Monday, 27 May 2013

Long Range Anti-Ship Missile

The Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) is an anti-ship missile being developed by DARPA for the US Navy.




LRASM represents a mature tactical missile, leveraging the JASSM-ER platform, for next generation offensive anti-surface warfare weapons capability that can be either air or surface launched. LRASM offers new strike weapon capability that enables deep strike in previously-denied battle environments and effectiveness against robust target defense systems.

LRASM-A is a subsonic cruise missile based on Lockheed Martin's 500 nm-range AGM-158 JASSM-ER - Lockheed Martin was awarded initial development contracts. LRASM-B was planned to be a high-altitude supersonic missile along the lines of the Indo-Russian Brahmos, but it was cancelled in January 2012. Captive carry flight tests of LRASM sensors began in May 2012; a missile prototype is planned to fly in "early 2013" and the first canister launch is intended for "end 2014".

LRASM is designed to be compatible with the Mk 41 Vertical Launch System used on many US Navy ships and to be fired from aircraft, including the B-1 bomber.

On October 1, 2012, Lockheed received a contract modification to perform risk reduction enhancements in advance of the upcoming flight test of the air-launched LRASM A version.

On March 5, 2013, Lockheed received a contract to begin conducting air and surface-launch tests of the LRASM. Three air-launched tests are scheduled for 2013, with one from a B-1 Lancer. Two surface-launch tests are scheduled for 2014. The contract includes risk reduction efforts, such as electromagnetic compatibility testing of the missile and follow-on captive carry sensor suite missions.


Sources:

Wikipedia

http://www.lockheedmartin.com/us/products/LRASM.html


Defense Advanced Research Project Agency Tactical Technology Office


US Navy 

Sunday, 26 May 2013

Dari Virus Udang Menuju Harvard University

Allhamdulilah segala puji memang milik Mu Ya Robbana.

Yeaaaaahhhh akhirnya saya dapat berteman dengan Ibu Sidrotun Naim, M.Sc., Ph.D.
di jejaring sosial facebook, malah saya dapat komen dari beliau sungguh sangat senaaaaaaang hati ini.

Yessssss akhirnya.

Beliau merupakan seorang Ilmuwan yang sedang melakukan penelitian di:

Harvard Medical School 


Sedikit biodata beliau:

Lahir: Sukoharjo, JawaTengah, 29 Mei 1979

Suami: Dedi Priadi

Anak: Elhurr Muthahari



Pendidikan:

SD Makam Haji Sukoharjo

SMP Negeri 9 Surakarta

SMA Negeri 3 Surakarta

Jurusan Biologi, Sekolah Ilmu Teknologi dan Hayati, Institut Teknologi Bandung.

Program Master Studi Kelautan, Universitas Queensland, Australia.

Program Master dan Doktor [Ph.D.] Ilmu Lingkungan, Universitas Arizona

Researcher at Harvard Medical School and

Faculty member/Founding Director, Center for Sustainable Aquaculture and Pathology Studies
(AquaPath) at Surya University, Indonesia.


Ibunda Sidrotun Naim melaksanakan investigasi pada udang dalam studi kedokteran di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Padahal, selazimnya studi itu dilaksanakan pada program studi biologi atau budidaya kelautan.

"Kenapa saya malah diterima di studi kedokteran, padahal yang saya teliti hanya udang? 

Itu karena virus yang menginfeksi ternak udang memiliki anatomi sama dengan rotavirus yang menyebabkan 600.000 anak balita di dunia setiap tahun tewas dengan gejala diare," katanya.

Penelitian itu dilakukan Ibu Naim atas keprihatinannya terhadap produksi udang yang terus merosot selama empat tahun terakhir di Indonesia akibat serangan virus. Padahal, Indonesia pernah menjadi produsen udang terbesar keempat di dunia. Penelitian ini terbilang jarang dilakukan karena memakan waktu lama dan perlu ketelatenan. ia memperoleh dukungan dana penelitian dari berbagai sponsor.

Salah satunya L'Oreal-Unesco for Women in Science yang diperolehnya lewat proses seleksi ketat. Ibu Naim adalah salah satu dari 15 perempuan peneliti muda dunia yang memperoleh beasiswa 40.000 dollar AS dari internasional L'Oreal-Unesco for Women in Science, Paris, Perancis.


 

Namun, jumlah itu belum cukup untuk membiayai penelitiannya selama dua tahun karena syarat deposit pendidikan per tahun di Universitas Harvard sebesar 40.000 dollar AS.

"Saya pikir Harvard hanya ingin menguji mental mahasiswa, bukan karena lembaga ini mau mencari keuntungan. Beruntung ada beasiswa dari Fullbright dan perusahaan pengeboran minyak Schlumberger," ujarnya.

Ketertarikan Ibunda Naim meneliti infeksi virus pada udang bermula tahun 2006 saat terjadi serangan infectious myonecrosis virus (IMNV) pada udang vaname (penaeus vannamei) di Indonesia. Padahal, saat itu virus tersebut baru ditemukan pada ternak udang vaname di Brasil.

"Serangan virus IMNV itu menjadi pertanyaan saya sampai kini. Kenapa semula hanya di Brasil, kemudian muncul di Indonesia?" ujarnya.


Dari pertanyaan itu, ia mulai mengamati interaksi virus IMNV pada udang. Dari hasil pengamatannya sementara ini, rasio serangan IMNV menyebabkan 70 persen udang mati dan 30 persen hidup. Udang yang bertahan hidup akan diamati. Di sisi lain, IMNV memiliki anatomi yang sama dengan rotavirus, penyebab kematian anak balita dengan gejala diare terus-menerus.

Oleh karena itu, hasil investigasi ini akan berguna untuk memahami infeksi rotavirus pada anak balita. Itu pula sebabnya penelitiannya dijalani pada studi kedokteran di Harvard. Penelitian Ibu Naim akan melengkapi hasil penelitian sebelumnya tentang pengendalian penyakit white spot syindrome virus (WSSV) pada udang yang dialkukan di Universitas Arizona selama dua tahun terakhir.

Dari hasil penelitiannya di Universitas Arizona, Ibunda Naim menemukan infeksi WSSV pada udang dapat dikendalikan. Caranya, menerapkan sistem polikultur paa budidaya udang yang sudah diterapkan sebelumnya di salah satu lembaga penelitian di Jawa Timur. Ternak udang dipelihara dalam satu kolam bersama ikan nila, ditambah rumput laut untuk meningkatkan nilai ekonomi.

"Temuan ini hasil observasi saya dibantu pembimbing saya, Profesor Kevin Fitzsimmons, ahli ikan nila di Universitas Arizona," katanya.

Terima Kasih Ibu, Semoga Kami Semua dapat mengikuti jejak ibu.

Amin.

Allhamdulilah.

Misi Masa Depan Ke Planet Mars

Destination Mars 



Belajar dan Bekerja Keras Mungkin Suatu Saat Nanti Anda yang Sedang Berada di Kelas Akan Menjadi Manusia Pertama yang Mengunjungi Planet Mars.

Follow two childhood friends from the moment Curiosity's landing on Mars captures their imaginations to the time not so far away when they become the first humans to walk on the red planet. 


Sources:

Northrop Grumman 

NASA