Showing posts with label A Unified Physics. Show all posts
Showing posts with label A Unified Physics. Show all posts

Tuesday, 6 August 2013

Maha Desain: The Meaning Of Life

Where Do We Come From? What Are We? Where Are We Going?

Situs Originos Dei Est Miratio



“Karena adanya hukum seperti gravitasi, alam semesta dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri dari tanpa sesuatu apapun (nothing).

Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa ’sesuatu’ itu ada dari tanpa sesuatu apapun, inilah alasan mengapa alam semesta eksis dan kita pun juga eksis.”

And what lay before?

Is anything certain in life?

The brain is responsible not only for the reality we perceive, but also for our emotions and meaning too.

Love and honour, right and wrong, are part of the universe we create in our minds just as a table, a plane, and a galaxy.

Konsep yang dibawa oleh Professor Hawking di dalam buku barunya tersebut menempatkan dirinya dalam posisi self defeating (kalah dengan sendirinya), sebab ketika dia mengklaim bahwa sesuatu itu berasal dari tanpa sesuatu apapun dan tanpa adanya kausalitas pada konsep kuantum level yang diusungnya.

Maka ini sama artinya dengan mengatakan bahwa bukunya The Grand Design tidaklah ditulis oleh dirinya, namun buku tersebut ada secara spontan dan eksis tanpa adanya kausalitas, dan berasal dari tanpa sesuatu apapun (nothing).

Bahwa buku baru tidaklah baru sebagai buku, karena manusia sudah melihat banyak buku.

The meaning of life is what you choose it to be.

Source:

The Grand Design By:
Prof. Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow 

Walohualambissawab

Friday, 2 August 2013

Menyelesaikan Problem Reaksi Fusi Nuklir

Kebutuhan akan energi bertambah semakin cepat dari tahun ke tahun, sementara sumber yang dapat langsung untuk digunakan untuk kebutuhan tertentu semakin terbatas. Meskipun energi yang bersumber pada radiasi matahari (energi surya) sangat berlimpah tetapi sejauh ini belum dapat pemanfaatannya masih belum dapat optimal.

Secara ekonomis peralatan yang diperlukan untuk mengkonversi energi surya masih relatif mahal dibandingkan sumber-sumber energi yang bersumber pada minyak dan gas bumi serta batu bara.

Reaktor fusi nuklir merupakan salah satu sumber energi alternatif masa depan yang menggunakan bahan bakar yang tersedia melimpah, sangat efisien, bersih dari polusi, tidak akan menimbulkan bahaya kebocoran radiasi dan tidak menyebabkan sampah radioaktif yang merisaukan seperti pada reaktor fisi nuklir.

Sejauh ini reaktor fusi nuklir masih belum dioperasikan secara komersial. Prototip reaktor-reaktor fusi saat ini masih dalam tahap eksperimentasi pada beberapa laboratorium di USA dan di beberapa negara maju lainnya.

Suatu konsorsium dari USA, rusia, Eropa dan Jepang telah mengajukan pembangunan suatu reaktor fusi yang disebut International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) di Cadarache (Perancis) untuk menguji kelayakan dan keberlanjutan penggunaan reaksi fusi untuk menghasilkan energi listrik.

Patut diingat bahwa di atas permukaan bumi sangat sulit untuk memperoleh kondisi tekanan dan kerapatan ekstrim seperti yang dimiliki oleh inti matahari.

Jurus Fusion Ala Dragon Ball

Dengan kondisi ekstrim tersebut, reaksi fusi sudah dapat menyala pada temperatur 10 - 15 juta Celsius. Di lain pihak, reaktivitas proses fusi DT akan maksimal baru pada temperatur 100 juta Celsius, hampir sepuluh kali lipat temperatur inti matahari. Pada temperatur ini seluruh material yang dikenal manusia di permukaan bumi akan cepat menguap. 

Jadi, tidak seperti reaktor konvensional yang material reaktornya dapat memiliki kontak langsung dengan bahan bakar, di sini plasma bahan bakar harus 'diletakkan' di tengah reaktor. Ada dua cara untuk menahan plasma sehingga tidak bersentuhan dengan dinding reaktor. 

Cara pertama adalah dengan mengeksploitasi inersia (massa) partikel. 

Pada metode ini bahan bakar fusi berbentuk pellet ditembaki dengan partikel berenergi tinggi atau dengan sinar laser dari segala arah. Pellet tersebut mengalami gelombang (tekanan) kejut ke arah dalam sehingga temperatur dan kerapatannya meningkat ke batas ekstrim.

Pada kondisi tersebut reaksi fusi dapat mulai menyala dan energi pembakaran termonuklir mulai dilepas. Hasilnya berupa partikel alpha dan neutron bergerak ke arah dinding reaktor untuk diserap energinya. Metode ini dinamakan inertial confinement.

Cara yang kedua memanfaatkan muatan partikel. Partikel-partikel bermuatan (dalam hal ini plasma) dapat dijaga agar mengorbit pada satu lintasan di dalam reaktor dengan menggunakan medan magnet super kuat yang dibangkitkan oleh superkonduktor.
Metode kedua ini dinamakan magnetic confinement.

Karena plasma bermuatan positif maka ia dapat dipanaskan dengan cara mengalirkan arus listrik hingga 7 juta Ampere yang akan mendepositkan energi termal hingga beberapa MegaWatt (MW).

Metode ini memiliki keterbatasan karena plasma dapat dipanaskan hingga suhu sekitar 10 juta Celsius.

Untuk menaikkan suhu plasma ke tingkat yang lebih tinggi (100 juta Celsius merupakan syarat minimal) harus digunakan beberapa cara lain, misalnya dengan menggunakan gelombang elektromagnetik mirip seperti pada oven microwave.

Sekitar 10 MW energi termal dapat didepositkan dengan metode ini.

Metode lain adalah dengan mempercepat bahan bakar D dan T dengan beda potensial sekitar 140 kilovolt. 

Partikel alpha yang dihasilkan dari fusi DT akan tetap berada dalam plasma, sedangkan energi kinetik yang dimilikinya akan membantu menaikkan temperatur plasma.

Jika energi seluruh a sudah cukup untuk mempertahankan temperatur plasma di sekitar 100 juta Celsius, proses fusi dapat berlangsung sendiri tanpa pemanasan dari luar.

Konsorsium Negara-Negara Pengembang Reaktor Fusi Nuklir ITER

Kondisi ini dinamakan kondisi penyalaan (ignition). 

Meski demikian, untuk tujuan komersial reaktor fusi tidak harus mencapai kondisi ini. Jika reaktor fusi dioperasikan pada kondisi sebelum penyalaan, jelas diperlukan daya listrik eksternal ekstra besar untuk mengoperasikan reaktor. 

Reaktor komersial haruslah memiliki daya asupan yang jauh lebih kecil dibandingkan daya keluaran. Untuk itu, didefinisikan faktor penguatan daya (Q) yang sebanding dengan rasio dari daya keluaran terhadap daya asupan. 

Jika efisiensi konversi energi termal ke energi listrik sekitar 35%, sedangkan efisiensi pemanasan plasma dengan energi listrik sebesar 80%, maka efisiensi total sekitar 25%. Dengan demikian Q > 4 adalah suatu keharusan, namun untuk tujuan komersial Q yang sebesar-besarnya tentulah yang diharapkan (diperkirakan antara 30 - 50). 

Problem reaktor fusi sebenarnya adalah mempertahankan proses reaksi fusi yang membutuhkan kondisi sangat spesial, sementara kondisi tersebut sangat mudah berubah.



To Be Continued

Sumber:

Prof. Dr. rer. nat. Terry Mart, M.Sc.
ITER
http://en.wikipedia.org/wiki/Fusion_power
Fisika Modern

Thursday, 1 August 2013

Mari Kita Belajar Kepada Bangsa-Bangsa Peraih Nobel

Apakah Warga Negara Indonesia Pernah Meraih Nobel?

Bagaimana Caranya Agar Bangsa Indonesia Banyak Meraih Nobel?

 Nailul Hasan bersama peraih Nobel Fisika Prof. Douglas Dean Osheroff

 Dr. Osheroff (born August 1, 1945) is a physicist known for his work in experimental condensed matter physics, in particular for his co-discovery of superfluidity in Helium-3. For his contributions he shared the 1996 Nobel Prize in Physics along with David Lee and Robert C. Richardson.

Bagi para peneliti, penghargaan terhadap hasil penelitiannya tentulah membahagiakan, apalagi bila berupa Nobel yang prestisius. 

Namun, jangankan Nobel. Di Indonesia, penghargaan berupa gaji yang memadai saja belum terpikirkan. Tidaklah mengherankan bila sebagian peneliti lebih sibuk mencari penghasilan tambahan daripada berkutat di laboratorium. Menciptakan iklim penelitian yg bisa mencetak para pemenang Nobel memang tidak mudah. 

Seperti dikatakan pemenang Nobel bidang Kimia tahun 2001 dari Jepang Prof. Dr. Ryoji Noyori, syaratnya adalah guru, murid dan sistem yang baik. Suatu hal yang dimiliki negara maju sejak lama. 

Meskipun demikian sebenarnya tidak mustahil bagi negara berkembang untuk mengejar ketertinggalannya.

Seperti diungkapkan oleh Mantan Presiden China: Dr. Jiang Zemin:

"Tidak akan ada bom dan reaktor Nuklir jika tidak ada teori mekanika Kuantum". 

Tidak ada jalan lain. Perubahan mendasar dalam sistem yang ada di Indonesia harus dilakukan kalau mau bersaing di bidang riset, apalagi bila menargetkan penghargaan Nobel yang prestisius itu.

Belajar Kepada Negara Adi Daya Sains


Nobel Prize is a set of annual international awards bestowed in a number of categories by Scandinavian committees in recognition of cultural and/or scientific advances. The will of the Swedish philanthropist inventor Alfred Nobel established the prizes in 1895. The prizes in Physics, Chemistry, Physiology or Medicine, Literature, and Peace were first awarded in 1901.

The related Nobel Memorial Prize in Economic Sciences was created in 1968. Between 1901 and 2012, the Nobel Prizes and the Prize in Economic Sciences were awarded 555 times to 863 people and organizations. With some receiving the Nobel Prize more than once, this makes a total of 835 individuals and 21 organizations. .

Beberapa bulan lagi dunia akan kembali menyambut para peraih Nobel 2013. Nobel Foundation sebagai penyelia program apresiasi bidang fisika, kimia, fisiologi, kedokteran, ekonomi dan perdamaian itu akan mulai melansir nama-nama peraih Nobel pada 7 Oktober nanti dilanjutkan penyerahan hadiah pada 10 Desember, bertepatan dengan peringatan 117 tahun kematian penggagasnya, Alfred Nobel.

Top 10 Negara-Negara Peraih Nobel dari Tahun 1901-2010


1. United States (326)



2. United Kingdom (115)



3. Germany (103)



Indonesia Kapan Meraih Nobel?


Pertanyaan ini bisa dijawab dengan dua proses pandang. Pada tahun 1924, Ilmuwan Willem Einthoven meraih Nobel bidang Fisiologi Medis dan tercatat kenegaraannya sebagai Hindia-Belanda [Indonesia]. Pun laman Wikipedia yang merangkum nama-nama peraih hadiah Nobel berdasarkan negara mencatat nama Einthoven sebagai satu-satunya penerima Nobel dari Indonesia.

Pada 21 May 1860 Einthoven lahir di Semarang yang dulu bagian dari wilayah kekuasaan Hindia-Belanda, meskipun menghabiskan masa dewasa hingga akhir hayatnya di Leiden, Belanda. Ayahnya seorang dokter dan ibunya adalah bagian kelompok kerja yang membawahi banyak pekerja Jawa dan Madura. Kisah Einthoven tak banyak dikenal.

In 1885, Einthoven received a medical degree from the University of Utrecht. He became a professor at the University of Leiden in 1886.

Kisah Nobel dan Indonesia lain terjadi pada saat Uskup Gereja Katolik Dili Carlos Filipe Ximenes Belo beserta José Ramos-Horta menerima hadiah Nobel Perdamaian pada 1996. Uskup Belo lantas jadi kontroversi karena saat itu ia tercatat sebagai warga Timor-timur yang adalah bagian dari negara Indonesia.

Timor-timur baru melakukan referendum pemisahan dari NKRI pada 1999 yang lantas disetujui oleh presiden waktu itu, B.J. Habibie. Uskup Belo dan Ramos-Horta dinilai berperan aktif dalam referendum itu hingga akhirnya negara baru mereka Timor Leste resmi berdiri pada 2002. Beberapa tokoh Indonesia, termasuk sastrawan Goenawan Muhammad dan pengamat politik Fadjroel Rahman menganggap Uskup Belo tokoh gerakan kemanusiaan yang berpendirian kuat.

Nama Uskup Belo dulu sering disejajarkan dengan sastrawan, mendiang Pramoedya Ananta Toer. Pram hingga saat ini dikenal sebagai tokoh Indonesia yang kehidupannya paling dekat dengan Nobel.


4. France (57)



5. Sweden (28)



Sejak 1996 Pram berkali-kali dinominasikan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra, berkat perannya di dalam membangun cerita kemanusiaan lewat jalur kepenulisan. Kisah pertentangannya dengan pemerintah, celetuk-celetuk satire-nya soal pembengkokan sejarah, hingga visinya membawa nama Indonesia ke kancah dunia membuat Pram dinilai pantas meraih Nobel.

Tapi fakta berbicara lain. Penghargaan tertinggi Pram yang dikenal di antaranya “hanya” Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature and Creative Communication Arts (1995)  dan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres Republic of France (2000).

Sudut pandang sejarah (1) memang mencatat keterlibatan Indonesia dalam peraihan hadiah Nobel melalui beberapa tokoh. Meski di sudut pandang lain (2) secara konkret belum ada warga negara yang pulang dan meletakkan hadiah itu di Tanah Air.

Belum Aktif

Harus diakui bahwa Indonesia belum seaktif banyak negara Eropa dan Cina dalam mengajukan calon kandidat peraih Nobel. Selain itu, daftar pengajuan yang secara resmi banyak diajukan kepada lembaga riset Nobel Foundation yang tersebar di banyak regional sering kali sudah penuh ratusan bahkan ribuan nama di tahun sebelum penentuan kandidat. Begitu pula saat Pram dinominasikan berkali-kali untuk kategori Sastra.

Beberapa opin berhembus bahwa posisi pemerintah saat itu bingung antara mau mendukung keterpilihan Pram ataukah membincangkan pemberontakan masa lalu yang memosisikan sang tokoh kandidat pada baris pemberontak sejarah bangsa.


6. Switzerland (26)



7. Russia (25)



Mimpi Prof. Yohanes Surya, Ph.D. Indonesia Meraih Nobel 2020

Angin segar baru terhembus saat Septinus George Saa, matematikawan remaja asal Manokwari, Papua, berhasil meraih penghargaan “First Step to Nobel in Physics” lewat Olimpiade Fisika tahun 2004 di Polandia. Namanya lantas dimasukkan ke dalam daftar “siswa internasional” yang memiliki akses penuh ke banyak beasiswa luar negeri termasuk para profesor penasihat Nobel. Tentu saja membanggakan. Meski demikian, titel ‘nobel’ dalam penghargaan itu tentunya bukan berasal dari yayasan di Oslo ataupun Swedia.

Fisikawan Indonesia Profesor Yohanes Surya, Ph.D., mentor George Saa pernah menuliskan, statistik mencatat sejak 1961 para peraih hadiah Nobel rata-rata adalah murid atau mantan murid dari para peraih Nobel sebelumnya. Para peraih Nobel itu kemudian dijadikan guru, tempat belajar dan menimba ilmu. Meski pada praktiknya semua proses itu tidak semata-mata ditujukan untuk mengincar hadiah Nobel, peluang terbesar bisa tercipta di sana: di Amerika, di Eropa.

Prof. Yohanes yang punya mimpi Indonesia meraih Nobel pada 2020 ini mengklaim saat ini melalui beberapa program kerjasama pemerintah-kampus pihaknya berhasil mengirim beberapa siswa Indonesia untuk belajar kepada para peraih nobel.
 
Di laman resminya ia mencatat beberapa nama yang hingga saat ini tengah menempuh proses belajar di kampus-kampus top dunia. Siswa-siswi tersebut di antaranya Widagdo Setiawan di Massachussets Institute of Technology [MIT] (Belajar pada Prof. Wolfgang Keterlee, peraih Nobel Fisika 2001), Oki Gunawan di Princeton University (Pernah jadi murid Prof. Daniel Tsui, peraih Nobel Fisika 1998), dan Rizal Hariadi yang pernah mengajar di Caltech, dan satu kelasnya sempat dihadiri oleh satu dari tiga peraih Nobel Fisika 2004.

Optimisme Indonesia dan Nobel saat ini masih terbendung di kalangan akademisi dan peneliti kampus. 

Jarang terdengar kabar proses pembelajaran para periset keilmuan kita yang kiprahnya banyak dikenal di luar negeri. Di samping pemerintah juga terkesan belum serius menyiapkan warganya untuk mendapat pengakuan lebih  banyak di luar negeri (selain presidennya, tentu saja), masyarakat Indonesia juga belum akrab dengan Nobel.


8. Austria (21)



9,10 Italy/Canada (20)



Kita juga masih berkutat dengan gejala sosial yang masih belum punya tenggang rasa penghargaan yang baik bagi sesama kolega.

Budaya penghargaan kita belum sebaik negara-negara para peraih Nobel itu memang.

Kalau kita ingin ada orang Indonesia “asli” meraih Nobel, kiranya bisa memulai dengan menghargai orang-orang di dalam negeri dulu.

Saat ini, biaya riset Indonesia termasuk yang paling rendah di dunia. 

Anggaran yang nilai totalnya hanya 0,15 persen dari total PDB sangat jauh dari cukup untuk melahirkan inovasi-inovasi di bidang keilmuan dan teknologi. Komisi Inovasi Nasional (KIN) pada Desember lalu menyatakan pihaknya melalui kerjasama Dewan Riset Nasional mengajukan anggaran Riset Sains, Teknologi dan Inovasi Indonesia harus naik jadi minimal 1 persen, atau setara dengan Rp 20 trilyun. 

Itupun, jika dimaksimalkan, masih jauh dari perjalanan meraih Nobel.

Jika Pendidikan, Riset dan Budaya Ilmiah terus dikembangkan maka mungkin saja di masa depan Warga Negara Indonesia akan banyak meraih Penghargaan Nobel yang Prestisius ini.

Meski itu bukan tujuan akhir.

Ayo Pelajar Indonesia

Semangat!
Penulis Bersama dengan Peraih Nobel Kimia Tahun 1988, Prof. Robert Huber, Ph.D.


Sumber: 

Prof. Dr. rer. nat. Terry Mart, M.Sc.
Arip Nurahman Notes
Membangun Indonesia dengan Fisika oleh: Nailul Hasan, Fisika ITS Surabaya.
Mas Fandi Sido
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Nobel_laureates_by_country
Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia

Semoga Bermanfaat

Wednesday, 31 July 2013

Berkah Ramadhan: Super Mega Advanced Robotics Technology: SMART

"Fortune Favors the Brave, Dude."
*Dr. Newton Geiszler*

Bisakah Manusia Ciptakan Super Robot Raksasa "Pacific Rim"? 
Dengan sumber daya yang ada ada saat ini, manusia belum mampu menciptakan robot raksasa. Robot macam ini baru terwujud jika berada di planet lebih kecil dan bergravitasi rendah. Materi dari robot tersebut juga harus terbuat dari materi terdepan dan ringan. 

Demikian disampaikan pakar robot, Dr. Daniel Wilson, M.Eng. menjawab pertanyaan mengenai kemampuan manusia soal pembangunan robot mega. Doktor Wilson merupakan pakar robot ternama jebolan the Robotics Institute at Carnegie Mellon University in Pittsburgh, Pennsylvania.

His thesis work, entitled Assistive Intelligent Environments for Automatic Health Monitoring, focused on providing automatic location and activity monitoring in the home via low-cost sensors such as motion detectors and contact switches. He has worked as a research intern at Microsoft Research, the Xerox PARC, Northrop Grumman, and Intel Research Seattle.

Robot raksasa tampil dalam film sains fiksi terbaru, Pacific Rim. Dalam film produksi Hollywood itu, manusia menciptakan robot raksasa yang dikendalikan dua orang. Inti dari gerakan robot tersebut adalah peleburan manusia dengan mesin.
"Saya tidak tahu pencipta mana yang bisa mewujudkan robot raksasa yang bisa berjalan tegak di embusan angin pada ketinggian. Apalagi memindahkannya dengan cukup ketangkasan untuk berjalan," kata Dr. Wilson.
Jika pun akhirnya material ringan dan terdepan ini bisa dikembangkan, mekanisme pergerakannya akan menimbulkan masalah. Akan sulit mempertahankan berbagai gerakan dinamis yang timbul. 
Termasuk ketinggian, akselerasi, momentum, penyerapan panas, dan torque internal.
Saat ini semua berhasil dibangun, adalah hal mustahil menggerakannya dengan kecepatan tinggi.

Disebutkan Dosen dan pakar robot, Prof. Mel Siegel dari Robotics Institute di Carnegie Mellon University, di makalah When Physics Rules Robotics, salah satu masalah utama dalam pembuatan robot adalah berat berlebih.
Hal berikutnya yang wajib dipertimbangkan adalah faktor energi.
Butuh energi besar untuk menggerakannya.

Dr. Wilson menduga, suatu saat nanti manusia akan bisa mewujudkan energi seperti ini menggunakan reaktor nuklir. 

Kendala lainnya: Biaya. 

Diprediksi oleh SciencePortal bahwa untuk membangun satu robot raksasa berbobot 43 ton dibutuhkan biaya 725 juta dollar AS.  [Rp. 7.250.000 000 000/ Tujuh Triliun Dua Ratus Lima Puluh Miliar Rupah]

Bayangkan Bobot Mati Robot-Robot Raksasa ini yang mencapai 2500 Ton.

Kendati demikian, Dr. Wilson menegaskan bahwa satu-satunya alasan yang memungkinkan manusia membangun robot macam ini adalah demi tujuan estetika semata.

Aktris cilik Jepang Ashida Mana yang berperan sebagai Mako Mori 
[Salah Satu Pilot Robot Raksasa] versi masa kecil dalam Film Pacific Rim
Sebuah bentuk pembuktian bahwa hal ini bisa dilakukan.

Masih mustahil menciptakannya untuk tujuan lain.

Ukuran Robot Gundam dengan Seorang Photographer

Di balik kesuksesan film animasi "Pacific Rim" yang masih diputar di bioskop-bioskop di Tanah Air saat ini, ternyata ada sentuhan seorang animator Indonesia. Dialah Ronny Gani, seorang animator muda yang bekerja di Industrial Light & Magic, di Singapura, anak perusahaan Lucas Film Group, yang menggarap film tersebut.

"Kalau di Pacific Rim saya mengerjakan animasinya. Jadi saya menggerak-gerakkan karakter-karakter yang ada di film itu," ujar Ronny dalam wawancara yang dilansir situs VOA. Ia mengatakan, sebagai animator, ia punya peran memainkan visual effects sehingga gerakan karakter dalan animasi menjadi lebih hidup dan masuk akal.

Ini bukanlah debut pertamanya menggarap animasi-animasi di film Hollywood. Ronny sebelumnya juga terlibat dalam penggarapan film the Avengers yang dirilis tahun 2012.

"Kebetulan sekali waktu saya pertama kali mulai bekerja di Industrial Light & Magic, proyek yang sedang dikerjakan adalah The Avengers. Jadi otomatis saya ikut terlibat dalam proyek itu. Secara garis besar grup Industrial Light & Magic itu mengerjakan bagian akhir film di bagian aliennya sudah mulai menginvasi," kata Ronny.

The Future of Humanoid Robots - Research and Applications

Edited by: Dr. Riadh Zaier, M.Eng.

 Sultan Qaboos University, Oman

Dr. Riadh Zaier received his M.Eng. and Dr. Eng. Degrees, both in Discrete-Time Tracking Control Systems from the Department of Systems Engineering, Nagoya Institute of Technology, Japan, in 1996 and 1999, respectively. He joined Fujitsu Automation Ltd. in 1999. Then he joined Fujitsu Laboratories Ltd., as a researcher in 2004.
















Ucapan Terima Kasih:

Komunitas Mahasiswa Penggemar Otomasi dan Robotika (KOMPOR) adalah Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat universitas di Universitas Pendidikan Indonesia yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi otomasi dan robotika.

http://kompor-upi.org/

Sahabat dan Keluarga di Seneby Corp.

Kang Karizal Muharom, Finalis Olimpiade Robotik International di Korea Selatan.


Kunjungi Juga:

Kontes Robot Indonesia 2013

http://kri2013reg5.unud.ac.id/index.php

Sekolah Pendidikan Robotika Indonesia

http://indonesiaroboticschool.blogspot.com/

Sebuah Ide Pengembangan Pendidikan IPTEKS Robotiks di Tanah Air.

Maju Terus Ipteks Indonesia, Semangat!

Sumber:

Pacific Rim

Kompas Sains

Zika Zakiya; National Geographic 

Berkah Ramadhan: Roadmap Percepatan Pembangunan Kelautan Indonesia

Roadmap Pembangunan Kelautan

Para Sahabat sedang Bertafakur di Pantai Sayang Heulang, Garut Selatan.


Sayang, sejak zaman kolonial hingga sebelum terbentuknya DKP dan DMI (Dewan Maritim Indonesia) pada September 1999, kita kurang serius mengelola SDA kelautan. 

Akibatnya, potensi ekonomi kelautan yang sangat besar, ibarat “raksasa yang tertidur”, itu belum dapat kita transformasikan menjadi sumber kemakmuran, kemajuan, dan kedaulatan bangsa.

Bayangkan, dari 114 pelabuhan umum yang kita miliki, tidak satu pun memenuhi standar pelayanan internasional. 

Selama Orde Baru, kredit yang dikucurkan untuk sektor-sektor ekonomi kelautan kurang dari 15%, dan untuk sektor perikanan hanya 0,02% dari total kredit.

Wajar, kalau hingga saat ini kontribusi ekonomi kelautan hanya sebesar 22% PDB. Sementara, negara-negara dengan potensi laut yang jauh lebih kecil ketimbang Indonesia, seperti Jepang, Korea Selatan, Thailand, China, Islandia, dan Norwegia, sumbangan ekonomi kelautannya terhadap PDB mereka rata-rata mencapai 40%

Oleh sebab itu, kini saatnya kita melakukan reorientasi paradigma pembangunan (paradigm shift), dari pembangunan berbasis daratan menjadi pembangunan berbasis kelautan dan kepulauan.

Kita galakkan pendayagunaan sumberdaya kelautan melalui peningkatan alokasi anggaran publik, kredit, sumberdaya manusia, teknologi, infrastruktur, dan management inputs lainnya berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) secara terpadu dan ramah lingkungan. 

Dalam jangka pendek, kita optimalkan pembangunan sektor-sektor ekonomi kelautan yang bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi dan menyerap banyak tenaga kerja, seperti perikanan budidaya, perikanan tangkap, industri pengolahan hasil perikanan, pariwisata bahari, pertambangan dan energi, pelayaran, pelabuhan, dan industri galangan kapal. 

Sekedar contoh, dengan potensi total muatan nasional 502 juta ton/tahun (200 juta ton batubara, 55 juta ton crude oil, 60 juta ton CPO, 7 juta ton produk perikanan , 8 juta ton LNG, 2 juta ton LPG, 120 juta ton containers, dan 50 juta ton general cargo), melalui pendekatan “kluster maritim” kita bisa meraup devisa perhubungan laut US$ 15 miliar setiap tahunnya (IMPC, 2008). 

Untuk dapat melayani kebutuhan angkutan muatan sebesar itu, diperlukan sekitar 650 kapal tambahan dengan total investasi sebesar US$ 5 miliar.

Selain itu, kluster maritim juga akan meningkatkan pendapatan negara, menciptakan lapangan kerja baru sedikitnya untuk 1 juta orang, membangkitkan sejumlah multiplier effects, dan mendongkrak daya saing ekonomi nasional. 

Kluster maritim juga dapat mempercepat pembentukan 24 pelabuhan sebagai hub port. Hingga kini, semua pelabuhan Indonesia masih berstatus sebagai feeder port.

Ini menjadi salah satu penyebab utama yang membuat ekonomi kita kurang kompetitif, karena hampir 70% dari ekspor barang dan komoditas Indonesia harus melalui Singapura. 

Dengan mengusahakan 1 juta ha budidaya rumput laut (30% total potensi), dapat diproduksi sekitar 16 juta ton rumput laut kering per tahun. Bila kita ekspor 10 juta ton/tahun dengan harga sekarang US$ 0,7/kg, maka akan diperoleh devisa sebesar US$ 7 miliar/tahun.

Kepiting di Telapak Tangan

Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 3 juta orang. Apalagi, kalau rumput laut itu diproses menjadi berbagai semi-refined products (seperti agar, karaginan, alginat, makanan dan minuman) atau refined products (seperti bahan pencampur coklat, milk shake, es krim, permen, pasta gigi, salep, pelembab, shampoo, lotion, industri cat, tekstil, dan film), tentu devisa, pendapatan negara, tenaga kerja, dan multiplier effects yang dihasilkan menjadi berlipat ganda. 

Padahal, masih banyak komoditas perikanan lain yang harganya tinggi dan laku keras di pasar domestik maupun ekspor, antara lain udang, tuna, kerapu, patin, nila, ikan hias, kerang mutiara, teripang, cerax, dan abalone. 

Agar tidak selalu menjadi ‘bangsa pemadam kebakaran’, dalam jangka panjang kita kembangkan SDM dan teknologi kelautan mutakhir (future technology) seperti bioteknologi, teknologi informasi dan komunikasi, nanotechnology, coastal and ocean engineering, bioenergi dari algae, gas hidrat, dan teknologi pemanfaatn SDA non-konvensional lainnya. 

Dengan roadmap (peta jalan) pembangunan seperti itu, maka pulau-pulau kecil dan wilayah laut diyakini tidak lagi menjadi ‘beban pembangunan’ (cost center) serta tempat berlangsungnya perampokan, penyelundupan, dan berbagai kegiatan ilegal lainnya, tetapi akan menjadi pusat-pusat kemajuan dan kemakmuran yang tersebar di seluruh Nusantara. 

Wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan laut yang makmur (prosperity belt) secara otomatis bakal menjadi sabuk pengaman (security belt) yang semakin mengukuhkan kedaulatan NKRI.

Bung Muhammad Ismail Sedang Memegang Induk Penyu Raksasa di Batu Hiu, Pangandaran.


Lebih dari itu, implementasi peta jalan pembangunan kelautan nasional ini secara cerdas dan konsisten juga diyakini mampu menghantarkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi baru dunia pada 2025 bersama Brazil, Rusia, India, dan China. 

Sumber:

Center For Coastal and Marine Resources Studies
Bogor Agricultural University

Ocean Paradigm Study Group

Kementrian Kelautan dan Perikanan

LIPI

Foto Oleh: Bung Deni Nugraha dan Bung Widia Prima 

Semoga Bermanfaat

Indonesia Bisa!
 

Resep Rahasia Membuat Kanal Terbesar di Dunia

BIG BIGGER BIGGEST: Water Canals



A ship canal is a canal especially intended to accommodate ships used on the oceans, seas or lakes to which it is connected, as opposed to a barge canal intended to carry barges and other vessels specifically designed for river and/or canal navigation. Because of the constraints of accommodating vessels capable of navigating large bodies of open water, a ship canal typically offers deeper water and higher bridge clearances that a barge canal of similar vessel length and width constraints.

Ship canals may be especially constructed from the start to accommodate ships, or less frequently they may be enlarged barge canals, or canalized or channelized rivers. There are no specific minimum dimensions for ship canals, with the size being largely dictated by the size of ships in use nearby at the time of construction or enlargement.
Ship canals may be constructed for a number of reasons, including:
  1. To create a shortcut and avoid lengthy detours.
  2. To create a navigable shipping link between two land-locked seas or lakes.
  3. To provide inland cities with a direct shipping link to the sea.
  4. To provide an economical alternative to other options.
Important Ship Canals 

Canal Length Lock depth Dimensions Location Notes
White Sea – Baltic Canal 141 mi (227 km) 3.5 m (11 ft) 135m × 14.3 m × 3.5m Russia Russia
  • Opened in 1933, is partly a canalised river, partly an artificial canal, and partly some natural lakes.
  • Shallow depth limits modern vessels from using the canal.
Rhine-Main-Danube Canal 106 mi (171 km) 4 m (13 ft) lock dimensions: 190m x 11.45m x 4m Germany Germany
Suez Canal 120.11 mi (193.30 km) No locks, but 24 m (79 ft) deep. 205 m (673 ft) wide Egypt Egypt
Volga-Don Canal 62 mi (100 km) 3.5 m (11 ft) lock dimensions: 140m x 16.6m x 3.5m Russia Russia
Kiel Canal 60 mi (97 km) 14 m (46 ft) lock dimensions: 310m x 42m x 14m Germany Germany
Houston Ship Channel 56 mi (90 km) 14 m (46 ft) 161 m (528 ft) wide United States USA
Panama Canal 51 mi (82 km) 25.9 m (85 ft) lock dimensions: 320m x 33.53m x 25.9 m Panama Panama
Danube-Black Sea Canal 40 mi (64 km) 5.5 m (18 ft) lock dimensions: 138m x 16.8m x 5.5m Romania Romania
Manchester Ship Canal 36 mi (58 km) 8.78 m (28.8 ft) lock dimensions: 170.68m x 21.94m x 8.78m United Kingdom UK
Welland Canal 43.4 km (27.0 mi) 8.2 m (27 ft) lock dimensions: 225.5m x 2.3m x 8.2 m Canada Canada
Saint Lawrence Seaway
8.2 m (27 ft) lock dimensions: 225.5m x 2.3m x 8.2 m CanadaCanada
United States USA


"Petani perlu jalan desa sawah ke jalan besar, irigasi tersier desa ke sekunder, tersedia pupuk organis & fasilitas Pengendalian Hama Terpadu."
*Prof. Emil Salim, Ph.D.*


Kanal Irigasi di Desa Bangunharja, Berguna untuk Pengairan Pesawahan, Perikanan dan Kegiatan Masyarkat Lainnya.

Sumber: 

Wikipedia
BIG BIGGER BIGGEST
Desa Bangunharja