Saturday, 2 March 2013

Membangun Jaringan Riset dan Inovasi di Daerah

 ~Penulis Menemani Kakek Terkasih Memelihara Padi di Sawah~

"Gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja, para kawula iyeg rumagang ing gawe, tebih saking laku cengengilan adoh saking juti. Wong kang lumaku dagang, rinten dalu tan wonten pedote, labet saking tan wonten sansayangi margi. Subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Bebek ayam raja kaya enjang medal ing panggenan, sore bali ing kandange dewe-dewe. Ucapan-dalang dari bapaknya-embahnya-buyutnya-canggahnya, warengnya-udeg-udegnya-gantung siwurnya. Bekerja bersatu padu, jauh daripada hasut, dengki, orang berdagang siang malam tiada hentinya, tidak ada halangan di jalan." 

Hiji basa, hiji bangsa 
Basa bangsa, Indonesia 
Hiji bangsa, hiji nusa 
 Nusa tunggal, Nusantara 
Seler-seler, suku bangsa 
Di wewengkon, mana-mana 
Sakasuka, sakaduka 
Wujud bangsa, Indonesia 

"Kalau bangsa-bangsa yang hidup di padang pasir, yang kering dan tandus, bangsa yang hidup di daerah dingin berselimut es bisa memecahkan persoalan-persoalan pelik bangsanya kenapa kita tidak?" 

Kenapa tidak? 

Coba pikirkan! 

Kekayaan alam kita yang sudah digali dan yang belum digali, adalah melimpah-limpah. Tenaga kerja pun melimpah-limpah, di mana kita berjiwa hampir 300 juta manusia. Rakyat indonesia sangat rajin, dan memiliki ketrampilan yang sangat besar, Ini diakui oleh semua orang di luar negeri. Rakyat memiliki jiwa Gotong-royong, dan ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengumpulkan Funds and Forces. 

Ambisi daya cipta Bangsa Indonesia sangat tinggi di bidang Pendidikan, Sains dan Teknologi, Politik tinggi, di bidang sosial tinggi, di bidang kebudayaan tinggi, tentunya juga di bidang ekonomi dan perdagangan. Tradisi Bangsa lndonesia bukan tradisi, "tempe". 

Kita di zaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, Pernah menjadi suatu Imperium Super Hebat Terluas, Pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok. Bangsa dengan Penduduk Muslim Terbesar di Dunia. Bahkan Bangsa ini menurut sebagian para ahli sejarah adalah tempat munculnya peradaban tertua di dunia yaitu Peradaban Atlantis.

Mari Kita Bangunkan Kembali Kejayaan Bangsa Besar ini.

 ~Allhamdulilah Akhirnya Penulis Mendapat Kesempatan Mengunjungi DRN di PUSPITEK LIPI~

Semangat!

Thursday, 28 February 2013

Menjadi Bangsa Maju dengan PLTN



"Bahwa sesungguhnya kemajuan dan kemuliaan suatu bangsa tidak terlepas dari penguasaannya terhadap pendidikan, ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Kemajuan dan kemuliaan suatu bangsa merupakan kristalisasi keringat dan kerja keras dari bangsa tersebut dalam menguasai, memanfaatkan dan mengamalkan pendidikan, ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi dalam pembangunan bangsanya."
~Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional~

Maka bila PLTN berhasil dibangun di Indonesia, hal ini akan menjadi tonggak sejarah dan batu ujian bagi kemajuan bangsa kita kedepan. 

Kenapa?
Apakah Iptek Nuklir menempati posisi yang krusial? 

Bukan demikian!

Melainkan, lolosnya pembangunan PLTN yang "sensitif" ini akan menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia telah mampu berpikir secara rasional dan proporsional dalam menyikapi perkembangan Iptek masa depan. Bukan hanya menggunakan pendekatan emosional yang tidak kuat argumentasinya. 

Dan lagi, jangan sampai demikian mudahnya kita termakan oleh provokasi pihak-pihak yang tidak suka bangsa ini menjadi bangsa besar dan maju. 

Menurut hemat saya, jika bangsa ini ingin menjadi bangsa maju, sejahtera dan disegani bangsa lain, salah satu syaratnya kita harus menguasai Iptek Canggih dan berteknologi tinggi. 

Kita harus mampu menyediakan pasokan energi yang berlimpah secara stabil dalam jangka panjang. Dan, coba cermati, pasokan energi di masa depan sangat bergantung kepada Teknologi Tinggi. 

Maka bangsa ini harus mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas di masa depan dengan pendidikan yang hebat. Ilmuwan dan para peneliti dalam bidang PLTN perlu ditingkatkan jumlahnya. 

Pusat-pusat riset Iptek Atomic ini dapat dikembangkan dengan cara membangun jaringan penelitian di tiap universitas yang ada di Indonesia, melibatkan jurusan yang terkait dengan disiplin ilmu ini. 

Para kontraktor dan wirausahawan Iptek maju di tanah air perlu dilibatkan dalam pembangunan PLTN supaya mereka dapat belajar bagaimana membangun dan merencanakan PLTN selanjutnya. 

Bagi mereka yang "Opened Mind", Insha Allah bisa menerima kehadiran PLTN di Indonesia. Karena secara Ilmiah, sesungguhnya manfaat PLTN ini jauh lebih besar dari mudharatnya. 

Thanks to:

Kak Iqbal Robiyana, S.Pd.
[Darul Qur'an International School & Young Theoretical Physicist]
dan
Semua Sahabat Seperjuangan

Sumber: 

Arip Nurahman Notes
Kementrian ESDM
BATAN
IAEA
Indonesia Butuh Nuklir
Kementrian BUMN

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional

CERN

Photo By: Me

Kunjungi juga Sekolah Online Kami dalam bidang Ilmu Pengetahuan Nuklir

Nuklir Power sebagai pemercepat Kesejahteraan Umat Manusia.

Semangat Semoga Bermanfaat.

Wednesday, 27 February 2013

Mentafakuri Bencana dari Antariksa

"In terms of the nuclear option, people have been watching movies too long. They get the idea that detonating a nuclear weapon cause the asteroid to just evaporate and the parts scatter to the winds. In fact that doesn't happen. An asteroid a half a mile, or mile in diameter is a mountain, and you're trying to move a mountain with a nuclear weapon. Even if you do manage to break it up into smaller fragments, those fragments are still targeted on the Earth and they're now radioactive." 
~Prof. H. Jay Melosh (University of Arizona, Tuscon. USA), Killer Asteroids, National Geographic Channel~




Jatuhnya asteroid di Chelyabinsk, Rusia Tengah, pada Jumat 15 Februari 2013 pukul 09.20 waktu setempat (10.20 WIB) menarik perhatian publik internasional karena mencederai lebih dari 1000 orang. Media massa menyebutnya hujan meteor. Sesungguhnya bukan hujan meteor. Itu asteroid yang masuk ke atmosfer yang tampak sebagai bola api sangat terang, bahkan lebih terang daripada matahari pagi itu.

Warga yang cedera bukan disebabkan oleh kejatuhan puing-puing meteor atau asteroid, tetapi oleh gelombang kejut yang merusakkan bangunan dan berbagai fasilitas di kota itu.

Menurut perhitungan NASA kekuatan daya ledak Asteroid itu bila sampai menghujam bumi adalah sekitar 20 kali kekuatan daya ledak Bom Atom Hiroshima.

Dapat dibayangkan apabila Asteroid tersebut menghantam kota padat penduduk seperti New York, Tokyo, Shanghai, Bombai atau Jakarta, dipastikan nyawa Puluhan Juta Umat Manusia melayang begitu saja.

Apa yang sesungguhnya terjadi?

Sampai saat Ini belum ada Iptek buatan Manusia yang mampu menanggulangi atau mencegah bencana yang datang dari Antariksa


"This is the Earth, at a time when dinosaurs roamed a lush & fertile planet. But the piece of rock just six miles wide changed all that. It hit with the force of ten thousand nuclear weapons. A trillion tons of dirt & rock hurtled into the atmosphere creating a suffocating blanket of dust the Sun was powerless to penetrate for a thousand years. It happened before, it will happen again, it's just a question of when."
~Armageddon~


Kemana lagi kita akan memohon perlindungan dan pertolongan?

Wallohualambissawab.

Thanks To:

1. Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

2. Mr. Petros Aslanyan, M.Sc., Ph.D.
(Senior Scientist at Joint Institute for Nuclear Research, Moscow and  Yerevan State University Russia)