Thursday, 1 August 2013

Kuliah Umum MenDikBud: Prof. Mohammad Nuh

Terima Kasih Ya Robbana, Seminggu yang lalu, tanggal 26-07-2013, Ketika mengikuti shalat Tarawih bersama Kang Saepudin Al-Bantani di Mesjid Salman ITB, Akhirnya Allah mempertemukan saya dengan Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA. 
Beliau berkesempatan memberikan ceramah tarawih kepada jamaah dan sempat juga memberikan beasiswa kepada seorang mahasiswa yang menjadi imam muda di Mesjid Salman yang fasih bacaan Al-Qur'annya.
Subhannallah.
Sedikit Biografi Prof. Mohammad Nuh.

Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 17 Juni 1959; umur 54 tahun) adalah Menteri Pendidikan Nasional Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (2007–2009) dan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya periode tahun 2003–2006.

Mohammad Nuh adalah anak ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya H. Muchammad Nabhani, adalah pendiri Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Ia melanjutkan studi di Jurusan Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan lulus tahun 1983.

Mohammad Nuh mengawali kariernya sebagai dosen Teknik Elektro ITS pada tahun 1984. Ia kemudian mendapat beasiswa menempuh magister di Universite Science et Technique du Languedoc (USTL) Montpellier, Perancis. Mohammad Nuh juga melanjutkan studi S3 di universitas tersebut.

Prof. Mohammad Nuh menikah dengan drg. Layly Rahmawati, dan ia dikaruniai seorang puteri bernama Rachma Rizqina Mardhotillah, yang lahir di Perancis.

Pada tahun 1997, Prof. Mohammad Nuh diangkat menjadi direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Berkat lobi dan kepemimpinannya, PENS menjadi rekanan tepercaya Japan International Cooperation Agency (JICA) sejak tahun 1990.

Pada tanggal 15 Februari 2003, Prof. Mohammad Nuh dikukuhkan sebagai rektor ITS. Pada tahun yang sama, Nuh dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) bidang ilmu Digital Control System dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika. Ia adalah rektor termuda dalam sejarah ITS, yakni berusia 42 tahun saat menjabat. 

Semasa menjabat sebagai rektor, ia menulis buku berjudul Strategi dan Arah Kebijakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (disingkat Indonesia-SAKTI).

Selain sebagai rektor, Prof. Mohammad Nuh juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Pengurus PCNU Surabaya, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, Anggota Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, serta Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya.

Prof. Muhammad Nuh juga dikenal sebagai seorang Kiayi, sering memberi ceramah dan khutbah jumat di berbagai masjid di Surabaya dan dikenal sebagai Ulama.

Prof. Mohammad Nuh, Memberikan Wejangan Kepada Para Jama'ah di Mesjid Salman ITB

Turut hadir Dirjen DikTi: Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc.


Sedikit Cuplikan Tausyiah Beliau: Membangun Ummat yang Rahmatan Lil Alamin.

Kita lahir di bumi Indonesia dan tumbuh bersama di Nusantara, tentu sudah menjadi kewajiban dan hak kita untuk memajukan dan memebesarkan Indonesia, negeri ini adalah bumi tempat kita lahir dan dibesakan, mari kita bersama membangun Bangsa. Kata beliau.

Mari kita menjadi umat yang Rohmatan Lil alamin yaitu umat yang menjadi rahmat bagi semesta alam, menghidari segala bentuk kekerasan. Tebarkanlah kasih sayang kepada umat manusia, karena Rosul pun mengajarkan kebaikan. Tambah Prof. M. Nuh.

Ia mengajak untuk Mengoptimalkan potensi MASKAM (mesjid kampus) untuk memberdayakan umat, karena Mesjid Kampus memiliki potensi yang tidak dimiliki oleh mesjid-mesjid lainnya.

Seperti jamaah MASKAM yang selalu baru tiap tahunnya, memiliki jumlah kaum intelektual yang banyak juga memiliki kepekaan sosial-kebangsaan yang lebih kuat.

Pak Nuh juga mengajak untuk mengibarkan bendera Rohmatan Lil alamin di segala lini kehidupan; raih sodara-sodara kita yang masih extrem dalam pemahammannya, tegasnya.

Bendera Rohmatan Lil alamin ini terdari dari Tiang yang kokoh berarti: Iman dan Akidah, Tali yang Kuat yaitu: Hablumminalloh dan Habluminanas. Memperbaiki hubungan sesama manusia, menghindari kegersangan sosial yang bermakna meminimalisir tindakan kekerasan-mengedepankan kasih sayang.

Kibaran Bendera Rohmatan Lil alamin ini butuh kompnen ke-3 yaitu kemauan untuk dikibarkan.

Kemauan ini berarti: Ilmu dan Keterampilan kita dalam mengelola masyarakat.

Inilah sebenarnya modal untuk mendirikan bangsa yang Rahman dan Rahim; Masyarakat yang penuh kasih sayang.

Para Nabi kita pun mengajarkan pendekatan Psikososial kasih sayang dalam mengajak umat bukan dengan "Hard Power".

Prof. M. Nuh pun, bercerita bahwa ketika zaman Nabi Muhammad pernah ada seorang warga pedalaman badui yang tiba-tiba mengencingi mesjid, para sahabat lantas marah bukan main dan hendak mengejar orang itu, Rosul melerai para sahabat untuk tak mengejarnya, tapi lekas-lekaslah cuci dan bersihkan bekas "nya" itu. Nabi pun memberikan pemahaman kepada orang pedalaman itu dengan pendekatan personal, bahwa hal itu tak boleh dilakukan.

Sebaliknya kepada para sahabat pun memberikan penjelasan bahwa: orang itu perlu dibina dan diarahkan. Maka di sinilah peran Wudhu sebagai alat sesuci bagi umat, yaitu saling membersihkan dan mensucikan, para wali pun mengajarkan pendekatan kasih sayang tanpa kekerasan dalam berdakwah.

Seperti Petuah Sunan Drajat:

1. Memangun resep teyasing Sasomo: Kita selalu membuat senang hati orang lain.

2. Jroning suko kudu eling Ian waspodo: Didalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada.

3. Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah: Di dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan.

4. Meper Hardaning Pancadriya: Kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu.

5. Heneng – Hening – Henung: Dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur.

6. Mulyo guno Panca Waktu: Suatu kebahagiaan lahir bathin hanya bisa kita capai dengan sholat lima waktu.

7. Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan:

Ajarkan ilmu pada orang yang tidak tahu, Berilah makan kepada orang yang lapar, Berilah baju kepada orang yang tidak punya baju, serta beri perlindungan orang yang menderita.

Begitu sedikit pesan beliau kepada para jama'ah.

"Kalau kita tidak mampu mengembangkan budaya Nasional sendiri habislah kita. Hancurlah kita"
*Prof. Mohammad Nuh*
Allhamdulilah Ya Robbana Akhirnya Saya dapat Bertemu dan Berjabat Tangan dengan 
Bapak MenDikBud Prof. Mohammad Nuh, Semoga Segala Kecerdasan dan Kebaikannya Terserap. Aamiin
Terima Kasih Ya Allah.

Ya Robbana kami berdo'a semoga kami dan para siswa kami suatu saat nanti ada yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I.

Sehingga membawa negeri ini menjadi sebuah bangsa dengan Sistem Pendidikan Terbaik, Terhebat dan Terunggul di Dunia.

Amin.

Semoga do'a dan harapan baik kami bagi negeri ini mendapat Ridha Mu.

Semangat Indonesia Bisa!

No comments: