Showing posts with label Seminar. Show all posts
Showing posts with label Seminar. Show all posts

Saturday, 20 October 2012

Southeast Asia Astronomy Network Meeting

The 4th SEAAN meeting aims to promote cooperation in the field of education, research and popularization of astronomy among Southeast Asian member countries. It divided into scientific and business sessions. 


Ilmuwan dan Guru Muda Bersama para pemakalah di SEAAN Meeting ke-4

Session I
(5 speakers)

Chair: Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja

1. Dr. Lim Jit Ning: Astronomy Research and Education at a Singapore High School

2. Dr. Judhistira Aria Utama: Reliability Test of Visibility Function Prediction on Lunar Crescent Data in Indonesia

3. Prof. Dr. Moedji Raharto: Astronomical Phenomena and National Holiday on Calendar

4. Dr. Nur Hasanah: Statistical Model for Predicting Weather Through Lunar Phase - Meteorological Phenomena Relationships in Makassar City

5. Dr. Premana W. Premadi: Envisioning the Advancement of Astronomy and Astrophysics for the Next Ten Years



Session II
(4 speakers)

Chair: Hesti T. Wulandari, M.Sc., Ph.D.

1. Dr. Hasan Abu Kassim: Nuclear Astrophysics Research in Malaysia

2. Dr. Soheila Abdollahi: Simulations on Energy Spectrum Sensitivity of an Array Consisting 20 Scintillation Detectors Which will Situated at Alborz Cosmic Ray Observatory

3. Dr. Maedeh Fazlalizadeh: Observation of Geomagnetic Field Effect over Simulated Extensive Air Showers using CORSIKA Code

4. Dr. Taufiq Hidayat: Developing Radio Astronomy at the Bosscha Observatory



Physics Students from Indonesia University of Education with Prof. Hakim L. Malasan, D. Sc.
at The 4th South East Asia Astronomy Network Meeting.

Education:
B.Sc. : Institut Teknologi Bandung, Indonesia, 1985
M.Sc. : The University of Tokyo, Japan, 1989
D.Sc. : The University of Tokyo, Japan, 1993

Research Interests:

1. Stellar Physics
2. Photometry of variable and eclipsing binary stars
3. Spectroscopy
4. Development of CCD-based astronomical instruments
5. Image and data processing in astronomy

Session III
(8 speakers):

Chair: Mahasena Putra, M.Sc., Ph.D.

1. Prof. Hakim L. Malasan, Ph.D. : Collaboration in Eclipsing Binary Program

2. Dr. Andrea Richichi : New Binaries in the Pleiades Cluster

3. Dr. Norhasliza Yusof: Very Massive Stars at Local Universe

4. Dr. Siti Jamiah Mohamad Yob: An Optical Look at the Central Star of Planetary Nebula, K 648

5. Dr. Rhorom Priyatikanto: Dissolution of Merging Binary Clusters: Without Tidal Field

6. Dr. M. Ikbal Arifyanto: Physical Parameters of Open Clusters in the Anti-Galactic Center

7. Dr. Puji Irawati: On The Evolutionary Scenario Of IK Pegasi

8. Dr. M. Irfan Hakim: Searching the Progenitor of Rapidly Rotating Be Stars



Session IV
(6 speakers):

Chair: Prof. Moedji Raharto, M.Sc., Ph.D.

1. Dr. Utane Sawangwit: The Clustering of Luminous Red Galaxy at z=1 from SDSS Stripe82

2. Dr. Nooshin Jamshidi: Spectropolarimetric Study of Penumbral Filaments

3. Dr. Suryadi Siregar: Orbital Evolution of Toutatis

4. Dr. Budi Dermawan: Searching for New Venus Coorbital Asteroids

5. Dr. Abdul Rachman: Current Threat from Orbital Debris to Astronomical Observation

6. Dr. Dhani Herdiwijaya: Debris Impact on Low Earth Orbit Space Mission



"Educationists should build the capacities of the spirit of inquiry, learning, creativity, entrepreneurial and moral leadership among students and become their role model."
~Arip Nurahman at Indonesia University of Education~

Foto oleh:  Ella Dawiyah

Friday, 5 October 2012

Inovasi IPTEK Nuklir Untuk Mendukung Kebijakan Energi Nuklir Global


Dialog dalam dunia masyarakat

Masyarakat: "Dik, sedang belajar apa?"

Mahasiswa Fisika: "Sedang belajar Fisika Nuklir"

Masyarakat: " Wow, mau menghancurkan dunia donk?"

Mahasiswa Fisika: "Bukan, kami mempelajari fisika nuklir adalah untuk kesejahteraan dan perdamaian umat manusia di dunia"


Inovasi Teknologi PLTN Untuk Mendukung Kebijakan Energi Nuklir Global

Demikian tema Seminar Nasional kerja sama Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir (PTRKN) BATAN dengan Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. 

Seminar Nasional Teknologi dan Keselamatan PLTN serta Fasilitas Nuklir ke-18 diselenggarakan Sabtu 29 September 2012, di Hall Auditorium FPMIPA UPI-Bandung, Jurusan Pendidikan Fisika. Seminar TKPFN-18 ini menghadirkan 4 pembicara utama, yaitu Kepala BATAN Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto, M.Sc., Ph.D., Dr. Ade Gafar Abdullah, M.Si. (UPI Bandung), Prof. Toshio Wakabayashi, Ph.D. (Prof. Emeritus, Tohoku University), dan Dr. Yutaka Kawakami (Advisor, Nuclear Safety Research Association). 

Seminar dihadiri beberapa tamu undangan dari lingkungan BATAN, UPI, serta para guru dan mahasiswa khususnya jurusan Fisika. Pada seminar ini juga menampilkan 47 makalah dan poster. 

Dalam presentasinya Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto, M.Sc., Ph.D. menegaskan bahwa energi nuklir tidak untuk berkompetisi dengan sumber energi yang lain. "Nuklir sangat penting dalam konsep bauran energi. Arah kebijakan nuklir mengikuti arah kebijakan nasional" tambah Djarot. Selain itu mengajak para dosen dan mahasiswa untuk dapat memanfaatkan fasilitas yang dipunyai BATAN, sebagai tempat penelitian. karena tempat kami dibiayai oleh negara untuk itu dapat digunakan oleh peneliti atau periset yang mendalami teknologi nuklir. 

Sementara itu, Dr. Ade Gafar Abdullah, M.Si. menyoroti peran dunia pendidikan dalam memajukan teknologi PLTN di Indonesia. Beliau menyampaikan jika masyarakat memperoleh informasi yang jelas tentang nuklir maka penerimaan publik akan semakin meningkat, dan sebaliknya persepsi resiko akan turun. "Maka dari itu pentingnya memperkenalkan teknologi maju ini sejak dini" tambah Ade. 

Beliau juga mengusulkan untuk memasukkan pelajaran terkait nuklir/PLTN ke kurikulm pendidikan nasional. Agenda Riset Nasional (ARN) telah mencantumkan litbang energi nuklir yang memperjelas arah dan tujuan litbang energi nuklir. 

Salah satu hal terpenting dalam pemanfaatan energi nuklir adalah pengembangan dan inovasi sistem keselamatan nuklir yang mendukung integritas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) agar aman selama operasi maupun saat terjadinya kecelakaan.

 Penulis, Guru dan Ilmuwan Muda bersama President Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
Prof. Djarot Sulistio Wisnubroto, M.Sc., Ph.D.
Beliau merupakan pakar dan ilmuwan Nuklir lulusan Tokyo University yang disegani, namun demikian ia sangat ramah dan murah senyum terhadap para pelajar 

Saat ini layanan yang bisa diakses secara online dari BATAN adalah :
  1. Jasa pengelolaan limbah radioaktif;
  2. Jasa pendidikan dan pelatihan;
  3. Jasa Sertifikasi Personel
  4. Layanan Iradiasi (Neutron, Batu Topaz dan Air Mineral)
  5. Jasa Analisis Pestisida
  6. Layanan Iradiasi (Sterilisasi, Pengawetan dan Mutasi genetik)


Penulis, Guru, Ilmuwan Muda dan Teman-teman bersama Prof. Toshio Wakabayashi, Ph.D. beliau merupakan Profesor Emeritus Fisika Nuklir di Tohoku University, Jepang.


Menembus Pandang Ke Tahun 2045

Indonesia Memiliki lebih dari 100.000 Orang Pakar dan Profesional dalam IPTEK Nuklir

30 Pusat Pendidikan IPTEK Nuklir di Universitas dan Perguruan Tinggi

Saat itu Indonesia memiliki minimal 20 Pusat Riset, Inovasi, dan Pengembangan IPTEK Nuklir

25 Reaktor Nuklir Komersial Pembangkit Energi Listrik

1 Reaktor Fusi Nuklir

Annual Session of IAEA General Conference



Dr. Yukiya Amano (天野 之弥 born 9 May 1947) is the current Director General of the
 International Atomic Energy Agency (IAEA), having been elected to the position in July 2009.

Alma mater:


International Atomic Energy Agency Publications

The 56th annual session of the IAEA General Conference in Vienna. More than 3.000 delegates from 155 IAEA Member States, international organizations, NGO's and the media attended the event held at the Austria Center, Vienna from 17-22 September 2012. 

NUCLEUS is the IAEA’s web portal for providing public access to over 100 scientific, technical and regulatory resources, including databases, websites, applications, publications, safety standards, training materials, and more. NUCLEUS makes it easy to search and browse the large number of resources made available online by the IAEA.

Kunjungi juga:
3. http://nuclearscienceandtechnology.blogspot.com/  (Sekolah Sains dan Teknologi Nuklir)
6. http://ocw.mit.edu/courses/nuclear-engineering/ (Nuclear Engineering OpenCourseWare from MIT)

7. http://fisika.upi.edu/ (Jurusan Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia)


Ucapan Terima Kasih:

1. Kak Rezy Pradipta, Ph.D. (Alumni Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Nuclear Engineering at MIT)

2. Dr. Mohamed Mustafa ElBaradei, J.S.D. (Former Director General of IAEA)

3. Prof. Mujid S. Kazimi, Ph.D. (Director, Center for Advanced Nuclear Energy Systems MIT)

4. Kak Iqbal Robiyana, S.Pd. (Founder Center for Nuclear Education at Indonesia University of Education)

5. Dr. Petros Aslanyan, M.Sc. (Joint Institute for Nuclear Research, Rusia & Yerevan State University)

Wednesday, 12 September 2012

Webminar: Future Technology

Allhamdulilah Akhirnya Penulis dapat menyaksikan Webminar pertama dari Prof. Yohanes Surya, Ph.D. yang berjudul:

Future Technology



Mengenal  Profesor Yohanes Surya, M.Sc., Ph.D.



Founder Surya University 

Prof. Yohanes Surya lahir di Jakarta pada tanggal 6 November 1963. Ia mulai memperdalam fisika pada jurusan Fisika MIPA Universitas Indonesia hingga tahun 1986, mengajar di SMAK I Penabur Jakarta hingga tahun 1988 dan selanjutnya menempuh program master dan doktornya di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Program masternya diselesaikan pada tahun 1990 dan program doktornya di tahun 1994 dengan predikat cum laude. Setelah mendapatkan gelar Ph.D., Yohanes Surya menjadi Consultant of Theoretical Physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam Accelerator Facility) Virginia – Amerika Serikat (1994). Walaupun sudah punya Greencard (ijin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat), Yohanes Surya pulang ke Indonesia dengan tujuan ingin mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika (semboyannya waktu itu adalah “Go Get Gold”) serta mengembangkan fisika di Indonesia.

Pulang dari Amerika, disamping melatih dan memimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), Yohanes Surya menjadi pengajar dan peneliti pada program pasca sarjana UI untuk bidang fisika nuklir (tahun 1995 –1998). Dari tahun 1993 hingga 2007 siswa-siswa binaannya berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menyabet 54 medali emas, 33 medali perak dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi Sains/Fisika Internasional. Pada tahun 2006, seorang siswa binaannya meraih predikat Absolute Winner (Juara Dunia) dalam International Physics Olympiad (IphO) XXXVII di Singapura.

Sejak 2000, Yohanes Surya banyak mengadakan pelatihan untuk guru-guru Fisika dan Matematika di hampir semua kota besar di Indonesia, di ibukota kabupaten/kotamadya, sampai ke desa-desa di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang hingga Merauke, termasuk pesantren-pesantren. Untuk mewadahi pelatihan-pelatihan ini Yohanes Surya mendirikan Surya Institute. Surya Institute kini sedang membangun gedung TOFI center yang akan menjadi pusat pelatihan guru maupun siswa yang akan bertanding di berbagai kejuaraan sains/fisika.





Yohanes Surya merupakan penulis produktif untuk bidang Fisika/Matematika. Ada 68 buku sudah ditulis untuk siswa SD sampai SMA. Selain menulis buku, ia juga menulis ratusan artikel Fisika di jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional, harian KOMPAS, TEMPO, Media Indonesia dan lain-lain. Ia juga pencetus istilah MESTAKUNG dan tiga hukum Mestakung, serta pencetus pembelajaran Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan).

Selain sebagai penulis, Yohanes Surya juga sebagai narasumber berbagai program pengajaran Fisika melalui CD ROM untuk SD, SMP dan SMA. Ia juga ikut memproduksi berbagai program TV pendidikan diantaranya “Petualangan di Dunia Fantasi”, dan “Tralala-trilili” di RCTI.

Di luar aktifitasnya di atas, Yohanes Surya berkiprah dalam berbagai organisasi internasional sebagai Board member of the International Physics Olympiad, Vice President of The First step to Nobel Prize (1997-sekarang); Penggagas dan President Asian Physics Olympiad (2000-sekarang); Chairman of The first Asian Physics Olympiad, di Karawaci, Tangerang (2000); Executive member of the World Physics Federation Competition; Chairman of The International Econophysics Conference 2002; Chairman the World Conggress Physics Federation 2002; Board of Experts di majalah National Geographic Indonesia serta menjadi Chairman of Asian Science Camp 2008 di Denpasar, Bali. 


Selama berkarir di bidang pengembangan fisika, Yohanes Surya pernah mendapatkan berbagai award/fellowship antara lain CEBAF/SURA award AS ’92-93 (salah satu mahasiswa terbaik dalam bidang fisika nuklir pada wilayah tenggara Amerika), penghargaan kreativitas 2005 dari Yayasan Pengembangan Kreativitas, anugerah Lencana Satya Wira Karya (2006) dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. 

Pada tahun yang sama, ia terpilih sebagai wakil Indonesia dalam bidang pendidikan untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush. Pada tahun 2007, beliau menulis buku "Mestakung: Rahasia Sukses Juara Dunia" yang mendapatkan penghargaan sebagai penulis Best Seller tercepat di Indonesia.

Dan tahun 2008 mendapat award sebagai Pahlawan Masa Kini pilihan Modernisator dan majalah TEMPO. Yohanes Surya juga mendapatkan banyak penghargaan dari Menpora, Radio Elshinta, Harian Merdeka, Metro TV Award, Penghargaan "Icon anak Muda" dari Radio Trax FM, Koran Jakarta Award dan Penghargaan Harian Republika sebagai "Tokoh perubahaan 2009.



Pelopor & Inovator
TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPhO 2011

Pendidik
STKIP Surya
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center

Peneliti
Ekonofisika
Fisika GASING
Matematika Gasing-GIPIKA
Game Learning

Motivator
Mestakung

Penulis
Asyiknya Fisika
Ayo Bermimpi
Bercerita tentang Peraih Nobel
Cerita Seputar Lomba
Olahraga dengan Fisika
Teknologi dan Masa Mendatang

Kegiatan Lain
Entrepreneur
ASC 2008
ICYS

Miscellaneous
Soal-soal Latihan UAN





Deskripsi: 

Ada 4 jenis teknologi yang sedang dan akan menguasai dunia di masa sekarang dan masa akan datang. 

Ke empat teknologi ini mempunyai aplikasi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dari mulai makanan, kesehatan, pertahanan negara hingga perjalanan luar angkasa. Dalam seminar ini Prof. Yohanes Surya, Ph.D. akan mengajak para peserta webinar untuk melihat poin-poin penting dari 4 teknologi ini dan aplikasinya di dunia modern khususnya di Indonesia.





Sesi Tanya Jawab:

Apabila para pelajar di Universitas Rakyat ini menginginkan BAHAN materi web-minar dan sebagainya bisa kirimkan permintaan ke:

unggul@stkipsurya.ac.id

Bpk. Akhmad Unggul Priantoro, M.Eng., D.Eng.
Menyelesaikan pendidikan S1 di Kobe University, Jepang, dan pendidikan S2 dan S3, di Nara Insititute of Science and Technology, Jepang, di bidang komunikasi nirkabel.

Salah satu pertanyaan:

Arip Nurahman : "Dear Prof. Yohanes Surya, Bagaimana mengembangkan IPTEK mutakhir di sekolah-sekolah?"

Prof. Yohanes Surya : "Ajak para siswa sekolah untuk melakukan proyek-proyek ilmiah di sekitar lingkungan sekolah"





  • Nanotechnology (sometimes shortened to "nanotech") is the manipulation of matter on an atomic and molecular scale. Generally, nanotechnology works with materials, devices, and other structures with at least one dimension sized from 1 to 100 nanometres. Quantum mechanical effects are important at this quantum-realm scale. With a variety of potential applications, nanotechnology is a key technology for the future and governments have invested billions of dollars in its research. Through its National Nanotechnology Initiative, the USA has invested 3.7 billion dollars. The European Union has invested 1.2 billion and Japan 750 million dollars.

  • Biotechnology (sometimes shortened to "biotech") is the use of living systems and organisms to develop or make useful products, and it is usually seen in agriculture, food production and medicine production. Modern use of similar terms includes genetic engineering as well as cell and tissue culture technologies. The concept encompasses a wide range of procedures (and history) for modifying living organisms according to human purposes — going back to domestication of animals, cultivation of plants, and "improvements" to these through breeding programs that employ artificial selection and hybridization.

  • Information and communications technology or information and communication technology (ICT), is often used as an extended synonym for information technology (IT), but is a more specific term that stresses the role of unified communications and the integration of telecommunications (telephone lines and wireless signals), computers as well as necessary enterprise software, middleware, storage, and audio-visual systems, which enable users to access, store, transmit, and manipulate information.

  • Neuroscience is the scientific study of the nervous system. Traditionally, neuroscience has been seen as a branch of biology. However, it is currently an interdisciplinary science that collaborates with other fields such as chemistry, computer science, engineering, linguistics, mathematics, medicine and allied disciplines, philosophy, physics, and psychology. The term neurobiology is usually used interchangeably with the term neuroscience, although the former refers specifically to the biology of the nervous system, whereas the latter refers to the entire science of the nervous system.


    Semoga Kami bisa lebih baik dan lebih hebat dari beliau, amin Ya Allah Ya Rabbalalamin, Insha Allah 
    Tetap Semangat



    Penulis dan Peneliti Muda "Menggengam" Sang Surya
  • Thursday, 28 June 2012

    Seminar Internasional: CERN and It's Particle Physics Program


    "The most important thing in Learning (or Doing) Science is Curiosity"
    ~Prof. Emmanuel Tsesmelis, Ph.D. on CERN Public Lecture~

    Introduction:


    CERN atau dalam bahasa Indonesia: Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (singkatan dari bahasa Perancis: Organisation Européene pour la Recherche Nucléaire, bahasa Inggris: European Organization for Nuclear Research) adalah sebuah kompleks laboratorium percepatan partikel terbesar di dunia yang terletak di perbatasan antara Perancis dan Swis, persis di sebelah barat Jenewa.

    History

    The term CERN is also used to refer to the laboratory itself, which employs just under 2.400 full-time employees and hosts some 10.000 visiting scientists and engineers representing 608 universities and research facilities and 113 nationalities.

    The acronym CERN originally stood, in French, for Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire (European Council for Nuclear Research), which was a provisional council for setting up the laboratory, established by 12 European governments in 1952.

    The acronym was retained for the new laboratory after the provisional council was dissolved, even though the name changed to the current Organisation Européenne pour la Recherche Nucléaire (European Organization for Nuclear Research) in 1954.

    According to Lew Kowarski, a former director of CERN, when the name was changed the acronym could have become the awkward OERN, and Heisenberg said that the acronym could " still be CERN even if the name is [not]".

    Soon after its establishment the work at the laboratory went beyond the study of the atomic nucleus into higher-energy physics, which is mainly concerned with the study of interactions between particles.

    Therefore the laboratory operated by CERN is commonly referred to as the European laboratory for particle physics (Laboratoire européen pour la physique des particules) which better describes the research being performed at CERN.


    Bagian Pertama.

    Oleh: Iqbal Robiyana, S.Pd.

    26 Juni 2012, saya berkesempatan untuk mengikuti kuliah umum di Universitas Indonesia yang bertemakan "CERN and It's Particle Physics Program". Acara tersebut merupakan rangkaian acara kunjungan pertama pihak CERN [1] ke Indonesia. Juga, merupakan rangkaian dari kunjungan 3 hari Prof. Emmanuel Tsesmelis, Ph.D. [2] ke Indonesia. Terselenggara atas kerjasama dan dukungan dari berbagai instansi, seperti LIPI, BATAN, MENDIKBUD, dan KEMENLU. 

    Kali ini saya tidak akan memaparkan sekelumit kegiatan kuliah umum tersebut, karena untuk mengetahuinya, Anda hanya tinggal cek di webnya Net Sains, KOMPAS dan TEMPO, karena saya lihat ketiga media tersebut hadir di acara tersebut. Yang ingin saya sampaikan disini adalah beberapa point yang saya tangkap dari hasil bincang-bincang (seusai kuliah umum) dengan Pak Suharyo Sumowidagdo, Ph.D yang akrab dipanggil Mas Haryo [3]. 

    Mudah-mudahan menjadi pencerahan untuk siapa saja yang tertarik dengan hal ihwal "dunia" fisika partikel.

    Mr. Iqbal: "Mas Haryo, Saya dulu berpikir, riset fisika partikel itu hanya menghasilkan persamaan-persamaan saja tanpa ada manfaatnya secara aplikatif dalam kehidupan nyata....Kenapa tidak meriset bidang-bidang yang aplikatif saja seperti bidang industri, kesehatan, dll? "

    Prof. Suharyo, Ph.D. : "Saya harus luruskan kesalah-pahaman ini. Fisika partikel tidak hanya menghasilkan persamaan-persamaan. perlu diketahui bahwa fisika adalah yang mengkaji tentang alam. Konsep/persamaan fisika baru diakui kesahihannya jika telah dikonfirmasi/dibuktikan dengan eksperimen, bahwa konsep/persamaan tersebut sesuai dengan alam. 

    Kesalahpahaman ini timbul karena di Indonesia tidak ada kegiatan fisika partikel eksperimen. Yang ada adalah kegiatan fisika partikel teoretik. Namun di negara-negara maju terdapat sangat banyak fisikawan partikel eksperimen. 

    Hasil-hasil dari eksperimen fisika partikel adalah konfirmasi persamaan/teori-teori fisika partikel dan teknologi yang tidak hanya berguna untuk kegiatan penelitian fisika partikel, namun juga bagi kehidupan sehari-hari. Sehingga, saya merasa bahwa kata "tidak aplikatif" adalah penghakiman yang terlalu dini. Persamaan-persamaan, betapapun rumit dan abstrak, merupakan penggambaran/deskripsi tentang alam di sekitar kita. 

    Pengetahuan tentang bagaimana alam di sekitar kita merupakan kekuatan. Knowledge is power. Memang suatu konsep terbaru dalam fisika akan selalu tampak abstrak dan jauh dari kenyataan. Namun itu semua beralasan: mereka merupakan sesuatu yang sangat baru sehingga tidak ada satu orang pun di dunia yang tahu apa kegunaannya! 

    Dengan demikian tidak layak dan terlalu dini untuk menghakimi dengan menjatuhkan vonis ‘tidak aplikatif’. 

    Saya beri satu contoh saja. Jika kita mengingat sejarah, bagaimana saat Fisikawan sekaligus Matematikawan Skotlandia, J.C. Maxwell berhasil menurunkan keempat persamaan Elektromagnet seabad silam. tidak ada satu pun orang di jaman tersebut yang menduga bahwa listrik dan magnet akan berperan sangat penting di masa depan. Jaman sekarang kita menggunakan listrik untuk penerangan, mendengarkan radio, menonton televisi, memakai internet dengan wireless/Wi-Fi. Kita menerima semua kenikmatan tersebut, namun hanya sedikit yang tahu bahwa semua kenikmatan jaman modern sekarang berawal dari kerja keras Maxwell tentang listrik magnet, yang berpuncak pada empat persamaan matematika tentang listrik dan magnet. 

    Persamaan-persamaan yang nampaknya abstrak dan rumit, namun mendasari seluruh teknologi modern yang menggunakan listrik magnet. Singkat kata: Fisika partikel pada saat ini berada pada posisi yang sama dengan persamaan Maxwell 150 tahun yang lalu atau mekanika kuantum 80 tahun yang lalu. Sesuatu yang sangat baru, sangat abstrak, dan tidak seorang pun tahu berapa besar potensi sebenarnya. Kita para fisikawan berpegang pada pelajaran sejarah bahwa kelak di masa depan akan muncul aplikasi dan kegunaan fisika partikel yang saat ini tidak terduga dan terpikirkan oleh kita.

    Bersambung:

    Note:
    [1] CERN, the European Organization for Nuclear Research, is one of the world’s largest and most respected centres for scientific research. Its business is fundamental physics, finding out what the Universe is made of and how it works. 

    [2] Professor Emmanuel Tsesmelis currently heads the CERN Directorate Office, which plays a key advisory and support role for the Director-General and Senior Management. The Directorate Office’s mission is to provide professional and administrative support, by co-ordinating Directorate-wide positions and by providing a source of policy and strategy counsel. Professor at The University of Oxford.

    [3] Suharyo Sumowidagdo, Ph.D, The First Indonesian Physicist who work in CERN, Physics Department UI (S-1 & S-2). Florida State University (S-3), University of California, Riverside (Post-Doctoral). His Research interest is Physics of Top Quark.


    European Laboratory for Particle Physics. Includes an introduction of the laboratory, information on experiments being conducted



    Kunjungi Sekolah Kami:
    Nuclear Science & Technology School:
    Vision: Nuklir Power sebagai pemercepat Kesejahteraan Umat Manusia.

    http://nuclearscienceandtechnology.blogspot.com/

    Saturday, 2 June 2012

    Seminar Nasional Astronomi

    Pentingnya Pendidikan Astronomi Sebagai Pemacu Perkembangan Sains dan Engineering 


    From Left to Right
    Prof. Thomas, Arip Nurahman(Me), Mr. Judhistira Aria Utama, M.Si.

    Prof. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.
    Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
    http://tdjamaluddin.wordpress.com/
    http://www.bdg.lapan.go.id/

    Mr. Judhistira Aria Utama, M.Si.
    Laboratorium Bumi dan Antariksa; Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, Universitas Pendidikan Indonesia

    Mr. Ma'rufin Sudibyo, ST.
    http://www.kafeastronomi.com/

    Mimpi dan Harapan Bangsa Indonesia untuk menjelajahi Antariksa

    "Sudah saatnya kita belajar….belajar…dan belajar untuk memperbaiki ketertinggalan bangsa kita. Ayo … siapa yang siap untuk memulai pelajaran baru terbang menuju ruang angkasa, pesawat sudah siap kita berangkat…go…go… KALAU MEREKA BISA KITA JUGA BISA"

     Gerakan Antariksa Indonesia

    100 Juta Generasi Muda Indonesia Dukung Program Antariksa


    INDONESIA RACE TO THE SPACE

    Bagaimana Strateginya?

    Awali dengan Pendidikan

    1. Space Education

    "Kita akan membangun pendidikan IPTEK keantariksaan dari jenjang pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi, anak-anak muda Indonesia akan diperkenalkan dengan Space Science & Technology sejak awal, mereka akan berbondong-bondong untuk mempelajarinya, mengembangkannya dan memajukannya berlandaskan rasa pengabdian Terhadap Pencipta Alam Raya ini.

    a. Space Science & Technology for Early Education
    b. Space Science & Technology for K-12 Education
    c. Space Science & Technology for Higher Education 
    Indonesian University Space Research Association

    Program Antariksa Indonesia

    Tahun 2045 Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Antariksa Terhebat di Dunia  
    Rusia Negeri yang terletak di Eurasia utara ini bahkan sudah menyusun rencana besar untuk Indonesia. Alexander A Ivanov selaku wakil pemerintah Rusia mengungkapkan harapan negerinya bagi Indonesia. “Kami ingin Indonesia menjadi negara antariksa,” ucapnya seraya tersenyum. “Bahkan menjadi negara Antariksa pertama di Asia Tenggara.” 

    Untuk mewujudkan harapan ini, pemerintah Rusia lantas menggandeng Indonesia dalam sebuah proyek yang dinamakan dengan sistem peluncuran udara atau Air Launch. Bagi masyarakat Indonesia, program ini mungkin terdengar asing. Barangkali karena belum 100 persen terselesaikan, maka pemerintah Indonesia jarang memunculkan informasi seputar perkembangan Air Launch. “Kami menyebutnya proyek unik. Air Launch adalah program peluncuran satelit komersial dari kawasan Indonesia yang didukung dengan teknologi Rusia,” jawab Ivanov. 

    Biak Spaceport

     

    (Biak Space Port)

    Proyek Air Launch bermula pada 2003. Saat itu, pesawat luar angkasa jenis An-124-100 yang disebut dengan Ruslan mulai dikembangkan di Biak, Papua. Gubernur Biak memberi izin bagi Rusia untuk membeli 2,7 hektare tanah di pulau itu untuk konstruksi infrastruktur yang dibutuhkan. “Air Launch merupakan proyek yang jauh lebih murah dan efisien dibandingkan proyek peluncuran satelit lainnya,” ungkap Presiden Air Launch Anatoly Karpov, sebagaimana dilansir dari spacedaily.com. 

    Dalam program AirLaunch, roket dibawa menembus Atmosfer dengan menggunakan pesawat Ruslan. Ketika pesawat mencapai ketinggian 10-12 km di atas bumi, Ruslan akan melepaskan roketnya hingga masuk ke orbit. Selanjutnya, saat Ruslan mencapai ketinggian 11.000 m atau sekira 500 km dari permukaan tanah, pesawat ini akan melakukan gerakan manuver sehingga mencapai posisi tertentu, lalu satelit didorong keluar menggunakan sistem bertekanan udara yang disebut dengan pneumatic system. 

    Proyek ini bernilai sekira USD122 juta dan telah disepakati sejak 2006 silam. Perundingan program ini sudah berlangsung sejak 2003 lalu, namun sampai saat ini, program tersebut belum dapat dimulai. Menurut beberapa ahli, peluncuran roket pengangkut Polyot dari Ruslan akan menelan biaya sekira USD23 juta atau 50 persen lebih murah dibandingkan meluncurkan roket Soyuz-2 dari muka Bumi. Rusia sungguh menyemai ekspektasi besar agar program ini dapat segera terealisasi. “Jika semuanya benar-benar terwujud, mungkin saja Indonesia bakal menjadi negara antariksa terbesar di Asia,” ujarnya berharap.

    Semoga Yang Maha Kuasa Mendekap Mimpi-Mimpi Rakyat Indonesia.
    Semangat