Showing posts with label Earth. Show all posts
Showing posts with label Earth. Show all posts

Thursday, 4 July 2013

Mengenang Jati Diri Imperium Nusantara

"Nyukcrug Galur Nu Kapungkur, Mapay Raratan Nu Baheula

Nu Kungsi Di Teundeun Na Handeuleum Sieum

Nu Nyorang Di Tunda Na Hanjuang Siang Kiwari Mangsa Alaeun

PUN SA’PUN DINA JAJANTUNG BISMILLAH DIUCAP LAMPAH

Paralaun Mun Kumalangkung Palias Lukak Campelak

Amit Muka Tutungkusan BUDAYA SUNDA NU PINUH KU SASMITA

DINA WADAH RATNA MUTIARA PERMATA BUDAYA NUSANTARA"

 Tangga di Lokasi Cagar Budaya Karangkamulyan

Jika kita kembali kepada jati diri dan sejarah Nusantara, bahkan sebelum masa Kolonialisme, leluhur elit Nusantara sudah mampu membangun Borobudur yang lebih teliti dan detail daripada Piramida Mesir.
Maha Karya itu adalah sebuah pertanda sejarah bahwa nenek moyang kita adalah para Genius Linuhung Pilitanding tiada banding di antara peradaban manusia manapun.
Penemuan Situs Gunung Padang di Cianjur, menegaskan bahwa peradaban elit Nusantara telah berkembang jauh sebelum masehi.
Apalagi jika kita meyakini Teori Peradaban Atlantis pernah Eksis di Nusantara.
Ini berarti induk peraban seluruh dunia pernah hadir di wilayah Indonesia.
Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.
Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warung Kondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Untuk apa dibangun? 

Siapa yang membangun? 

Mengapa dibangun di lokasi itu? 

Dari mana saja material bangunannya dan bangunan apa saja? 

Itulah yang menjadi bagian misteri dari Gunung Padang. Lokasi yang dibuat sebanyak lima pelataran itu 2000 tahun SM artinya dibangun 2800 tahun sebelum Borobudur didirikan.

Hebat bukan? 

Bahkan menurut beberapa sumber Situs Gunung Padang ini 3 kali lebih luas dibanding Borobudur. Gunung Padang lahir dari kearifan dan keunggulan masyarakat Nusantara. Pembangunan Gunung Padang sangat memerhatikan berbagai aspek demi tercapainya harmoni bumi dan langit, artinya pembangunan Situs Gunung Padang memerhatikan aspek geologis. Media lain pernah menyebutkan bahwa pembangunan situs ini terutama teras bagian bawah sangat memerhatikan masalah kelabilan area ini dengan cara menyusun tiang-tiang batu secara mendatar dan saling tumpuk menumpuk untuk penguatan. 

Nusantara Atlantis yang Hilang

Atlantis, mungkin anda sudah tak asing mendengar nama itu. Percaya atau tidak, Benua Atlantis yang telah lama hilang selama berabad-abad itu terletak di Asia Tenggara, tepatnya di Indonesia.

Dahulu kala di zaman peradaban pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Negara Singapura juga Malaysia bagian barat dan Selat Sunda menyatu daratannya. Dulu wilayah tersebut sering disebut-sebut Sunda Island.

Adalah Profesor Arysio Santos yang menyimpulkan bahwa setelah melakukan penelitian selama 30 tahun terakhir, dirinya meyakini benua Atlantis adalah Indonesia.

“Profesor Santos memperoleh keyakinan setelah melakukan penelitian kalau Indonesia adalah Atlantis yang hilang,” jelas Prof. Jimly Asshiddiqie.

Prof. Arysio Santos menerbitkan sebuah buku sensasional: 
Secara eksplisit dalam buku ini dia mengatakan bahwa lokasi Atlantis yang telah hilang sejak sekitar 11.600 tahun yang lalu itu di Indonesia. 
Selama ini, Plato menggambarkan benua 2500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa yang memiliki peradaban Atlantis yang sangat tinggi dengan sifat yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para dewa. 
Kisah Atlantis dibahas dari waktu ke waktu, dan melanjutkan upaya pencarian dilakukan untuk menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis Pencarian dilakukan di Atlantik, Laut Mediterania, Caribea, ke Kutub Utara. 
Pencarian ini tidak berhasil, sehingga beberapa orang beranggapan bahwa Plato menggambarkan itu hanya dongeng. 
Arysio Santos, seorang Profesor ahli Fisika Nuklir menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena mencari di tempat yang salah. Lokasi yang benar dan sangat meyakinkan adalah Indonesia, katanya. Dia mengatakan bahwa ia telah mempelajari kemungkinan lokasi Atlantis selama 30 tahun terakhir. 
Prof. Santos menggunakan berbagai disiplin ilmu dalam mencari lokasi Atlantis diantanya adalah Geofisika, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Perbandingan Mitologi.

Wallohualambissawab

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Photo by: Arip Nurahman


Saturday, 9 March 2013

Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi


Kawah Gunung Tangkuban Parahu, Bandung, Jawa Barat. Indonesia

Intro:

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi adalah Pembangkit Listrik (Power generator) yang menggunakan Panas bumi (Geothermal) sebagai energi penggeraknya. Indonesia dikaruniai sumber panas Bumi yang berlimpah karena banyaknya gunung berapi di indonesia, dari pulau-pulau besar yang ada, hanya pulau Kalimantan saja yang tidak mempunyai potensi panas Bumi.
Untuk membangkitkan listrik dengan panas Bumi dilakukan dengan mengebor tanah di daerah yang berpotensi panas Bumi untuk membuat lubang gas panas yang akan dimanfaatkan untuk memanaskan ketel uap (boiler) sehingga uapnya bisa menggerakkan turbin uap yang tersambung ke Generator.
Untuk panas Bumi yang mempunyai tekanan tinggi, dapat langsung memutar turbin generator, setelah uap yang keluar dibersihkan terlebih dahulu. Pembangkit listrik tenaga panas Bumi termasuk sumber Energi terbaharui.

Geothermal Energy


Geothermal energy is thermal energy generated and stored in the Earth. Thermal energy is the energy that determines the temperature of matter. The Geothermal energy of the Earth's crust originates from the original formation of the planet (20%) and from radioactive decay of minerals (80%). The geothermal gradient, which is the difference in temperature between the core of the planet and its surface, drives a continuous conduction of thermal energy in the form of heat from the core to the surface. 

The adjective geothermal originates from the Greek roots γη (ge), meaning earth, and θερμος (thermos), meaning hot. At the core of the Earth, thermal energy is created by radioactive decay and temperatures may reach over 5000 degrees Celsius (9,000 degrees Fahrenheit). Heat conducts from the core to surrounding cooler rock. The high temperature and pressure cause some rock to melt, creating magma convection upward since it is lighter than the solid rock. 

The magma heats rock and water in the crust, sometimes up to 370 degrees Celsius (700 degrees Fahrenheit). From hot springs, geothermal energy has been used for bathing since Paleolithic times and for space heating since ancient Roman times, but it is now better known for electricity generation. Worldwide, about 10,715 megawatts (MW) of geothermal power is online in 24 countries. 

An additional 28 gigawatts of direct geothermal heating capacity is installed for district heating, space heating, spas, industrial processes, desalination and agricultural applications. 

Geothermal power is cost effective, reliable, sustainable, and environmentally friendly, but has historically been limited to areas near tectonic plate boundaries. Recent technological advances have dramatically expanded the range and size of viable resources, especially for applications such as home heating, opening a potential for widespread exploitation. Geothermal wells release greenhouse gases trapped deep within the earth, but these emissions are much lower per energy unit than those of fossil fuels. 

As a result, geothermal power has the potential to help mitigate global warming if widely deployed in place of fossil fuels. Direct application In the geothermal industry, low temperature means temperatures of 300 °F (149 °C) or less. Low-temperature geothermal resources are typically used in direct-use applications, such as district heating, greenhouses, fisheries, mineral recovery, and industrial process heating. However, some low-temperature resources can generate electricity using binary cycle electricity generating technology. 

Approximately 70 countries made direct use of 270 petajoules (PJ) of geothermal heating in 2004. More than half went for space heating, and another third for heated pools. The remainder supported industrial and agricultural applications. Global installed capacity was 28 GW, but capacity factors tend to be low (30% on average) since heat is mostly needed in winter. 

The above figures are dominated by 88 PJ of space heating extracted by an estimated 1.3 million geothermal heat pumps with a total capacity of 15 GW. Heat pumps for home heating are the fastest-growing means of exploiting geothermal energy, with a global annual growth rate of 30% in energy production. 

Direct heating is far more efficient than electricity generation and places less demanding temperature requirements on the heat resource. Heat may come from co-generation via a geothermal electrical plant or from smaller wells or heat exchangers buried in shallow ground. As a result, geothermal heating is economic at many more sites than geothermal electricity generation. Where natural hot springs or geysers are available, the heated water can be piped directly into radiators. If the ground is hot but dry, earth tubes or down hole heat exchangers can collect the heat. 

But even in areas where the ground is colder than room temperature, heat can still be extracted with a geothermal heat pump more cost-effectively and cleanly than by conventional furnaces. These devices draw on much shallower and colder resources than traditional geothermal techniques, and they frequently combine a variety of functions, including air conditioning, seasonal energy storage, solar energy collection, and electric heating. 

Geothermal heat pumps can be used for space heating essentially anywhere. Geothermal heat supports many applications. District heating applications use networks of piped hot water to heat many buildings across entire communities. More than 72 countries have reported direct use of geothermal energy, Iceland being the world leader. 93% of its homes are heated with geothermal energy, saving Iceland over $100 million annually in avoided oil imports. Reykjavík, Iceland has the biggest district heating system on the globe. Once known as the most polluted city in the world, it is now one of the cleanest due to geothermal energy. 

Enhanced Geothermal System
1:Reservoir, 2:Pump House 
3:Heat Exchanger, 4:Turbine Hall 
5:Production Well, 6:Injection Well 
7:Hot Water to District Heating, 8:Porous Sediments 
9:Observation Well, 10:Crystalline Bedrock


Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia 

Salah satu potensi sumber energi terbesar di Indonesia adalah energi panas bumi. Indonesia setidaknya menyimpan 28.994 MWe (megawatt-elektrikal) potensi panas bumi, namun hingga saat ini hanya sekitar 4 % atau 1,2 MWe yang telah dimanfaatkan. Jumlah ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Filipina yang telah mengeksplorasi hingga 70% dari total potensi panas buminya. 

Badan Survey Geologi Kolonial Belanda (DGCS) pertama kali memetakan potensi energi panas bumi di awal abad 20. Pada tahun 1969 eskplorasi lebih lanjut dilakukan oleh Survey Geologi Indonesia. Pada tahun 2011 tercatat dari sekitar 276 area geothermal di Indonesia, 37 diantaranya merupakan area pertambangan (WKP [Wilayah Kerja Pertambangan]) dengan potensi panas bumi sebesar 7.376 MWe. 

Semakin pesatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia menyebabkan adanya peningkatan kebutuhan energi, sementara hingga saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada sumber energi fosil. Jika hal ini terus terjadi, maka diperkirakan 2 atau 3 dekade yang akan datang, akan terjadi krisis energi yang semakin parah. 

Potensi geothermal di Indonesia tidak hanya mengingat cadangannya yang sangat besar, namun juga pertimbangan ekonomi dan ketahanan energi nasional jika sektor ini bisa dikembangkan dan dikelola dengan baik. Pengurangan emisi yang bersumber dari pembakaran sumber energi fosil dan pengurangan beban subsidi energi dapat dilakukan. 

Geothermal yang bersifat site specific sangat menguntungkan mengingat sifatnya yang tidak dapat disimpan dan tidak dapat ditransportasikan dalam jarak yang jauh membuat sumber ini tidak dapat menjadi komoditi ekspor, sehingga akan lebih stabil dan terhindar dari fluktuasi harga energi di dunia. Keuntungan lain dari pemanfaatan geothermal adalah rendahnya emisi yang dihasilkan. 

Beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas geothermal dapat mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca (GRK) terutama CO2. Menurut laporan WWF’s Ring of Fire Geothermal Scenario, potensi geothermal diperkirakan dapat mengurangi emisi tahunan hingga 13,6 juta ton CO2 pada tahun 2015 dan 19,8 juta ton pada tahun 2020.

"Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia adalah 40% dari Kapasitas Total Energi Panas Bumi Dunia jika kita mampu mengoptimalkan energi ini maka Insha Allah Bangsa ini akan menuai Kemerdekaan  Energi"
~Arip Nurahman~

Sources: 

1. http://en.wikipedia.org/wiki/Geothermal_energy
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Geothermal_electricity
3. http://www.ebtke.esdm.go.id/
4. Arip Nurahman Notes

Ucapan Terima Kasih Kepada:

Sahabat-sahabatku:

Ridwan Firdaus (Geografi Universitas Negeri Jakarta), Ade Akhyar Nurdin (Teknik Geologi Universitas Jendral Soedirman), Widia Prima (Teknik Sipil, Sekolah Tinggi Teknologi Garut), Deni Nugraha (Ilmu Pemerintahan STISIP Banjar), Ismail Muhammad S. (Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Jendral Soedirman), Farid Waliyuddin R. (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), Muhlaso Dian A. (Institute Pemerintahan Dalam Negeri).

Kepada FORSALIM

Dan semua alumni "paguron mosque keeper" Manbaul Ulum SMAN 1 Banjar


Photo by: Kang Agus Haeruman, S.Si.

Tuesday, 15 June 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory

Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

Mineral (Minerals)


Mineral (Minerals) adalah bahan padat homogen bersifat anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki ciri-ciri khas dan komposisi kimiawi tertentu serta tersusun oleh atom-atom yang biasanya memperlihatkan bentuk kristal yang khusus.

SISTEMATIKA MINERAL

Mineral Unsur                 Emas Au, Besi Fe, Tembaga Cu, Belerang S, Intan C
Mineral Sulfida              Pirit FeS2, Kalkopirit CuFeS2, Galena PbS, Sfalerit ZnS
Mineral Halida               Halit NaCl, Fluorit CaF2, Silvit KCl, Kriolit Na3AlF6
Mineral Oksida               Hematit Fe2O3, Magnetit Fe3O4, Pirolusit MnO2
Mineral Karbonat            Kalsit CaCO3, Dolomit CaMg(CO3)2, Malakit Cu2CO3(OH)2
Mineral Sulfat                Barit BaSO4, Anhidrit CaSO4, Gipsum CaSO4.2H2O
Mineral Fosfat                Apatit Ca5(PO4)3(F,Cl,OH), Monazit (Ce,La,Y,Th)PO4
Mineral Silikat                Kuarsa SiO2, Olivin (Mg,Fe)2SiO4, Topaz Al2SiO4(F,OH)2


 SISTEM KRISTAL

                                

 SIFAT FISIK MINERAL
  • Warna (colour)
  • Kilap (luster)
  • Cerat/gores (streak)
  • Belahan & Pecahan (cleavage & fracture)
  • Kekerasan (hardness)
  • Berat jenis (specific gravity)
  • Radioaktivitas (radioactivity)

 SKALA KEKERASAN MOHS

Kekerasan

Mineral

Rumus Kimia
Tes Sederhana
1
Talkum
Mg3SiO4O10(OH)2
mudah digores kuku jari
2
Gipsum
CaSO42H2O
dapat digores kuku jari
3
Kalsit
CaCO3
dapat digores koin tembaga
4
Fluorit
CaF2
mudah digores pisau lipat
5
Apatit
Ca5(F,Cl)(PO4)3
dapat digores pisau/kaca/paku
6
Ortoklas/Felspar
KalSi3O5
dapat digores kikir baja
7
Kuarsa
SiO2
mudah menggores kaca jendela
8
Topas
(Al,F)2SiO4
mudah menggores Kuarsa
9
Korundum
Al2O3
mudah menggores Topas
10
Intan
C
tidak dapat digores benda lain


                            


Mineral Logam (Metallic Minerals)

Mineral Non-Logam (Non-Metallic Minerals)

*Batu Mulia (Gemstones)
Batu Mulia adalah jenis batuan/mineral yang dianggap memiliki nilai lebih karena daya tarik dan alasan-alasan tertentu seperti keunikan, kelangkaan, kekerasan dan keindahan sehingga sangat cocok digunakan sebagai batu permata/perhiasan bahkan diyakini memiliki khasiat untuk terapi pengobatan, termasuk sebagai azimat.

BATU PERMATA (PRECIOUS STONE)
Batu permata adalah batumulia dengan kekerasan tertentu (>7 skala Mohs) yang apabila dipotong, dipoles dan diupam memiliki nilai hakiki, indah dan tahan terhadap berbagai pengaruh sehingga banyak dimanfaatkan sebagai perhiasan/asesoris, pajangan/ornamen atau dekorasi.

                            
 


Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World


2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus

Thanks To:




3.Earth - NASA Science


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Thursday, 20 May 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory

Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

Batuan (Rocks)
Batuan (Rocks) adalah bahan padat bentukan alam yang umumnya tersusun oleh kumpulan atau kombinasi dari satu macam mineral atau lebih.

JENIS BATUAN (ROCKS)

Batuan yang dibentuk oleh berbagai jenis dan susunan mineral dibagi menjadi tiga jenis, yaitu batuan beku (igneous rocks), batuan endapan (sedimentary rocks), dan batuan malihan (metamorphic rocks).

Batuan Beku (Igneous Rocks)
 
Batuan yang terbentuk dari proses pembekuan/pengkristalan magma dalam perjalanannya menuju permukaan bumi, termasuk hasil aktivitas gunungapi.
  • Batuan beku dalam = batuan plutonik, batuan yg membeku jauh di bawah permukaan bumi, contoh: granit
  • Batuan beku korok/gang = batuan intrusif / hipabisal, batuan yg membeku sebelum sampai ke permukaan bumi, contoh: granit porfir
  • Batuan beku luar/leleran = batuan ekstrusif / efusif, batuan yg membeku di permukaan bumi, contoh: batuan vulkanis
                         

                         

Batuan Endapan (Sedimentary Rocks)

Batuan yang terbentuk dari proses pengendapan bahan lepas (fragmen) hasil perombakan/pelapukan batuan lain yang terangkut dari tempat asalnya oleh air, es atau angin, yang kemudian mengalami proses diagenesa/pembatuan (pemadatan dan perekatan).
  • Batuan sedimen klastik / mekanis = batuan yg terendapkan dari hasil rombakan batuan asal, contoh: konglomerat, breksi, batupasir, serpih, napal, batulempung
  • Batuan sedimen organik = batuan yg berasal dari endapan bahan organis (binatang & tumbuhan), contoh: batugamping, batubara, batu gambut, diatomit
  • Batuan sedimen kimiawi = batuan endapan akibat proses kimiawi, contoh: evaporit, travertin, anhidrit, halit, batu gips
  • Batuan sedimen piroklastik = batuan endapan hasil erupsi gunungapi berupa abu/debu, contoh: tufa


                            


Batuan Malihan (Metamorphic Rocks)

Batuan yang terbentuk dari proses perubahan batuan asal (batuan beku maupun sedimen), baik perubahan bentuk/struktur maupun susunan mineralnya akibat pengaruh tekanan dan/atau temperatur yang sangat tinggi, sehingga menjadi batuan yang baru. 
  • Batuan metamorf kontak/sentuh/termal = batuan malihan akibat bersinggungan dengan magma, contoh: marmer, kuarsit, batutanduk
  • Batuan metamorf tekan/dinamo/kataklastik = batuan malihan akibat tekanan yang sangat tinggi, contoh: batusabak, sekis, filit
  • Batuan metamorf regional/dinamo-termal = batuan malihan akibat pengaruh tekanan dan temperatur yang sangat tinggi, contoh: genes, amfibolit, grafit



                            
 

Badan Geologi merupakan salah satu unit eselon I di lingkungan Kementerian ESDM yang bertugas memberikan pelayanan informasi geologi.

Badan Geologi terdiri dari 5 unit kerja yaitu:
  1. Sekretariat Badan Geologi
  2. Pusat Sumber Daya Geologi
  3. Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana
  4. Pusat Lingkungan Geologi
  5. Pusat Survei Geologi


TAHUN 2010
TAHUN 2009
Volume IV, No.4
Volume IV, No.3 
Volume IV, No.2
Volume IV, No.1

TAHUN 2008
Volume III, No.4  
Volume III, No.3 
Volume III, No.2 
Volume III, No.1

TAHUN 2007
Volume II, No.4
Volume II, No.3 
Volume II, No.2
Volume II, No.1

TAHUN 2006
Volume I, No. 4
Volume I, No. 3
Volume I, No. 2
Volume I, No. 1

Cara Membuat Sebuah Jurnal Geologi

ISI DAN KRITERIA UMUM

Naskah makalah ilmiah (selanjutnya disebut “Naskah”) untuk publikasi di Jurnal Geologi Indonesia (JGI) dapat berupa artikel hasil penelitian, artikel ulas balik (review/mini review), komunikasi singkat, dan ulasan (feature) tentang geologi, baik sains maupun terapan. Naskah belum pernah dipublikasikan atau tidak sedang diajukan pada majalah/jurnal lain.


Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World


2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus

Thanks To:



3.Earth - NASA Science


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Saturday, 10 April 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory


Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa






Fokus

By: Ade Akhyar Nurdin
 
Di sini saya menulis artikel dan berita yang berhubungan dengan geologi, baik yang ditulis sendiri maupun dari berbagai sumber serta opini pribadi tentang isue-isue terkini dibidang geologi. silakan comment klo ada yang kurang pas dengan hasil tulisan saya.

Adapun beberapa artikel yang telah saya terbitkan, antara lain:
Research groups within or in relation to the Department of Earth and Space Sciences at UCLA.

Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World



2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus


Thanks To:



3.Earth - NASA Science 


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Wednesday, 10 March 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory



Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

Sumber: Wikipedia oleh Ade Akhyar.

Mineralogi merupakan ilmu bumi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika (termasuk optik) dari mineral. Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral.

Pada awalnya, mineralogi lebih menitikberatkan pada sistem klasifikasi mineral pembentuk batuan. International Mineralogical Association merupakan suatu organisasi yang beranggotakan organisasi-organisasi yang mewakili para ahli mineralogi dari masing-masing negara. Aktifitasnya mencakup mengelolaan penamaan mineral (melalui Komisi Mineral Baru dan Nama Mineral), lokasi mineral yang telah diketahui, dsb. Sampai dengan 2004 telah terdapat lebih dari 4000 spesies mineral yang diakui oleh IMA. Dari kesemua itu, 150 dapat digolongkan “umum”, 50 lainnya “terkadang”, dan sisanya “jarang” sampai “sangat jarang” Belakangan ini, dangan disebabkan oleh perkembangan teknik eksperimental (seperti defraksi neutron) dan kemampuan komputasi yang ada, telah memungkinkan simulasi prilaku kristal berskala atom dengan sangat akurat, ilmu ini telah berkembang luas hingga mencakup permasalahan yang lebih umum dalam bidang kimia anorganik dan fisika padat. 

Meskipun demikan, bidang ini tetap berfokus pada struktur kristal yang umumnya dijumpai pada mineral pembentuk batuan (seperti pada perovskites, mineral lempung dan kerangka silikat). Secara khusus, bidang ini telah mencapai kemajuan mengenai hubungan struktur mineral dan kegunaannya; di alam, contoh yang menonjol berupa akurasi perhitungan dan perkiraan sifat elastic mineral, yang telah membuka pengetahuan yang mendalam mengenai prilaku seismik batuan dan ketidakselarasan yang berhubungan dengan kedalaman pada seismiogram dari mantel bumi. Sehingga, dalam kaitannya dengan hubungan antara fenomena berskala atom dan sifat-sifat makro, ilmu mineral (seperti yang umumnya diketahui saat ini) kemungkinan lebih berhubungan dengan ilmu material daripada ilmu lainnya.

dari uraian di atas akan dijabarkan beberapa uraian yang edittor anggap sangat penting dalam mempelajari mineralogi, diantaranya:

Earth Science Technology


Advanced technologies play a major role in Earth science research and applications. The robust, ongoing development of new sensors, instruments, space systems, and information technologies is critical to improved observations of Earth and to a better understanding of the Earth system.

ESTO Page Image NEW
From remote sensing instruments to data access, ESTO technologies enable the full range of Earth science measurements.

ESTO employs a unique and highly-successful approach to technology development:
  • Technology investments are fundamentally science-driven: careful planning and engagement with the science community help ensure an ever-evolving set of useful, mature technologies and tools for Earth science.
  • Technology investments are competitively selected: ESTO awards are selected by peer-reviewed, competitive solicitations.
  • Technology investments are actively managed and infused: progress is measured against established goals and benchmarks and ESTO seeks every opportunity for the demonstration, validation, and infusion of maturing technologies.

Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World

2. Arip Nurahman

3. Ridwan Firdaus


Thanks To:



3.Earth - NASA Science  

Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta

Wednesday, 10 February 2010

Earth & Space Science Digital Laboratory


Visi

Untuk Menciptakan Kemajuan dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi Kebumian dan Antariksa demi Keselamatan serta Kesejahteraan Umat Manusia


Misi

1. Inovasi dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

2. Penelitian dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

3. Pengembangan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan

4. Pendidikan dalam IPTEK Laboratorium Digital Kebumian dan Keantariksaan


Program

1. Pembelajaran Teknik Geologi

2. Pembelajaran Geografi dan Lingkungan

3. Pembelajaran Fisika Antariksa


Fokus

1. Sumber: Wikipedia oleh Ade Akhyar
 
Geomorfologi adalah ilmu yang mendeskripsikan, mendefinisikan, serta menjabarkan bentuk lahan dan proses-proses yang mengakibatkan terbentuknya lahan tersebut, serta mencari hubungan antara proses-proses dalam susunan keruangan (Van Zuidam, 1977).

Berdasarkan sedikit penjelasan di atas, perlu ketahui uraian yang lebih detail lagi beberapa hal yang sangat perlu kita ketahui dalam mempelajari geomorfologi, diantaranya:





2. The complexity of the Earth system, in which spatial and temporal variability exists on a range of scales, requires that an organized scientific approach be developed for addressing the complex, interdisciplinary problems that exist, taking good care that in doing so there is a recognition of the objective to integrate science across the programmatic elements towards a comprehensive understanding of the Earth system. In the Earth system, these elements may be built around aspects of the Earth that emphasize the particular attributes that make it stand out among known planetary bodies.

These include the presence of carbon-based life; water in multiple, interacting phases; a fluid atmosphere and ocean that redistribute heat over the planetary surface; an oxidizing and protective atmosphere, albeit one subject to a wide range of fluctuations in its physical properties (especially temperature, moisture, and winds); a solid but dynamically active surface that makes up a significant fraction of the planet’s surface; and an external environment driven by a large and varying star whose magnetic field also serves to shield the Earth from the broader astronomical environment. 

  • Atmospheric Composition is focused on the composition of Earth's atmosphere in relation to climate prediction, solar effects, ground emissions and time.
b.Weather
  • Our weather system includes the dynamics of the atmosphere and its interaction with the oceans and land. The improvement of our understanding of weather processes and phenomena is crucial in gaining an understanding of the Earth system.
c.Climate Variability & Change
  • NASA's role in climate variability study is centered around providing the global scale observational data sets on oceans and ice, their forcings, and the interactions with the entire Earth system.


d.Water & Energy Cycles
  • Through water and energy cycle research we can improve hurricane prediction, quantify tropical rainfall and eventually begin to balance the water budget at global and regional scales.


 e.Carbon Cycle & Ecosystems
  • This Focus Area deals with the cycling of carbon in reservoirs and ecosystems as it changes naturally, is changed by humans, and is affected by climate change.
     
 f.Earth Surface & Interior
  • The goal of the Earth Surface and Interior focus area is to assess, mitigate and forecast the natural hazards that affect society, including earthquakes, landslides, coastal and interior erosion, floods and volcanic eruptions.


Geophysics at Harvard

Founder by:

1. Ade Akhyar Nurdin
The Last Geolog in the World


2. Arip Nurahman


3. Ridwan Firdaus


Thanks To:



3. Earth - NASA Science


Powered by:

1. Museum Geologi Bandung

2. Laboratorium Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Pendidikan Fisika. FPMIPA. UPI Bandung

3. Departemen Teknik Geologi UNSOED

4. Departemen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta