Friday, 18 February 2011

Laboratorium Astrofisika

“Every artist was first an amateur.”
Untuk menjadi yang hebat pasti dimulai dari awal.
Jadi wajar ajah kalo kita emang musti banyak belajar dan sabar untuk maju.

and Yes We are Artist ^_^

Astrophysics Laboratory

 


 
Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics
60 Garden Street, Cambridge, MA 02138
Observations with the Submillimeter Array
 
Instructors: Nimesh Patel and Arielle Moullet

 

The Submillimeter Array (SMA), located near the 4000 m summit of Mauna Kea in Hawaii, is the world's first telescope for making images at submillimeter wavelengths with angular resolution comparable to optical telescopes. The SMA is an interferometer that combines the signals received from eight separate, movable, antennas to synthesize an aperture up to 0.5 km wide. The SMA has allocated a half night of (highly competitive) observing time to this class. The project involves learning the basics of interferometry, choosing a celestial source for observation, operating the SMA remotely from Cambridge, calibrating the data using specialized software developed for this purpose, and, finally, analyzing the source brightness distribution to derive physical parameters of interest. The observations are new and different every semester, with the potential to obtain results suitable for publication in a scientific journal.

Laboratory Astrophysics
Science is successful because the physical laws we discover on Earth work everywhere and every when. We use laboratory experiments to expand our understanding of physical processes and then apply these results to the processes throughout the Universe. In some cases laboratory experiments can reproduce similar physics. For example, highly charged plasmas can be created in the laboratory to study the collisions between electrons and ions that occur in the hot solar corona. In other cases, such as in the extreme environments of black holes, we cannot reproduce the conditions. However, even in those cases, the pattern of observed spectral signatures allows us to identify the species and determine some of the physical conditions and processes. Spectral features observed in the solar corona are also observed from black hole sources.  

Useful Link

Thursday, 17 February 2011

Kapal Luar Angkasa Fiksi

The term spacecraft is mainly used to refer to spacecraft that are real or conceived using present technology. The terms spaceship and starship are generally applied only to fictional spacecraft, usually those capable of transporting people. The spaceship is one of the prime elements in science fiction.



Numerous short stories and novels are built up around various ideas for spacecraft, and spacecraft have often been featured in movies. Some hard science fiction books focus on the technical details of the craft, while others treat the spacecraft as a given and delve little into its actual implementation.

Notable fictional spacecraft

See also: List of fictional spaceships
Unidentified flying objects
Some people believe that Unidentified Flying Objects (UFOs) may be alien spacecraft (that is, not of human construction and not originating from Earth), sometimes referred to as flying saucers.

But the term UFO used here in this context refers to observed flying objects for which no identification has been made, though other meanings for the word UFO exist. To date, no known, independently verifiable examples of alien spacecraft are known to exist.

Source:

Wikipedia

Wednesday, 16 February 2011

Jejak Pemikiran Sang Begawan IPTEK Dirgantara

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Siapa yang tak mengenal sosok Presiden RI ke-3, Prof Dr Baharuddin Jusuf Habibie? Sosok yang ramah dan rendah hati ini baru saja ditinggalkan sang istri kembali ke Ilahi untuk selamanya. Namun, itulah beliau, ketegaran dan sikap nrimo-nya tak banyak dipunyai oleh mayoritas orang di negeri ini. Dan hal itu ia terapkan dalam berbagai hal, termasuk dalam “karier teknologi” yang dibangunnya.

Baginya, jabatan atau posisi prestisus tak begitu penting, karena yang terpenting bisa mengabdi bagi nusa dan bangsa. Kecerdasan Habibie sebagai ahli teknologi pesawat terbang dikenal tak hanya di Indonesia, ilmuwan Eropa pun banyak yang mengakui keahliannya. Karena kepakarannya itulah, pada tahun 1973 Presiden Soeharto meminta beliau pulang yang ketika itu usianya masih 35 tahun dan tengah meniti karier di negara maju Eropa, Jerman.

Habibie diminta Soeharto untuk memajukan peradaban teknologi Nusantara. Hal yang kemudian disambut Habibie dengan mendirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, tiga tahun kemudian, 1976. Andi Makmur Makka, dalam bukunya ini, mencoba memotret kembali perjalanan cemerlang sang begawan teknologi yang sangat berharga bagi bangsa kita ini. Maka, lahirlah Jejak Pemikiran Habibie: Peradaban Teknologi untuk Kemandirian Bangsa yang merupakan kumpulan pemikiran sang begawan bidang teknologi.

PT IPTN yang dibidaninya berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (huruf “N” menjadi Nusantara) pada tahun 1985. Soeharto yang begitu percaya dengan kemampuan Habibie selalu mengalokasikan dana besar kepada PT IPTN dalam mengeksplorasi segala perkembangan bidang teknologi yang langsung diarsiteki Habibie. Tak hanya mendirikan IPTN, Habibie berperan besar dalam mendirikan dua perusahaan strategis lainnya, yaitu PT Pindad dan PT PAL.

Dari ketiga perusahaan strategis itu banyak dihasilkan pesawat terbang, jasa di bidang pemeliharaan pesawat, helikopter, amunisi, kapal, tank militer, panser, senapan kaliber, water canon, kendraan RPP-M. Tak hanya itu, dalam skala internasional Habibie pun banyak terlibat dari proyek-proyek besar seperti desain konstruksi Fokker F-28, Air Bus A-300, Hansa Jet 320, pesawat transport DO-31, Transall C-130, CN-235, dan CN-250.

Masa keemasan IPTN mulai surut. Presiden Soeharto atas saran International Monetary Fund (IMF) pada tahun 1992 menyetop dana operasi. Banyak orang menduga IMF sengaja mengerem Habibie karena berencana membuat satelit, pesawat, dan peralatan militer sendiri sehingga mereka (baca: Amerika Serikat) ketakutan akan kehilangan pasar strategis dan potensial, terlebih perindustrian Indonesia akan menjadi pesaingan kelak.

Buku ini hadir untuk meretas kembali jejak-pikir Habibie yang telah banyak berkarya untuk kemajuan teknologi bangsa kita, walau mungkin bagi sebagian orang PT IPTN dan PT DI sebagai produk pikirnya dianggap belum maksimal. Namun, paling tidak, Habibie telah mampu menjadi inspirasi bagi banyak kalangan untuk tetap berkarya sesuai bidangnya masing- masing. 





“Sosok dan pemikiran Prof. Dr. B.J. Habibie dalam dunia Iptek tidak diragukan lagi. N-250 dan PT DI adalah buah karya beliau yang membanggakan kita. Buku ini sangat menarik dan pantas dibaca oleh seluruh insan Iptek. Kehadiran buku ini akan menambah khazanah pemikiran dalam pembangunan Iptek di Indonesia.” —Suharna Surapranata, Menteri Riset dan Teknologi, Periode 2009-2014



Ketika B.J. Habibie yang waktu itu berusia 35 tahun memutuskan pulang kampung dari Jerman Barat pada 1973, seluruh kolega dan pakar teknologi Eropa tak habis pikir atas keputusannya itu. Untuk alasan apa Habibie kembali ke Indonesia yang saat itu masih tertatih-tatih sebagai negara berkembang, dan meninggalkan karier cemerlangnya sebagai pakar teknologi penerbangan yang disegani di Barat?

Pilihannya menyambut permintaan Soeharto merancang fondasi kemandirian Iptek Indonesia berbuah cetak biru peradaban teknologi yang disebut “Berawal di Akhir dan Berakhir di Awal”—proses transformasi dan integrasi Iptek yang dipercepat dan progresif. Industri-industri strategis seperti PT Dirgantara Indonesia (dahulu IPTN) dan PT PAL, menjadi jejak kemandirian Iptek Indonesia yang dirintis Habibie dan menunjukkan kekuatan gagasannya. Bahkan, krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia tak memusnahkan aset-aset industri ini. PT Dirgantara Indonesia, yang sempat disindir melayani order cetakan panci pascavonis pailit, kini memenangi tender empat pesawat penjaga pantai untuk Korea Selatan senilai US$ 94,5 juta, dan menjajaki proyek pesawat tempur KFX senilai 8 miliar dolar AS. Tak ketinggalan PT PAL yang mulai membidik berbagai kontrak strategis, antara lain pengadaan kapal pengawal rudal TNI.

Buku ini merangkai jejak pemikiran B.J. Habibie selama menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 hingga Maret 1998, gagasan-gagasannya tentang arah industri strategis dan pembangunan Iptek yang relevan dan tepat untuk sebuah negara seperti Indonesia. Sebuah peradaban teknologi untuk kemandirian bangsa yang diidam- idamkannya, lebih ketimbang jabatan prestisius korporasi internasional, ataupun reputasi sebagai pakar teknologi ternama.



“Memaparkan tentang peran besar B.J. Habibie dalam mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia di bidang Iptek. Wajib dibaca oleh setiap insan yang mendambakan daya saing dan kemandirian bangsa.” —Dr. Ir. Marzan A. Iskandar, Kepala BPPT





 (Sang Professor Cinta dengan Para Buah Hatinya)


Peresensi adalah Yuyu Yuhanah, pemerhati buku, tinggal di Depok