Monday, 18 September 2006

Olimpiade Astronomi

Olimpiade Astronomi.

Alhamdulilah saya mengikuti seleksi peserta olimpiade astronomi tingkat sekolah, dan saya berusaha belajar banyak mengenai ilmu yang sangat menyenagkan ini.

Saya berusaha mempelajarinya dengan seksama bersama teman-teman sekelas saya.


Sejarah Singkat

Pada bagian awal sejarahnya, astronomi memerlukan hanya pengamatan dan ramalan gerakan benda di langit yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Rigveda menunjuk kepada ke-27 rasi bintang yang dihubungkan dengan gerakan matahari dan juga ke-12 Zodiak pembagian langit. Yunani kuno membuatkan sumbangan penting sampai astronomi, di antara mereka definisi dari sistem magnitudo.

Alkitab berisi sejumlah pernyataan atas posisi tanah di alam semesta dan sifat bintang dan planet, kebanyakan di antaranya puitis daripada harfiah; melihat Kosmologi Biblikal. Pada tahun 500 M, Aryabhata memberikan sistem matematis yang mengambil tanah untuk berputar atas porosnya dan mempertimbangkan gerakan planet dengan rasa hormat ke matahari.

Penelitian astronomi hampir berhenti selama abad pertengahan, kecuali penelitian astronom Arab. Pada akhir abad ke-9 astronom Muslim al-Farghani (Abu'l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani) menulis secara ekstensif tentang gerakan benda langit.

Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad ke-12. Pada akhir abad ke-10, observatorium yang sangat besar dibangun di dekat Teheran, Iran, oleh astronom al-Khujandi yang mengamati rentetan transit garis bujur Matahari, yang membolehkannya untuk menghitung sudut miring dari gerhana.

Di Parsi, Umar Khayyām (Ghiyath al-Din Abu'l-Fath Umar ibn Ibrahim al-Nisaburi al-Khayyami) menyusun banyak tabel astronomis dan melakukan reformasi kalender yang lebih tepat daripada Kalender Julian dan mirip dengan Kalender Gregorian.

Selama Renaisans Copernicus mengusulkan model heliosentris dari Tata Surya. Kerjanya dipertahankan, dikembangkan, dan diperbaiki oleh Galileo Galilei dan Johannes Kepler. Kepler adalah yang pertama untuk memikirkan sistem yang menggambarkan dengan benar detail gerakan planet dengan Matahari di pusat. Tetapi, Kepler tidak mengerti sebab di belakang hukum yang ia tulis. Hal itu kemudian diwariskan kepada Isaac Newton yang akhirnya dengan penemuan dinamika langit dan hukum gravitasinya dapat menerangkan gerakan planet.

Bintang adalah benda yang sangat jauh. Dengan munculnya spektroskop terbukti bahwa mereka mirip matahari kita sendiri, tetapi dengan berbagai temperatur, massa dan ukuran. Keberadaan galaksi kita, Bima Sakti, dan beberapa kelompok bintang terpisah hanya terbukti pada abad ke-20, serta keberadaan galaksi "eksternal", dan segera sesudahnya, perluasan Jagad Raya dilihat di resesi kebanyakan galaksi dari kita.

Kosmologi membuat kemajuan sangat besar selama abad ke-20, dengan model Ledakan Dahsyat yang didukung oleh pengamatan astronomi dan eksperimen fisika, seperti radiasi kosmik gelombang mikro latar belakang, Hukum Hubble dan Elemen Kosmologikal. Untuk sejarah astronomi yang lebih terperinci, lihat sejarah astronomi.

Semoga Bermanfaat

Monday, 21 August 2006

Fisika SMA

Pengalaman Belajar Fisika di SMAN BI 1 Banjar

Ada Apa Dengan Fisika?
 
 
PAPER AIRPLANE ACTIVITY

Overview

In the paper airplane activity students select and build one of five different paper airplane designs and test them for distance and for time aloft. Part of this activity is designed to explore NASA developed software, FoilSim, with respect to the lift of an airfoil and the surface area of a wing.

Materials


Technology Needed

  • Internet Access
  • Graphing Calculator (optional)

Time Required

  • 2-3 class periods

Classroom Organization

  • Students should work in groups of 3 or 4.

Procedure

  1. Give students a sheet of unlined paper and instructions for construction of a paper airplane (See download above).

  2. Students should give their plane a name using the aviation alphabet. (Example N 831 FE represents November 831 Foxtrot Echo. Identification numbers and letters must not exceed 7; and the identification must begin with N, which stands for the United States.)

  3. Students should determine the area of the wings of their planes. If students are able, have them unfold their planes and lay out basic geometric shapes to fill the wing area. Then have them calculate the total area from the sum of the areas of the shapes. (See example. Use "back arrow" to return here.)

    If students are not able to calculate geometric areas, they could make a duplicate plane, cut off the wings, and lay the wings onto measured grids or pieces of graph paper and count the total squares covered, estimating partial squares.

    A variation of this technique that eliminates a duplicate plane and cutting wings is to draw or trace a grid on a blank transparency with a sharpie marker and then hold the clear grid over the wings to count squares covered.

  4. Have students fly their planes in the gym or hallway or other large indoors area (to eliminate wind effects) five times, each time trying for maximum distance. Stress trying to duplicate the same launch angle and speed. Now do another five trials, this time trying for maximum time aloft. Students should record their distances and times and average the three longest distances and the three longest times.

  5. Have students put their data onto a graph for the class, one graph of time aloft vs. wing area and the other of distance vs. wing area.

  6. Discuss the results from the graphs as a class, and then ask for predictions as to what would happen if the wings were made smaller.

  7. Have the students draw a line two centimeters from and parallel to the trailing edges of their wings, and then cut that 2 cm portion off the wings (Shown in red).
    Picture of paper airplane with

    tail section removed.
    The cut off part should be tucked on the inside of the plane when it is refolded in order to keep mass constant. You might ask the class to provide an explanation for doing this.

  8. Repeat steps three through six.

  9. Have the students investigate their results using FoilSim. They should set the ANGLE OF ATTACK to 5 degrees and then vary only the area of the wing and note the effect on the value of LIFT. They can compare these results to their own experimental results.

  10. ADDITIONAL QUESTION: "Why don't all planes have the biggest wing area possible? Why do some fighter jets have small wings?" (ANSWER: There are other factors that contribute to lift, such as velocity and shape of the wing. The weight of a plane is also very important.) Students can investigate these other factors by going through the lessons that are part of FoilSim.

Extension Activity

Assessment Strategies/Evaluation

  1. Each group could make a presentation on their airplane and what made its design successful.
  2. Students could individually graph the experimental data and make a report.
  3. Challenge students to fold a better plane and explain the reasons for changes in design.
  4. Students could write a summary of experimental results and relate the variables tested.

Supplementary Resources


Sumber:

NASA

Friday, 18 August 2006

Astronomi Indonesia

Masyarakat tradisional

Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Keterbatasan pengetahuan membuat kebanyakan pengamatan dilakukan untuk keperluan astrologi. Pada tingkatan praktis, pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran. Dalam masyarakat Jawa misalnya dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit.

Nama-nama asli daerah untuk penyebutan obyek-obyek astronomi juga memperkuat fakta bahwa pengamatan langit telah dilakukan oleh masyarakat tradisional sejak lama. Lintang Waluku adalah sebutan masyarakat Jawa tradisional untuk menyebut tiga bintang dalam sabuk Orion dan digunakan sebagai pertanda dimulainya masa tanam. Gubuk Penceng adalah nama lain untuk rasi Salib Selatan dan digunakan oleh para nelayan Jawa tradisional dalam menentukan arah selatan. Joko Belek adalah sebutan untuk Planet Mars, sementara lintang kemukus adalah sebutan untuk komet. Sebuah bentangan nebula raksasa dengan fitur gelap di tengahnya disebut sebagai Bimasakti.

Masa modern

Pelaut-pelaut Belanda pertama yang mencapai Indonesia pada akhir abad-16 dan awal abad-17 adalah juga astronom-astronom ulung, seperti Pieter Dirkszoon Keyser dan Frederick de Houtman. Lebih 150 tahun kemudian setelah era penjelajahan tersebut, misionaris Belanda kelahiran Jerman yang menaruh perhatian pada bidang astronomi, Johan Maurits Mohr, mendirikan observatorium pertamanya di Batavia pada 1765. James Cook, seorang penjelajah Inggris, dan Louis Antoine de Bougainville, seorang penjelajah Perancis, bahkan pernah mengunjungi Mohr di observatoriumnya untuk mengamati transit Planet Venus pada 1769[1].
Ilmu astronomi modern makin berkembang setelah pata tahun 1928, atas kebaikan Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha perkebunan teh di daerah Malabar, dipasang beberapa teleskop besar di Lembang, Jawa Barat, yang menjadi cikal bakal Observatorium Bosscha, sebagaimana dikenal pada masa kini.

Penelitian astronomi yang dilakukan pada masa kolonial diarahkan pada pengamatan bintang ganda visual dan survei langit di belahan selatan ekuator bumi, karena pada masa tersebut belum banyak observatorium untuk pengamatan daerah selatan ekuator.

Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, bukan berarti penelitian astronomi terhenti, karena penelitian astronomi masih dilakukan dan mulai adanya rintisan astronom pribumi. Untuk membuka jalan kemajuan astronomi di Indonesia, pada tahun 1959, secara resmi dibuka Pendidikan Astronomi di Institut Teknologi Bandung.

Pendidikan Astronomi di Indonesia secara formal dilakukan di Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung. Departemen Astronomi berada dalam lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan secara langsung terkait dengan penelitian dan pengamatan di Observatorium Bosscha.
Lembaga negara yang terlibat secara aktif dalam perkembangan astronomi di Indonesia adalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Selain pendidikan formal, terdapat wadah informal penggemar astronomi, seperti Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, serta tersedianya planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang selalu ramai dipadati pengunjung.

Perkembangan astronomi di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, dan mendapat pengakuan di tingkat Internasional, seiring dengan semakin banyaknya pakar astronomi asal Indonesia yang terlibat dalam kegiatan astronomi di seluruh dunia, serta banyaknya siswa SMU yang memenangi Olimpiade Astronomi Internasional maupun Olimpiade Astronomi Asia Pasific.

Demikian juga dengan adanya salah seorang putra terbaik bangsa dalam bidang astronomi di tingkat Internasional, yaitu Profesor Bambang Hidayat yang pernah menjabat sebagai vice president IAU (International Astronomical Union).

Semoga Bermanfaat