologi elektronik. Menurut keduanya sekarang ini perkembangan serta pemanfaatan teknologi multimedia banyak digunakan hampir di seluruh aspek kegiatan. 

Dalam buku yang berjudul ”The Developers Handbook to Interaktive Multimedia”, Rob Philip (1997: 8) menjelaskan : ”The term ‘multimedia’ is a catch-all phrase to describe the new wave of computer software that primarily deals with the provisions of information. The ’multimedia’ component is characterized by the presence of text, picture, sound, animation and video; some or all wich are organized into some coherence program. The ‘interactive’ component refers to the process of empowering the user to control the environment usually by a computer.” 

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan perpaduan dari beberapa elemen informasi yang dapat berupa teks, gambar, suara, animasi, dan video. Program multimedia biasanya bersifat interaktif.

Minute Physics: Common Physics Misconceptions 



Minute Physics adalah kumpulan berbagai macam Video Pembelajaran Fisika yang menjelaskan fisika dengan hanya beberapa menit.

Komponen Multimedia Pembelajaran 

Hofstetter sebagaimana dikutip oleh Suyanto menyatakan bahwa terdapat empat komponen penting dalam multimedia. 

Empat komponen tersebut adalah:
(a) komputer, yang berfungsi untuk mengkoordinasikan apa yang dilihat dan didengar, serta berinteraksi dengan user; 
(b) link, yang menghubungkan user dengan informasi yang ada dalam program multimedia;
(c) alat navigasi, yang berguna untuk memandu user dalam menjelajah informasi; 
(d) ruang untuk mengumpulkan, memproses, dan mengkomunikasikan gagasan user (2003: 52).

Empat komponen multimedia yang disebutkan oleh Hofstetter di atas merupakan bentuk dari adanya interaktivitas dalam multimedia. Interaktivitas merupakan pusat perhatian utama dalam desain seting media pembelajaran seperti computer assisted instruction (CAI), computer assisted learning (CAL), dan online learning environments (Hsinyi Peng: 2008). 

Perangkat multimedia yang berbasis komputer dibedakan menjadi perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras multimedia terdiri dari empat unsur utama yaitu: input unit, central processing unit, memory, dan output unit. Unit input adalah bagian penerima dan memasukkan data maupun instruksi. 

Central Processing Unit (CPU) berperan melaksanakan dan mengatur instruksi, termasuk menghitung dan membandingkan. Memory atau storage merupakan bagian yang berfungsi untuk menyimpan informasi. Sedangkan unit output berfungsi sebagai penyaji informasi.

MULTIMEDIA INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN FISIKA 

Siswa kurang tertarik belajar fisika disebabkan guru tidak memanfaatkan media yang menarik bagi siswa pada saat proses pembelajaran (Siti, 2007). Pembelajaran merupakan usaha dari pendidik agar peserta didik dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari dengan cara mengajak peserta didik untuk berfikir (Darsono, 2000:24).

Kemajuan teknologi yang berkembang dengan cepat memberikan pengaruh di bidang pendidikan. Dunia pendidikan dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan informasi. Pemanfaatan kemajuan teknologi mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar (Aryono, 2006). Kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang menarik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (Siti, 2007).

Multimedia interaktif (MMI) merupakan model pembelajaran yang menarik berbasis teknologi. Model pembelajaran multimedia interaktif (MMI) diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar (Muhammad ; Setiawan dalam Samsudin, 2008).


Astrophysics TV

 

 

Astrophysics TV
The Future of Astronout 
[Klik Gambarnya Pembaca akan terhubung ke Astrophysics TV]

Astrophysics TV adalah sebuah Saluran di YouTube yang Penulis Susun untuk mengumpulkan multimedia Pembelajaran Astro Fisika. 

Sumber:

1. Sutirman's Site; Berpikir dan Bekerja untuk Bangsa
2. Djuhernaidi Jacub: MULTIMEDIA INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN FISIKA
3. Mata Kuliah Multimedia Pembelajaran Fisika

Kunjungi Juga:

1.NASA - NASA TV

2.Discovery Channel : Science, History, Space

3.MIT Tech TV

4.BBC - Science & Nature

Ucapan Terima Kasih:

Anak-anakku Para Siswa di SMA Budi Luhur, Rekan-rekan Pengajar, Bapak Ibu Guru dan Bapak Kepala Sekolah, Para Dosen di Jurusan Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Dan sahabat-sahabatku yang kucintai dan kubanggakan.

Semoga Bermanfaat