Monday, 7 January 2013

Grand Unification Theory: Memahami Teori Pamungkas Tentang Alam Semesta

"Selalu ingat untuk memandang tinggi ke bintang, bukan melihat ke bawah, coba untuk mencerna apa yang kamu lihat dan tentang apa yang membuat semesta ada. Selalu penasaran. Dan betapapun sulit kehidupan, selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan dan sukses" 
~Prof. Stephen Hawking, Ph.D., Fisikawan Legendaris~

Prof. Stephen William Hawking
Fields
Institutions
Alma mater
Doctoral advisor Dennis Sciama
Other academic advisors Robert Berman
Notable student
Known for
Notable awards


Keterbatasan Tidak Menjadi Penghalang Untuk Berkarya

Prof. Hawking  kembali bangkit dan bermimpi, “Saya akan mengorbankan hidup saya untuk menyelamatkan hidup orang lain”. kata penerus Black Hole Theory (teori lubang hitam) yang ditemukan Einstein.

Saat itu ia kembali melakukan penelitian. Dan sepertinya, kehadiran Hawking di dunia sudah ditunggu-tunggu untuk meneruskan pekerjaan Newton dan Einstein dalam mengupas tabir semesta.

Seluruh riset Hawking dilakukan di dalam kepalanya, karena proses kelumpuhan tangannya yang berjalan berangsur-angsur. Secara perlahan pula dia melatih pikirannya untuk berpikir dengan cara yang berbeda dengan fisikawan pada umumnya.
Selama 50 tahun dari usianya yang kini 70 tahun, Prof. Hawking menghabiskan waktunya di kursi roda. Saat ini Hawking membutuhkan perawatan 24 jam. Diyakini pikirannya yang tajam yang mampu membuatnya bertahan hidup meski raganya sudah sangat tak berdaya.

Grand Unification Theory: Teori Kemanunggalan Agung
Sekelompok mahasiswa di Universitas Wisconsin, Madison, USA pernah menampilkan Drama Singkat. Mereka mengangkat sebuah peti mati besar yang ditutup selembar kain hitam. 
Ketika kain disingkap, tampak tulisan besar: 
PHYSICS HAS DONE. Ya, Fisika sudah selesai, telah berakhir. 
Namun benarkah demikian? 
Untuk sampai pada jawaban "Benar-Tidak", telah dilakukan pergulatan selama berabad-abad. Mulai dari Newton sampai Einstein hingga saat ini Stephen W. Hawking. Dari era klasik sampai zaman super modern nan canggih saat ini.
Bahkan mendiang Prof. A. Einstein pernah memimpikan apa yang dinamakan PENYATUAN gaya atau interaksi alamiah di alam semesta menjadi sebuah persamaan gabungan TUNGGAL. 

Kala itu mendiang Prof. Einstein berusaha melebur dua gaya alamiah yang telah sangat dikenal, Elektromagnetik dan Gravitasi. Sampai akhir hayat, beliau belum berhasil melakukannya. Rintisan yang telah dimulai oleh para fisikawan dan ilmuwan terdahulu tidaklah berlalu begitu saja. Banyak sudah yang telah dikerjakan para penerus mereka, dengan penuh kesabaran dan ketekunan mempelajari keindahan alam serta keagungan penciptaNya. 

Saat ini justru usaha penyatuan gaya-gaya alamiah itu tidak hanya menyangkut gravitasi dan elektromagnetik saja, namun juga merambah ke gaya Nuklir Lemah dan gaya Nuklir Kuat. 

Penghargaan Atas Karya Agung Usaha ini telah membuahkan hasil dan diganjar dengan penghargaan Nobel Fisika pada tahun 1979 Kepada Tiga orang Ilmuwan Legendaris yakni: Prof. Sheldon Lee Glashow dari Universitas Harvard, Prof. Abdus Salam dari Universitas Cambridge pendiri International Center for Theoretical Physics (ICTP) dan Prof. Steven Weinberg dari MIT atas karyanya menyatukan Teori Gabungan Interaksi Nuklir Lemah, Nuklir Kuat dan Elektromagnetisme antarpartikel dasar termasuk perkiraan arus netral.

The fact that the electric charges of electrons and protons seem to cancel each other exactly to extreme precision is essential for the existence of the macroscopic world as we know it, but this important property of elementary particles is not explained in the Standard Model of particle physics. While the description of strong and weak interactions within the Standard Model is based on gauge symmetries governed by the simple symmetry groups SU(3) and SU(2) which allow only discrete charges, the remaining component, the weak hypercharge interaction is described by an abelian symmetry U(1) which in principle allows for arbitrary charge assignments. 

The observed charge quantization, namely the fact that all known elementary particles carry electric charges which appear to be exact multiples of 13 of the "elementary" charge, has led to the idea that hypercharge interactions and possibly the strong and weak interactions might be embedded in one Grand Unified interaction described by a single, larger simple symmetry group containing the Standard Model. This would automatically predict the quantized nature and values of all elementary particle charges. Since this also results in a prediction for the relative strengths of the fundamental interactions which we observe, in particular the weak mixing angle, Grand Unification ideally reduces the number of independent input parameters, but is also constrained by observations.

Grand Unification is reminiscent of the unification of electric and magnetic forces by Maxwell's theory of electromagnetism in the 19th century, but its physical implications and mathematical structure are qualitatively different.

Pengaruh Fisika Terapan
Applied physics is a general term for physics research which is intended for a particular use. An applied physics curriculum usually contains a few classes in an applied discipline, like geology or electrical engineering. It usually differs from engineering in that an applied physicist may not be designing something in particular, but rather is using physics or conducting physics research with the aim of developing new technologies or solving a problem.

The approach is similar to that of applied mathematics. Applied physicists can also be interested in the use of physics for scientific research. For instance, people working on accelerator physics might seek to build better particle detectors for research in theoretical physics.

Physics is used heavily in engineering. For example, statics, a subfield of mechanics, is used in the building of bridges and other structures. The understanding and use of acoustics results in better concert halls; similarly, the use of optics creates better optical devices. An understanding of physics makes for more realistic flight simulators, video games, and movies, and is often critical in forensic investigations.

With the standard consensus that the laws of physics are universal and do not change with time, physics can be used to study things that would ordinarily be mired in uncertainty. For example, in the study of the origin of the earth, one can reasonably model earth's mass, temperature, and rate of rotation, over time. It also allows for simulations in engineering which drastically speed up the development of a new technology.

But there is also considerable interdisciplinarity in the physicist's methods and so many other important fields are influenced by physics, e.g. the fields of econophysics and sociophysics.

Main branches
Related fields
Interdisciplinary fields incorporating physics

Renungan
Usaha mencari dan memahami tingkah laku Alam Semesta lewat pendalaman ilmu memang sangat menggelitik dan menarik, sesungguhnya usaha ini adalah tidak lain untuk mengungkap keindahan dan kemuliaan jagat raya cosmos dan tentu saja Ke-Maha'an Penciptanya. Dengan demikian pergulatan dan perenungan ini akan senantiasa ada hingga akhir batas usia umat manusia serta tapal batas semesta dengan berbagai macam dimensi yang terkandung di dalamnya.

Semoga kita senantiasa dijadikan manusia yang dekat kepada-Nya.

Mari Belajar Belajar dan Belajar Para Pelajar Indonesia

Semangat!

Wallohualam bissawab.

"Berhenti mengecam dan mengutuki kegelapan, mari segera nyalakan cahaya, sekedar mengecam dan memaki kegelapan tak akan mengubah apapun. Nyalakan cahaya lakukan sesuatu"
~Arip Nurahman~

Sumber: 

1. Arip Nurahman Notes
2. Seabad Pemenang Hadiah Nobel Fisika 
3. Theory of Everything: Gelegar Teori Pamungkas Tentang Alam Semesta 
4. Dari Atomos Hingga Quark 
5. String Theory and M-Theory

Sunday, 6 January 2013

Memperkuat Fondasi Ilmu Pengetahuan Kita dengan Riset Berkelanjutan

On a recent official visit to southeast Asia, a prime minister asked me: "What does it take to get a Nobel prize?" I answered immediately: "Invest in basic research and recruit the best minds." 
~Prof. Ahmed Hassan Zewail, Ph.D., 1999 Nobel Laureate in Chemistry~


Akhir-akhir ini kita mensinyalir bahwa Iptek Indonesia sudah mencapai titik nadir. Lembaga-lembaga penelitian kita sudah termarjinalisasi, suatu fenomena yang dapat langsung dilihat dari rendahnya kualitas hasil riset. Timbul pertanyaan, apa atau siapa yang menyebabkan hal ini?

Jawabnya mungkin banyak, namun jika kita mau jujur: kita semualah penyebabnya. Komunitas ilmiah dan masyarakat umum telah bahu-membahu menekan kualitas riset.
Dukungan masyarakat dan industri juga tidak kalah besarnya. Masyarakat hanya memerlukan perguruan tinggi sebagai lembaga pencetak gelar. Semakin mudah memperoleh gelar, semakin banyak peminatnya. 

Sementara itu, pihak industri semata-mata bertindak sebagai “pedagang” teknologi. Teknologi dibeli dari luar, dipermak, kemudian dipasarkan di dalam negeri bak barang asongan. Sedikit sekali, jika tidak boleh dikatakan tidak ada, motivasi untuk mengembangkan sendiri teknologi melalui riset. Mungkin, hal ini dipicu oleh motivasi menggandakan uang secepat mungkin, sementara hasil riset yang ditawarkan para peneliti umumnya berkualitas rendah. 

Riset Berbasis Kompetensi 

Melihat problem di atas maka sebaiknya penetapan tema riset unggulan nasional didasarkan pada kompetensi SDM kita, sebab kita dihadapkan pada persaingan global. Riset harus menghasilkan sesuatu yang baru secara universal. Jika di satu bidang kita tidak memiliki SDM yang kompeten untuk melaksanakannya, maka argumentasi untuk tetap bertahan di sana terlalu lemah.

Pemerintah sebaiknya segera memetakan kekuatan SDM yang ada sebelum menetapkan kriteria riset unggulan. Jika tidak, kemungkinan triliunan rupiah yang dialokasikan hanya akan berakhir sebagai laporan riset yang bertumpuk di kantor-kantor birokrat, berdebu, dimakan rayap, dan akhirnya dibuang ke dalam tong sampah. Tentu saja hal ini tidak sepenuhnya benar untuk riset-riset strategis.

Kolaborasi Riset Internasional 

Harus diakui bahwa cara paling efektif untuk mendongkrak kualitas riset adalah melalui kolaborasi internasional, karena para peneliti akan dipaksa untuk melakukan riset berkualitas dan belajar dari kolega mereka yang jauh lebih mapan.

Namun, patut disadari juga bahwa menjalin kerjasama internasional bukanlah hal mudah, terutama jika kita ingin bekerjasama dengan kelompok peneliti dari universitas papan atas di negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Eropa, yang selain memiliki sumber dana besar juga telah memiliki SDM unggul.

Meski demikian, kita masih dapat berharap dari beberapa institusi riset mapan yang memiliki program-program bantuan (charity) bagi peneliti dari negara berkembang. Pilihan selanjutnya tentu saja dengan second-class university, yang jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kesalahan utama kita di sini adalah seringnya menilai keberhasilan kerjasama riset dari jumlah MOU. MOU merupakan payung hukum yang tentu saja diperlukan jika telah memiliki infrastruktur. Namun payung-payung tersebut sering dibuat tanpa mempersiapkan dahulu apa yang akan dipayungi.

Kerjasama yang bersifat individual mungkin lebih tepat saat ini, karena jauh lebih fleksibel dan efisien. Jika secara kualitas dan kuantitas kerjasama semacam itu telah meningkat, dan memerlukan koordinasi formal, barulah MOU diperlukan. 

Kriteria Riset yang Baik

Kriteria riset yang baik sangat diperlukan untuk memperbaiki mutu riset nasional. Agak sulit untuk mendapatkan kriteria baku bagi semua disiplin ilmu, namun untuk bidang sains dan teknologi tampaknya riset yang baik akan menghasilkan paling tidak satu dari tiga poin berikut:

(1) Produk atau inovasi baru yang dapat langsung dipakai oleh industri (bukan hanya sebatas prototipe),
(2) Paten, atau
(3) Publikasi di jurnal internasional.


Campur Tangan Pemerintah

Dari argumen di atas terlihat pentingya campur tangan pemerintah dalam memperbaiki mutu riset nasional. Pemerintah sebaiknya segera memetakan “kekuatan” peneliti-peneliti kita dan meninjau ulang definisi riset unggulan nasional. Para peneliti harus difasilitasi untuk menjalin kerjasama riset internasional secara individual, sementara strategi penjaringan proposal riset sudah saatnya direvisi. Selain apresiasi terhadap para peneliti harus ditingkatkan melalui peningkatan alokasi dana riset, masyarakat ilmiah dan umum juga harus dididik untuk lebih mendahulukan esensi riset ketimbang embel-embel formalitas yang saat ini lebih banyak dikejar.




Practical Impacts of Scientific Research

 

 

Discoveries in fundamental science can be world-changing, but often take time to have that effect. For example:
Research Impact
The strange orbit of Mercury and other research
leading to special and general relativity
Satellite-based technology such as GPS, satnav and satellite communications
Radioactivity and antimatter Cancer treatment, PET scans, and medical research (via isotopic labeling)
Immunology Vaccination, leading to the elimination of most infectious diseases from developed countries and the worldwide eradication of smallpox; hygiene, leading to decreased transmission of infectious diseases; antibodies, leading to techniques for disease diagnosis and targeted anticancer therapies.
Crystallography and quantum mechanics Semiconductor devices, hence modern computing and telecommunications including the integration with wireless devices: the mobile phone
Diffraction Optics, hence fiberoptic cable, modern intercontinental communications, and cable TV and internet
Photovoltaic effect Solar cells, hence solar power, solar powered watches, calculators and other devices.
Radio waves Radio had become used in innumerable ways beyond its better-known areas of telephony, and broadcast television and radio entertainment. Other uses included - emergency services, radar (navigation and weather prediction), sonar, medicine, astronomy, wireless communications, and networking. Radio waves also led researchers to adjacent frequencies such as microwaves, used worldwide for heating and cooking food.

Cara Mudah Membudayakan Penelitian di Lingkungan Sekolah: 
Melaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah


"Jika kita mampu mentransformasikan sekitar 80 % masyarakat akademis kita menjadi para peneliti handal, kemungkinan bangsa ini akan menjadi negara terkuat dalam bidang riset sangat besar"
~Arip Nurahman~


Apakah Penelitian Tindakan Sekolah?

Penelitian tindakan adalah suatu proses pelaksanaan penelitian yang diperankan oleh pelaksana kegiatan (guru, kepala sekolah, atau pengawas), mereka meneliti tindakannya sendiri dengan sistematis dan menggunakan teknik penelitian secara berhati-hati. Penelitian tindakan merupakan teknik untuk melibatkan orang-orang bekerja untuk meningkatkan keterampilan, teknik, dan strategi dalam melaksanakan pekerjaan. Penelitian tindakan adalah studi tentang bagaimana kita dapat melakukan perubahan. (Eileen Ferrance: 2000. P 6). 

Dengan melaksanakan peneltian tindakan sekolah: guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah menurut Eileen dapat; Mengidentifikasi masalah yang dihadapinya sendiri. Bekerja lebih efektif karena mereka dapat menilai dan mengevaluasi efektivitasnya bekerja serta mempertimbangkan baik tidaknya caranya mereka mendidik dan bekerja. 

Berkerja sama dan saling membantu mengarahkan pekerjaan agar mencapai tujuan. Bekerja sama dalam memperbaiki keterampilan sehingga dapat bekerja lebih profesional. Penelitian Tindakan Sekolah perlu dilakukan secara sistematis. Artinya, peneliti dapat mengidentifikasi komponen input, proses, dan output kegiatan. Dengan pemahaman yang baik mengenai komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan, maka kepala sekola, guru dan tenaga pendidik lain dapat berpikir secara kritis mengenai mutu input dan proses agar dapat menghasilkan mutu output yang memenuhi kriteria yang ditetapkan. 

Jenis Penelitian Tindakan Sekolah

Penelitian tindakan sekolah dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah atau guru yang difokuskan pada masalah yang dihadapinya. Kepsek dan guru  mecari solusi atas permasalahannya, seperti problem manajemen kelas, strategi pembelajaran, manajemen kurikulum, dan bagaimana siswa belajar-guru mengajar. 

Hasil observasi interaksi guru dengan siswa dapat dilaporkan dalam rapat dewan pendidik. Penelitian dapat pula dilaksanakan secara kolaboratif. Penelitian dilakukan secara bersama-sama oleh dua, atau tiga orang, atau kepala sekolah dan beberapa orang guru. 

Masalah yang diteliti bisa jadi merupakan masalah yang dihadapi oleh beberapa orang, misalnya, tentang bagaimana meningkatkan potensi individu siswa melalui kerja sama kelompok. Penelitian dapat dilaksanakan secara individu maupun kolaboratif dengan fokus utama bukan mengobservasi kelas, melainkan terhadap sistem pengelolaan sekolah. 

Misalnya tentang rendahnya partisipasi orang tua siswa, struktur organisasi dan pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan sekolah, atau tentang pelaksanaan pembaruan mutu dalam pemenuhan standar isi, proses, dan penilaian. 

Kiat Praktis Meningkatkan Kompetensi 

Agar para peserta tidak terjebak pada masalah perumusan proposal, maka pelatihan menerapkan stategi yang tidak dimulai dari proposal, namun dari pelaksanaan kegiatan. Penyusuan rancangan kerangka penelitian perlu diwujudkan dalam bentuk tindakan pragmatis. Teknik perancangan penelitian diintegrasikan dengan pelaksanaan program. Ada pun teknik penelitian dilaksanakan melalui beberapa langkah teknis sebagai berikut. 

Langkah Pertama: Perencanaan Program dan Penelitian 

1. Program apa yang akan Kita laksanakan? 

Contoh Judul Program: 

*Pelatihan guru dalam mempraktikan penyusunan rencana pembelajaran inovatif. 
*Peningkatan efektivitas belajar melalui pelaksanaan supervisi akademik. 
*Pelatihan guru dalam mempraktikan metode STAD dan Time Token. 
*Pelatihan guru dalam melaksanakan PTK berkolaborasi. 
*Pelatihan guru dalam praktik menyusun instrumen evaluasi yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis. 

2. Kita memilih salah satu program seperti pada contoh di atas, maka masalah apa yang paling mungkin dapat menjadi kendala pelaksanaan program? Apakah selama ini Anda mengetahui cara nyata dalam pengalaman sehari-hari di sekolah cara mengajar seperti apa yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa? 

3. Apakah Kita akan melaksanakan penelitian tindakan sekolah (untuk mengetahui jawaban atas permasalahan itu) dengan cara mengumpulkan data yang relevan? 

Data Yang Anda perlukan Penelitian tindakan pada hakekatnya untuk memecahkan masalah penelitian sehingga penelitian mencapai tujuan. Data yang Anda perlukan pada dasarnya merupakan catatan bukti fisik yang diperoleh dari kegiatan observasi tindakan sebagai bahan penyusunan laporan dengan susunan sebagai berikut: 

Daftar Isi Laporan Penelitian Tindakan Sekolah:

Untuk mengisi laporan, peneliti perlu merancang perencaan tindakan dan merancang pula tentang kebutuhan informasi atau data yang akan dihimpun melalui penelitian tindakan. Format isian data perencaan program dan perencanaan tindakan sebagai bahan latihan dan praktik obsevasi. 

Format Rekam Jejak Rencana Kegiatan dan Rencana Tindakan:

Format sebagaimana yang sudah Kita lihat selanjutnya dapat Anda gunakan sebagai alat untuk menghimpun data penelitian tindakan sekolah. 

Data yang terhimpun selanjutnya Kita gunakan untuk menyusun laporan tindakan, menuliskan paper ilmiah dan dirujuk untuk menjadi sebuah gerakan yang memperbaiki kualitas sekolah serta kegiatan belajar mengajar.

Bahkan dapat disusun menjadi sebuah buku.



Budaya Membaca, Menulis, Menghitung, Mendesain, Meneliti dan Menghasilkan Produk Berkualitas Baiknya Dikembangkan Sejak Usia Dini.

Semangat Para Pelajar Indonesia Kita Bisa

Insha Allah.

Amin.

Ucapan Terima Kasih:

Bapak Yaya Kardiawarman, M.Sc., Ph.D. [Universitas Pendidikan Indonesia & State University of New York]

Guru dan Dosen Penulis dalam Metode Penelitian

Kepada Seluruh Keluarga dan Sahabat yang mendambakan kemajuan bangsa besar Indonesia.

Sumber:

1. Prof. Dr. rer. nat. Terry Mart, M.Sc.
2. Guru Pembaharu
3. Arip Nurahman Notes


Saturday, 5 January 2013

Perumusan Strategi dan Kebijakan Transfer IPTEKS Super Canggih


"Persyaratan Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Canggih
Pertama, kualitas produk hasil proses nilai tambah tersebut harus senantiasa memenuhi persyaratan minimum kualitas yang dituntut masyarakat pembeli di pasar dalam negeri, regional, dan internasional.
Kedua, dari komoditi teknologi canggih dituntut jadwal penyerahan yang ketat. Produk harus tiba di pasar pada waktunya, tidak terlambat, tidak pula terlalu cepat. Untuk itu, mata rantai perdagangan tidak boleh terlalu panjang.
Ketiga, harganya harus kompetitif. Produk yang dihasilkan harus dapat bersaing di pasar domestik, regional dan internasional."
~Prof. Dr. H. Habibie~ 

Menuju Masyarakat Indonesia yang Berbasis Pengetahuan dan Teknologi Tinggi

1. Modal Pengetahuan Menggunakan pengetahuan untuk mencari terobosan teknologi bagi pembangunan ekonomi yang berdaya saing.

2. Modal Manusia Individu yang mampu berinisiatif dan berkreasi melakukan hal-hal baru dengan semangat kewirausahaan.

3. Modal Sosial Kemampuan membangun kepercayaan, solidaritas sosial, infrastruktur pendidikan, kesehatan dan perekonomian rakyat.

4. Modal Budaya Kemampuan mengembangkan budaya sendiri, serta menyaring dan mengglokalisasikan budaya global.

5. Modal Alam dan Lingkungan Kemampuan menjaga kualitas lingkungan dan sumberdaya alam untuk pembangunan berkelanjutan.

Meskipun peluang ke arah pengalihan dan penguasaan teknologi telah dimungkinkan, tidak berarti bahwa semua teknologi akan dikembangkan di Indonesia. Setiap teknologi yang dialihkan dan dikembangkan harus disesuaikan dengan preferensi budaya, keadaan sosial, dan kondisi-kondisi lingkungan lainnya. Seorang sarjana yang berpendidikan tinggi dalam bidangnya, bila ditempatkan di Alaska teknologinya akan disesuaikan dengan keadaan di Alaska, lain pula halnya bila ditempatkan misalnya di gurun pasir. Demikian pula kalau ahli tersebut ditempatkan di Indonesia, dia harus mengembangkan teknologi dan menerapkannya, sesuai dengan keadaan Indonesia. 

Dalam kaitan ini, sikap hati-hati terhadap setiap masukan teknologi dari luar juga perlu dikembangkan. Sebab, ada kemungkinan bahwa sesuatu negara mau memberikan teknologinya kepada kita dengan tujuan eksperimen dari pengembangan teknologinya sebagaimana halnya terjadi di Timur Tengah, yang telah dipakai oleh beberapa negara sebagai laboratorium untuk menguji sistem persenjataan yang mereka kembangkan. Teknologi yang kita pilih haruslah sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat kita, dan diselaraskan dengan tujuan Pembangunan Nasional secara luas. 

Kesimpulannya, dalam melaksanakan pembinaan serta pengembangan teknologi kita harus meningkatkan, baik teknologi yang bersifat tradisional maupun (mengalihkan) teknologi yang mutakhir. Yang satu harus kita kuasai kembali, yang lainnya harus kita kuasai sebagai hal yang baru. Dalam berbuat kedua-duanya, tujuan pokoknya adalah meningkatkan nilai tambah yang sumber permodalannya berasal dari bumi Indonesia. 

Dalam berupaya demikian, kita harus sadar bahwa justru karena teknologi merupakan sebagian dari keseluruhan bidang kehidupan suatu bangsa, upaya kita dalam mengembangkan serta mengalihkan teknologi itu akan mengalami hambatan-hambatan yang bersifat kultural. Hal ini harus diperhitungkan serta diatasi secara seksama karena jika tidak, maka pengembangan teknologi akan membawa keretakan-keretakan dalam keutuhan kebudayaan tersebut yang mungkin akan dapat menimbulkan keresahan-keresahan dalam masyarakat. 

Future SPACE Science and Technology

1. Orbiting space station well developed

2. Planning of manned missions to Mars

3. Start of preliminary Moon-base construction

4. Space planes in practical use

5. Planning of space factories for commercial production

6. Increasingly regular use of space-lines
 

Kepentingan di Balik Transfer Ilmu Pengetahuan dan Teknologi  Canggih



Kami di Indonesia beranggapan bahwa pada hakikatnya alih teknologi adalah pengalihan pengetahuan dan keterampilan dari manusia kepada manusia. Selanjutnya kami berpendapat bahwa karena teknologi merupakan pengetahuan yang diterapkan, ia tidak mungkin dialihkan dengan hanya sekedar ceramah atau kuliah saja, melainkan bahwa agar berlangsung pengalihannya itu perlu diadakan latihan praktek. Pula agar teknologi dapat dialihkan secara efektif, ia harus dipindahkan, ia harus diterima dan yang lebih penting, teknologi itu perlu dikembangkan berulang-ulang dalam keadaan dunia nyata. Agar teknologi itu dapat dialihkan secara efektif, maka pendidikan formal di negara berkembang harus berlangsung sebagaimana di negara yang sudah maju berdasarkan berbagai program beasiswa atau darmasiswa. 

Sekalipun ini sungguh penting namun belumlah mencukupi. Yaitu karena pokoknya pengembangan teknologi adalah pengembangan kemampuan penduduk negara yang berkembang untuk menerapkan metodologi serta prosedur yang berlaku secara universal terhadap masalah-masalah yang kongkret di lingkungan masyarakatnya sendiri dan untuk lebih menyempurnakan metodologi dan prosedur itu agar mampu  memecahkan masalah secara sesuai dengan lingkungan alam, sosial dan budaya di mana dijumpai aneka masalah, yang perlu dipecahkan karena alih teknologi secara efektif dari negara-negara yang maju adalah menciptakan peluang kongkrit untuk melaksanakannya. Pernyataan di atas memberikan sugesti tentang kemungkinan negara berkembang (baca: Indonesia) untuk melakukan program alih teknologi, bahkan yang tercanggih sekalipun. 

Namun, bahwa proses pengalihan teknologi dari seseorang, sebuah kelompok, sebuah organisasi, kumpulan organisasi dan sebuah masyarakat menuju orang, kelompok, organisasi, kumpulan organisasi, dan masyarakat lain itu tidak dengan sendirinya dapat dilakukan dengan begitu saja. Agar proses itu bisa berhasil, perlu ditunjukkan sikap yang sesuai, perlu diserasikan antara kepentingan pengalih dan penerima teknologi, dan perlu dilakukan persiapan-persiapan yang matang guna mengatasi kendala-kendala, baik di pihak pengalih maupun di pihak penerima. Kedua belah pihak harus bersikap bersahabat. 
 
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Canggih tidak mungkin dipindahkan hanya dengan menyelenggarakan konperensi-konperensi internasional yang setelah mencaci-maki negara maju pemilik teknologi, mengeluarkan suatu resolusi bahwa teknologi negara maju harus secepatnya dialihkan ke negara berkembang dengan cuma-cuma. Cara-cara demikian tidak saja tidak menghormati, tetapi bahkan menganggap tidak ada pengorbanan waktu, tenaga, modal, sumber daya dan hal-hal tak ternilai dengan uang lainnya yang dilakukan pemilik teknologi untuk mengembangkannya. 

Cara-cara demikian juga sama sekali tidak memberikan perangsang pada pemilik teknologi untuk mengalihkannya. Sikap bersahabat merupakan landasan bagi upaya menyerasikan kepentingan kedua belah pihak. Dilihat secara umum, perangsang paling besar bagi pemilik teknologi untuk mau mengalihkan apa yang dimiliki-nya adalah terbukanya peluang bagi perluasan pasar, peningkatan volume penjualan serta meningkatnya dana bagi penelitian dan pengembangan untuk memajukan teknologi lebih lanjut. Dan proses pengalihan ini dimungkinkan jika terdapat kerjasama penelitian dan pengembangan antara pihak pengalih dan pihak penerima teknologi. 

 "Science is a way of thinking much more than it is a body of knowledge."
~Alm. Prof. Carl Sagan~

Future TRANSPORT Technology

1. Interactive vehicle highway systems

2. Use of fiber gyros in car navigation

3. Various traffic information systems in use: These will help with navigation, traffic control, ETA, dynamic routing, monitoring, taxation and crime prevention/detection

4. Energy provided by hydrogen fuel cells and/or solar power

5. Nuclear propulsion systems for various transport types

6. Ships with super conductive electromagnetic thrust

7. Fully automatic ships able to navigate and dock automatically

8. Passenger planes with speed beyond Mach 4 and >300 capacity

10. Super conductive magnetic levitation railways at 500km/h 

Di samping itu, lazimnya pihak pemilik teknologi mempunyai beberapa kepentingan khusus sebagai berikut: 
Pertama, guna mengkompensasikan pengorbanan waktu, tenaga, keahlian dan sumber-sumber daya langka lainnya untuk meguasai suatu teknologi, pemilik teknologi berkepentingan untuk diberi balas jasa langsung dan tidak langsung atas pengalihan teknologi tersebut. Balas jasa langsung lazimnya berupa uang jasa lisensi dan royalti. Sebagai bentuk balas jasa tidak langsung, kepadanya dapat diperlihatkan bahwa teknologinya dimanfaatkan secara baik-baik sehingga pihak penerima teknologi tidak saja menjadi lebih kuat dan lebih terampil, tetapi juga menjadi lebih bertenaga beli sehingga dengan peningkatan pembelian barang dan jasa dari pihak pengalih teknologi, dapat ikut menyumbang pada pembiayaan penelitian dan pengem- bangannya. 

Kedua, hak milik pemilik teknologi atas teknologi yang dikembangkannya itu perlu dilindungi. Tersedianya kerangka peraturan perundang-undangan yang cukup memberi jaminan perlindungan hak milik intelektual dan hak paten merupakan salah satu hal yang perlu dipersiapkan pihak penerima teknologi. 
 
Ketiga, pengalih teknologi mengharapkan bahwa pengalihan teknologinya tidak akan berakibat kehilangan pekerjaan. Untuk memenuhi harapan ini perlu dilakukan pembagian kerja antara pengalih dan penerima teknologi ber-dasarkan pertimbangan faktor-faktor makro dan mikro ekonomis ke dua belah pihak. Menurut saya pribadi, empat puluh sampai enam puluh persen dari proses nilai tambah dilakukan di pihak penerima teknologi, sedangkan sisanya dilakukan di pihak pengalih teknologi. Dengan demikian keduanya akan saling mengisi dan saling menyumbang pada biaya penelitian dan pengembangan kemitraannya.

Di samping pembagian kerja dalam proses nilai tambah perlu juga dilakukan pembagian pasar. Kepada pengalih teknologi harus dijamin bahwa penerima teknologi tidak akan menyainginya di dalam pasarnya sendiri, sedangkan penerima teknologi perlu diberi hak tunggal pemasaran di dalam pasar domestiknya dan/atau wilayah yang berde-katan dengan pasar domestiknya. 

Akhirnya, pemilik teknologi hanya akan mengalihkan teknologinya jika ia yakin bahwa antara pihaknya dan pihak penerima akan terjalin hubungan kerjasama jangka panjang yang saling menguntungkan. 

Hanya dalam keadaan demikian ia tergerak untuk berbagi pengetahuan dan sumber daya ekonominya. 


Future Advanced MATERIALS Science

1. Atomic customization of materials

2. Polymers with conductivity  >  copper at room temperature

3. Material, refractive index variable by 0.1 in electric or magnetic field

4. Intelligent materials with sensors, storage and effectors

5. Aerogels that are heat resistant to 3500 degrees Fahrenheit

6. Metals that memorize their original shape to return to if damaged

7. Use of polymer gels for muscles, bio-reactors, information processing

8. Membranes with active transport and receptors

Di lain pihak, pihak penerima teknologi juga mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu yang mencakup: 

Pertama, ia perlu diberi jaminan bahwa teknologi yang diperolehnya dengan berbagai persyaratan pembagian kerja dan pembagian pasar itu memang merupakan teknologi mutakhir (state of the art technology). 

Kedua, penerima teknologi perlu dijamin bahwa dengan membayar uang jasa tertentu, ia akan selalu memperoleh informasi terakhir mengenai perkembangan-perkembangan terbaru dalam teknologi mutakhir tersebut. 

Ketiga, sumberdaya ekonomi dan manusia pihak penerima teknologi perlu diikutsertakan dalam pengembangan lebih lanjut teknologi tadi. 

Dan keempat, seperti halnya di pihak pengalih teknologi, juga pihak penerima teknologi harus yakin bahwa antara pihaknya dan pihak pengalih akan dapat dijalin hubungan kerjasama jangka panjang yang saling menguntungkan. Akhirnya, agar proses pengalihan teknologi berhasil, perlu dilakukan persiapan yang matang. 

Umumnya dapat dikatakan bahwa persiapan berupa resolusi, deklarasi, memorandum saling pengertian dan keputusan saja tidak cukup. Jauh lebih bermanfaat jika persiapan yang dilakukan ditujukan pada upaya mengatasi beberapa kendala tertentu, baik di pihak penerima maupun di pihak pengalih teknologi. 

Future ROBOTICS

1. Robots will be commonplace, 
e.g. robotic teachers, In home, manufacturing, agriculture, building & construction,  undersea, space, mining, hospitals and streets for repair, construction, maintenance, security, entertainment, companionship, care.

2. Domestic robots will be small, specialized and attractive, e.g. cuddly

3. Robotized space vehicles and facilities

4. Totally automated factories commonplace

5. Autonomous robots with environmental awareness sensors

6. Intelligent robots for unmanned plants

7. Anthropomorphic robots used for factory jobs

8. Robots for almost any job in home or hospital

9. Housework robots for cleaning, washing etc

10. Artificial brains with ten thousand or more cells

11. Robots for guiding blind people

12. Self diagnostic self repairing robots 


Silahkan Kunjungi: Sumber Belajar dari MIT School of Engineering

Harmonisasi Antara Imtaq dan Ipteks Super Canggih
Al-Qur’an bukan hanya menekankan pada belajar membaca, dan menulis tetapi juga mendorong manusia untuk menghilangkan berbagai pandangan yang memitiskan alam. Bahkan memerintahkan menusia untuk menyelidiki rahasia-rahasia alam juga sebagai landasan dan petunjuk hidup manusia. Dalam hal ini peran islam melalui Al-Qur’an terhadap perkembangan sains sangatlah besar.
Islam melalui Al-Qur’an telah memotivasi seluruh umat islam untuk berfikir dan merenungkan alam semesta ini untuk mengenal kebesaran Tuhan,sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Baqarah ayat 164 yang artinya:  
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan,dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya terdapat tanda-tanda (ke-Esaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.
Secanggih dan setinggi apa pun kemajuan peradaban yang dicapai umat manusia sudah selayaknya kita tetap beriman dan bertaqwa kepada Sang Pencipta Alam berserta Isinya, amin.

Semoga!

"Belajar, Mendidik dan Memajukan Umat Manusia adalah Tugas Tiap Orang Terdidik, Ketika seseorang mendapatkan sesuatu ilmu, maka sesungguhnya ia langsung mengemban tugas menyebarkan ilmu itu pada yang lain, ketika seseorang terdidik, maka ia punya tugas mendidik yang lain, belajar dan mendidik karenanya tugas setiap orang terdidik"
~Arip Nurahman~

Semangat, Belajar, Bekerja, Berkarya, Berjaya.

Majulah Tanah Airku!

Sumber:

1. Arip Nurahman Notes
2. Institute for Advanced Study at Indonesia
3. http://engineering.mit.edu 
4. Universitas Rakyat