Tuesday, 30 October 2012

Sinergi Pendidikan IMTAQ dan IPTEKS untuk Membangun Generasi Muda

Belajar dari Mimpi-Mimpi Para Pemuda


"Innallaha la yughayyiru maa biqawmin, hattaa yughayyiruu maa bi anfusihim”:
”Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubahnya sendiri” 
(Qs. Ar-Ra’du: 11)

Sumpah Pemuda versi orisinal:

Pertama : "Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia."

Kedoewa : "Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia."

Ketiga : "Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."


84 Tahun yang lalu para pemuda Indonesia dari berbagai penjuru tanah air mendeklarasikan bersatunya Bangsa ini, dengan sebuah cita besar yang kala itu cita mereka oleh sebagian rakyat dianggap sebuah hal yg sulit bahkan mustahil, cita mereka adalah MERDEKA, merdeka dari segala bentuk penjajahan. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu disertai semangat perjuangan tanpa henti, do'a dan segala bentuk pengorbanan-pengorbanan, cita yang nampaknya muskil itu ternyata menemui takdirnya, tahun 1945 Indonesia Merdeka.
Kini tantangan semakin besar, peran pemuda sebagai bahan bakar utama proses pengisian kemerdekaan dituntut untuk kembali membuat Bangsa ini menjadi besar, menjadi kuat dan hebat. Ratusan ribu bahkan jutaan mimpi dan harapan para pemuda untuk tanah air yang lebih baik mesti kita perjuangkan. 

Peranan pendidikan sebagai mesin pengolah putra-putri terbaik bangsa mesti ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya, agar pemuda Indonesia dapat berdiri tegap di tengah badai globalisasi yg kuat menerpa. 

Cita kita para pemuda membuat pendidikan tanah air, kedaulatan ekonomi dan ketahanan budaya bangsa semakin kuat dimasa datang mesti diperjuangan agar kelak anak cucu kita bangga terhadap perjuangan para pendahulunya. 


Founder Indonesia Mengajar: Prof. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D., melantik para pengajar muda di Pusat Pendidikan Komando Pasukan Khusus (PUSDIK KOPASUS) Situ Lembang.

Generasi muda saat ini yang sepertinya kehilangan rasa kebangsaan dan nasionalismenya perlu digembleng dengan pendidikan yang serius dan berkelanjutan, wajib militer perlu digalakan bagi kalangan muda agar semangatnya kembali tumbuh, agar mereka dapat bertahan pada kondisi terburuk dalam hidup sekalipun.

Kita dapat belajar dari negeri gingseng Korea Selatan, meskipun taraf ekonomi dan peradaban IPTEKS-nya sudah maju, mereka tetap menerapkan wajib militer bagi para pemudanya, bahkan dari kalangan selebritis pun tak luput dari tugas negara ini.


"Untuk menemukan jati diri, kita mesti mengalami keadaan antara hidup dan mati, kekurangan air, kekurangan makanan, sehingga kita hanya berharap kehidupan hanya kepada Pencipta Alam Raya ini"
~Arip Nurahman~

PERANAN IMTAQ DAN IPTEKS

Peran Imtaq

Dimana peran Imtaq dalam pembangunan peradaban Indonesia Madani?
Maka jawabnya sangat jelas pada “jantung” peradaban itu sendiri.  Alasannya sederhana, karena  Indonesia Madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.
Kalau kita karakterisasi lebih lanjut, maka pertama, unsur manusia menjadi obyek dan subyek.  Kedua, ruh dari peradaban madani adalah relijiusitas-keimanan.  Ketiga, tujuannya adalah kesejahteraan, keadilan, martabat dll. adalah nilai-nilai luhur yang merupakan diferensiasi dari nilai keimanan.
Dengan demikian domain peradaban madani ekuivalen dengan domain Imtaq sendiri, karenanya peran Imtaq menjadi urgen, strategis dan dominan dalam pembangunan peradaban Indonesia Madani.

Pertama, karena membangun peradaban madani ini bertumpu pada manusia sebagai obyek sekaligus subyek (aktor), maka pembangunan manusia ini perlu dijalankan secara terpadu antara sisi brain (aqliyah), mind (qolbiyah), dan body (jasadiyah).
 
Pada titik inilah pentingan Imtaq-spiritualitas-relijiusitas.  Membangun kecerdasan manusia Indonesia, kesalehan sosial, dan kemajuan budaya menuju peradaban madani atau dalam bahasa yang lebih operasional, menghapus kebodohan, kekerasan sosial, dan keterbelakangan budaya”, sebab kita memandang kebodohan (rendahnya kualitas pendidikan), kekerasan (hilangnya kesantunan dan kedamaian dalam menyelesaikan segala bentuk konflik), serta keterbelakangan (kemandegan dan kejumudan) sebagai musuh sosial bangsa memerlukan kecerdasan bukan hanya dari sisi intelektual/rasional (IQ), namun juga mencakup sisi emosional (EQ) dan spiritual (SQ), agar sempurnalah sosok manusia Indonesia yang kita citakan (insan kamil).
Sisi emosional dan spiritual perlu mendapat perhatian yang memadai dalam proses pembangunan manusia Indonesia ke depan. Manusia yang cerdas paripurna itu akan lebih mampu menanggung beban dan menghadapi segenap cobaan hidup (adeversity quotient/AQ) dalam menggerakkan roda dan sebagai subyek pembangunan bangsa.

Manusia yang seimbang antara sisi intelektual, emosional dan spiritual itu sangat menyadari posisi dirinya dan tujuan yang akan dicapainya. Mereka tidak akan mudah mengalami krisis identitas sebagaimana terlihat pada sebagian warga di sekelilingnya, sehingga mereka dapat berperan sebagai unsur pengubah lingkungan dan pengarah masyarakat untuk menuju masyarakat madani.

Mereka juga menyadari betul agenda reformasi yang harus diperjuangkan, dan sejalan dengan cita-cita kemerdekaan yang telah diproklamsikan sejak lama. Mereka tak mudah goyah dan larut dalam perubahan zaman, bahkan menjadi pilar penjaga nilai-nilai perjuangan dan membuat arus baru yang akan menyelamatkan masyarakat dari kebobrokan dan kehancuran sosial.

Kedua, ruh dari peradaban madani adalah keimanan.  Manusia yang cerdas tidak hanya memikirkan kepentingan dan keselamatan dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan dan keselamatan masyarakat umum. Mereka melawan egoisme dan individualisme, lalu bersungguh-sungguh menumbuhkan semangat kolektif dan solidaritas sosial tanpa pamrih.

Bagi insan kamil sebagai subyek masyarakat madani, kesalehan bukan hanya semata bermakna ketaatan menjalankan ritual agama dan ketentuan hukum, melainkan juga mengobarkan spirit agama yang membebaskan dan substansi hukum yang menjunjung keadilan dan kebenaran. Kesalehan (ascetism) berpangkal dari iman (faith) dan taqwa (pious), yang akhirnya melahirkan tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang banyak.  Karenanya menjadi jelas bila Imtaq-spiritualitas-relijiusitas menjadi strategis dalam pembangunan peradaban Indonesia madani.

Aktor pembangunan masyarakat madani ialah mereka yang paling besar kontribusinya kepada masyarakat dan mengimplementasikan ketaatannya kepada Sang Khalik dengan berbuat kebajikan serta melayani semua makhluk. Kesalehan pribadi yang berakumulasi menjadi kesalehan publik akan membentuk lingkungan yang positif untuk berkembangnya seluruh potensi kemanusiaan (humanity) dan kewargaan (citizenry), melalui cermin peningkatan etos kerja, sikap terbuka akan kreasi dan inovasi baru, serta menguatnya solidaritas sosial.

Ketiga, tujuan akhir dari peradaban Indonesia madani adalah kesejahteraan, keadilan, martabat dll. yang merupakan nilai-nilai luhur diferensiasi dari nilai keimanan. Manusia madani berperan untuk menanggulangi krisis identitas dan modalitas bangsa; mengubah kondisi keterbelakangan menjadi kemajuan budaya. Kemajuan personal tidak hanya bersifat fisik, namun mengembangkan nilai-nilai universal kemanusiaan, sehingga tiap warga menyadari fungsi dan peran hidupnya sebagai seorang hamba, pemimpin, dan pembangun peradaban baru berbasis nilai-nilai keimanan. Kemajuan kolektif juga tak hanya bersifat fisik dan material, melainkan tumbuh suburnya nilai dan pranata keimanan, serta semakin menipisnya nilai dan pranata keburukan dan kemungkaran. Kemajuan budaya bagi suatu bangsa berarti bangsa ini menyadari kembali jati dirinya yang telah lama tererosi.

Jati diri itu antara lain sebagai bangsa pejuang yang membenci segala bentuk penindasan, bangsa yang mandiri dan menolak segala format ketergantungan, serta bangsa yang terbuka terhadap perubahan dan menolak eksklusifisme atau fanatisme sempit. Bangsa yang maju tak selalu berarti meninggalkan nilai-nilai relijius, tradisional dan lokal, sepanjang itu masih mencerminkan substansi kebaikan dan kebenaran universal.

Namun, bangsa yang maju adalah bangsa, yang mampu memadukan nilai-nilai modern yang lebih baik dengan warisan tradisional yang sesuai tuntutan zaman, yang berbasis keimanan.

Dengan demikian peran Imtaq menjadi urgen, strategis dan dominan dalam seluruh bangunan peradaban Indonesia Madani.  Imtaq menjadi ruh dan spirit peradaban Indonesia madani, yang menyediakan basis epos, etos dan elan vital dinamika transformasi bangsa menuju keunggulan.

Para Pemuda Pasukan Pengibar Bendera Pusaka


"Rasa takut adalah musuh terbesar diri, orang yang dapat membunuh rasa takutnya akan menemukan siapa dirinya"
~Arip Nurahman~

 Peran Ipteks

Sekarang, dimana peran Iptek dalam pembangunan peradaban Indonesia Madani?

 Perlukah sebuah rekonstruksi Iptek seperti di masa keemasan Islam?

Mungkin sulit kita mengulang prestasi itu, tapi kita pasti bisa.  George Sarton dalam Introduction: History of Science mewakili setiap setengah abad dengan satu tokoh ilmuwan.  Setelah abad Yunani dan China, maka berturut-turut sejak tahun 750-1100 M disebut oleh Sarton sebagai abad Jabir al Hayyan, Al Khawarizmi, Al Razi, Masudi, Ibnu Wafa, Ibnu Sina, Al Biruni, Ibnu al Haytsam, dan Umar Khayam.
Baru sejak tahun 1100 M muncul nama-nama Eropa seperti Roger Bacon dan Gerard de Cremona, menyusul Galileo, Kepler serta Issac Newton.  Sampai 250 tahun setelah itu, pemikiran sains masih didominasi oleh tokoh-tokoh Muslim seperti Ibnu Rusyd, Nasiruddin Al Tusi, dan Ibnu Navis.

Menurut Abdus Salam Peraih Nobel Fisika, untuk maju di bidang Iptek, maka diperlukan komitmen, kemandirian, Hardware yang kuat, dan manajemen yang tangguh.  Ketika Al Ma’mun (785-833M) berkuasa, komitmen itu terlihat, karenanya harus diakui gerakan keilmuan Islam menampakkan fajarnya.  Al Kindi adalah tokoh rasional masa itu yang mengembangkan filsafat (falasifah) dan salah satu tokoh gerakan penerjemahan sistematik.
Al Ma’mun mensponsori gerakan intelektual ini dan menghimpun para ilmuwan di istananya serta membangun perpustakaan besar Bayt Al Hikmah.  Dan merupakan tokoh yang paling berpengaruh bagi kemajuan ilmu pengetahuan umat di Abad Pertengahan.  Minat Al Ma’mun terhadap Astronomi, matematika dan kedokteran dapat dengan mudah difahami, karena disiplin-disiplin ilmu ini menyatu dalam kehidupan harian umat.  Ia pun menerjemahkan banyak karya filsafat Plotinus dan mazhab Alexandria lainnya.
Pengembangan Iptek Islam terus berlanjut.  Bahkan pada masa kesultanan Buwaih tiga abad setelah Al Ma’mun ilmu pengetahuan umat mencapai puncaknya.  Filosof dan ilmuwan Islam besar eksis pada masa ini seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Al Biruni dlsb.

Namun, kondisi umat kini sudah berubah.  Abdus Salam, peraih Nobel Bidang Fisika tahun 1979 bersama-sama Sheldon L. Glashow dan Steven Weinberg mengembangkan risetnya di Cambridge University, London University dan ICTP (International Center for Theorytical Physics) di Italia bukan di Pakistan.  Al Azhar yang berumur ratusan tahun masih harus kita tunggu prestasi keilmuan kauniyahnya.

Karenanya secara normatif dan bahkan terbukti oleh sejarah, bahwa pembangunan peradaban material sangat bertumpu pada pembangunan Iptek.  Iptek adalah engine for tommorow.  Agar pembangunan Iptek memiliki dampak nyata bagi pembangunan peradaban, maka ia harus bersinergi dan terintegrasi serta membentuk Sistem Inovasi Nasional.

Paling tidak ada 4 alasan yang menghajatkan orientasi pembangunan Iptek menuju Sistem Inovasi Nasional.

Pertama Iptek adalah hasil olah akal-budi yang mengelola ide menjadi penemuan (invention).  Penemuan ini akan menemui maknanya yang utuh dalam praksis (praxis) ketika menghasilkan nilai tambah (value added) secara ekonomi-sosial-hankam.  Proses value creation inilah yang kita sebut sebagai inovasi (innovation).  Dengan demikian, Iptek akan bermanfaat dalam praksis kehidupan ketika ia telah tumbuh menjadi inovasi.

Kedua, Iptek adalah hasil olah akal-budi yang mengelola ide melalui suatu proses pembelajaran (learning) yang terus-menerus melintasi ruang-waktu generasi.  Ide dapat merambat (menginspirasi), berkembang, dan saling menguatkan.  Karenanya iklim yang kondusif bagi penumbuh suburan ide adalah ruang yang memungkinkan bagi interaksi, sinergi, share dari ide-ide.  Jaringan (network) yang membentuk sistem untuk mengelola ide menjadi inovasi adalah sebuah keniscayaan.  Dengan demikian, pembangunan inovasi menuntut pendekatan sistem.

Selain itu, Iptek bukanlah  sebuah sektor, seperti pertanian atau industri, tetapi serupa dengan Lingkungan Hidup, Iptek adalah bidang pembangunan yang melekat pada setiap sektor, merupakan factor sukses dari sektor-sektor tersebut. Pembangunan Iptek secara sendirian dan mandiri akan menjadi "menara gading" dan sebuah enclave.  Namun tanpa Iptek, sektor-sektor lain tidak akan mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing mereka. Secara lugas kita dapat menempatkan Iptek sebagai engine of growth dan power for competitiveness.  Karenanya pembangunan Iptek dan penguatan Sistem Inovasi Nasional menuntut koordinasi dan sinergi.

Ketiga, Reformasi adalah proses yang mengokohkan demokratisasi yang berujung pada peningkatan kesadaran publik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Kesadaran ini menghasilkan peningkatan aspirasi dan kontribusi (peran) masyarakat dalam pembangunan nasional.  Karenanya pendekatan para pihak (multi stake holders) dalam mengelola pembangunan menjadi prasyarat yang makin menonjol.  Dengan demikian pembangunan Iptek akan lebih diorientasikan untuk memperhatikan kebutuhan masyarakat (demand driven oriented), ketimbang mengembangkan pendekatan yang berat ke arah supply push technology (market pull).

Keempat, perkembangan global yang makin cepat, kesadaran publik yang makin tinggi, serta diferensiasi tugas komponen negara yang semakin tajam menuntut redefinisi peran Negara.  Semakin maju suatu bangsa, maka peran Negara harus semakin efisien pada wilayah-wilayah strategis saja. Dengan demikian, negara akan lebih diposisikan menjadi stabilisator, fasilitator dan dinamisator.



Prof. Yohanes Surya, Ph.D. bersama para pemuda Team Olimpiade Fisika Indonesia saat Menjadi Juara Dunia 
The Absolute winner dalam Olimpiade Fisika Internasional di Singapura.

Pelaku utama perubahan (transformasi) adalah masyarakat.  Karenanya diffusion oriented yang menyebarkan hasil-hasil riset dan teknologi ke dalam masyarakat, sehingga dapat langsung dimanfaatkan untuk kepentingan daya saing industri, layanan masyarakat atau national security menjadi lebih mendapat prioritas.

Dengan demikian, kunci sukses untuk mengintegrasikan Iptek dengan peradaban masyarakat madani adalah inovasi. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, dan untuk memacu pertumbuhan menjadi bangsa yang terhormat, maju dan kompetitif.  Sistem inovasi nasional mesti dibangun dan menjadi bagian integral dari peradaban kita.  Artinya kita akan membangun bangsa inovasi (innovation nation) sebagai pilar kokoh bagi peradaban Indonesia madani.

Terkait dengan kinerja Sistem Inovasi Nasional kita, saya ingin mengungkap data dari Global Competitiveness Index (WCI), World Economic Forum (WEF). Pada tahun 2010, peringkat daya saing Indonesia meningkat dari urutan ke-54 menjadi peringkat ke-44.  Dari 12 pilar yang ada dalam Global Competitiveness Index, untuk pilar Kesiapan Teknologi (technological readiness) kita menempati peringkat ke-91, berada di bawah negara-negara ASEAN, kecuali terhadap Filipina.
Technological readiness adalah indikator yang mencerminkan sejauh mana industri maupun masyarkat kita, secara umum, mempunyai kesiapan untuk menyerap teknologi dalam rangka meningkatkan produktifitas industri dan kemampuan ekonomi mereka. Rendahnya aspek ini menunjukkan bahwa industri dan masyarakat kita secara umum belum banyak memanfaat teknologi, baik teknologi yang dikembangkan di dalam negeri, maupun teknologi yang didatangkan dari luar negeri.

Sedang untuk pilar Inovasi, Indonesia menempati peringkat ke-36, berada di atas negara-negara ASEAN, kecuali Singapura dan Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak bangsa dalam pengembangan inovasi sesungguhnya tidak perlu diragukan.

Membangun peradaban Indonesia Madani memerlukan dukungan Imtaq dan Iptek.  Karena sudah sangat jelas pilar utama masyarakat madani adalah SDM-manusia.  Manusia yang terdiri dari darah dan daging, dapat tegak berdiri hanya dan hanya jika “ruh” ada di dalamnya.

Kekuatan ruh menjelma dalam akal (rasio)  dan hati (mind).  Itulah mengapa Imtaq dan Iptek menjadi kepakan dua sayap, yang harus mengembang secara harmonis, sebab yang kita ingin bangun adalah peradaban yang digusung oleh manusia yang memiliki Integritas (Ilahiyah-Insaniyah-Wathoniyah),  Akseptabilitas dan Profesionalitas, manusia yang punya kredibilitas (intelek sekaligus relijius).

Pembangunan peradaban madani bukan hanya memerlukan kecerdasan akali tetapi juga qolbi bukan hanya rasional-intelektual, tetapi juga sarat aturan moral-spiritual.

Inilah pembangunan yang bukan hanya menuai keberkahan “bumi”, tetapi juga restu dari “langit”, amin ya rabbal ‘alamin.
Tribuana Chandraca Satya Dharma Cahaya Chandraca
 BERANI, BENAR, BERHASIL

~Pengajar Muda Berada di PUSDIK KOPASUS Situ Lembang, Gunung Burangrang~
 

"Mari kita melahirkan generasi muda yang mempunyai world class quality leadership with grass root understanding"

~Arip Nurahman~


Wallohualam Bissawab

Semangat Para Pemuda 

Semangat Generasi Muda Indonesia


Sumber:

1. https://indonesiamengajar.org/
Prof. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D.

2. http://ristek.go.id/
Dr. Suharna Surapranata, M.T.

3. http://www.tofi.or.id/
Prof. Yohanes Surya, Ph.D.

Friday, 26 October 2012

Memahami Perjalanan Spiritual Nabi Ibrahim Dari Sudut Pandang Ilmiah

 Ketika Planet-Planet Bertawaf 

"Ya Rabbana Izinkanlah suatu hari nanti kami, orang tua, keluarga dan sahabat-sahabat serta orang-orang yang telah mengajarkan kebaikan kepada kami untuk dapat mengunjungi tanah suci dan meneladani kebaikan para Nabi-Mu"

Tiada kata yang patut disampaikan dan tiada kalimat yang pantas diucapkan kecuali puja dan puji syukur kehadirat Allah S.W.T Yang Maha Ada. Allah SWT Yang Maha Ada sebelum alam semesta ini ada, Allah SWT Yang Ada sebelum kita seluruh manusia di bumi ini ada, dan Allah Yang Maha ada sebelum kata ada itu ada, bahkan Allah SWT Yang Maha ada walaupun suatu saat kata ada sudah tiada.

Tiada kemenangan tanpa perjuangan dan tiada perjuangan tanpa pengorbanan, Kita kembali mengulang dan mengenang tentang kisah perjuangan dan pengorbanan hamba Allah yang shaleh, yang telah mencapai puncak dan hakekat dari sebuah makna perjuangan dan pengorbanan, yang karena perjuangan dan pengorbanannya beliau lulus dengan predikat dan gelar "Khaliluloh" yaitu orang yang mencintai dan dicintai Allah, beliaulah NabiyaAllah Ibrahim yang dikenal di dunia barat sebagai Abraham. Bapak para Nabi, sumber dari seluruh agama dan kepercayaan langit (Yahudi, Keristen dan Islam). Pendiri baitullah.

Kisah perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim berserta keluarga bukanlah sekedar dongeng yang hanya untuk meninabobokan anak kita, Kisah Nabi Ibrahim bukan pula seperti novel dan bukan cerita yang setelah kita  baca kita tinggalkan begitu saja, Kisah Nabi Ibrahim bukan pula layaknya telenovela dan sinetron yang biasa kita tonton, lantas meninggalkan kita tanpa makna dan bekas.

Sesungguhnya kisah perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim adalah pelajaran terpenting bagi siapapun hamba Allah yang ingin mencapai derajat taqwa, kisah Nabi Ibrahim adalah tuntunan hidup suci bagi hamba Allah yang ingin menggapai perjuangan dan pengorbanan hakiki, Kisah Nabi Ibrahim adalah contoh dan teladan yang penuh arti bagi siapa pun hamba Allah yang merindukan Tauhid Murni pedoman untuk mencapai kehidupan abadi.


Kisah Pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim: "Wahai ibu dan ayahku, siapa yang telah menjadikan aku ini?

Jawab Ayahnya :''Ayah dan Ibu yang menjadikan kamu, karena kamu lahir disebabkan kami".

Kemudian Nabi Ibrahim bertanya lagi: "Dan siapa pula yang menjadikan Ayah dan Ibu?

Jawab orang tuanya: "Ya Kakek dan nenekmu."

Demikian tanya jawab seterusnya sampai ketitik puncak.

Nabi Ibrahim menyatakan: "Siapakah orang pertama yang menjadikan semua ini?

Maka orang tuanya tidak bisa menjawab, karena mereka tidak tahu kepada Tuhan.

Ibrahim kemudian bertanya kepada orang lain, namun mereka semua tidak bisa menjawab.

Nabi Ibrahim kemudian menggunakan akal dan fikirannya untuk mencari Tuhan Sang Pecipta alam semesta ini, karena akal manusia sangat terbatas, nabi Ibrahim pun gagal untuk mengetahui siapa sebenarnya yang telah menciptakan alam semesta ini. 

Firman Allah SWT: (QS. Al-An'am: 76-79)

"Falammaa janna 'alayhi allaylu raaa kawkaban qaala haadzaa rabbii falammaa afala qaala laa uhibbu al-aafiliina"

76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

"Falammaa raaa alqamara baazighan qaala haadzaa rabbii falammaa afala qaala la-in lam yahdinii rabbii la-akuunanna mina alqawmi aldhdhaalliina

77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."

"Falammaa raaa alsysyamsa baazighatan qaala haadzaa rabbii haadzaa akbaru falammaa afalat qaala yaa qawmi innii barii-un mimmaa tusyrikuuna

78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

"Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fathara alssamaawaati waal-ardha haniifan wamaa anaa mina almusyrikiina"

79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.


Ketika hari telah malam, Ibrahim melihat bintang, katanya: "Inilah Tuhanku...?"
Maka setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata: "Saya tidak akan berTuhan pada yang terbenam."
Kemudian ketika melihat bulan purnama, iapun berkata lagi: "Inilah Tuhanku...?"

Setelah bulan itu lenyap, lenyap pula pendapatnya berTuhan kepada bulan itu, seraya berkata:
"Sungguh kalau tidak Tuhan yang memberi petunjuk, tentu saya menjadi sesat."

Maka ketika siang hari, nampak olehnya matahari yang sangat terang, ia pun berkata:
"Inikah Tuhanku yang sebenarnya...? Inilah yang lebih besar."
Setelah matahari terbenam, iapun berkata: "Hai kaumku! Saya tidak mau mempersekutukan Tuhan seperti kamu. Saya hanya berTuhan kepada yang menjadikan langit dan bumi dengan ikhlas dan sekali-kali saya tidak mau menyekutukanNya."

Itulah cara Nabi Ibrahim as. mencari Tuhan dengan menggunakan akal fikiran untuk memperhatikan alam sekitarnya. Awwaluddin ma'rifatullah, yaitu awal agama adalah mengenal Allah, barangsiapa yang ingin mengenal Allah, maka kenali dirinya baru ia akan mengenal siapa Allah itu sesungguhnya, siapa Tuhan itu dan dimana Allah itu, kenapa kita wajib menyembahnya.



Ketika Bintang-Bintang Bertawaf mengelilingi Pusat Galaksi

Memahami Sejarah Ibadah Haji Dari Sudut Pandang Ilmiah

Kita dapat memaknai fenomena thawaf. Ratusan ribuan orang yang berthawaf, silih berganti tanpa henti, terlihat seperti  ribuan asteroid, komet, dan planet yang mengitari matahari. Atau seperti milyaran bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Khaliqnya, Allahu Rabbul ‘alamin. Sejak penciptaannya mereka tetap taat mengikuti hukum-hukum Allah.

Makhluk langit (bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya) ‘disempurnakan’ (fasawwahaa) dengan kematian dan kelahiran bintang-bintang. Hukum Allah mengendalikan evolusinya dan dinamikanya yang dicirikan dengan gerakan mengitari pusat massanya. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan langit dan bumi kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya.

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

‘Mengelilingi sesuatu’ disebut thawaf. Alam berthawaf sebagai bukti ketaatannya kepada Allah. Secara jasmani, tubuh manusia pun taat pada hukum-Nya dengan terus berthawaf bersama alam tanpa bisa kita tolak. Namun secara ruhani, manusia berpotensi membangkang. Padahal, seperti halnya alam, manusia pun dalam salah satu tahapan perkembangannya di rahim telah berjanji untuk taat kepada Allah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Dengan merenungi ketaatan alam, thawaf pada ibadah haji dan umrah semestinya menyadarkan akan janji manusia tersebut. Tujuh kali mengitari kabah merupakan perlambang jumlah putaran yang tidak berhingga, terus menerus, seperti thawafnya alam semesta. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh 
(QS 33:72).

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah.

Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi diciptakan. Namun, manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan  makhluk yang telah Kami ciptakan.  (QS 17:70). 

Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-32), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud.

Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang  sebaik-baiknya. (QS 95:4). 

Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah kelemahannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS 70:19). 

Manusia juga lemah.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia  dijadikan bersifat lemah. (QS 4:28). 

Juga bersifat tergesa-gesa.

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.  (QS 17:11). 

Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat (QS 33:72). Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)  (QS 95:5). 

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Alam semesta telah berjanji untuk taat kepada Allah. Manusia pun telah berjanji untuk bertauhid kepada-Nya. Namun manusia sering membangkang karena kejumudannya, kebekuan akalnya, hilang rasionalitasnya. Kebenaran ilahiyah kadang diabaikannya karena kesombongan duniawi yang ditonjolkan.


Memahami makna ibadah haji, membutuhkan pemahaman secara khusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, karena praktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as. bersama keluarga beliau. Ibrahim as. dikenal sebagai "Bapak para Nabi", juga "Bapak monotheisme," serta "proklamator keadilan Ilahi" kepada beliaulah merujuk agama-agama samawi terbesar selama ini.

Para ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang mempengaruhi atau bahkan merubah jalannya sejarah kemanusiaan. Tapi seperti tulisan al-Akkad, "Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as. merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapa pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, ... yang itu dikuasai manusia, sedangkan penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia."

Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam, serta menilai baik buruknya, penemuan yang itu dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tapi kesewenang-wenangan ini tak mungkin dilakukannya selama penemuan Ibrahim as. itu tetap menghiasi jiwanya ... penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang diketahui dan tak diketahuinya, berkaitan dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam raya dan makhluk-makhluk sesamanya ..."

"Kepastian" yang dibutuhkan ilmuwan menyangkut hukum-hukum dan tata kerja alam ini, tak dapat diperolehnya kecuali melalui keyakinan tentang ajaran Bapak monotheisme itu. Dengan demikian monoteisme Ibrahim as. bukan sekedar hakikat keagamaan yang besar, tapi sekaligus penunjang akal ilmiah manusia sehingga lebih tepat, lebih teliti lagi, lebih meyakinkan.
Apalagi Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim as. bukan sekedar tuhan suku, bangsa atau golongan tertentu manusia, tapi Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang imanen sekaligus transenden, yang dekat dengan manusia, menyertai mereka semua secara keseluruhan dan orang per orang, sendirian atau ketika dalam kelompok, pada saat diam atau bergerak, tidur atau jaga, pada saat kehidupannya, bahkan sebelum dan sesudah kehidupan dan kematiannya.
Bukannya Tuhan yang sifat-sifat-Nya hanya monopoli pengetahuan para pemuka agama, atau yang hanya dapat dihubungi mereka, tapi Tuhan manusia seluruhuya secara universal.

Ajaran Ibrahim as. atau "penemuan" beliau benar-benar merupakan suatu lembaran baru dalam sejarah kepercayaan dan bagi kemanusiaan, walaupun tauhid bukan sesuatu yang tak dikenal sebelum masa beliau, demikian pula keadilan Tuhan, serta pengabdian pada yang hak dan transenden. Namun itu semua sampai masa Ibrahim bukan merupakan ajaran kenabian dan risalah seluruh umat manusia.
Di Mesir 5.000 tahun lalu telah dikumandangkan ajaran keesaan Tuhan, serta persamaan antara sesama manusia, tapi itu merupakan dekrit dari singgasana kekuasaan yang kemudian dibatalkan oleh dekrit penguasa sesudahnya.

Ibrahim datang mengumandangkan keadilan Ilahi, yang mempersamakan semua manusia dihadapan-Nya, sehingga betapa pun kuatnya seseorang. Ia tetap sama di hadapan Tuhan dengan seseorang yang paling lemah sekali pun, karena kekuatan si kuat diperoleh dari pada-Nya, sedangkan kelemahan si lemah adalah atas hikmah kebijaksanaan-Nya. Dia dapat mencabut atau menganugerahkan kekuatan itu pada siapa saja sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya.
Keteladanan yang diwujudkan dalam bentuk ibadah tersebut dan yang praktek-praktek ritualnya berkaitan dengan peristiwa yang beliau dan keluarga alami, pada hakikataya merupakan penegasan kembali dari setiap jamaah haji, tentang keterikatannya dengan prinsip-prinsip keyakinan yang dianut Ibrahim, yang intinya adalah:

1. Pengakuan Keesaan Tuhan, serta penolakan terhadap segala macam dan bentuk kemusyrikan baik berupa patung-patung, bintang, bulan dan matahari bahkan segala sesuatu selain dari Allah swt.


2. Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh setiap makhluk pada hari kebangkitan kelak.


3. Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal, tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya, betapa pun terdapat perbedaan antar mereka dalam hal-hal lainnya.



  Atom dan Partikel Sub-Atom sedang bertawaf

Perjalan haji diawali dengan niat untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Niat memenuhi panggilan Allah ini disebut oleh Allah dengan perintah untuk merenungkan posisi dirinya sebagai manusia dan hambanya Allah. Perenungan ini diperintahkan Allah dilakukan di Arafah (Wukuf). Penempatan Wukuf di Arafah ini untuk dapat mengingat nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam AS yang pertama kali hidup menyadari kesalahannya melanggar perintah Allah. 

Sesudah si hamba sadar tentang posisi dirinya dan misi yang akan diembannya serta niat yang telah dinyatakannya untuk memenuhi panggilan Illahi untuk kerumah-Nya Baitullah, maka selanjutnya Allah memerintahkannya untuk mentauladani perjalan Ibrahim beserta keluarganya yang telah berteguh hati mentauhidkan Allah sepanjang hidupnya walau senantiasa mengahadapi ujian yang berat. 

Sihamba diperintahkan untuk merealisasikan niatnya itu dengan mengikuti jalan Ibrahim meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Sesampainya di Muzdalifah si hamba diperintahkan untuk bermalam sejenak sebagai persiapan diri baik secara mental maupun fisik untuk perjalanan menghampiri Allah SWT. Persiapan ini perlu dilakukan untuk menghampiri Allah akan dihadang oleh ujian, baik internal maupun eksternal. Ujian internalnya berupa keinginan-keinginan manusia, sedang ujian eksternalnya adalah setan yang akan selalu menghadangnya. 

Dua bentuk rintangan itu haruslah ditaklukan terlebih dahulu, barulah sihamba akan berhasil menghampiri Khaliknya Allah SWT. Penaklukan terhadap dua bentuk rintangan itulah yang diperintahkan oleh Allh SWT dalam bentuk mabit di Mina yang merupakan perlambang jauhnya dari kenyamanan hidup dan jauh dari apa yang diinginkan manusia dan melempar Jumrah selama di Mina. 

Dengan keberhasilan si hamba mengalahkan rintangan di Mina, maka ia harus dapat menghampiri Allah Azza wa Jalla dengan melakukan thawaf ke Baitullah Ka'bah. Akan tetapi sesaat ia telah menyelesaikan thawafnya yang merupakan perlambang penghampirannya kepada Allah, si hamba diperintahkan untuk tidak melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini dengan berusaha mencari karunia (rizki) dari Allah baik untuk dirinya maupun untuk orang-orang lain, yang hal ini diperlambangkan dengan amal sa'i, yang diambil dari peristiwa istri Nabi Ibrahim berkali-kali mencari air untuk kehidupannya dan bayi Ismail yang dilahirkannya. 

Siti Hajar telah berusaha tanpa berputus asa walau ia diuji dengan kegagalan demi kegagalan, dan pada akhirnya Allah memberikan karunia dari arah yang tidak disangkanya, yaitu di dekat bayi Ismail yang ditinggalkannya (berupa air Zam-zam). 

Demikian sebagai hikmah yang dapat dipetik dari Kisah Perjalanan Spiritual Nabi Ibrahim dan syariat peribadatan haji, semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.

Amin.

Do'a-Do'a Nabi Ibrahim
 "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
~QS Al-baqarah (2) Ayat 127~

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
~QS Al-Baqarah (2) Ayat 128~

Wallohualam Bissawab.

Sumber:

1. Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
2. Drs. H. Saeful Karim, M.Si.
(Dosen Termodinamika, Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia, Pendiri Pondok Pesantren Myskatul Anwar, Penasehat Spiritual Mentri, TNI-Polri dan Pemimpin Daerah )
3. Andi Muhammad Ali (Penulis Blog)
4. Achtal Basyuni, M.Pd. (Anggota Pusat Sumber Belajar SMA KEMENDIKBUD)
5. Ustadz H. Komarudin Kholil, M.Ag. (Pengajar di Pondok Pesantren Da'arut Tauhid, Bandung, Jawa Barat. Indonesia)

Tuesday, 23 October 2012

Mentafakuri Karya Agung Sang Pencipta Melalui Fisika



Dari mana kita berasal?

Siapa kita ini?

Untuk apa kita ada?

Dan Hendak kemana kita akan pergi pada akhirnya?

Terkadang kita terlalu tersibukan dengan rutinitas yang kita hadapi setiap hari, hingga kita jarang bertanya kepada diri untuk apa kita ada dan kemana kita akan pergi setelah tiada?

Kesadaran sebagai puncak kecerdasan dan kemanusiaan seolah sirna dengan hiruk pikuk jasadiah yang senantiasa berinteraksi dengan alam materil mayapada.

Sehingga sering kali kita lupa, lupa akan siapa kita dan dari mana kita berasal.

Kesadaran dan kemampuan pemikiran yang kita miliki sebagai pembeda dengan makhluk lain kadang tak digunakan semestinya.

Bukankah menjadikan udara yg kita hirup, tanah yg kita pijak, air yang kita minum sebagai sarana mengenal pencipta alam ini adalah tujuan kita?

Lalu kepada siapa lagi kita meminta petunjuk dan jawaban untuk melapangkan segala keluh susah hidup?

Kepada siapa kita meminta keterbukaan hati dan keluasan samudra jiwa?

Apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern?
Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. 

Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat diterangkan secara rasional. 

Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang agak egoistik.

Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk bercengkerama dengan Tuhan. 

Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten.

Hal-hal yang bersifat spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.

Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya, perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klassik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar Sufisme.

Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. 

Hal ini merujuk kepada suatu realitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman manusia.


Semoga Ilmu dan segala kegiatan yang kami lakukan dapat mendekatkan diri ini pada Mu Ya Rabbana, Melapangkan dada kami, membukakan mata qolbu kami, menjadi penebus segala salah serta khilaf di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.



"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." [QS Ali 'Imran 3:190-191]


Wallohualam Bissawab.
   
Sumber: Muhammad Hikam, M.Sc., Ph.D.

Doctor en Sciences et Genie des Materiaux, Université de Nancy I Vandoeuvre, France.