Monday, 20 July 2009

How Indonesian People Get Nobel Prize in The Future

Nobel Fisika Indonesia



Central for Research and Development for Winning


Nobel Prize in Physics at Indonesia

Nobel Fisika Indonesia


(Belajar Kepada Profesor Franck & Hertz)





Nobel Prize® medal - registered trademark of the Nobel Foundation

The Nobel Prize in Physics 1925

"for their discovery of the laws governing the impact of an electron upon an atom"
James FranckGustav Ludwig Hertz
James FranckGustav Ludwig Hertz
half 1/2 of the prizehalf 1/2 of the prize
GermanyGermany
Goettingen University
Goettingen, Germany
Halle University
Halle, Germany
b. 1882
d. 1964
b. 1887
d. 1975
Titles, data and places given above refer to the time of the award.
Photos: Copyright © The Nobel Foundation




Gustav Ludwig Hertz

Born22 July 1887
Free Hanseatic city of Hamburg,German Empire
Died30 October 1975 (aged 88)
East BerlinEast Germany
NationalityGerman
FieldsPhysics
InstitutionsHalle University
Alma materHumboldt University of Berlin
Doctoral advisorHeinrich Rubens
Max Planck
Known forFranck-Hertz experiment
Notable awardsNobel Prize in Physics (1925)
Notes
Father of Carl Hellmuth Hertz
Gustav Ludwig Hertz (22 July 1887 – 30 October 1975) was a German experimental physicist and Nobel Prize winner, and a nephew of Heinrich Rudolf Hertz.

Biography

Hertz was born in Hamburg and studied at the Georg-August University of Göttingen(1906-1907), the Ludwig Maximilians University of Munich (1907-1908), and theHumboldt University of Berlin (1908-1911). He received his doctorate in 1911 underHeinrich Leopold Rubens.[1][2]
From 1911 to 1914, Hertz was an assistant to Rubens at the University of Berlin. It was during this time that Hertz and James Franck performed experiments on inelastic electron collisions in gases,[3] known as the Franck–Hertz experiments, and for which they received the Nobel Prize in Physics in 1925.[4]
During World War I, Hertz served in the military from 1914. He was seriously wounded in 1915. In 1917, he returned to the University of Berlin as a Privatdozent. In 1920, he took a job as a research physicist at the Philips Incandescent Lamp Factory in Eindhoven, which he held until 1925.[5]


Career

In 1925, Hertz became ordinarius professor and director of the Physics Institute of the Martin Luther University of Halle-Wittenberg. In 1928 he became ordinarius professor of experimental physics and director of the Physics Institute of the Berlin Technische Hochschule (BTH) inBerlin-Charlottenburg. While there, he developed an isotope separation technique via gaseous diffusion. Since Hertz was an officer during World War I, he was temporarily protected from National Socialist policies and the Law for the Restoration of the Professional Civil Service, but eventually the policies and laws became more stringent, and at the end of 1934, he was forced to resign his position at BTH, as he was classified as a “second degree part-Jew”. He then took a position at Siemens, as director of Research Laboratory II. While there, he continued his work on atomic physics and ultrasound, but he eventually discontinued his work on isotope separation. He held this position until he departed for the Soviet Union in 1945.


James Franck

Born26 August 1882
HamburgGerman Empire
Died21 May 1964 (aged 81)
GöttingenWest Germany
NationalityGerman
FieldsPhysics
InstitutionsUniversity of Berlin
University of Göttingen
Johns Hopkins University
University of Chicago
Alma materUniversity of Heidelberg
University of Berlin
Doctoral advisorEmil Gabriel Warburg
Doctoral studentsWilhelm Hanle
Arthur R. von Hippel
Known forFranck-Condon principle
Franck-Hertz experiment
Notable awardsNobel Prize for Physics (1925)
James Franck (26 August 1882 – 21 May 1964) was a Nobel laureate.

Biography

Franck was born to Jacob Franck and Rebecca Nachum Drucker. Franck completed his Ph.D. in 1906 and received his venia legendi, or Habilitation, for physics in 1911, both at the University of Berlin, where he lectured and taught until 1918, having reached the position of extraordinarius professor. After World War I, in which he served and was awarded the Iron Cross 1st Class, Franck became the Head of the Physics Division of the Kaiser Wilhelm Gesellschaft for Physical Chemistry. In 1920, Franck became ordinarius professor of experimental physics and Director of the Second Institute for Experimental Physics at the University of Göttingen. While there he worked on quantum physics with Max Born, who was Director of the Institute of Theoretical Physics.
In 1925, Franck received the Nobel Prize in Physics, mostly for his work in 1912-1914, which included the Franck-Hertz experiment, an important confirmation of the Bohr model of the atom.
James Franck, Chicago 1952
In 1933, after the Nazis came to power, Franck, being a Jew, decided to leave his post in Germany and continued his research in the United States, first at Johns Hopkins University in Baltimore and then, after a year in Denmark, in Chicago. It was there that he became involved in the Manhattan Project during World War II; he was Director of the Chemistry Division of the Metallurgical Laboratory[1] at the University of Chicago. He was also the chairman of the Committee on Political and Social Problems regarding the atomic bomb; the committee consisted of himself and other scientists at the Met Lab, including Donald J. HughesJ. J. NicksonEugene RabinowitchGlenn T. SeaborgJ. C. Stearns and Leó Szilárd. The committee is best known for the compilation of the Franck Report, finished on 11 June 1945, which recommended not to use the atomic bombs on the Japanese cities, based on the problems resulting from such a military application.

When Nazi Germany invaded Denmark in World War II, the Hungarian chemist George de Hevesy dissolved the gold Nobel Prizes of Max von Laue and James Franck in aqua regia to prevent the Nazis from stealing them. He placed the resulting solution on a shelf in his laboratory at the Niels Bohr Institute. After the war, he returned to find the solution undisturbed and precipitated the gold out of the acid. The Nobel Society then recast the Nobel Prizes using the original gold.[2]
In 1946 Franck married Hertha Sponer, his former assistant in Göttingen. He died suddenly in 1964 while visiting Göttingen.[3
Sumber:
1. Wikipedia
2. Nobel Prize Org.

Ucapan Terima Kasih:

1. DEPDIKNAS Republik Indonesia
2. Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia
3. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
4. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
5. Tim Olimpiade Fisika Indonesia
Disusun Ulang Oleh: 
Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, USA.
Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih

Saturday, 18 July 2009

Kehancuran Alam Semesta



Kehancuran Alam Semesta

Edited and Add By:
Arip Nurahman
Department of Physics,
Faculty of Sciences and Mathematics
Indonesia University of Education
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge. USA.

”…Setiap orang tentunya sering mendengar teori-teori tentang penciptaan alam semesta, atau justru sekarang ada orang yang sedang memikirkan teori baru berkenaan dengan hal ini. Namun pernahkah kita berpikir tentang teori penghancuran alam semesta? Wah, lebih baik kita tidak pernah tahu tentang ini. Eh, dengan meraba-raba teori tentang ini, kita mungkin saja dapat menghindari terjadinya kiamat tersebut. Nah, disini akan dipaparkan sedikit tentang beberapa jenis kiamat berdasarkan teori Fisika…”

Salah satu teori terjadinya alam semesta yang banyak disepakati kebenarannya oleh para ilmuwan adalah teori Dentuman Besar (The Big Bang). Dasar dari teori ini adalah alam semesta terbentuk dari titik yang mengembang lewat sebuah ledakan.
Lalu, bagaimana kiamat bisa dimungkinkan terjadi? Karena terus mengembang, maka dari sudut pandang sains ada 3 kemungkinan bagaimana alam semesta mengalami kiamat, yaitu “Big Crunch”, “Big Chill” dan “Big Rip”.

Big Crunch menyatakan alam semesta akan terus berkembang hingga titik maksimal, kemudian setelah mencapai titik maksimal maka alam semesta akan mengalami kompresi atau mengecil dan akhirnya kembali menjadi titik.
Big Chill menyatakan alam semesta akan terus berkembang sampai akhirnya kehabisan bintang - bintang bahan bakar. Sehingga berakibat, tanpa bintang, planet-planet akan beku dan mati. Teori ini masih cukup diragukan.
Sementara menurut teori Big Rip, ekspansi alam semesta akan terus bertambah, galaksi mengembang, gravitasi melemah dan isinya akan tercerai berai. Bintang, planet dan akhirnya seluruh atom - atom pun akan pecah. Waktu dan dimensi akan berhenti. Teori ini yang cukup diyakini kebenarannya akan terjadi, karena merujuk pada teori Dentuman Besar sebagai teori terjadinya alam semesta, alam semesta terjadi karena sebuah ledakan dan akan berakhir oleh sebuah ledakan pula.

Kiamat Terjadi Berulangkali

Salah satu teori yang menyebabkan kiamat adalah matahari yang terus membesar dan akhirnya “memakan” planet, istilahnya lebih dikenal sebagai “Red Giant”. Matahari yang tergolong sebagai salah satu bintang ini akan kehabisan bahan bakar dan terus berkembang sampai meledak (Supernova). Supernova akan menghasilkan debu kosmik yang merupakan cikal bakal bintang dan planet yang baru. Siklus ini terjadi beberapa kali dan menjadi dasar pemikiran bahwa kiamat bisa terjadi berulang-ulang.
Beberapa waktu belakangan ini, banyak para ilmuwan di Amerika dan Eropa melakukan penelitian terhadap fenomena supernova. Termasuk melakukan penelitian terhadap sebuah White Dwarf, yakni bekas Red Giant yang tidak meledak. Benda tersebut dinamakan dan dikenal sebagai Sirius-B yang massanya 300 ribu kali massa Bumi. Perlu diketahui satu sendok White Dwarf setara dengan 5 ton.

Kiamat Pertama Terjadi Di Bumi

Hampir seluruh ajaran agama meyakini adanya kiamat. Kiamat merupakan sebuah keniscayaan bagi banyak pemeluk agama (apapun), meskipun hal itu sangat mungkin berarti ras manusia akan mengalami kepunahan.
Skenario kiamat pertama menurut sains terjadi di Bumi. Bumi terdiri dari lapisan-lapisan. Lapisan terdalam adalah inti yang bentuknya solid dan cair. Lapisan berikutnya adalah mantel yang terdiri dari silikat, campuran silikon dan air.
Mantel adalah lapisan tempat panas bumi berada. Panas ini berputar didalam mantel dan bisa menggerakkan crust (kerak bumi) sehingga terjadilah gempa. Kiamat terjadi di Bumi ketika sistem gravitasi yang ada menjadi kacau oleh aliran panas bumi di lapisan mantel. Saat itulah muncul pergerakan lempeng bumi yang ditandai dengan terjadinya gempa. Saat terjadi gempa, orang akan sangat sulit sekali berjalan, hal ini disebabkan pada saat terjadinya gempa sebenarnya gravitasi tidak lagi seragam di daerah gempa. Sedangkan dalam kondisi normal, gravitasi dalam kondisi seragam di setiap permukaan bumi.

Pergerakan lempeng bumi ini akan terus berevolusi alias berlanjut. Fakta ilmiah menunjukkan dulu di bumi hanya ada satu kontinen besar sebelum akhirnya terpecah - pecah menjadi seperti sekarang ini. Pengaruh gaya gravitasi ini memang sangat besar, sehingga bila terjadi gempa dengan skala yang luar biasa, maka efek yang dihasilkan akan sangat besar pula. Dengan skenario kiamat bumi seperti itu bahkan gunung pun bisa tercungkil atau dengan kata lain, terangkat dan terbalik.
Mengenai waktu tepatnya kapan kiamat terjadi hanya Tuhan yang tahu. Hanya saja Tuhan juga telah memerintahkan dan membuka pintu seluas-luasnya bagi manusia untuk belajar dan mencari tahu tentang misteri alam semesta.

Kiamat Kedua Terjadi Di Tata Surya

Setelah kiamat di Bumi, skenario berikutnya yang dijelaskan secara fisika adalah kiamat tata surya. Hal ini terjadi karena ukuran Matahari yang semakin membesar “memakan” planet-planet di dekatnya seperti Merkurius, Venus dan Bumi. Fenomena ini yang disebut tadi sebagai Red Giant. Dan prosesnya tidak lama, mungkin sekitar 3 menit.
Matahari yang tergolng dalam keluarga bintang dapat membesar ketika bahan bakarnya, yaitu Hidrogen habis. Bahan bakar itu dibutuhkan untuk melakukan reaksi fusi nuklir yang menghasilkan cahaya dan atom-atom berat. Dan Hidrogen itu jumlahnya terbatas di permukaan matahari. Saat Hidrogen habis, inti matahari mengecil dan terus mengecil dan kian masif bentuknya.

Sementara bagian terluar matahari yang lebih bersifat loose akan terus membesar sehingga menjadi Red Giant. Apabila perkembangannya mencapai titik maksimal, maka matahari akan meledak dan terjadilah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Supernova. Bagian - bagian yang terbuang akan mejadi debu - debu kosmik, cikal bakal bintang dan planet yang baru.
Debu - debu kosmik tersebut akan berkumpul dan membentuk awan molekul raksasa. Awan raksasa berputar sehingga bagian pusatnya membentuk bola (Nebula). Perputaran yang semakin cepat akan mengakibatkan bagian pusat semakin solid dan bagian luar terlempar. Bagian dalam inilah yang akan membentuk bintang dan bagian terluar akan membentuk gugusan planet.

Nah, apa yang sekarang sedang Anda bayangkan? Tentu Anda akan menyadari satu hal, yaitu kiamat ini sebenarnya tidak berbeda dengan penciptaan, karena kiamat justru akan membawa penciptaan. Setelah terjadinya penghancuran maka akan lahir sistem baru, seperti hal nya ketika matahari baru saja kehabisan bahan bakar kemudian meledak dan tata surya menjadi runtuh maka setelah itu akan terbentuk sistem bintang dan planet baru, terlihat seperti suatu siklus.
Bagaimana pun juga semua ini masih rahasia alam, dapat terjadi kapan saja tanpa ada yang bisa memprediksinya. Sebelum itu terjadi, kita, para penghuni planet Bumi, harus mengembangkan terus ilmu pengetahuan dan teknologi sampai kita mampu menguak takbir alam yang menyeliputi kita ini.

Wallahu a’lam…

Tuesday, 14 July 2009

How Indonesian People Get Nobel Prize in The Future

Central for Research and Development for Winning


Nobel Prize in Physics at Indonesia

Nobel Fisika Indonesia


(Belajar Kepada Profesor Karl Manne)

"pada penemuan dan risetnya di bidang spektroskopi sinar X"


Nobel Prize® medal - registered trademark of the Nobel Foundation

The Nobel Prize in Physics 1924

"for his discoveries and research in the field of X-ray spectroscopy"

Manne Siegbahn




Manne Siegbahn
Born Karl Manne Georg Siegbahn
3 December 1886
Örebro, Sweden
Died 26 September 1978 (aged 91)
Stockholm, Sweden
Nationality Swedish
Fields Physics
Institutions University of Lund
University of Uppsala
University of Stockholm
Alma mater University of Lund
Known for X-ray spectroscopy
Notable awards Nobel Prize for Physics (1924)
Notes
He is the father of Nobel laureate Kai Siegbahn.
Karl Manne Georg Siegbahn (3 December 1886 - 26 September 1978)[1] was a Swedish physicist who was awarded the Nobel Prize in Physics in 1924 "for his discoveries and research in the field of X-ray spectroscopy".[2]

Siegbahn was born in Örebro, Sweden. He obtained his Ph.D. at the Lund University in 1911, his thesis was titled Magnetische Feldmessungen (magnetic field measurements). He was acting professor for Johannes Rydberg when his health was failing, and succeeded him as full professor in 1920.

Following his Ph.D., he started research on X-ray spectroscopy. This work continued when he moved to the University of Uppsala in 1923. He developed improved experimental apparatus which allowed him to make very accurate measurements of the X-ray wavelengths produced by atoms of different elements. He developed a convention for naming the different spectral lines that are characteristic to elements in X-ray spectroscopy, the Siegbahn notation. Siegbahn's precision measurements drove many developments in quantum theory and atomic physics.[3]

In 1937, Siegbahn was appointed Director of the Physics Department of the Nobel Institute of the Royal Swedish Academy of Sciences.

Siegbahn married Karin Högbom 1914. They had two children: Bo Siegbahn (1915-2008), a diplomat and politician, and Kai Siegbahn (1918-2007), a physicist, who also received the Nobel Prize in Physics, in 1981, for his contribution to the development of X-ray photoelectron spectroscopy.

He won the Hughes Medal 1934 and Rumford Medal 1940. In 1944 he patented the Siegbahn pump.



Sumber:
1. Wikipedia
2. Nobel Prize Org.

Ucapan Terima Kasih:

1. DEPDIKNAS Republik Indonesia
2. Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia
3. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
4. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
5. Tim Olimpiade Fisika Indonesia
Disusun Ulang Oleh: 
Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, USA.
Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih