Saturday, 1 September 2012

Memahami IPTEK Transportasi Antariksa


”I didn’t feel like a giant. I felt very, very small.”

Neil Armstrong on looking back at the Earth from the Moon in July 1969.



  • SPACE SHUTTLE CHRONOLOGY


  • Kuncinya Semangat Ilmiah dan Strategi Penerapan Kebijakan Sains Teknologi Melalui Pemudayaan Pendidikan Serta Kewirausahaan. Membangun masyarakat berbasis pengetahuan, saat ini telah menjadi keinginan hampir semua bangsa di dunia, baik yang tergolong maju maupun yang tengah berkembang dan terbelakang.

    Banyak negara kemudian berhasil, namun tidak sedikit yang masih kandas.


    Dalam meraih kemajuan berbasis Iptek, tiap negara telah menerapkan strategi dan taktik yang berbeda-beda, serta yang terpenting lagi adalah Politik Sains dan Teknologi yang memihak rakyat. Hal ini disebabkan karena strategi penerapan sains-teknologi sangat erat terkait dengan budaya dan sistem politik secara umum (termasuk politik ekonomi) suatu negara.

    Politik Sains dan Teknologi akan berdampak positif bagi perekonomian suatu bangsa manakala unsur-unsurnya saling menunjang satu sama lain (compatible), dan pelaksanaanya sangat didukung secara substansial (bukan hanya secara legal) oleh political power bangsa tersebut. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah politik sains-teknologi yang tepat dan selaras itu dilaksanakan secara konsisten dari satu periode pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.

    Sebagai contohnya, ketika Presiden AS John F. Kennedy pada tahun 1960-an mengambil keputusan untuk membuat program “Pergi ke Bulan”, pada dasarnya ia telah menentukan Strategi Iptek bagi bangsanya dengan jangkauan visi jauh ke depan.

    Politik Iptek yang tampaknya tidak memberikan nilai ekonomis (karena mengandung sunk-cost) ini, dalam perkembangannya di kemudian hari berhasil menciptakan sistem ekonomi baru, yaitu sistem ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (Knowledge Based Economy) dengan terobosan Iptek di bidang mikroelektronika, komputer, robotik, material baru, dan bioteknologi.

    Para Entrepreneur muda yang berbasis Iptek (Ilmuwan cum wirausahawan) AS memanfaatkan peluang ini dan berhasil membentuk para kapitalis/konglomerat kecil (golongan menengah) yang kuat, yang lahir dari proyek-proyek inkubator seperti di Silicon valley.

    • CONTRACTORS

    • ACRONYMS AND ABBREVIATIONS

    • METRIC CONVERSION TABLE

    • NEWSROOM REFERENCES


    • Program ke Bulan juga dilaksanakan oleh Uni Soviet pada waktu itu, tetapi dampaknya tidak mampu menggerakan perekonomian nasionalnya seperti AS. Hal ini terutama disebabkan karena politik Iptek "Pergi ke Bulan” Uni Soviet tidak di dukung oleh sisitem politik dan ekonominya sehingga para pelaku ekonomi di negara tersebut tidak bisa memanfaatkan peluang yang ada.

      Dampak yang dirasakan terbatas pada pengembangan Iptek Perang.

      Masyarakat tidak bisa memetik buah dari politik Iptek itu karena kendala sistem politik dan sistem perkonomian yg tertutup sehingga tidak mungkin lahir entrepreneur yang mampau menangkap kesempatan pasar.

      Lain halnya dengan jepang, dengan kemampuan yg luar biasa dalam bidang riset terapan (applied research) mereka memilih cerminan politik Iptek “meniru” karena mampu menerapkan strategi copiying to catch up tanpa mengembangkan (basic research) secara totalitas.

      Dengan cara ini Jepang mampu menjadi kekuatan ekonomi kompetitif, stretegi iptek meniru Jepang ini banyak diikuti oleh negara-negara maju baru, seperti Korea Selatan, China, Malaysia dan India.

      Bagaimana dengan Indonesia?

      "Antariksa selalu menarik manusia untuk dikunjungi dan dieksplorasi dengan ilmu pengetahuan serta teknologi"
      *Arip Nurahman*

      Kunjungi Juga:

      Bisakah Nusantara Menjelajahi Antariksa?

      Sources:

      NASA

      LAPAN

      http://science.ksc.nasa.gov/

      Kennedy Space Center: Science, Technology and Engineering

      Saturday, 18 August 2012

      Allhamdulilah Aku Jadi "Astronot"


      Semoga Generasi Indonesia Masa Depan Ada yang Menjadi Astronot

      Penulis dan Peneliti Muda Berada di Ruangan
      Pada Acara Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional

      An astronaut or cosmonaut is a person trained by a human spaceflight program to command, pilot, or serve as a crew member of a spacecraft. While generally reserved for professional space travelers, the terms are sometimes applied to anyone who travels into space, including scientists, politicians, journalists, and tourists.



      Astronaut training

      Astronaut training describes the complex process of preparing Astronauts for their space missions before, during and after flight, which includes medical tests, physical training, Extravehicular Activity (EVA) training, procedure training, rehabilitation process, as well as training on experiments they will accomplish during their stay in space.
      The training is geared to the special conditions and environments astronauts will be confronted with during launch, in space, and during landing. All phases of the flight must be taken into account during training to ensure safety to, and functionality of the astronauts, as well as to ensure a successful completion of the mission.


      Sumber:


      Prof. Abdus Salam: Sang Pendiri ICTP




      "Pikiran Ilmiah adalah warisan umum umat manusia" 

      -Abdus Salam- 


      Abdus Salam, lahir di Jhang, sebuah kota kecil di Pakistan tahun 1926. Ayahnya seorang karyawan Departemen Pendidikan di sebuah distrik yang kumuh. 

      Saat kembali dari Lahore pada usia 14 tahun, setelah meraih nilai tertinggi pada ujian matrikulasi di Universitas Punjab dan meraih gelas Master pada Tahun 1946. 

      Di tahun yang sama, ia dianugrahi beasiswa ke Akademi St. John, Universitas Cambridge, tempat ia meraih gelar 
      B.A. Kehormatan di bidang Matematika dan Fisika tahun 1949. 

      Tahun 1950 ia menerima Hadiah Smith dari Universitas Cambridge bagi kontribusinya yang luar biasa di bidang fisika untuk tingkat pra-doktoral. 

      Ia pun meraih gelar Doktor dari Universitas Cambridge di bidang fisika Teoritis. 

      Kemudian disertasinya diterbitkan pada tahun 1951 mengenai penelitian dasar Elektrodinamika Kuantum yang memberinya sebuah reputasi Internasional. 

      Salam kembali ke Pakistan tahun 1951 untuk mengajar matematika di Akademi Pemerintahan, Lahore dan pada tahun 1952 menjadi kepala Departemen Matematika Universitas Punjab. 

      Ia kembali ke Pakistan dengan niat mendirikan Sekolah Penelitian di Bidang Teori Fisika, namun segera disadarinya hal itu mustahil. 

      Untuk meniti karir di bidang penelitian teori fisika, ia tidak memiliki alternatif lain kecuali pergi ke luar negeri. 

      Bertahun-tahun kemudian ia berhasil menemukan cara untuk memecahkan dilema yang dihadapi ahli fisika teori muda yang berbakat dari negara-negara berkembang. 

      Ia Mendirikan ICTP (International Center for Theoretical Physics), Pusat Fisika Teori Internasional di Trieste. Italia. 

      Di pusat pendidikan riset ini para ahli fisika muda diberika program pendidikan dan pelatihan selama 9 bulan akademik, sehingga ketika mereka kembali ke negaranya masing-masing telah mendapat pemikiran dan tenaga baru. 

      Pada tahun 1954 Salam meninggalkan Pakistan untuk mengajar di Universitas Cambridge. Dan Pada Tahun 1957 ia menjadi gurubesar di bidang teori fisika di Akademi Imperial, London. 

      Selama lebih dari 40 tahun ia menjadi peneliti di bidang teori fisika dasar partikel. 

      Ia mengabdi kepada beberapa komite PBB yang menangani kemajuan IPTEK di negara-negara berkembang. 

      Untuk mengatur jadwalnya yang sangat padat, Prof. Salam memangkas waktunya bagi hal-hal yg kurang penting seperti Liburan, Pesta atau pergi ketempat-tempat Hiburan. 

      Para staf di kantornya mengaku sulit untuk memprotes bahwa mereka telah bekerja lewat waktu. 

      Uang yang didapatnya dari hadiah Medali Atom untuk Perdamaian dan Penghargaan Nobel bidang Fisika ia gunakan untuk membiyayai para ahli fisika muda untuk belajar di ICTP dan tidak mengmbil se-sen pun bagi dirinya dan keluarganya. 

      Abdus Salam dikenal sebagai Muslim yang Taat, yang mana agama tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan dan kehidupan keluarganya. 

      Suatu kali ia pernah menulis buku: 

      "Kitab suci Al-quran menuntun kita untuk merefleksikan keagungan alam Ciptaan Allah" 

      Bagaimanapun generasi muda saat ini mendapat keistimewaan untuk menjadi bagian dari Ciptaan-Nya dan keagungan yang perlu disyukuri dengan segala kerendahan hati.



      Sumber: 

      100 Tahun Pemenang Hadiah Nobel Fisika. 

      Wallohualam.