Showing posts with label Astrophysics Laboratory. Show all posts
Showing posts with label Astrophysics Laboratory. Show all posts

Friday, 26 July 2013

Hikmah Peringatan Nuzulul Qur'an: Pengembangan Sains dan Teknologi

"Al-Quran dengan isyaratnya mendorong eksplorasi antariksa dengan sains, tentang perilaku orbit benda langit dan sifat fisis lainnya untuk pengembangan wahana antariksa."
*Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.*

Menembus penjuru langit dan bumi harus dengan kekuatan. Kekuatan itu adalah sains dan teknologi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh dalam penguasaan sains dan teknologi.

Langit pun bisa dikuasai. 

Pesawat terbang, roket, dan satelit mutlak diperlukan untuk menguasai langit yang pada gilirannya akan menguasai penjuru bumi. Teknologi antariksa kini digunakan untuk memudahkan komunikasi navigasi segenap penjuru bumi, mengamati perilaku alam, dan mengeksplorasi kandungan sumber dayanya.


Membangun Generasi Ulil Albab

Bintang Kejora yang sesungguhnya bukan bintang melainkan planet Venus. Walau sangat terang, kecerlangannya tidaklah abadi. 
Menjelang isya cahayanya ditenggelamkan oleh cahaya bulan pasca purnama. Tidak lama ia di langit yang tinggi, hanya dalam beberapa jam bintang cemerlang itu benar-benar terbenam. 
 
Muncullah bulan pasca purnama dengan  wajah masih hampir bulat terang menguasai langit malam ini. 

Tetapi rembulan pun tak kan abadi. Saat pagi Matahari muncul jauh lebih terang, cahayanya memucatkan rembulan di ufuk barat menjelang terbenam.
Matahari pun tak kekal di langit, ada saatnya akan terbenam pula. Bayangkan suasana seperti itu bukan di tengah kota, tetapi di tengah padang pasir.

Bayangkan kita sedang bersama Nabiyullah Ibrahim ‘alaihi salam yang sedang merenungi makna tauhid, keesaan Allah, dengan akal langsung dari alam. 

Allah menceritakan kisah menarik itu di dalam QS Al-An’am: 76-79. 

 “….Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan."

Banyak hikmah dapat kita petik dari kisah Nabi Ibrahim tersebut untuk merenungi ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat Allah di alam, untuk menemukan hakikat Allah dan mengambil pelajaran darinya. 

Ya, membaca ayat-ayat-Nya. 

Hal yang sama dalam format berbeda diajarkan juga oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW pada malam turunnya Al-Qur-an, Nuzulul Qur'an:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-Alaq:1 – 5).

”Bacalah” bukan sekadar bermakna membaca ayat-ayat Allah di kitab, tetapi membaca juga ayat-ayat Allah di alam semesta, ayat-ayat kauniyah. 

Membaca alam bermakna merenungi ciptaan Allah. Asal usulnya, prosesnya, hukum-hukum yang berlaku padanya, dan kesudahannya. Itulah menjadikan intelektualitas manusia berkembang. 

Kecendekiawanannya lebih bermakna. 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (para cendekia), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Bila dijumpai sesuatu yang mengagumkan, ia mengembalikannya kepada Allah yang menciptakan): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau”. (Namun dengan menyadari keterbatasan ilmu yang berpotensi salah dalam penjelajahan inetelektualnya sehingga senantiasa ia mohon ampunan Allah), “maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (Q.S ALI IMRAN: 190-191)

Pada ayat tersebut Allah mengajarkan kita semua untuk menjadi “ulil albab”, orang yang senantiasa menggunakan akalnya. Menjadi cendekiawan yang senantiasa membaca alam. 

Empat Cirinya: 

Berdzikir, Berfikir, Bertauhid, dan Beristighfar.

Senantiasa berdzikir (ingat) kepada Allah dalam segala situasi. 

Tak jemu berfikir tentang segala fenomena alam. Bertauhid mengesakan Allah yang menciptakan alam ini. Tak lupa beristighfar atas kemungkinan lalai dan salah dalam pemikirannya. 

Membaca alam secara mendalam kemudian menganalisisnya, merumuskannya, dan mengujinya akan menghasilkan sains, ilmu pengetahuan.

Al-Quran mendorong umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. 

Ayat pembuka saat turunnya Al-Quran ”iqra, bacalah”, menjadi motivasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mestinya juga menjadi pendorong untuk melahirkan inovasi. Ada tiga peran utama sains yang juga diajarkan Al-Qur-an. 

Pertama, peran sains menjawab keingintahuan manusia. Keingintahuan utama adalah asal-usul sesuatu dan mekanisme kejadian di alam. Beberapa hal diisyaratkan di dalam Al-Quran untuk renungan bagi manusia untuk memikirkannya. 

Kedua, peran sains melandasi pengembangan teknologi yang memudahkan manusia. Sepanjang sejarah manusia, teknologi dikembangkan untuk memudahkan aktivitas manusia. Perilaku alam yang dikaji sains banyak menginspirasi pengembangan teknologi. 

Beberapa ayat Al-Quran pun memberi tantangan untuk menguasai teknologi untuk mengungkap rahasia alam.

Ketiga, menurut ajaran Islam sains juga berperan membantu mendekatkan diri kepada Allah.

Wallohualam Bissawab.

Sumber:

Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN.

(Ceramah Hikmah Peringatan Nuzulul Qur'an di Istana Negara, 17 Ramadhan 1431/26 Agustus 2010)

Semoga Bermanfaat.

Thursday, 11 July 2013

Imkanur Rukyat: Sebuah Titik Temu Perbedaan

"Persatuan Ummat harus dibangun dengan kesepakatan. Kalau perbedaan bisa diselesaikan dengan kesepakatan kriteria, mengapa perbedaan harus dipelihara?"
 *Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.*


Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari).

Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan "cahaya langit" sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 7 derajat. 

Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ilmu tersebut.

Imkanur Rukyat

Selama ini belum ada penelitian sistematik tentang kriteria imkanur rukyat berdasarkan data rukyatul hilal di Indonesia. Kriteria yang digunakan Badan Hisab Rukyat Depag RI dari kesepakatan Musyawarah III MABIMS 1992 adalah kriteria imkanur rukyat sebagai berikut: tinggi hilal minimum 2 derajat, jarak bulan dari matahari minimum 3 derajat, dan umur bulan (dihitung sejak saat ijtima’) pada saat matahari terbenam minimum 8 jam.

Kriteria itu tampaknya diturunkan dari rekor minimum pengamatan di Indonesia pada 16 September 1974. Kriteria imkanur rukyat tersebut lebih rendah daripada kriteria yang diakui para astronom. Hal itu menjadi alasan bagi Muhammadiyah sehingga belum bersedia menggunakan kriteria tersebut. Saat ini yang digunakan Muhammadiyah adalah kriteria wujudul hilal.

Kriteria imkanur rukyat ditentukan berdasarkan keberhasilan pengamatan hilal. Kriteria dasar yang dapat digunakan berdasarkan pengamatan dan model teoritik astronomi adalah limit Danjon: hilal tidak mungkin teramati bila jarak bulan-matahari kurang dari 7 derajat.

Kriteria lain di antaranya dikembangkan oleh Mohammad Ilyas dari IICP (International Islamic Calendar Programme), Malaysia. Kriteria imkanur rukyat yang dirumuskan IICP meliputi tiga kriteria.

Pertama, kriteria posisi bulan dan matahari: Beda tinggi bulan-matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan – matahari lebih dari 45 derajat, bila beda azimutnya 0 derajat perlu beda tinggi lebih dari 10,5 derajat.

Kedua, kriteria beda waktu terbenam: Sekurang-kurangnya bulan 40 menit lebih lambat terbenam daripada matahari dan memerlukan beda waktu lebih besar untuk daerah di lintang tinggi, terutama pada musim dingin.

Ketiga, kriteria umur bulan (dihitung sejak ijtima’): Hilal harus berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi.

Kriteria IICP sebenarnya belum final, mungkin berubah dengan adanya lebih banyak data. Kriteria berdasarkan umur bulan dan beda posisi nampaknya kuat dipengaruhi jarak bulan-bumi dan posisi lintang ekliptika bulan, bukan hanya faktor geografis.

Rekor pengamatan hilal termuda bisa dijadikan bukti kelemahan kriteria beda posisi dan umur hilal. Rekor keberhasilan pengamatan hilal termuda tercatat pada umur hilal 13 jam 24 menit yang teramati pada tanggal 5 Mei 1989 (pada saat jarak bumi-bulan relatif paling dekat).

Inilah beberapa contoh makalah ilmiah tentang visibilitas hilal (imkan rukyat) di majalah atau jurnal astronomi:

1. Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

2. Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

3. Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

4. Schaefer, BE, 1991, “Length of the Lunar Crescent”, Q. J. R. Astr. Soc., Vol. 32, p. 265 – 277.

5. Yallops, DB, 1998, “A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon”, HM Nautical Almanac Office, NAO Technical Note No. 69.

 

Sumber:

Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc., D.Sc.

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Memahami Tata Surya Kita

Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. 

Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.

Asal usul

Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya telah dikemukakan para ahli, beberapa di antaranya adalah:

Hipotesis Nebula

Hipotesis Planetisimal

Hipotesis Pasang Surut Bintang

Hipotesis Kondensasi

Hipotesis Bintang Kembar

Astronauts could mix DIY concrete for cheap moon base



Astronauts could mix DIY concrete for cheap moon base


A way to make building materials using only moon dust and sulphur could prop up the US dream of permanent moon presence


Kuiper belt pair sets record for long-distance relationship



Kuiper belt pair sets record for long-distance relationship


Two objects in the outer solar system orbit each other at a distance of more than 100,000 km – the largest separation known in the region
Colliding rocks and curious comets: The week in space

Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.

Berdasarkan jaraknya dari Matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima objek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil.

Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).

Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.

Sumber:

Wikipedia

Wednesday, 10 July 2013

Bagaimana Astrofisika Menyatukan Hisab dan Rukyat?

Tadi siang sempat menonton acara TVRI tepatnya TV Edukasi di rumah nenek, dan ternyata Narasumbernya adalah seorang Dosen Astrofisika, Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si. beliau sering mengajari kami tata cara penggunaan teleskop di UKK Cakrawala Pendidikan Fisika FPMIPA UPI. 


Pak Aria Bersama sahabat Berada di Lantai 8 Gedung JICA FPMIPA UPI
Salah satu tempat pengamatan Hilal di Indonesia


Beliau memaparkan mengenai Ilmu Astrofisika dan hubungannya dengan pengamatan hilal.

Apa itu Hisab dan Apa Itu Rukyat?

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). 

Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. 

Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Bisakah Astrofisika menjembatani metode Hisab dan Rukyat?



Sumber:

1. Wikipedia
2. http://tve.kemdikbud.go.id/

Impian Profesor Neil Alden Armstrong

Mendiang Neil Alden Armstrong berjalan di permukaan Bulan dalam waktu dua jam dan 32 menit. Langkah Armstrong di Bulan pada 20 Juli 1969 itu jadi momentum bersejarah. Ketika itulah lahir pernyataan Armstrong yang terkenal, "One small step for a man, one giant leap for mankind"

Professor Armstrong creates a paper airplane at a student aeronautics and astronautics event.

Rekan Armstrong, Edwin 'Buzz' Aldrin, mengikutinya di belakang. Aldrin hanya berjalan kurang dari 15 menit. Kedua astronaut tersebut kemudian memancangkan bendera Amerika Serikat (AS), mengumpulkan sampel bebatuan, dan mengambil foto sebelum kembali ke pesawat mereka.

Armstrong, yang hingga kini dipercaya sebagai manusia pertama yang berjalan di Bulan, mengembuskan napas terakhir pada Ahad 25 Agustus 2012 dalam usia 82 tahun. Astronaut asal Wapakoneta, Ohio, AS, itu meninggal akibat komplikasi prosedur jantung.

Sepanjang hidupnya, Armstrong dua kali melakukan perjalanan ke luar angkasa. Pertama saat dia menjadi komandan pada misi pesawat Gemini 8 pada 1966. Perjalanan tersebut nyaris berujung pada bencana dan membuat Armstrong sempat depresi. Akan tetapi, pada misi keduanya bersama Apollo 11, Armstrong bersama Aldrin dan Michael Collins berhasil membuat sejarah dengan mendarat di Bulan. Perjalanan tersebut menghabiskan waktu empat hari dengan jarak tempuh nyaris 250 ribu mil atau sekitar 402 ribu kilometer.

Sekembalinya dari Bulan, ketiga astronaut itu dielu-elukan sebagai pahlawan. Tidak seperti Yuri Gagarin, kosmonaut asal Uni Soviet yang merupakan manusia pertama melakukan perjalanan ke luar angkasa, ia tidak mau masuk ke dalam ingar-bingar dunia selebritas.

Minatnya untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa memang menjadi keinginan Armstrong sejak kecil. Sedari usia kanak-kanak, pria kelahiran 5 Agustus 1930 itu sudah menjadi penerbang. Ia bahkan telah mendapatkan izin pilotnya dalam usia 16 tahun.

 "Science is about what is; engineering is about what can be.”
*Neil Armstrong*

Pada masa remajanya Armstrong mempelajari teknik penerbangan dan berhasil mendapatkan gelar dari Purdue University dan University of Southern California. Ia sempat mengabdi untuk Angkatan Laut dan menjalani 78 misi peperangan selama Perang Korea. "Ia adalah yang terbaik dan saya akan sangat merindukannya," kata Collins.

Seusai misi historis di Bulan, Armstrong bekerja untuk NASA. Namun tak lama, ia keluar dari tempat tersebut dan mengajar teknik di University of Cincinatti hingga nyaris satu dekade.

Banyak misteri yang menyertai Armstrong, termasuk soal teori konspirasi yang menyatakan pendaratan manusia di Bulan adalah sebuah kebohongan. AS diduga melakukan rekayasa untuk memenangkan Perang Dingin dengan Uni Soviet dan membangun citra seusai kekalahan dalam perang Vietnam. Debat soal ini telah berlangsung selama beberapa dekade.

Armstrong tidak banyak berkomentar soal konspirasi ini. Dia hanya menyebut alasannya pergi ke Bulan adalah sifat manusia yang suka menghadapi tantangan.

NASA mencatat detak nadi Armstrong sebanyak 150 denyut per menit saat dia mengendalikan pendaratan Apollo 11 di Bulan. Ditanya tentang pengalamannya mendarat di Bulan, Armstrong mengatakan dalam wawancara dengan televisi CBS: "Sungguh Bulan merupakan tempat yang menarik dikunjungi. Saya merekomendasikannya."

Pernyataan keluarga sesaat setelah kematian Neil Armstrong menyebutkan,

"Bagi khalayak yang mungkin bertanya apa yang dapat mereka lakukan untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Neil, kami memiliki permintaan sederhana. 
Hormati pengabdiannya, pencapaian dan kebersahajaannya, dan kalau Anda kebetulan berjalan pada malam yang terang melihat Bulan tersenyum pada Anda, 
pikirkan tentang Neil Armstrong dan mengediplah padanya."

Dunia mengenal, hingga akhir hayatnya Neil Armstrong adalah manusia rendah hati dan tidak suka gembar-gembor. Hal demikian lah yang membuat hingga akhir hayat-nya, Armstrong yang dikenal ramah tersebut, tidak mampu “dikorek” rahasia nya mengenai dua hal yang menjadi rumor misterius dalam hidupnya: 

1. Apa yang terjadi ketika di Bulan, Neil sempat terdiam selama 2 menit, tidak menjawab kontak dari NASA, padahal ketika itu, NASA melaporkan tidak ada gangguan sinyal sedikit pun. 
Apakah benar rumor yang menyatakan bahwa ia melihat ada sekitar dua pesawat antariksa lain, apakah milik Uni Soviet ataukah UFO ? 

2. Apakah ketika terdiam itu, ia benar mendengar adzan yang dikumandangakan dari Tanah Suci Mekkah, dan kemudian ia masuk Islam? 

Untuk yang kedua ini pun, Neil bahkan tidak pernah mengiyakan namun juga tidak pernah membantahnya. 

Namun banyak penjelasan yang mengatakan bahwa rumor tersebut adalah hoax yang justru hanya akan membodohi umat Islam saja. 

Dan saya adalah seorang muslim. 

Namun hal itu tidak akan pernah mempengaruhi kekaguman dan rasa hormat kami pada sosok Neil Alden Armstrong.

Terima kasih Profesor Armstrong telah menjadi seorang "Bintang" bagi kami para Pecinta Ilmu Antariksa.



Inilah Sheikh Muszaphar Shukor yang menjadi astronot Malaysia pertama yang pergi ke luar angkasa. Dia juga merupakan muslim pertama yang melakukan salat di luar angkasa. Pengalaman Sheikh ini dituangkan dalam film dokumenter yang berisi aktivitasnya saat berada dalam Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama 10 hari.

Semoga dengan Momentum Ramadhan Tahun ini Umat Muslim di Seluruh Dunia dapat bersatu serta meningkatkan kemampuan Iptek-nya.

Amin.

Wednesday, 3 July 2013

IPTEK Robotik Sebagai Program Pendukung Eksplorasi Antariksa

Mengembangkan Riset dan Inovasi IPTEK Robotik untuk Kepentingan Penjelajahan Antariksa


Wikimedia Commons has media related to:
Main list: List of basic space exploration topics
A robotic spacecraft is a spacecraft with no humans on board, usually under telerobotic control. A robotic spacecraft designed to make scientific research measurements is often called a space probe. Many space missions are more suited to telerobotic rather than crewed operation, due to lower cost and lower risk factors.

In addition, some planetary destinations such as Venus or the vicinity of Jupiter are too hostile for human survival, given current technology. Outer planets such as Saturn, Uranus, and Neptune are too distant to reach with current crewed spaceflight technology, so telerobotic probes are the only way to explore them.
Many artificial satellites are robotic spacecraft, as are many landers and rovers.
Robotic space exploration programs
Animals in space
Humans in space
Recent and future developments
Other

 

Sejarah Robot Antariksa

The first space mission, Sputnik 1, was an artificial satellite put into Earth orbit by the USSR on 4 October 1957. On 3 November 1957, the USSR orbited Sputnik 2, the first to carry a living animal into space a dog.


Ten other countries have successfully launched orbital missions using their own vehicles: USA (1958), France (1965), Australia (1967), Japan and China (1970), the United Kingdom (1971), India (1980), Israel (1988), Iran (2009), and North Korea (2012). 

References
  1. ^ "How Space is Explored". NASA.
  2. ^ Peter Bond, Obituary: Lt-Gen Kerim KerimovThe Independent, 7 April 2003.
  3. ^ Betty Blair (1995), "Behind Soviet Aeronauts", Azerbaijan International 3 (3).
  4. ^ http://www.spacex.com/press.php?page=20080928
  5. ^ NASA Astrobiology
  6. ^ http://www.aleph.se/Trans/Words/x.html
  7. ^ World Wide Words: Fears and dreads
  8. ^ iTWire - Scientists will look for alien life, but Where and How?
  9. ^ Astrobiology
  10. ^ Launching the Alien Debates :: Astrobiology Magazine - earth science - evolution distribution Origin of life universe - life beyond :: Astrobiology is study of earth science evolution distribution Origin of life in universe terrestrial
  11. ^ Dinerman, Taylor (September 27, 2004). "Is the Great Galactic Ghoul losing his appetite?". The space review. Retrieved on 2007-03-27.
  12. ^ Knight, Matthew. "Beating the curse of Mars". Science & Space. Retrieved on 2007-03-27.
  13. a b Wong, Al (May 281998). "Galileo FAQ - Navigation". NASA. Retrieved on 2006-11-28.
  14. ^ Hirata, Chris. "Delta-V in the Solar System". California Institute of Technology. Retrieved on 2006-11-28.
  15. ^ Suomi, V. E.; Limaye, S. S.; Johnson, D. R. (1991). "High winds of Neptune - A possible mechanism". Science 251: 929–932. doi:10.1126/science.251.4996.929.
  16. ^ Agnor, C. B.; and Hamilton, D. P. (2006). "Neptune's capture of its moon Triton in a binary–planet gravitational encounter". Nature 441: 192. doi:10.1038/nature04792. Retrieved on 2006-05-10.
  17. ^ IAU 2006 General Assembly: Result of the IAU Resolution votes. International Astronomical Union (2006)Staff (2006). "IAU 2006 General Assembly: Result of the IAU resolution votes". IAU. Retrieved on 2007-05-11..
  18. ^ "Voyager Frequently Asked Questions". Jet Propulsion Laboratory (January 14, 2003). Retrieved on 2006-09-08.
  19. ^ Robert Roy Britt (2003). "Pluto Mission a Go! Initial Funding Secured". space.com. Retrieved on 2007-04-13.
  20. ^ "Colonies in space may be only hope, says Hawking", Telegraph.co.uk (October 15, 2001). Retrieved on 2007-08-05.
  21. ^ "NASA "Reach" Public Service Announcement for Space Exploration". NASA.
  22. ^ "Origin of Human Life – USA Today/Gallup Poll". Pollingreport.com (June 1–3, 2007). Retrieved on 2007-08-05.
  23. ^ Arthur C. Clarke, Interplanetary Flight -- An Introduction to Astronautics, Harper & Brothers, New York, 1950,Chapter 10
  24. ^ [Feynman, Richard P., What Do You Care What Other People Think?, 1988, W W Norton, ISBN 0-393-02659-0, 2001 paperback: ISBN 0-393-32092-8]
  25. ^ NASA (December 4, 2006). "GLOBAL EXPLORATION STRATEGY AND LUNAR ARCHITECTURE". Press release. Retrieved on 2007-08-05.

External links

Tuesday, 2 July 2013

Menggagas Indonesian Academy of Astro Physics: IAAP

Buzz Aldrin Announces the AXE Apollo Space Academy



Mengenal Sosok Edwin Eugene Aldrin, Jr.

Buzz Aldrin (born Edwin Eugene Aldrin, Jr.; January 20, 1930) is an American astronaut, and the second person to walk on the Moon. He was the lunar module pilot on Apollo 11, the first manned lunar landing in history. On July 21, 1969, he set foot on the Moon, following mission commander Neil Armstrong. He is also a retired United States Air Force pilot.

Some sites in this list were taken from The KIDS Report. The KIDS Report is a biweekly publication produced by K-12 students as a resource to other K-12 students. It is published with the support of the Internet Scout Project and the National Science Foundation.

K-12 Science Education Resources 

Link Collections Below:

  • Science Lesson Plans Websites
  • Physics Videos archive
  • Cheap or Free Kits & Matls.
  • Billb Electricity Articles
  • Billb Science Videos (youtube)
  • Billb "Science Answers" archives
  • Asking Science Questions
  • Homework Help sites
  • Free Online Science Courses
  • Commercial Distance Edu. Courses ($$)
  • Science Education Link Index Sites
  • Science Education Websites
  • Science Kits Websites
  • Science Toys
  • Science Outreach Websites
  • Science Organizations
  • Physics Education Link Index Sites
  • Physics Edu. Software
  • Physics Education Websites


  • Spaceflight

    Main article: Spaceflight
    Spaceflight is the use of space technology to fly a spacecraft into and through outer space. Spaceflight is very typically a component of space exploration, but also supports commercial activities, satellite launches.

    Space colonization

    Main article: Space colonization
    Space colonization, also called space settlement and space humanization, would be the permanent autonomous (self-sufficient) human habitation of locations outside Earth, especially of natural satellites or planets such as the Moon or Mars, using significant amounts of In-Situ Resource Utilization.
    Many past and current concepts for the continued exploration and colonization of space focus on a return to the moon as a "stepping stone" to the other planets, especially Mars. At the end of 2006 NASA announced they were planning to build a permanent moon base with continual presence by 2024.


    Akademi Astro Fisika Indonesia ini nantinya mempunyai tujuan untuk melatih para pemuda Indonesia yang ingin memperdalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bidang Antariksa.

    Semoga Bermanfaat

    Diolah dari Berbagai Sumber

    Monday, 1 July 2013

    Mengembangkan Portal Antariksa di Indonesia

    Indonesia dan India mendeklarasikan kemerdekaan pada waktu yang hampir sama. Bahkan Indonesia lahir lebih dulu pada 17 Agustus 1945 sedangkan India pada 15 Agustus 1947. 


    Namun prestasi di bidang antariksa kedua negara tersebut jauh berbeda. Ketika India sudah berkali-kali meluncurkan satelit sendiri, Indonesia masih belum pernah meluncurkan satelit sendiri. India memang bintang baru dalam industri antariksa. 
    Mereka telah berhasil mengirim probe pengamatan menuju Bulan, bahkan mereka telah berencana mengirim probe pengamat ke Mars. Bahkan India baru saja sukses meluncurkan misi antariksanya yang ke-100 dengan mengirim dua satelit milik Perancis dan Jepang pada orbitnya.
    Raihan prestasi India dalam bidang antariksa dimulai pada 1975 di mana mereka berhasil membuat satelit sendiri. Satelit yang diberi nama Aryabhata tersebut kemudian diluncurkan menggunakan roket Soviet. 

    Lalu bagaimana Indonesia? 

    Indonesia saat ini tertinggal jauh dalam pengembangan teknologi antariksa. Indonesia pertama kali terlibat dengan dunia antariksa pada 1976 dengan peluncuran satelit Palapa. satelit tersebut sayangnya merupakan buatan Hughes (sekarang Boeing), perusahaan pembuat satelit asal Amerika Serikat. Ketertinggalan Indonesia dirasa karena kurangnya perhatian pemerintah masa itu pada dunia antariksa. Satelit saat itu hanya digunakan sebagai sarana telekomunikasi.
    Pemerintah kurang memandang bahwa teknologi satelit dapat digunakan untuk berbagai masalah lain seperti ilmu pengetahuan dan pertahanan keamanan.

    Look up intergalactic in Wiktionary, the free dictionary.

    Wikiquote has a collection of quotations related to: space
    Wikimedia Commons has media related to: Space
    Wikinews has related news: Portal:Space


    Namun semenjak era reformasi perhatian pemerintah sedikit bertambah. Berbagai program telah direncanakan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki teknologi antariksa maju. Proyek pertama adalah peluncuran satelit lapan A2. 




    Satelit mikro ini merupakan satelit pertama yang murni buatan Indonesia. Satelit ini dapat digunakan untuk pengambilan citra bumi dan monitor lalu lintas kapal. LAPAN telah meluncurkan satelit ini pada 2013 menumpang pada roket India. 
    Proyek lain yang tak kalah penting adalah penelitian roket. Lapan telah berhasil menguji roket RX 550 miliknya pada awal tahun ini. RX 550 dirancang untuk pengembangan roket pembawa satelit. Roket ini akan menjadi titik dasar Indonesia sebagai peluncur satelit.

    Spesifikasi Roket RX 550

    1.      Berfungsi sebagai roket pendorong (booster) utama roket pengorbit satelit
    2.      Diameter motor 550 mm
    3.      Panjang roket motor 6 meter
    4.      Panjang keseluruhan roket (ditambah dengan komponen lain) 9,5 meter
    5.      Daya jangkau (horizontal) 300 km
    6.      Jarak tempuh (ketinggian/vertikal) 150 km
    7.      Bahan bakar yang digunakan berjenis HPTB (Hydroxyl Toluen Poly Butadiene)
    8.      Kapasitas bahan bakar 1,8 ton
    9.      Biaya total pembuatan roket Rp. 5 miliar




  • Intergalactic SpaceNatural History, Feb 1998
  • Morgan Freeman's Space Exploration Channel "Our Space" on ClickStar
  • Profits set to soar in outer space
  • Newscientist Space.
  • X PRIZE Foundation.
  • Images of Earth and space taken from outer space


  • Indonesia dapat mengejar ketinggalan IPTEK Antariksa ini dengan cara mengembangkan Portal-portal pendidikan Antariksa di sekolah-sekolah yang dapat memacu minat peserta didik, sehingga diharapkan dalam 25 tahun hingga 30 tahun mendatang lahir Ilmuwan-Ilmuwan tangguh dalam bidang Antariksa.

    Indonesia Bisa!

    Semoga Bermanfaat

    Sunday, 23 June 2013

    Asas Antropik dan Kosmologi Inflasioner

    Tulisan ini terinspirasi dari diskusi di twitter antara: Kak Handhika Satrio Ramadhan, M.Sc., Ph.D. dan Bpk. Ir. Haryo Aswicahyono, M.Ec., Ph.D. Mengenai "Counterfactual Evidence"

    Kata Bpk. Haryo: "Apakah rakyat Indonesia bijaksana memilih SBY sebagai Presiden? Itu tidak bisa dijawab, karena tidak bisa dibuat counterfactual evidence." 

    Apa pula itu Counterfactual Evidence? 

    Kata Kak Ramadhan: "Dicoba di Jawab dengan Argumen Antropik"

    Untuk yang pertama mari kita bahas mengenai: Counter-factual Evidence:

    Ini adalah sebuah jenis Praangapan, merupakan suatu pengalaman manusia sehari-hari sehingga praanggapan juga merupakan gejala yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sering kita tidak sadar akan hal itu. 

    Pengertian Praanggapan Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan. 

    Contoh: 

    A : “Aku sudah membeli bukunya Pak Bambang, S.Pd. kemarin” 

    B : “Dapat potongan 40 persen kan?"

    Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur A memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Bambang. 

    Konterfaktual berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan. 

    Jadi kemungkinan besar makna dari: Counterfactual Evidence 

    Adalah sebuah pernyataan, bukti atau sebuah anggapan yang tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dari kenyataan.


    Selanjutnya mari kita bahas apa itu Asas atau Prinsip Antropik?:

    Prinsip Antropik

    Di dalam kosmologi prinsip antropik pertama kali dipakai oleh Brandon Carter pada simposium  bertema “Konfrontasi Teori-teori Kosmologi dengan Data Pengamatan” pada tahun 1973.  Meski ada beberapa varian, secara umum prinsip ini menyatakan bahwa nilai-nilai parameter fisika dan kosmologi yang teramati dibatasi oleh kebutuhan bagi eksistensi si pengamat.

    Dengan kata lain, jagat raya harus memiliki kondisi yang memungkinkan berkembangnya kesadaran intelektual yang dapat mengamatinya. Prinsip antropik telah dicoba diterapkan pada beberapa bidang yang masih menjadi bahan perdebatan seperti mekanika kuantum, teori inflasi Big Bang, dan teori superstring. 

    Karena sifat inherennya, prinsip antropik membutuhkan “variasi” disekitar apa yang “teramati”.

    Akibatnya, prinsip ini melahirkan konsep-konsep spektakuler yang lebih dekat dengan fiksi ketimbang ilmiah, misalnya konsep multi jagat raya.

    Namun karena konsep ini juga muncul pada teori superstring dan mekanika kuantum, prinsip antropik menjadi bahan perdebatan di komunitas ilmiah, meski jurnal-jurnal ilmiah ternama seperti Astrophysics Journal semula menolak menerbitkan riset di bidang ini. 

    Pertanyaan-Pertanyaan yang Menggiring Kita Pada Prinsip Antropik

    Mengapa massa elektron me =0.5 MeV ? 

    Apa yang terjadi bila massa elektron lebih kecil dan lebih besar dari massa-nya yang sekarang ?
    Mengapa kuat interaksi gravitasi sebanding dengan r-2 ? 
    Mengapa konstanta interaksi kuat berharga sebesar yang kita ukur sekarang ?
    Mengapa konstanta gravitasi G = 6.67 x 10-11 N m2 kg-2 ? 
    Mengapa konstanta-konstanta tersebut tidak berharga lain,
    misalnya me= 1.7 MeV atau G = 7.8 x 10-10 N m2 kg-2 ? 

    Mengapa kita hidup di dalam alam semesta dengan ruang-waktu berdimensi 4, bukan 5 atau 13,
    atau malah 3?

    Mengapa alam semesta tempat kita tinggal ini cukup besar, (hampir) Euclidean, homogen, dan isotropi?

    Masih banyak lagi pertanyaan mengapa lainnya yang menggugah rasa ingin tahu manusia.

    Mengapa alam semesta keadaannya seperti apa yang kita amati, dapat dijelaskan dengan asas antropik dan skenario kosmologi inflasioner.

    Menurut asas antropik, alam semesta ini begitu adanya seperti apa yang kita amati, karena jika tidak, maka tidak akan ada manusia yang akan mempertanyakannya. Asas antropik ini mengisyaratkan ada banyak alam semesta dengan berbagai macam hukum fisika yang berbeda-beda.

    Dan kita, manusia, hidup di dalam salah satu alam semesta itu, yang hukum-hukum fisikanya mendukung keberadaan kita.

    Asas antropik ini memang bersifat filosofis. Dan itu tidak begitu disukai oleh sebagian ilmuwan. Alasannya adalah karena asas antropik tidak menjawab secara langsung pertanyaan-pertanyaan di atas.

    Ditambah lagi kenyataan bahwa manusia hanyalah bagian teramat kecil dari alam semesta yang teramat luas ini. Jadi agak mengherankan jika keberadaan manusia mempengaruhi keadaan alam semesta seperti yang kita amati sekarang ini.

    Asas antropik diperkuat dan diperjelas oleh kosmologi inflasioner. Kosmologi inflasioner ini adalah titik temu fisika partikel dan kosmologi teroretis, dan menarik banyak perhatian kosmolog & fisikawan partikel akhir-akhir ini.

    Menurut kosmologi inflasioner, alam-semesta-teramati (observable universe, yang selanjutnya akan disebut: alam semesta) tempat kita tinggal adalah bagian dari suatu universe (alam-semesta-keseluruhan) yang mengalami proses inflasi.

    Proses inflasi ini berlangsung teramat singkat (~10-35 s), tetapi melipatgandakan ukuran bagian dari universe yang mengalami inflasi tersebut, dengan faktor 1010.000.000 hingga 10100.000.000.000.000 secara eksponensial.

    Struktur global universe ini ditentukan oleh efek kuantum. Karenanya setiap bagian universe yang mengalami inflasi memiliki sifat yang acak, dalam arti hukum-hukum fisika yang berlaku di dalamnya mungkin berbeda dengan hukum-hukum fisika yang berlaku di bagian lain yang juga mengalami inflasi.

    Tiap bagian universe yang mengalami inflasi itu membentuk alam semesta mini dengan hukum fisikanya yang tertentu, yang berbeda dengan alam semesta lainnya.

    Proses inflasi pada bagian-bagian universe ini berlangsung secara acak dan terus-menerus tanpa henti.

    Akibatnya, akan terbentuk alam semesta-alam semesta yang tak berhingga banyaknya, dengan berbagai macam kemungkinan hukum-hukum fisika yang berlaku di dalamnya.

    Alam semesta kita adalah salah satu bagian universe yang mengalami inflasi dan menghasilkan alam semesta yang memiliki:

    me =0.5 MeV, G= 6.67 x 10-11 N m2 kg-2, ruang waktu berdimensi 4, dan sifat-sifat lain yang kita amati, karena alam semesta dengan sifat-sifat seperti itu mendukung adanya manusia.


    Jika dulu Einstein pernah bertanya:

    "What I am really interested in is whether God could create the world differently",

    maka kini kosmologi menjawabnya:

    Tuhan bukan saja bisa menciptakan alam semesta yang berbeda dengan alam semesta yang kita tempati, Dia bahkan menciptakan alam semesta/universe yang terus-menerus bereproduksi menghasilkan alam semesta-alam semesta dengan berbagai kemungkinan."

    Penalaan Hati-Hati yang Maha Halus dan Sempurna

    Jika diamati secara seksama, terungkap bahwa parameter-parameter fisika fundamental memiliki nilai yang rumit.

    Contohnya, muatan elektron yang bernilai –1,602176462 x 10-19 Coulomb atau massa elektron yang nilainya 9,10938188 x 10-31 kilogram. 

    Rasanya sangat mustahil jika semua nilai-nilai semacam ini dapat dihasilkan dari satu teori tunggal yang sederhana. 

    Atau terjadi karena kebetulan belaka tanpa adanya yang mengatur hal ini. 

    Namun yang paling mengganggu adalah fakta bahwa nilai-nilai parameter tersebut seolah-olah ditala secara halus (fine-tuned) pada nilai-nilai tertentu yang memungkinkan berkembangnya kehidupan diiringi kesadaran intelektual yang pada akhirnya dapat menyadari eksistensi parameter tersebut. 

    Seandainya saja elektron sedikit lebih ringan, maka elektron dan proton dalam atom akan bergabung menjadi netron (plus neutrino). 

    Alam semesta yang melulu berisi netron tentu saja tidak dapat menyangga reaksi kimia yang mendukung kehidupan. 

    Sebaliknya jika massa netron sedikit lebih ringan, deuterium tidak akan terbentuk, reaksi fusi pada bintang tidak akan menghasilkan energi pendukung kehidupan yang kita kenal saat ini. 

    Tentu saja tidak akan ada makhluk hidup apa pun.

    Penalaan-halus (fine-tuning) nilai-nilai parameter fisika merupakan salah satu argumen teologi dari kekuatan supranatural pencipta jagat raya. 

    Menurut argumen ini pencipta jagat raya menala secara hati-hati nilai-nilai parameter yang dibutuhkan oleh hukum alam, atau, hukum alam didisain secara hati-hati untuk memiliki solusi unik dengan nilai-nilai parameter yang kini teramati oleh ummat manusia. 

    Inilah sebab munculnya "Mazhab" Sains yang Religius.

    Walohualambissawab

    Ucapan Terima Kasih:

    1. Dr. Ir. Haryo Aswicahyono, M.Ec.
    Peraih Doktor Ekonomi di Australian National University dan Peneliti Senior di Centre for Strategic and International Studies

    2. Kak Handhika Satrio Ramadhan, M.Sc., Ph.D.
    Peraih Ph.D. dalam bidang Fisika Kosmologi, Dosen Fisika di Universitas Indonesia

    Sumber:

    1. Prof. Dr. rer. nat. Terry Mart, M.Sc.
    2. Bpk. Ferry M. Simatupang, S.Si., M.Si.
    3. Yanris Tri.
    4. Department Astronomy The University of Sussex.