Friday, 12 July 2013

Ekspedisi Ilmiah Ramadhan I: Pesona Parahyangan

Hari rabu seminggu kemarin tanggal 3 Juli 2013, penulis berkesempatan pulang kampung, bersua dengan keluarga, sahabat dan kerabat serta menghadiri acara "Walimatul Ursy" seorang sahabat semasa SMA yang pernah berguru di Universitas Padjajaran.

"Munggahan" kata umat muslim Sunda mah, menyusuri alam "Endah" Parahiyangan dari kota Kembang hingga kampung tercinta Bangunharja, sungguh pesona Alam yang tiada dua, tatar Sunda, Tanah Siliwangi, Parahiyangan.

Sepanjang perjalanan terlihat sawah, hutan menghijau meskipun ada sebagian yang sudah gundul, pertanda alam sudah tidak asri lagi. Kabupaten Bandung dan Garut begitu sangat luas, di kanan kiri jalan banyak terpampang para wajah Caleg-Caleg yang menjajakan visi-misinya.

Semoga mereka semua berniat amanah dan memajukan daerahnya masing-masing menjadi sebuah tempat yang "merenah" bagi masyarakatnya.

"Pesawat" Budiman mendarat dengan selamat di Kota Resik, Kota Para Santri, sempat melihat kemajuan yang sangat signifikan di kota ini berkat kerajinan serta keuletan para penduduknya.

Legenda Parahiyangan

Parahyangan atau Priangan (Bahasa Belanda: Preanger) adalah daerah kebudayaan Sunda di Jawa Barat yang luasnya mencakup wilayah Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. 

Priangan atau Parahyangan sering diartikan sebagai tempat para rahyang atau hyang. Masyarakat Sunda kuna percaya bahwa roh leluhur atau para dewa menghuni tempat-tempat yang luhur dan tinggi, maka wilayah pegunungan dianggap sebagai tempat hyang bersemayam. 

Berasal dari gabungan kata para-hyang-an; para menunjukkan bentuk jamak, sedangkan akhiran -an menunjukkan tempat, jadi Parahyangan berarti tempat para hyang bersemayam. 

Sejak zaman Kerajaan Sunda, wilayah jajaran pengunungan di tengah Jawa Barat dianggap sebagai kawasan suci tempat hyang bersemayam. 

Menurut legenda Sunda, tanah Priangan tercipta ketika para dewa tersenyum dan mencurahkan semua berkah, kasih sayang dan restu-Nya. 

Sehingga masyarakatnya terkenal akan kelemah lembutannya, kecantikan bahkan karakter perdamaiannya yang konon satu-satunya daerah kerajaan di Nusantara yang tidak suka berperang serta bersifat non expansive[Bukan Kerajaan Penakluk/Penjajah]. 

Kisah Legenda Tatar Parahiyangan tersebut mungkin  bermaksud untuk menunjukkan keindahan dan kemolekan alam Tatar Sunda yang subur, makmur, gemah, ripah, repeh, rapih, tata, tentram, kerta raharja, adil palamarta.

Kota Banjar Somahna Bagja di Buana

Melewati Situs Karangkamulyan, Kecamatan Cisaga dan akhirnya mendarat di Kota tempat penulis menuntut ilmu sedari SMP dan SMA. Banjar sebuah kota kecil yang luar biasa pertumbuhan kemajuannya yang dipimpin oleh Bpk. Dr. dr. H. Herman Sutrisno, M.M.

Karena penulis jarang pulang kampung dan melihat kota ini, maka saya menyimpulkan kota ini sudah jauh berbeda sejak 1 Dekade [10 Tahun] yang silam, bahkan telah meraih adipura. Apabila kebijakan baik tersebut terus dipelihara dan ditingkatkan maka 25 tahun kedepan Kota ini siap menjadi kota yang maju.

[cat: Pertumbuhan ekonomi daerah harus diatas 10% per-tahun secara konsisten selama 25 tahun itu: Dengan Prioritas Pembangunan SDM dan Infrastruktur]

Berjumpa dengan seorang sahabat karib Kang Deni Nugraha yang sedang belajar di STISIP Bina Putra dan mengabdi di Desanya serta bertemu dengan Abang Kurniawan yang telah menjadi Dosen di STIKES Bina Putra Banjar, sungguh hebat mereka, saya bangga sekali melihat keberhasilan teman-teman yang sudah jauh melampaui penulis. 

Akhirnya kami berangkat ke acara "Walimatul Ursy" sahabat kami, mendoakannya semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warohmah.

Semoga saja kami pun "ketularan" berkahnya he.,.he.,he., amin. Semangat.

Sekertariat Forsalim Sebagai Tempat Mengembangkan Ilmu
Karena hari sudah gelap dan cuaca cendrung hujan saya memutuskan untuk menginap di Sekertariat FORSALIM yang didirikan oleh Kang Agus Haeruman, S.Si. di dalamnya tentu penuh dengan buku-buku yang membuat penulis betah berlama-lama, asyik banget kalau udah ketemu buku he.,he., sebelum pulang kampung halaman tentunya.


Sempat membaca buku: 

When China Rules the World: Ketika China Menguasai Dunia 
Karya Dr. Martin Jacques
Habibie: Kecil Tapi Otak Semua 
Karya: Dr. Andi Makmur Makka
Serta buku-buku Kejayaan Peradaban Islam masa lalu.
  

Kami mempunyai impian bahwa suatu saat Sekertariat ini mampu berkembang menjadi sebuah Kompleks Sekolah Islami di Kota ini dan menyekolahkan anak-anak hebat dari daerah ini ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Amin.

Saya pun mempunyai ide untuk mengadakan sebuah Ekspedisi Ilmiah selama Bulan Suci Ramadhan di sekitar daerah Periangan ini yang bertujuan menambah pengalaman dan wawasan.

Lalu apakah Ekspedisi Ilmiah Itu?

To Be Continued

Bagaimana Shaum Ramadhan di Antariksa?

Sepanjang sejarah, baru ada 9 astronot muslim yang terbang ke luar angkasa dan Sheikh Muszaphar Shukor dari Malaysia merupakan yang pertama yang mempraktikkan shalat, dan sahaum Ramadhan di luar angkasa yang memiliki gravitasi nol.

Sheikh Muszaphar Shukor Al Masrie bin Sheikh Mustapha 
Born on July 27, 1972 is a Malaysian orthopaedic surgeon and 
was the first Malaysian to go into space.


Sang pembuat film dokumenter No.1 yang berdurasi 90 menit ini, Imran Ismail, menyatakan adegan tersebut menunjukkan betapa agama dan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan.

"Ilmu pengetahuan adalah bagian dari agama. Beberapa elemen ilmu pengetahuan bisa ditemukan di dalam Alquran. Bahkan di luar angkasa. Dalam film dokumenter 'No. 1' ini, Anda akan melihat astronot pertama Malayasia menunaikan ibadah salat di luar angkasa," tutur Imran. 

Ekspedisi Sheikh di luar angkasa ini bertepatan dengan bulan Ramadan saat itu [Rabu, 10 Oktober 2007], sehingga Majelis Fatwa Nasional Malaysia sengaja menerbitkan buku petunjuk pertama bagi umat muslim yang tengah berada di luar angkasa. 

Buku petunjuk berjudul 'Guidelines for Performing Islamic Rites' ini terdiri atas 18 halaman yang berisi petunjuk-petunjuk dan tips, seperti bagaimana melakukan ibadah salat dalam lingkungan yang minim gravitasi, mencari posisi Mekkah dari luar angkasa, bagaimana menentukan waktu salat dan hal-hal lain berkaitan dengan ibadah puasa di luar angkasa. 

Sheikh yang merupakan seorang ahli bedah ortopedi ini, terpilih menjadi astronot Malaysia pertama bersama dengan seorang dokter gigi militer bernama Faiz Khaleed sebagai astronot cadangan.

Keduanya mendapat pelatihan intensif selama 18 bulan di Rusia sebelum salah satunya terbang ke luar angkasa.


Dr. Sheikh Muszaphar Bersama Istri dan Anak-Anaknya Berkesempatan Mengunjungi Bali, Indonesia
pada Bulan Maret 2013 lalu


Semoga Bangsa Indonesia dapat lebih hebat lagi dalam bidang Iptek Antariksa ini.

Amin.

Semangat Bisa!

Thursday, 11 July 2013

Imkanur Rukyat: Sebuah Titik Temu Perbedaan

"Persatuan Ummat harus dibangun dengan kesepakatan. Kalau perbedaan bisa diselesaikan dengan kesepakatan kriteria, mengapa perbedaan harus dipelihara?"
 *Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.*


Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari).

Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan "cahaya langit" sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 7 derajat. 

Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ilmu tersebut.

Imkanur Rukyat

Selama ini belum ada penelitian sistematik tentang kriteria imkanur rukyat berdasarkan data rukyatul hilal di Indonesia. Kriteria yang digunakan Badan Hisab Rukyat Depag RI dari kesepakatan Musyawarah III MABIMS 1992 adalah kriteria imkanur rukyat sebagai berikut: tinggi hilal minimum 2 derajat, jarak bulan dari matahari minimum 3 derajat, dan umur bulan (dihitung sejak saat ijtima’) pada saat matahari terbenam minimum 8 jam.

Kriteria itu tampaknya diturunkan dari rekor minimum pengamatan di Indonesia pada 16 September 1974. Kriteria imkanur rukyat tersebut lebih rendah daripada kriteria yang diakui para astronom. Hal itu menjadi alasan bagi Muhammadiyah sehingga belum bersedia menggunakan kriteria tersebut. Saat ini yang digunakan Muhammadiyah adalah kriteria wujudul hilal.

Kriteria imkanur rukyat ditentukan berdasarkan keberhasilan pengamatan hilal. Kriteria dasar yang dapat digunakan berdasarkan pengamatan dan model teoritik astronomi adalah limit Danjon: hilal tidak mungkin teramati bila jarak bulan-matahari kurang dari 7 derajat.

Kriteria lain di antaranya dikembangkan oleh Mohammad Ilyas dari IICP (International Islamic Calendar Programme), Malaysia. Kriteria imkanur rukyat yang dirumuskan IICP meliputi tiga kriteria.

Pertama, kriteria posisi bulan dan matahari: Beda tinggi bulan-matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan – matahari lebih dari 45 derajat, bila beda azimutnya 0 derajat perlu beda tinggi lebih dari 10,5 derajat.

Kedua, kriteria beda waktu terbenam: Sekurang-kurangnya bulan 40 menit lebih lambat terbenam daripada matahari dan memerlukan beda waktu lebih besar untuk daerah di lintang tinggi, terutama pada musim dingin.

Ketiga, kriteria umur bulan (dihitung sejak ijtima’): Hilal harus berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi.

Kriteria IICP sebenarnya belum final, mungkin berubah dengan adanya lebih banyak data. Kriteria berdasarkan umur bulan dan beda posisi nampaknya kuat dipengaruhi jarak bulan-bumi dan posisi lintang ekliptika bulan, bukan hanya faktor geografis.

Rekor pengamatan hilal termuda bisa dijadikan bukti kelemahan kriteria beda posisi dan umur hilal. Rekor keberhasilan pengamatan hilal termuda tercatat pada umur hilal 13 jam 24 menit yang teramati pada tanggal 5 Mei 1989 (pada saat jarak bumi-bulan relatif paling dekat).

Inilah beberapa contoh makalah ilmiah tentang visibilitas hilal (imkan rukyat) di majalah atau jurnal astronomi:

1. Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

2. Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

3. Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

4. Schaefer, BE, 1991, “Length of the Lunar Crescent”, Q. J. R. Astr. Soc., Vol. 32, p. 265 – 277.

5. Yallops, DB, 1998, “A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon”, HM Nautical Almanac Office, NAO Technical Note No. 69.

 

Sumber:

Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama