## Thursday, 15 November 2012

### Membangun Kebijakan dan Strategi Kedaulatan Energi

"Equations are more important to me, because politics is for the present, but an equation is something for eternity."
~Albert Einstein~

Siapa yang tak mengenal formula legendaris E = mc2   karya fenomenal almarhum Profesor Albert Einstein mengenai kesetaraan energi dan massa? Sebuah simbol ilmiah dan mungkin rumus yang paling banyak diingat oleh khalayak luas. Meski sederhana formula ini terkenal ampuh dalam menjabarkan dan menjelaskan fonomena fisika energi. Ya kasus Energi, kelangkaan dan kebutuhan akan Energi  yang telah, sedang dan akan menjadi masalah bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Terlebih dahulu Penulis ingin menurunkan sedikit formulasi matematis dari rumusan tersebut dengan menela'ah hubungan antara massa dan kecepatan.

### Mass–velocity relationship

In developing special relativity, Einstein found that the kinetic energy of a moving body is
$E_k = m_0 ( \gamma -1 ) c^2 = \frac{m_0 c^2}{\sqrt{1-\frac{v^2}{c^2}}} - m_0 c^2,$
with $v$ the velocity, $m_0$ the rest mass, and γ the Lorentz factor.
He included the second term on the right to make sure that for small velocities, the energy would be the same as in classical mechanics:
$E_k = \frac{1}{2}m_0 v^2 + \cdots$
Without this second term, there would be an additional contribution in the energy when the particle is not moving.
Einstein found that the total momentum of a moving particle is:
$P = \frac{m_0 v}{\sqrt{1-\frac{v^2}{c^2}}}.$
and it is this quantity which is conserved in collisions. The ratio of the momentum to the velocity is the relativistic mass, m.
$m = \frac{m_0}{\sqrt{1-\frac{v^2}{c^2}}}$
And the relativistic mass and the relativistic kinetic energy are related by the formula:
$E_k = m c^2 - m_0 c^2. \,$
Einstein wanted to omit the unnatural second term on the right-hand side, whose only purpose is to make the energy at rest zero, and to declare that the particle has a total energy which obeys:
$E = m c^2 \,$
Ya begitulah sedikit "sejarah" penurunan formulasi matematis dari rumus agung tersebut, yang tentu saja jarang diketahui masyarakat kebanyakan.

Bentuk-Bentuk Energi

In the context of physical sciences, several forms of energy have been defined. These include:

Seminar Inovasi Teknologi PLTN ke-18 Untuk Mendukung Kebijakan Energi Nuklir Global
di FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Permasalahan Kedaulatan Energi Kita
Produksi dan Cadangan Minyak kita terbukti turun terus. Walaupun cadangan  gas kita empat kali lipat cadangan Minyak tetapi program konversi Minyak ke Gas Domestik terbukti tidak berjalan mulus. Program 10.000 MW PLTU (Uap) Batubara tidak berjalan mulus dan sebagian besar produksi batubara kita diekspor.

PLTA (Air)  di luar Jawa kurang berkembang.

Program Bahan Bakar Nabati tidak berjalan seperti yang diharapkan.

PLTS (Surya) dan PLTB (Bayu) banyak yang tidak berfungsi lagi.
PLTN (Nuklir) sampai saat ini belum mulai dibangun

Berarti ada yang tidak pas di Negeri ini.

Marilah kita evaluasi satu per satu.

Minyak kurang berkembang karena sistem fiskal dan iklim investasi yang kurang menarik. Gas kurang termanfaatkan untuk domestik karena harga domestik yang tidak menarik dan tidak disiapkannya infrastruktur dimasa lalu.

Batubara 10.000 MW kurang berkembang karena terdapat masalah  negosiasi, birokrasi dan koordinasi.

Kebanyakan batubara diekspor karena harga domestik yang kurang menarik dibandingkan harga ekspor.

PLTA kurang berkembang karena masalah birokrasi, koordinasi, promosi dan kemauan politik untuk mengembangkan industri di luar Jawa.

Panasbumi kurang berkembang karena harga domestik yang tidak menarik di masa lalu.

Bioenergi kurang berkembang karena masalah harga, peraturan, insentif, birokrasi, koordinasi  dan litbang.

Surya dan bayu tidak terawat karena kurang dikembangkan litbang dan Kemampuan Nasional disamping masalah birokrasi dan koordinasi. Konservasi kurang berhasil karena harga energi murah, peraturan (kurangnya insentif untuk penghematan energi) dan kurangnya dukungan bagi litbang serta kurangnya peningkatan kemampuan nasional untuk itu. Jika kita peras maka permasalahan tersebut akan bermuara pada beberapa point di bawah ini.

• Struktur harga energi belum mendukung diversifikasi dan konservasi energi
• Adanya disparitas perkembangan ekonomi antar wilayah
• Ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dan konsumen
• Subsidi energi masih menjadi beban negara akibat kemampuan/daya beli masyarakat
yang masih rendah
• Industri energi khususnya minyak dan gas bumi serta ketenaga listrikan pada
umumnya belum kompetitif
• Ketidakstabilan pasar dan harga energi fosil
• Sistem plough back tidak diterapkan secara maksimal
• Mekanisme iklim investasi belum kondusif
• Sistem perencanaan energi belum diterapkan pada sisi permintaan/pengguna yang
mendukung efisiensi penggunaan energi
• Energi masih dianggap sebagai infrastruktur, belum sebagai komoditi
• Tumpang tindih regulasi antar sektor dan otonomi daerah belum sesuai dengan yang
diharapkan
• Kepastian hukum untuk investasi belum jelas

Apabila kita peras lagi permasalahan-permasalahan di atas maka akan lahir tiga buah masalah yang paling mendasar yaitu:

1. Kelangka'an Penglolaan Sumber-Sumber Energi
2. Distibusi dan Penyebaran Energi
3. Konsumsi Energi

Kebijakan dan Stategi Pengelolaan Energi

STRATEGI

• Mengembangkan mekanisme harga keekonomian energi
• Memprioritaskan kebutuhan energi dalam negeri
• Meningkatkan keamanan pasokan energi dengan memperhatikan aspek lingkungan
• Menerapkan prinsip-prinsip good governance dan transparansi
• Mendorong investasi swasta bagi pengembangan energi
• Melakukan konservasi sumber daya energi
• Menjamin penyediaan energi untuk seluruh lapisan masyarakat
• Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan energi
• Meningkatkan efisiensi penyediaan dan pemanfaatan energi
• Melakukan diversifikasi energi dengan memaksimalkan sumber daya energi yang ada yang ada di dalam negeri
• Memaksimalkan pemanfaatan energi setempat (Desa Mandiri Energi)
• Meningkatkan kapasitas SDM dan penguasaan teknologi
• Memaksimalkan dana penerimaan negara sektor ESDM bagi pengembangan sektor ESDM

KEBIJAKAN

Kebijakan Utama

–Penyediaan energi melalui :

• Penjaminan ketersediaan pasokan energi dalam negeri
• Pengoptimalan produksi energi
• Pelaksanaan konservasi energi

–Pemanfaatan energi melalui :

• Efisiensi pemanfaatan energi
• Diversifikasi energi.

–Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian dengan tetap
mempertimbangkan kemampuan usaha kecil dan bantuan
bagi masyarakat tidak mampu dalam jangka waktu tertentu

–Pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan

Kebijkan Pendukung:

– Pengembangan infastruktur energi termasuk peningkatan akses konsumen
– Kemitra'an pemerintah dan dunia usaha
– Pemberdayaan masyarakat
– Penelitan dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan

"Susah itu kan bagi orang yang tidak siap kerja keras, bagi orang yang siap kerja keras,
~Dahlan Iskan, Mentri BUMN former Dirut PLN~

Matahari merupakan sumber alamiah Energi Fusi Nuklir

Konsorsium Uni Eropa, Jepang, Cina, India, Korsel, Rusia dan Amerika Serikat membiayai Pengembangan Nuklir FUSI yaitu ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) TOKAMAK di Perancis Selatan.

(ITER) TOKAMAK tersebut diharapkan bisa dikembangkan secara komersial pada tahun 2020 an dan dibuat dari reaksi FUSI antara Detrium dan Tritium yang limbahnya relatif aman (dibandingkan Uranium).

Andai kata Nuklir FISI ingin dikembangkan segera maka paling cepat  dioperasikan pada 2021 karena memerlukan 10 tahun untuk merealisasikan PLTN seperti  di Malaysia. Sebaiknya Indonesia bekerjasama dengan Singapura dan Malaysia (lebih baik bila juga dengan Negara-negara ASEAN lainnya).

Lokasi kebangkitannya bisa di Pulau kosong di Indonesia dekat Singapura. Makin banyak Negara-negara yang mengawasi diharapkan makin aman dan makin banyak Negara-negara yang memakai makin murah.

Strategi Pengembangan Energi Terbaru-kan di Indonesia

Berdasar atas kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan peran energi terbarukan pada produksi energi, maka beberapa strategi yang mungkin diterapkan, antara lain:

• Meningkatkan kegiatan studi dan penelitian yang berkaitan dengan; pelaksanaan identifikasi setiap jenis potensi sumber daya energi terbarukan secara lengkap di setiap wilayah; upaya perumusan spesifikasi dasar dan standar rekayasa sistem konversi energinya yang sesuai dengan kondisi di Indonesia; pembuatan "prototype" yang sesuai dengan spesifikasi dasar dan standar rekayasanya; perbaikan kontinuitas penyediaan energi; pengumpulan pendapat dan tanggapan masyarakat tentang pemanfaatan energi terbarukan tersebut.

• Menekan biaya investasi dengan menjajagi kemungkinan produksi massal sistem pembangkitannya, dan mengupayakan agar sebagian komponennya dapat diproduksi di dalam negeri, sehingga tidak semua komponen harus diimport dari luar negeri. Penurunan biaya investasi ini akan berdampak langsung terhadap biaya produksi.

• Memasyarakatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengadakan analisis dan evaluasi lebih mendalam tentang kelayakan operasi sistem di lapangan dengan pembangunan beberapa proyek percontohan .

• Meningkatkan promosi yang berkaitan dengan pemanfaatan energi dan upaya pelestarian lingkungan.

• Memberi prioritas pembangunan pada daerah yang memiliki potensi sangat tinggi, baik teknis maupun sosio-ekonomisnya.

• Memberikan subsidi silang guna meringankan beban finansial pada tahap pembangunan. Subsidi yang diberikan, dikembalikan oleh konsumen berupa rekening yang harus dibayarkan pada setiap periode waktu tertentu. Dana yang terkumpul dari rekening tersebut digunakan untuk mensubsidi pembangunan sistem pembangkit energi di wilayah lain.

Proyek percepatan pembangunan pembangkit energi listrik di Indonesia harus didukung oleh setiap lapisan masyarakat. Jangan ada lagi daerah yang menolak tempatnya dibangun pembangkit-pembangkit listrik skala besar non-BBM. Sebaliknya, pemerintah daerah jangan lagi mengijinkan pihak swasta untuk membangun proyek pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar BBM untuk menyelesaikan masalah krisis listrik di daerahnya.

Seluruh wilayah di Indonesia harus dapat menikmati energi secara berkecukupan agar pertumbuhan ekonomi di setiap daerah bisa meningkat dengan merata. Tugas selanjutnya setelah semua daerah di Indonesia tercukupi energi adalah membuat sistem interkoneksi yang menghubungkan seluruh pulau di Indonesia.

Apabila percepatan pembangunan infrastruktur energi dan kelistrikan ini berjalan dengan baik, hal ini memungkinkan kita untuk menghemat energi nasional atau bahkan kita dapat BERDAULAT ENERGI.
Semoga,
Amin.

Peneliti Muda dan Bapak  Insan Arief Hidayat, S.Pd., M.Sc. berada di Reaktor Penelitian BATAN

"Negara yang baik membutuhkan adilnya Pemimpin, amalnya Pengusaha, ilmunya Akademisi (Ulama) serta kesabaran, kemandirian dan kepedulian Masyarakat."
~Almarhum Prof. Ir. Widjajono  Partowidagdo,  MSc. MSOR, MA, Ph.D. Wamen ESDM~

Ucapan Terima Kasih:

1. Kementrian ESDM
http://www.esdm.go.id

2. BATAN
http://www.batan.go.id

3. Universitas Pendidikan Indonesia
http://www.upi.edu

4. Bapak Darmawan Prasodjo, M.Sc., Ph.D.
Texas A & M University, Nicholas Institute for Environmental Policy Solutions, Duke University, USA.
Chief Editor and Founder Petronomist
http://petronomist.com

Kunjungi Sekolah Online Kami di:

Nuclear Science & Technology School
Nuklir Power sebagai pemercepat Kesejahteraan Umat Manusia.

http://nuclearscienceandtechnology.blogspot.com