Saturday, 12 March 2011

Dark Energy and Quintessence

Quintessence


Main article: Quintessence (physics)

In quintessence models of dark energy, the observed acceleration of the scale factor is caused by the potential energy of a dynamical field, referred to as quintessence field. Quintessence differs from the cosmological constant in that it can vary in space and time. In order for it not to clump and form structure like matter, the field must be very light so that it has a large Compton wavelength.

No evidence of quintessence is yet available, but it has not been ruled out either. It generally predicts a slightly slower acceleration of the expansion of the universe than the cosmological constant. Some scientists think that the best evidence for quintessence would come from violations of Einstein's equivalence principle and variation of the fundamental constants in space or time. Scalar fields are predicted by the standard model and string theory, but an analogous problem to the cosmological constant problem (or the problem of constructing models of cosmic inflation) occurs: renormalization theory predicts that scalar fields should acquire large masses.

The cosmic coincidence problem asks why the cosmic acceleration began when it did. If cosmic acceleration began earlier in the universe, structures such as galaxies would never have had time to form and life, at least as we know it, would never have had a chance to exist. Proponents of the anthropic principle view this as support for their arguments. 

However, many models of quintessence have a so-called tracker behavior, which solves this problem. In these models, the quintessence field has a density which closely tracks (but is less than) the radiation density until matter-radiation equality, which triggers quintessence to start behaving as dark energy, eventually dominating the universe. This naturally sets the low energy scale of the dark energy.

Some special cases of quintessence are phantom energy, in which the energy density of quintessence actually increases with time, and k-essence (short for kinetic quintessence) which has a non-standard form of kinetic energy. They can have unusual properties: phantom energy, for example, can cause a Big Rip.

Friday, 11 March 2011

“Super Moon” Hanya Wacana Astrologi, Bulan Terdekat ke Bumi Tidak Menyebabkan Bencana

"The distance between the earth and her satellite is a mere trifle, and undeserving of serious consideration. I am convinced that before twenty years are over one-half of our earth will have paid a visit to the moon."
— Jules Verne, From Earth to the Moon, 1890.


Oleh: Prof. T. Djamaluddin, D.Sc.


Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN



(Animasi dari http://hrcst.org.uk/wp/index.php/weather/)

Beberapa media massa memberitakan ramalan astrologi bahwa  “super moon” atau ”extreme super moon” bakal menyebabkan bencana. Kabarnya, Sabtu 19 Maret 2011 bulan akan berada pada posisi terdekat dengan bumi (disebut perigee), hampir bersamaan dengan saat puncak purnama. Itulah yang dinamakan ”super moon” pada saat perigee, dan bila diperkuat kondisi purnama dinamakan ”extreme super moon”. Istilah itu hanya dikenal dalam astrologi, tidak dikenal dalam astronomi. Kita harus faham perbedaan astrologi dan astronomi. Astrologi adalah pemahaman bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib kehidupan manusia di bumi. Astrologi bukanlah cabang sains. Sedangkan astronomi adalah cabang sains atau ilmu pengetahuan yang mempelajari gerakan dan kondisi fisik benda-benda langit.

Menurut ramalan astrologi, kondisi ”super moon” pada 19 Maret 2011 akan mengakibatkan banyak bencana di bumi. Benarkah? Astronomi membantah ramalan bencana, walau membenarkan bahwa pada tanggal itu bulan berada pada jarak terdekatnya dengan bumi hampir bersamaan dengan puncak purnama. Data astronomi menunjukkan pada 19 Maret 2011 pukul 19:10 GMT/UT (20 Maret pukul 02:10 WIB) bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, pada jarak 356.577 km. Itu berdekatan dengan puncak purnama pada 19 Maret pukul 18:11 GMT/UT (20 Maret pukul 01:11 WIB).

Astronomi membantah ramalan bencana, karena kejadian jarak bulan terdekat dengan bumi (perigee) adalah peristiwa bulanan, walau bervariasi. Periodenya perigee sekitar 27,3 hari. Sedangkan peristiwa purnama juga kejadian bulanan dengan periode sekitar 29,5 hari. Karena perbedaan periode ini, perigee tidak selalu bersamaan dengan purnama. Peristiwa perigee bersamaan dengan purnama baru akan berulang lagi setelah 18 tahun, yaitu kelipatan 241 x 27,3 hari yang sama dengan 223 x 29,5 hari. Tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan peristiwa perigee bersamaan dengan purnama dengan bencana 18 tahun lalu, Maret 1993 atau sebelumnya.

Adakah dampak perigee bersamaan dengan purnama? Ya, ada, tetapi belum tentu berarti bencana. Bulan pada posisi paling dekat dengan bumi berdampak makin menguatnya efek pasang surut di bumi, terutama pada air laut. Air laut akan makin tinggi dalam kondisi ini. Bila itu bersamaan dengan purnama, ada efek penguatan juga dari gaya pasang surut matahari, sehingga efek pasang surut cenderung paling kuat.
Keberulangan perigee dan purnama selama tahun 2011



Jarak Bumi-Bulan dan Fase Bulan selama Maret 2011



Keberulangan perigee dan purnama selama tahun 1993. Periode 18 tahun tampak dengan kemiripan data 1993 dengan 2011.



Potensi bencana tetap harus diwaspadai bila ada efek penguatan dengan faktor lain, baik faktor cuaca maupun faktor geologis. Bila cuaca buruk di laut dan wilayah pantai diperkuat dengan efek pasang maksimum saat perigee dan purnama, harus diwaspadai potensi bahaya di wilayah pantai yang mungkin saja menyebabkan banjir pasang (rob) yang lebih besar dari biasanya.

Demikian juga bila penumpukan energi di wilayah rentan gempa dan gunung meletus, efek penguatan pasang surut bulan mungkin berpotensi menjadi pemicu pelepasan energi. Tetapi kondisi perigee bulan bersamaan dengan purnama bukan sebagai sebab utama bencana, tetapi bisa menjadi pemicu efek penguatan faktor lain.

Artinya, kalau tidak ada indikasi cuaca buruk di wilayah pantai atau tidak ada penumpukan energi di wilayah rawan gempa dan wilayah rawan gunung meletus, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan posisi perigee bulan bersamaan dengan purnama.

Tautan terkait:
1. http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/01/superkonjungsi-bedakan-astronomi-dan-astrologi/
2.http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/11/05/faktor-kosmogenik-waspadai-potensi-bencana-sekitar-bulan-baru-dan-purnama/

"Bulan akan segera menjadi tempat tinggal peradaban manusia"
~Arip~

Sunday, 6 March 2011

Mengenal Para Peraih Nobel di Dunia


Mari kita tingkatkan budaya riset kita, agar mampu melahirkan banyak ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia.


Meningkatkan penghargaan dan anggaran dalam bidang riset kita bisa jadi merupakan langkah cerdik untuk menambah hasil-hasil Inovasi kita.

Sumber:

Nobel Prize